
"Ehh!" gumam Ara kaget, yang setengah berteriak.
Ara pun bangkit dan melihat sekelilingnya yang nampak aneh menurutnya.
"Ini di mana ya?" Ara berusaha mencerna keadaan sekelilingnya, karena sepanjang yang ia lihat, hanyalah background berwarna putih saja.
"Cringg ...."
Mata Ara membulat. Tiba-tiba saja pakaiannya berubah menjadi berwarna putih.
Ara mendelik, ada apa sebenarnya? Pikir Ara, yang langsung bangkit kemudian berlarian tak tentu arah sekuat yang ia bisa.
Tidak ada jalan keluar di sini, membuat Ara terdiam sembari mengedarkan pandangannya.
'Ini di mana sih?' batin Ara yang mulai resah, karena bingung dengan penampakan sekelilingnya yang hanya berwarna putih.
"Ra ...," pekik seseorang, membuat Ara mendelik mendengarnya.
Suaranya terdengar samar, entah siapa yang sudah memanggil Ara. Tubuh Ara seketika bergetar, dan terus mengeluarkan keringat berlebih.
Ara tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, dan tidak berlarian lagi. Ia diam sembari mendengarkan, suara siapa yang sudah memanggilnya tadi.
"Ara ...," suara itu terdengar kembali untuk yang kedua kalinya.
Ara berusaha mencerna suara misterius yang ia dengar itu.
"Sraaaakkkk ...."
Sekelebat bayangan hitam melewati Ara dari arah belakang, dengan begitu cepat. Namun ketika Ara berbalik untuk melihatnya, ia sudah tidak ada di tempatnya.
"Siapa itu?" pekik Ara dengan napas yang tersengal.
"Ara ...."
Suara itu terdengar kembali untuk yang ketiga kalinya. Ara masih berusaha mencerna suara misterius yang ia dengar itu.
Seperti mengenal suaranya. Tapi ... di mana? Siapa? Pikir Ara.
"Sraaaakkk ...."
Sekelebat bayangan hitam itu melewati Ara lagi dan lagi, dengan begitu cepat. Namun ketika ia melihatnya kembali, bayangan itu lagi-lagi sudah tidak ada.
__ADS_1
Suasana nampak semakin mencekam, membuat Ara semakin takut dibuatnya.
"Siapa itu?" Ara berteriak sekencang mungkin untuk memastikan siapa yang sedang mengintainya sejak tadi.
"Aaaah ...."
"Brukkk ...."
Ara terjatuh ke lantai dan mengenai dagunya, karena ia merasa seperti ada yang menarik kakinya dengan cepat.
"Awwwwssss ...."
Ara merintih kesakitan, dan beberapa saat menahan sakit, kemudian bangkit dan melihat keadaan dirinya sendiri.
"Hahh ...."
Matanya terbelalak, karena melihat darah yang begitu banyak, yang sudah melumuri tangannya. Darah segar yang keluar dari dagunya, karena barusan saja terjatuh, membuat luka yang cukup serius di bagian dagu.
"Darah," gumam Ara yang khawatir dengan keadaan dirinya.
"Siapa yang lagi loe cari?" tanya seseorang tiba-tiba, yang saat ini sudah berada di belakang Ara, membuat Ara mendelik dengan jantung yang berdebar.
Suaranya terdengar familiar sekali bagi Ara. Tak mau berbasa-basi, Ara langsung membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi.
Jantungnya sudah sampai pada batasnya. Di hadapannya sekarang terlihat sosok seorang pria, yang sudah lama ingin sekali ia jumpai.
Sosok yang sudah lama mengisi hari-harinya, seseorang yang dulu Ara cintai, yang dengan sengaja melukai hatinya dengan memilih orang lain untuk berada di sisinya, dan mencampakkannya.
Air mata pun sudah tak mampu lagi terbendung. Kali ini, Ara telah kalah oleh keadaan.
"Haaahh ...."
Ara terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Beberapa detik berlalu, Ara pun teringat dengan darah yang tadi berlumuran di tangannya. Saat Ara melihat kembali, darah itu seketika menghilang, dan keadaan dagunya saat ini sudah baik-baik saja.Tidak ada goresan luka sedikit pun, membuat Ara terus-menerus mendelikkan matanya.
Ara melihat kembali ke hadapannya, "Reza ...," pekik Ara dengan lirih, membuat.Reza tersenyum hangat padanya.
Senyuman yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Senyuman ini mengingatkan Ara kembali, betapa berharganya sosok yang berada di hadapannya, pada masa itu.
Mata Ara membulat, terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.
Aku seperti sedang bermimpi, pikir Ara.
__ADS_1
"Apa kabar, Arasha?" tanyanya.
"Tes ... tes ...."
Butiran air matanya terjatuh seketika, saat mendengar kembali suara sosok tersebut. Seketika tubuh Ara bergetar, kakinya saja sampai terasa tidak bisa digerakkan. Dalam lubuk hatinya, ingin sekali Ara berlari ke arahnya, tapi ia tidak bisa, karena kakinya terasa seperti tertahan dengan beban yang sangat berat.
Reza menatap Ara dengan lekat, "gue kangen sama loe, Ra," ucapnya membuat Ara semakin tidak berdaya.
Ara menatapnya dan tak sekalipun berkedip, jika ini mimpi, aku lebih baik memilih untuk tidur lebih lama, pikir Ara yang sudah kalut dengan rasa rindunya.
"Glekk ...."
Tak sadar, Ara menelan salivanya saking masih tak percayanya dirinya, dengan sosok yang ada di hadapannya.
"Ini beneran loe, Za?" tanya Ara yang masih setengah percaya.
Reza kembali melontarkan senyuman itu, hingga membuat Ara semakin percaya bahwa itu adalah dirinya yang selama ini Ara rindukan.
Genangan air mata seketika menggenang di pelupuk mata Ara.
"Kenapa sih Za, loe harus datang di saat gue udah sama Morgan? Kenapa, Za? Kenapa loe dulu ninggalin gue demi wanita itu? Kenapa dulu loe nggak milih gue aja sih? Kenapa di saat gue udah mulai membuka hati gue buat Morgan, tiba-tiba loe datang seenaknya, nemuin gue dan bilang kalau loe tuh kangen sama gue?" tanya Ara dengan nada tinggi.
Amarah Ara sudah meledak-ledak saat ini. Reza tidak bisa mengatakan apa pun. Ia hanya tersenyum dan sama sekali tidak bergeming, membuat Ara semakin ingin dan ingin memeluknya.
"Tolong jangan siksa gue dengan rasa yang nggak jelas kayak gini. Gue udah milih Morgan, dan loe juga udah milih wanita itu. Lantas, kenapa loe sekarang balik lagi? Apa loe belum cukup puas buat bikin hati gue hancur, hah?" bentak Ara lagi.
Pernyataan Ara membuat Reza menatapnya dengan pandangan miris.
Perlahan, seberkas cahaya misterius muncul dari dalam diri Reza, membuat Ara sampai kesulitan untuk melihatnya.
"Jaga diri baik-baik ya, Ra. Nanti gue pasti balik lagi kok," pesannya yang dirinya kini perlahan mulai lenyap, seiring meredupnya cahaya yang menyilaukan mata Ara.
Mata Ara membelalak, menatap ke arah Reza yang perlahan hilang bersama cahaya itu.
"Gak usah loe balik lagi di kehidupan gue! Gue nggak akan sudi buka hati gue lagi untuk loe!" tolak Ara dengan keras.
Reza lagi-lagi tersenyum miris pada ke arah Ara.
"Selamat tinggal, Arasha," ucap Reza terakhir kali, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan hilang.
Ara memandang kepergiannya dengan sendu, lucu sekali, dia tiba-tiba saja datang, kemudian tiba-tiba saja pergi. Ia tidak hanya begini sekali padaku, pikir Ara yang masih menahan perasaannya.
__ADS_1
Melihat kepergiannya, Arq menjadi semakin histeris dibuatnya.
"Iya, Za! Selamat tinggal! Pergi dan jangan balik lagi ke sini! Gue nggak butuh loe, sumpah gue gak butuh! Loe denger itu, Za! Camkan," teriak Ara dengan sangat keras, sebisa yang ia mampu.