Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Sabun Pencuci Piring


__ADS_3

Ara masih saja menangis, meski sudah setengah jam ia menangis, tetap saja ia tidak bisa menghentikan air mata yang sudah bercucuran di seluruh area wajahnya.


Ilham melihatnya dengan tatapan sendu, karena ini adalah kali pertama Ilham menghadapi seorang gadis yang sedang menangis di hadapannya.


Pagi itu, di taman dekat rumah Ara, Ilham menemani kegundahan hati Ara yang tidak bisa menerima takdirnya itu. Ara tidak bisa menerima kenyataan, kalau gadis kecil yang ada di rumahnya itu adalah adik hasil hubungan terlarang ayahnya.


Tak bisa dipungkiri, siapa pun yang mengalami hal seperti ini, pasti akan merasa sangat terkejut dan tertekan dengan keadaan. Apalagi ayahnya tidak hanya berbuat satu kesalahan saja. Ayahnya bahkan membunuh ibu kandungnya dengan kedua tangan kotornya itu. Tak hanya itu, ayahnya bahkan melakukan pertengkaran hebat dengan kakaknya sendiri, meski pada akhirnya ayahnya harus pergi meninggalkan Ara dengan keadaan mengenaskan.


Ilham menoleh ke arah Ara. Ia memandang Ara dengan tatapan yang sangat sendu. Selain tidak tega melihat seorang gadis menangis, Ilham ternyata juga tidak tahu bagaimana caranya menghibur hati gadis yang sedang putus asa seperti ini.


“Kamu, sudah mendingan?” tanya Ilham, membuat Ara menghentikan tangisannya.


Ara menyeka air matanya, tapi ia masih belum bisa berhenti menangisi takdirnya yang baginya terasa sangat menyakitkan.


“Lain kali, saya gak akan biarin kamu lari seperti tadi,” lirih Ilham, membuat Ara menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.


“Kakak siapa?” tanya Ara yang masih bingung dengan sosok Ilham yang masih belum ia kenal.


“Panggil aja Ilham. Saya manajer di perusahaan Arash,” jawab Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.


“Gak apa-apa, yang terpenting sekarang, tidak ada sesuatu yang terjadi sama kamu, dan kamu selamat dari kecelakaan. Saya gak akan menyalahkan kamu, kok,” lirih Ilham, yang berusaha memberikan semangat, dan Ekoterapi untuk Ara.


Ara hanya memandangnya dengan tatapan bingung, karena entah kenapa pria yang ada di hadapannya ini, sangat mengerti dengan keadaan dirinya saat ini. Ara hanya bisa menatapnya, dengan air mata yang masih sesekali mengalir ke wajahnya.


Ilham harus pelan-pelan membenarkan sikap Ara. Biar bagaimanapun juga, Ara harus menerima segala takdir yang sudah Tuhan gariskan padanya.


“Saya memang bukan siapa-siapa kamu. Saya juga bukan kakak kamu, bukan saudara kamu, tapi satu yang harus kamu tahu,” ucapnya membuat Ara memperhatikan wajah Ilham dengan saksama.

__ADS_1


“Saya ada di sini, untuk mendengarkan keluh-kesah kamu saat ini. Dan bukan tidak mungkin, saya mendengarkan keluh-kesah kamu nantinya. Jika kamu mengizinkan, saya akan terus menemani kamu, dengan segala keluh-kesah yang kamu derita,” ucap Ilham dengan nada yang selembut mungkin.


Ilham memang tidak mempunyai seorang adik, tapi ayahnya selalu mengajarkan dirinya untuk selalu bersikap lembut terhadap wanita.


Apalagi wanita itu adalah, Arasha.


Mungkin saja, saat-saat di mana Ara kehilangan kedua orang tuanya, Ara secara tak sengaja memblokir paksa ingatannya pada masa itu, sehingga membuat dirinya tidak bisa mengingat Morgan dan juga Ilham, yang pada saat itu sudah sangat mengenal tentang Ara.


Karena hal itu juga, Ara jadi selalu marah dan merasa kesal dengan segala sesuatu yang telah mengusiknya. Bukan kehendak Ara memiliki sikap temperamental seperti ini. Itu semua lagi-lagi karena masa lalu Ara yang kelam, yang membuatnya harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.


Ara menatap Ilham dengan sangat dalam, membuatnya sedikit tersentuh dengan ucapan Ilham yang sangat ia butuhkan pada saat-saat seperti ini.


Ara kembali menjerit dan menangis sesuka hatinya, membuat Ilham merasa tidak tahu lagi harus bagaimana.


Ara menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya, membuat Ilham semakin bingung dengan keadaan.


Entah apa yang membuatnya tidak jadi melakukannya. Hanya dirinya yang tahu.


“Kenapa sih, aku terlahir dari seorang pria seperti ayah? Apa aku gak bisa memilih kehidupan aku sendiri? Setelah terlahir pun, aku gak bisa menentukan jalan hidup aku! Semuanya selalu serba diatur! Dari mulai sekolah, keuangan, mobil, sampai jodoh pun diatur sama kakak! Sekarang malah apa? Kakak bawa anak kecil yang katanya adik aku. Apa aku gak boleh bahagia di hidup ini, hah?” teriak Ara yang sudah tidak bisa lagi menahan kekesalan di hatinya.


Sedikit banyaknya, Ilham juga merasakan apa yang Ara derita. Ia tahu betul bagaimana perasaan Ara saat ini. Tapi lagi-lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain memperhatikannya dari sebelahnya seperti ini.


‘Kenapa sikap saya sama seperti ayah?’ batin Ilham yang merasa tertekan.


‘Jadi seperti ini rasanya jadi ayah?’ batin Ilham yang sudah paham dengan yang ayahnya rasakan selama ini.


Ilham menunduk, tak tahu lagi harus berbuat apa. Karena untuk menyentuh Ara, itu tidak akan mungkin ia lakukan. Memeluk Ara tadi saja, ia sudah merasa hampir tidak bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


Mungkin karena ia merasa terlalu senang, karena bisa dekat dengan gadis yang ia suka.


“Semua hal yang kita anggap buruk, gak akan selamanya buruk. Pasti ada sisi baik di balik sisi buruk itu. Kamu gak gak boleh menyamaratakan semua hal yang kamu anggap buruk,” ucap Ilham membuat Ara seketika mendelik ke arahnya.


“Mana ada baik-baiknya kalau begitu?” tanya Ara sinis, membuat Ilham menghela napasnya dengan panjang.


“Pasti ada.”


“Degg ....”


Jantung Ara terus terpacu, tidak membiarkan dirinya untuk tenang sejenak. Ara memandang Ilham dengan sangat dalam, merasa kalau ada sesuatu di dalam diri Ilham, yang tidak Ara ketahui.


Mendengar nasehat dari Ilham, membuat Ara merasa sangat tenang.


“Mungkin, kalau gak ada Ares, Arash gak akan bersikap baik pagi tadi ke kamu. Secara tidak langsung, dia ingin membuktikan sama kamu, kalau dia bisa menjadi kakak yang lebih bertanggung jawab, dan lebih adil terhadap adik-adiknya. Dan mungkin, kesalahan itu nantinya akan berubah menjadi kebahagiaan, asal ... kamu menerimanya dengan iklas,” ucap Ilham panjang lebar menjelaskan pada Ara, membuat mata Ara membulat sempurna mendengar ucapan Ilham.


“Tapi bagaimana bisa minyak dicampurkan ke dalam seember air?” tanya Ara, membuat Ilham tersenyum ke arahnya.


“Justru di sanalah letak keistimewannya. Tuhan menghadirkan Ares di dalam kehidupan kamu sebagai minyak, supaya Arash bisa berperan layaknya sabun pencuci piring. Ketiga unsur air, minyak dan sabun pencuci piring, gak akan pernah bisa dipisahkan, dan saling bergantung satu sama lain,” ucap Ilham membuat Ara mengerti tentang konsep Tuhan, yang Ilham ucapkan tadi.


Ara tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia kembali menangis, membuat Ilham menggeleng kecil, dan secara refleks mengelus kepala Ara dengan lembut.


Morgan diam-diam melihat kejadian ini dari kejauhan, membuat dirinya sangat kesal pada pria yang berada di sebelah Ara. Morgan mengepalkan tangannya melihat Ilham yang memandang Ara dengan sangat dalam seperti itu.


‘Pria itu ...,’ batin Morgan yang berusaha menahan rasa kesal di hatinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2