Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Teman Dari Amerika


__ADS_3

Dengan rasa penasaran yang menggebu, Ara pun keluar dan mengintip ke arah ruang tamu. Terlihat Ilham dan Kakak yang sedang menyantap makanan cepat saji, yang mungkin saja Arash pesan tadi.


Ara pun berbalik dan menyandarkan tubuhnya ke dinding, 'Yah kan masih ada!' batin Ara mengaduh.


Aku pikir, dia sudah tidak ada karena tadi aku lumayan lama berada di kamar mandi. Aku harus mengatakan apa pada Bisma? Pikir Ara yang bingung dengan keadaan.


Ara perlahan mendekati mereka, dengan perasaan yang sangat bingung. Bisma mungkin saja saat ini sedang berada di jalan menuju ke rumah Ara. Ara tidak bisa bersiap, tidak tahu harus berkata apa.


Seandainya aku tadi tidak mendengar percakapan Ilham dengan kakak, aku pasti tidak akan merasa lebih canggung saat berhadapan dengannya, pikir Ara yang menyesali perbuatannya itu.


"Lama amat sih Ra, mandinya!" gerutu Arash.


Baru seperti itu saja, sudah membuat Ara kesal! Apalagi jika Arash berbicara yang tidak-tidak seperti tadi, sesaat sebelum Ara meninggalkan mereka untuk mandi?


Ara melontarkan senyuman pahit ke arah Arash.


Arash mendelik, "Biasa aja kali, nggak usah pasang tampang kayak gitu!" ledek Arash, membuat Ara menjulurkan lidahnya ke arah Arash.


Ara tidak bisa membalas kakaknya lebih dari ini.


Ilham melontarkan senyuman ke arah Ara, "Kamu belum makan kan, Ra? Mau nggak cobain ini? Tadi Saya pesan delivery," ucap Ilham.


Suaranya selalu terdengar halus di telinga Ara, sampai-sampai Ara hampir saja terkesima dengannya.


Sebetulnya, Ilham adalah sosok laki-laki yang menurutku sangat manis, jika ia tersenyum. Kata-katanya pun sangat lembut, dan selalu mengutamakan diriku. Dia juga sangat pintar dan juga bertanggung jawab dalam pekerjaannya itu, terbukti saat kakak mengalami drop karena perusahaan keluargaku yang hampir saja gulung tikar. Ilham dengan cepatnya menyelesaikan semua itu dengan ide-ide cemerlang yang selalu bisa ia berikan. Untuk semua itu, aku sangat kagum padanya. Padahal Morgan saja tidak seperti itu! Dia adalah dosen idiot yang awalnya tidak ingin aku dekati. Namun saat ini, justru aku yang malah menjadi idiot di hadapannya. Aku terus menangis saat berhadapan dengannya langsung. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis di depannya. Semua itu mengalir sendiri, tanpa ada rekayasa. Mungkin saja ... aku sudah sangat kehilangan dirinya, pikir Ara yang malah melamun memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan.


Namun, seidiot apa pun Morgan di mataku, ia tidak pernah membiarkan aku memasak untuknya, tapi ia selalu memasak untukku. Berbeda dengan Ilham, yang saat ini malah memesankan masakan delivery, pikir Ara yang kembali terngiang dengan sosok Morgan di pikirannya.

__ADS_1


"Ra?"


"Ra?" panggil Ilham.


Ara pun tersadar, dan dengan spontan melihat ke arahnya.


"Eh, iya Kak kenapa?" tanya Ara yang memintanya untuk mengulang kembali pertanyaannya.


"Kamu belum makan, kan? Kamu mau nggak makan ini?" ucapnya mengulang kembali pertanyaannya.


Nadanya masih terdengar sama seperti tadi. Siapa yang bisa menahan perasaan jika terus-menerus diperlakukan baik seperti ini?


Ara menyeringai, "Makasih, Kak. Aku makan bareng temen aku aja nanti. Sebentar lagi, dia sampai kok," tolak Ara, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


Mau tidak mau, aku harus mengatakannya agar dia tidak menahan aku lagi, dan tidak beralasan dengan alasan apa pun, agar aku tetap di sini. Ia terlihat mengernyitkan dahinya ke arahku. Aku tahu, dia pasti sedang bertanya-tanya dalam hatinya, siapa temanku yang akan menjemputku nanti. Biarkanlah! Aku memang sengaja, agar dia tidak melangkah lebih jauh dari ini, pikir Ara yang sedikit kesal menanggapi Ilham.


"Kamu mau ke mana, Ra? Saya bisa antar kamu kok, kalau kamu mau pergi ke suatu tempat," gumamnya.


"Gak usah, Kak. Teman aku dari Amerika datang hari ini, dan aku pengen ngajak dia buat keliling tempat ini," tolak Ara.


Ilham terlihat hanya diam, bahkan ia sama sekali tidak berekspresi.


"Siapa teman kamu yang dari Amerika?" tanya Arash tiba-tiba, membuat Ara mengernyitkan dahinya.


"Kepo," ketus Ara dengan singkat.


Terlihat Arash yang sedang menahan amarahnya. Ara hanya pura-pura tak melihatnya.

__ADS_1


Ara memperhatikan Ilham kembali, sepertinya memang tidak ada ekspresi apa pun darinya. Aku jadi meragukan, apakah dia benar-benar menyukaiku, atau hanya sebatas perasaan kagum saja? Pikir Ara.


"Drrtt ...."


Handphone Ara bergetar. Dengan segera, ia pun melihat notifikasi yang masuk.


Terlihat pesan singkat dari Bisma, kelihatannya, Bisma sudah sampai di depan rumahku, pikir Ara.


Dengan segera, Ara memasukkan kembali handphone-nya ke dalam saku tasnya.


Ara pun memandang ke arah mereka, "Ya udah ya, aku pamit dulu! Kayaknya, temen aku juga udah sampai," gumam Ara berpamitan.


Tanpa menunggu persetujuan mereka, Ara pun langsung pergi untuk bertemu dengan Bisma.


Ilham memandang kepergian Ara dengan miris. Lagi-lagi, ia kehilangan Ara lagi.


'Sepertinya, Ara berusaha menjaga jarak dengan saya,' batin Ilham, yang memang sudah bisa merasakan yang Ara pikirkan.


Selain Dicky, feeling Ilham juga tak kalah kuatnya. Ilham bisa paham dengan yang Ara pikirkan, dari sikap Ara yang sedari tadi terlalu terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Ilham.


Ilham menghela napasnya, 'Jadi, harus saya apakan perasaan yang sudah terlanjur saya katakan pada Arash?' batin Ilham, yang bingung dengan perasaannya pada Ara.


Arash memandang heran ke arah Ara yang sudah berlarian menuju ke arah pintu rumahnya. Sebagai kakaknya, Arash juga sedikit banyaknya merasa terpukul, karena dirinya yang sudah merasa gagal menjadi seorang kakak.


'Saya minta tolong dengan orang yang salah, ya?' batin Arash, yang resah dengan perasaannya sendiri.


Awalnya Arash berpikir, kalau hanya Morgan yang cocok untuk menjaga adiknya. Namun, tak disangka Ilham pun memendam rasa pada Ara. Hal itu membuat Arash semakin takut jadinya.

__ADS_1


'Ilham memang anak yang baik. Saya gak sangka dia akan menaruh hatinya untuk Ara. Padahal sejak dulu, Ilham hanya diam, bahkan saat Morgan bersama dengan Ara pun ia diam. Apa boleh secepat ini saya memberikannya izin?' batin Arash yang masih abu-abu dengan kondisi hati adiknya saat ini.


Arash sangat mengerti dengan kondisi kejiwaan Ara. Ia sangat paham, kalau sebenarnya Ara sangat mengalami depresi saat ini. Sama halnya saat ia kehilangan orang tua mereka. Arash sangat tahu perasaan Ara saat ini.


__ADS_2