
“Lho ... memang benar. Saya cuma mencocokkan aja kok di kamu,” jawab Morgan dengan nada yang paling menyebalkan yang pernah Ara dengar.
Mendadak, Ara menjadi berubah selera dan mood. Ia berusaha menahan amarahnya pada Morgan.
Kenapa dia begitu menyebalkan? Kenapa harus membuat aku terbang dulu, lalu ia jatuhkan aku ke dasar jurang? Pikir Ara.
Ara mendelik, “males gue sama loe!” bentak Ara, yang langsung melipat kedua tangannya.
Ara yang merasa tak tahan dengan sikap Morgan, langsung saja meninggalkannya ke arah balkon kamar.
Morgan melihat kepergian Ara dengan senyuman.
‘Ternyata, asyik juga menggoda dia,’ batin Morgan yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja meliat kemarahan Ara.
Ara ternyata tidak sanggup menahan malu, karena sudah salah paham dengan yang ia lakukan tadi.
Ternyata, aku tidak lebih spesial dari wanita yang pernah ia cintai sebelumnya. Aku sudah salah menilainya. Dia sama sekali tidak mempedulikan perasaanku, pikir Ara yang sedang menahan tangisnya, sembari memandang ke arah bangunan tinggi yang dapat ia lihat dari atas sana.
‘Kenapa gue bodoh banget ya pake nanya begitu segala? Kan malu banget karena gak sesuai sama yang gua harapkan. Morgan malah mainin perasaan gue yang udah terlanjur senang. Gue kan jadi terlihat kayak wanita murahan dan gampangan,’ batin Ara dengan hati yang sudah terlanjur kesal dengan dirinya sendiri, terlebih lagi dengan Morgan.
‘Apa cewek yang udah gak punya harga diri kayak gue ini, gak pantes buat diperlakukan dengan lembut, seperti orang-orang di luar sana?’ batin Ara yang sudah campur aduk, membuat dirinya tak bisa lagi menahan air matanya.
Tangisannya pecah begitu saja, dengan embusan angin malam yang jahat, memaksa masuk dan menembus tulangnya, membuat Ara merasakan dingin.
Ara yang hanya mengenakan kaos dalam, merasa udara malam ini begitu dingin. Namun, mengingat perasaannya dan sikap Morgan yang acuh, yang bercampur menjadi satu, Ara seakan tidak mempedulikan angin malam ini.
Morgan melihat ke arah Ara, yang sepertinya sedang menangis. Morgan sadar, dirinya sudah keterlaluan mempermainkan perasaan Ara. Padahal, ia hanya berniat untuk menggodanya saja, tidak untuk menyakitinya.
Morgan melangkah ke arahnya.
“Happp ....”
Kedatangan Morgan yang memeluk Ara dari arah belakang, tiba-tiba saja membuat Ara terkejut. Satu tetes air mata pun turun, dan tak sengaja mengenai punggung tangan kanan Morgan.
Morgan yang mengetahui hal itu, segera menghapus air mata Ara yang berada di tangannya, dengan cepat.
Morgan mulai memeluk Ara dengan sangat erat, membuat Ara sedikit kesulitan bernapas.
Hal itu yang justru membuat tangisan Ara semakin pecah. Pelukan hangat itu, membuat Ara tidak bisa menahan dirinya.
“Kamu cantik pakai kalung itu,” gumam Morgan berbisik lirih di telinga Ara.
Seketika mata Ara membulat, sesaat setelah mendengar pujian Morgan itu. Tapi, Ara tidak ingin merasa terbuai lagi dengan kata-kata Morgan.
__ADS_1
Morgan menghela napasnya di telinga Ara, membuat Ara sedikit merinding, “saya belikan kalung itu untuk kamu. Bukan untuk Fla,” cetusnya.
Lagi-lagi Ara merasa bingung dengan prilaku Morgan. Ia tidak bisa membedakan yang mana yang benar Morgan katakan.
“Maafin saya, ya,” lirih Morgan membuat Ara terharu mendengar ucapannya.
Pasalnya, Ara sangat jarang mendengar kata maaf yang diucapkan Morgan. Tapi kali ini, Ara mendengarnya kembali. Kali ini, dia bukan Morgan yang dingin, dia adalah Morgan yang hangat.
Ara semakin kesal dengan dirinya sendiri, karena ia merasa terlalu bodoh dalam bersikap.
“Kenapa loe mainin perasaan gue sih?” teriak Ara dengan lirih.
Mendengar itu, Morgan malah semakin mempererat pelukannya.
“Tentang tangan kamu yang terus saya genggam saat kita nonton tadi, ada hubungannya dengan kematian Putri. Saya gak peka dengan sekeliling saya, dan hanya memperhatikan yang ada di hadapan saya aja. Maaf sampai membuat kamu risih karena sorotan laser itu. Maaf karena sudah membuat orang lain salah paham dengan kita. Saya cuma mau kamu baik-baik saja,” ucap Morgan dengan penuh kelembutan.
Sedikit demi sedikit, Ara paham dengan maksud yang Morgan maksudkan.
Awalnya mungkin Ara berpikir, Morgan terlalu berlebihan dalam bersikap. Lebih seperti orang yang over protective. Tapi, setelah mengetahui sebagian besar kebenarannya, Ara jadi menganggap itu suatu hal yang lumrah.
Mungkin Morgan masih trauma dengan masa lalunya, pikir Ara.
“Maaf,” lirihnya dengan tulus, membuat Ara merasakan ketulusannya itu.
Ara hanya mengangguk kecil, mengikhlaskan semua perbuatan yang sudah Morgan lakukan padanya.
Maaf karena terlambat untuk mengenal dirimu, pikir Ara.
“Paling tidak, jangan pergi lagi,” gumam Morgan dengan penuh kelembutan.
Ara hanya diam, sembari mencerna apa yang barusan Morgan katakan.
Kapan aku pergi untuk meninggalkannya? Seharusnya, aku yang berkata demikian padanya, pikir Ara.
“Saya gak perlu perkataan atau jawaban dari kamu. Yang terpenting, kamu harus selalu ada untuk saya,” ucapnya yang lama-kelamaan semakin tidak masuk akal.
Apa mungkin karena ia terlalu lelah, lantas berbicara semaunya saja? Pikir Ara.
“Udah yuk ... kita tidur,” ajak Ara yang berusaha mengalihakan topik pembicaraan.
Semakin lama, semakin rancu topik yang ia ucapkan. Dia bahkan tidak melepaskan pelukannya sama sekali, pikir Ara.
Morgan yang mendengar ajakan Ara, tiba-tiba saja ingin sekali menjahilinya. Morgan pun tersenyum menyeringai.
__ADS_1
“Happpp ….”
“Morgan!” Ara spontan berteriak, karena Morgan yang tiba-tiba saja menggendong Ara, layaknya anak kecil yang sedang digendong oleh ayahnya.
Morgan menggendong Ara dengan paksa, dan membawanya ke arah tempat tidur.
Ara yang ketakutan, tak henti-hentinya berteriak, “turunin gue, Gan!” teriak Ara padanya dengan terus mengerakkan kedua kakinya ke atas dan ke bawah.
“Turunin?” tanya Morgan, Ara mendelik sinis ke arahnya.
‘Jangan-jangan …,’ pikir Ara
“Brruuukkkkk ....”
“Awwss ....”
Benar saja dugaan Ara. Ia dilempar dengan spontan oleh Morgan ke atas ranjang. Lumayan terasa sakitnya, walaupun ranjangnya masih terasa sangat empuk.
Tapi tetap saja, Morgan sudah memperlakukannya dengan kasar.
Kenapa ia sama sekali tidak berubah? Kenapa ia begitu kasar jika memperlakukanku? Pikir Ara.
“Gila loe ya?” pekik Ara dengan sinis.
Morgan mengangkat sebelah alisnya, sembari tersenyum jahil.
“Tadi minta turun?” tanyanya dengan nada yang mengesalkan, sampai Ara kesal sekali mendengarnya.
“Plak ....”
Ara memukul lengan tangannya, sampai Morgan mengaduh kesakitan.
“Aduh ....”
Ara menatapnya sinis, “biar tahu rasanya dikasarin gimana!” bentak Ara padanya, yang masih meringis sembari memegangi lengan tangannya.
Beberapa saat kemudian Morgan berubah mimik menjadi seperti sedang menggoda Ara.
“Tapi boong,” ejeknya, kemudian ia tertawa dengan kencang, membuat Ara semakin geram padanya.
Ara berusaha untuk mencubit lengannya itu. Morgan berusaha menghindar dari Ara dan menganggap emosi Ara ini hanyalah sebuah candaan.
Karena melihat Morgan yang sedang tertawa, membuat Ara jadi tertawa dibuatnya.
__ADS_1
Dengan sikap Morgan yang aneh itu, Morgan pun bisa membuat Ara tersenyum, bahkan tertawa lepas seperti ini.
Betapa idiotnya mereka.