
“@Ara ... gue ke sana ya malam ini, gue mau nginep dan ngabisin weekend dan minggu tenang,” Ray.
Mata Ara membulat, karena Ray yang tiba-tiba saja mengirim pesan itu di grup mereka.
“Eh ... bikin acara sendiri ajah nih, gue juga mau ikutan dong!” Rafa.
“Eh tau nih, gue juga mau ikut ah ... tapi gue izin bokap dulu ya, soalnya kakak gue juga gak pulang kemarin,” Fla.
“Hah ... paling juga ada di rumah si Ara,” Ray.
“Sembarangan loe! Justru si @Ara nyariin dia juga kemarin,” Fla.
“Hah? Masa?” Rafael.
“Yehh ... makanya jangan PDKT mulu sama guru orang Korea itu!” sindir Fla.
Ara sedikit tertawa membaca pesan singkat dari mereka, yang seketika membanjiri grup.
“Yehhhh ....” Rafael.
“Kakak loe, Pak Morgan yang waktu itu kan, Fla?” Farha.
“Iya, Far,” Fla.
“Kok dia gak pulang sih?” Fla.
“Ya ... mungkin dia lagi ada urusan. Tapi gak sempet ngasih kabar,” Fla.
“Itu sering, atau baru kali ini aja?” Farha.
“Beberapa kali sih, tapi biasanya ngasih kabar,” Fla.
“Kenapa pada ngomongin Pak Morgan sih?” Ray.
“Diem deh ....” Fla.
“Maaf ....” Ray.
“Ini jadinya gimana hey ... Ara mana sih?” Rafael.
“Eh iya gimana?” Fla.
Ara mulai mengetik karena percakapan grup sudah habis sampai di sini saja. Ara bingung ingin mengetikkan apa, karena mungkin mereka akan melihat Morgan ada di rumahnya nantinya, dan terus-menerus meledek Ara.
“Ara sedang mengetik ....” Ray.
Ara semakin bingung dengan kata apa yang harus ia ketik kepada mereka.
Morgan melihat Ara yang sejak tadi hanya diam, seperti sedang bingung.
Morgan mengerenyitkan dahinya, “lho, kamu kenapa?” tanya Morgan yang mampu membuyarkan konsentrasi Ara.
Ara sampai lupa, kalau ada Morgan di sampingnya saat ini.
“Mereka mau nginep di sini sampai akhir pekan,” lirih Ara ragu.
“Ya sudah, biarin aja mereka nginep di sini,” ucap Morgan.
Ara masih saja ragu.
“Nanti kalau mereka tahu kamu ada di sini, gimana? Fla dari kemarin panik nyariin kamu lho,” ucap Ara, Morgan seketika terdiam mendengar ucapannya itu.
__ADS_1
‘Betul juga, nanti Fla ngomong macem-macem ke ayah,’ batin Morgan.
Morgan menoleh ke arah Ara, “aku pergi sebentar ke toko buku, sampai mereka semua datang. Anggap aja aku baru sampai di sini. Jadi kalau mereka nanya, bilang aja aku ke toko buku. Jadi, kamu gak perlu gugup,” ucap Morgan menjelaskan.
Pikiran Ara mulai terbuka, ternyata Morgan sangat cerdas. Ya ... asal jangan dipakai untuk membohongiku saja, pikir Ara.
“Oke,” ucap Ara dengan singkat.
Morgan melihat ke arah Ara, sembari membuka kedua lengannya, membuat Ara bingung karenanya.
“Ke-kenapa?” tanya Ara, tapi Morgan hanya tersenyum.
Ara melihat lagi ke arah Morgan. Ara pun menyadari, maksud dan tujuan Morgan untuk membuka kedua lengannya.
Ara perlahan bergerak ke arahnya, dan segera memeluknya dengan erat.
“Kenapa sih, tumben?” tanya Ara yang kebingungan dengan yang perilaku Morgan yang sangat jarang terjadi.
“Duduk di pangkuan saya, ada yang mau saya kasih tahu ke kamu,” lirih Morgan, membuat Ara mengerenyit, dan segera duduk di pangkuannya, membelakangi Morgan.
Morgan pun melingkarkan lengannya di pinggang Ara.
“Memangnya, ada apa?” tanya Ara yang penasaran dengan yang ingin Morgan utarakan padanya.
“Lihat kepala saya,” ucapnya, membuat Ara segera melihat ke arah kepala Morgan.
Ara mendelik kaget, karena melihat kepala Morgan yang dipangkas sedikit, dan terdapat kapas yang merekat di sana.
“Kenapa itu?” tanya Ara yang kaget dengan yang ia lihat saat ini.
“Kena high heels Aca,” lirih Morgan, membuat Ara semakin mendelik karenanya.
“Lagi-lagi karena dia!” bentak Ara yang tidak bisa terima dengan perlakuan Aca yang sudah di luar batas.
“Pe-penjara?” tanya Ara tak percaya.
“Ya, dia yang udah mem-bully Fla kemarin, sampai Fla masuk rumah sakit. Hukumannya tiga tahun penjara, atau denda tujuh puluh dua juta,” jawab Morgan, membuat Ara mendadak iba padanya.
Morgan menenggak air terakhir di dalam gelasnya. Ia meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
“Itu aja sih yang mau saya sampaikan. Saya jalan dulu,” ucapnya sembari mengelus-elus rambut Ara.
Morgan pun bangkit.
“Eh, gak mandi dulu?” tanya Ara yang tak sempat terdengar, karena Morgan sudah pergi sebelum ia selesai bertanya.
“Drrrttttt ....”
Beberapa pesan masuk secara bersamaan. Ara membuka isi pesan.
“Ini orang lama amat ngetiknya,” Ray.
“Ya ampun dari tadi ternyata nungguin?” lirih Ara bertanya-tanya.
Ara pun tertawa kecil setelah membacanya.
“Tau nih,” Rafael.
“Bimbang,” Fla.
“Masih waiting kok, Ra,” Ray.
__ADS_1
“Gaes, gue udah dapet izin nih dari Ayah. Soalnya tadi kakak gue udah ngasih kabar. Katanya dia ada di toko buku, lagi beli beberapa novel. Kemarin handphone-nya ketinggalan di kampus soalnya, jadi gak bisa ngabarin,” Fla.
“Terus dia kemarin nelepon gue pake handphone siapa?” Farha.
Jawaban Farha membuat Ara sedikit bertanya-tanya.
Kenapa dia berkata demikian? Dia sedang membicarakan Morgan? Pikir Ara.
“Yaudah Ki, makasih ya infonya,” Farha.
Kenapa semakin ke sini, semakin rancu ucapan Farha? Ki? Siapa yang dia maksud dengan panggilan itu? Pikir Ara lagi.
“Kenapa, Far?” Fla.
“Kenapa apanya?” tanya balik Farha
“Itu ‘Ki’ siapa?” Fla.
“OMG, maaf salah room,” Farha.
Ternyata hanya salah kamar chat. Aku sempat berpikiran yang tidak-tidak dengan Farha. Aku pikir, Morgan ada sangkut-pautnya dengan Farha. Tapi kalau dipikir kembali, Farha selalu terobsesi saat membicarakan Morgan. Dan barusan pertanyaannya jelas-jelas nyambung sekali dengan topik yang Fla ucapkan tadi. Ada apa ya sebenarnya? Pikir Ara.
“Oh salah room,” Fla.
“Maaf ya gaes,” Farha.
“Hadeh. ya ya,” Rafael.
“Ini gimana heh?” Ray.
“Oh ya, Back to topic!” Fla.
“Ya gaes, main aja. Abang gue ke luar kota, Bibi pulang kampung. Tapi harus bantuin gue cuci piring, nyapu, ngepel,” Ara mengetik seperti itu ke grup chat mereka.
Lumayan saja, ada yang menemani dan ada yang membantuku dalam merapikan rumah, pikir Ara.
“Yes ... oke deh Ra,” Fla.
“@Rafa, bawa makanan yang banyak,” Fla.
“Tenang aja, disponsori oleh warung emakku,” Ray.
“Nah, udah si Ray aja yang bawa,” Rafa.
“You both,” Fla.
“Hadeh, wanita,” Ray dan Rafa mengirim pesan secara bersamaan.
“Mau ikut gak @Farha?” Fla.
“Iya ikut, tapi gue harus beres-beres kamar dulu ya, mungkin agak maleman ke sana. Share location aja, okey?” Farha.
“Ok,” Fla.
“Ok,” Ray.
“Ok,” Rafa.
“Ok,” Ara mengetikkan pesan serupa.
Buru-buru Ara merapikan meja makan dan mencuci beberapa piring kotor.
__ADS_1
Entah bagaimana jadinya hari-hari bersama mereka. Semoga saja semenyenangkan hariku bersama Morgan, pikir Ara.
...***...