Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bermain Api


__ADS_3

Melihat Morgan dan Ara sudah pergi dari kediamannya, Meygumi pun mendengus kesal, karena sikap Morgan yang selalu rancu saat bersama dengan gadis yang ia kenal bernama Ara itu.


Hatake memandangi kakak kandungnya itu dengan sangat lekat, karena jauh di dalam lubuk hatinya, Hatake tidak ingin sampai kakaknya mengalami hal yang tidak mengenakkan.


"Pada dasarnya, kamu harus melupakan Morgan secepatnya. Karena perasaan Morgan sudah terlalu dalam dengan Ara," gumam Hatake dengan lirih.


Ia memandang Meygumi yang terlihat sangat jengkel, karena melihat kepergian mereka yang kian lama kian jauh terlihat.


Hatake menghela napasnya panjang, berusaha memperingati kakaknya itu, agar Meygumi tidak terjebak dan bermain api di dalam hubungan orang yang sudah menjadi masa lalunya.


"Jauhi Morgan," lirih Hatake, membuat Meygumi tak bisa menahan gejolak perasaan kesalnya.


Meygumi mendelik, "tahu apa kamu?" bantah Meygumi dengan kasar.


Lagi-lagi Hatake menghela napasnya dengan panjang, setelah mendengar ambisi Meygumi yang masih membara.


"Aku hanya ingatkan, jangan main api dengan masa lalu. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Jangan mengusik yang ada saat ini," ucap Hatake yang masih belum menyerah dengan sikap keras kakaknya itu.


Tapi, sekeras-kerasnya sikap dan emosi Meygumi, ia masih meneteskan air matanya di hadapan Hatake, membuat Hatake sedikit iba padanya, yang sudah terlalu terobsesi dengan laki-laki bernama Morgan itu.


"Aku gak akan tinggal diam!" ucapannya semakin lama semakin ambisius.


Semakin dilarang, semakin pula ia keras.


Hatake meletakkan kedua tangannya pada saku celananya, "aku tidak masalah. Tapi, kalau sampai Ara kenapa-kenapa, aku yang akan turun tangan sendiri," gumam Hatake yang sedang memperingatinya.


"Kenapa kamu malah membela gadis itu? Aku ini kakakmu!" bentak Meygumi, membuat Hatake menafikan pandangannya.


Hatake pun kembali menatap ke arah Meygumi, "aku cuma gak mau, kamu sampai melakukan hal yang aneh, yang bisa melukai Ara. Aku gak akan bisa maafin kamu, kalau kamu sampai benar melakukan hal itu," ucap Hatake yang kembali memperingati Meygumi.


Mata Meygumi membulat ke arah Hatake, "apa kamu suka dengan Ara?" tanyanya, membuat Hatake tak bisa bergeming.


Pertanyaan macam apa ini? Kenapa bisa aku disudutkan dengan pertanyaan jebakan seperti ini? Lagi pula, dari mana dia mengetahuinya? Pikir Hatake, yang sedikit terkejut dengan ucapan Meygumi.


Hatake segera menafikan pandangannya, "jangan mengubah topik pembicaraan!" bantah Hatake, memperingatkannya.


Satu senyuman menyungging di pipi Meygumi, "kita bisa kerja sama jika kamu mau," lirihnya, namun Hatake hanya diam tak bergeming.

__ADS_1


...***...


Siang itu, Fla baru terbangun dari tidurnya, saking lelahnya ia semalaman terjaga. Ia berusaha membenarkan pandangannya, dan berusaha meraba keadaan sekitarnya.


Fla pun bangkit dari tidurnya, sembari memegangi kepalanya yang berat, efek terlalu lelahnya dirinya.


"Ckrekk ...."


Mata Fla membulat, karena Arash yang datang tiba-tiba dari balik pintu gubuk tempatnya singgah.


"Selamat sore, tuan putri," sapa Arash sembari tersenyum ke arah Fla, membuat Fla mendelik kaget mendengar Arash berkata demikian.


Fla segera mencari keberadaan ponselnya, dan melihat jam yang tertera di layarnya.


Fla memandang malas ke arah Arash, membuat Arash tak bisa menahan lagi tawanya.


"Masih siang ...," rengek Fla, yang membuat Arash tersenyum jahil padanya.


"Kok siang dibilang masih, sih?" goda Arash.


Arash memang selalu bangun awal, meskipun dirinya tidur larut malam sekalipun, Arash akan tetap bangun pagi-pagi sekali, setiap harinya. Itu sudah jadi kebiasaan Arash sehari-hari.


Arash mendekat ke arah Fla, kemudian duduk di pinggir ranjang tidur Fla.


Arash menoleh gadis manis yang masih mengenakan piyamanya, "siap-siap pulang yuk. Nanti ayah nyariin kamu. Kakak udah janji gak akan kemalaman," ucap Arash, membuat Fla mengangguk kecil ke arahnya.


"Ya udah, Kakak tunggu di luar dulu. Aku mau siap-siap," lirih Fla, membuat Arash tersenyum jahil.


"Kakak mau di sini aja," gumamnya dengan nada yang sangat jahil, membuat Fla mendelik kaget mendengarnya.


"Ih ... Kakak mah! Udah gih keluar, aku mau mandi," rengek Fla, sembari mendorong tubuh Arash dengan pelan, dan menuntunnya sampai ke depan pintu kamar.


Arash hanya bisa menyeringai, tanpa bisa berkata apa pun lagi.


"Brakk ...."


Fla menutup pintu kamarnya cukup kencang, saking malunya dirinya mendengar Arash berkata demikian.

__ADS_1


Fla menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya, dan ia pun tersenyum karena mengingat tingkah konyol Arash tadi.


'Jadi tambah gemes,' batin Fla, yang masih saja tersipu dengan perlakuan Arash padanya.


Di sisi Arash, ia hanya tersenyum melihat reaksi Fla yang baginya sangat menggemaskan. Arash pun melangkahkan kakinya ke arah gazebo, yang merupakan pusat dari penginapannya.


Di sana, sudah ada Ares, Bunga dan juga Ilham yang sedang berbincang seru. Arash yang penasaran, segera menghampiri mereka.


"Pokoknya begini nih ...," Ares mempraktikkan gayanya saat bermain olahraga kesukaannya, yaitu voli.


Gayanya terlihat hampir seperti seorang yang sudah profesional, membuat Ilham tersenyum sendiri karena tingkah menggemaskan Ares itu.


"Udah ah, nanti capek," ucap Bunga, membuat Ares menghentikan aktivitasnya, kemudian duduk di lesehan gazebo itu.


"Pokoknya gitu deh, Kak. Nanti kapan-kapan Ares ajak main voli deh," gumam Ares.


"Sip, nanti Kak Ilham bawa asupan makanan yang banyak, biar Ares semangat," gumam Ilham, membuat senyum Ares merekah lebar.


"Bener ya, Kak?" tanya Ares yang berusaha meyakinkan Ilham, membuat Ilham tersenyum dan mengangguk kecil.


"Yes!" Ares melakukan selebrasinya yang sangat lucu bagi Ilham.


Arash pun datang dari arah sana, "ngomongin apa, sih? Kayaknya heboh banget," sapa Arash, membuat Ares menoleh ke arahnya.


"Tadi kita lagi ngomongin voli, Kak. Katanya, Kak Ilham janji mau bawa makanan yang banyak, pas nanti nemenin Ares latihan," ucap Ares dengan sangat bersemangat, membuat Arash juga bersemangat mendengar ceritanya.


"Wih ... Kakak boleh ikutan juga gak?" tanya Arash, membuat Ares mendelik senang mendengarnya.


"Boleh, dong! Pokoknya Kak Arash harus ikut aku latihan," ucap Ares yang lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Siap deh, bos," lirih Arash, membuat Ares dan yang lainnya tersenyum, "oh ya, Ares udah siap-siap belum?" tanya Arash, membuat Ares mendelik.


"Oh ya, Ares belum masukin baju-baju yang lain!" gumam Ares, yang sepertinya terlupa dengan yang ia maksudkan.


Arash mendelik, "hayo ... tinggalin nih ya?" goda Arash, membuat Ares mengerutkan bibirnya karena kesal.


"Kakak mah! Tunggu ya, Ares mau beresin dulu," lirih Ares, yang lalu segera pergi meninggalkan Arash dan yang lainnya, untuk menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Ilham dan Arash pun tertawa kecil melihat reaksi Ares yang seperti itu.


__ADS_2