Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pacar Popular


__ADS_3

"Saya gak mungkin ninggalin kamu dong," ucap Morgan, membuat Ara terlihat sedikit tenang.


Melihat respon Ara yang sudah cukup bisa terkendali, Morgan pun menjadi sedikit tenang. Ia teringat dengan bunga yang ia bawa tadi.


"Sebentar," gumam Morgan, yang beranjak pergi dari sana, untuk mengambil bunga yang sudah terjatuh di lantai.


Morgan mengambilnya dan memberikannya pada Ara. Ara yang mengetahui niat baik Morgan, secara sukarela mengambil bunga yang Morgan sodorkan, kemudian menciumnya.


"Makasih," ucap Ara yang malu-malu, membuat Morgan menjadi tersipu dibuatnya.


Morgan tersenyum dan melupakan sejenak masalah yang baru saja muncul. Tak disangka, Morgan akan bertemu dengan wanita itu lagi.


Banyak sekali dendam yang mungkin masih ia simpan kepada Morgan. Tapi kenyataannya, belum tentu sama seperti yang dirinya pikirkan selama ini.


Aku tidak bisa menahan ini lebih lama. Aku harus segera menyelesaikan ini dengannya. Tapi sebelumnya, aku harus mengajak Ara untuk berkeliling lebih dulu, pikir Morgan yang masih terpikir dengan wanita penuh dendam itu.


Morgan menatapnya dengan lembut, "mau berkeliling?" tanya Morgan.


Ara pun mengangguk mantap dengan ajakannya.


Morgan menatapnya dengan tatapan jahil, Apa aku bisa menggodanya sedikit? Pikir Morgan.


Morgan menyodorkan pipinya pada Ara, sembari memejamkan matanya, "cium dulu," ledek Morgan.


Morgan memejamkan matanya, karena khawatir dirinya akan membuat Ara malu.


Setelah menunggunya beberapa saat, Ara tak kunjung mengecup pipinya. Morgan pun kembali membuka matanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Lho ... kenapa?" tanya Morgan heran dengan sikap Ara.


Ara masih saja menggelengkan kepalanya. Tanpa pikir panjang, Morgan pun langsung menerkam Ara. Ia terlihat malu saat Morgan melakukan ini dengan tiba-tiba.


Ara mendelik kaget, "ishh lepasin!" teriak Ara, membuat Morgan mendadak gemas padanya.


Ini baru wanitaku, pikir Morgan teriring senyum.


"Apa ... kamu mau kita menikmati hari di sini?" goda Morgan, yang jelas sekali membuat seluruh wajahnya memerah.


Melihat perubahan sikapnya yang aneh setiap Morgan menggodanya, membuat Morgan semakin tak bisa menahan dirinya. Rasanya, ingin sekali ia menggoda Ara seperti ini terus.


"Jangan halu deh! Ayo katanya kita mau jalan-jalan?" tanyanya.


Ternyata, sifatnya masih sama seperti dulu. Tapi mungkin, sekarang sudah menjadi agak lunak. Apa tandanya, aku berhasil menaklukan dia sepenuhnya? Pikir Morgan.

__ADS_1


Ara mendelik kesal, "ih ayo! Katanya mau jalan, kok malah bengong, sih?" pekik Ara, membuat Morgan mendadak terkejut mendengarnya.


"Hahaha ... iya. Ayo," ucap Morgan, dengan penuh kelembutan.


Morgan pun bangkit dari keadaannya yang sebelumnya menerkam Ara. Ara terlihat masih saja seperti orang yang tidak senang dengan perlakuannya. Morgan hanya bisa memaklumi, melihat sikap Ara yang seperti itu.


Itu sudah tabiatnya.


Morgan mengajak Ara berkeliling Kota Tokyo, dengan memakai pakaian adat Jepang (Kimono). Sudah lama sekali dirinya tidak memakai pakaian ini.


Morhan memandang Ara yang juga sudah mengenakan pakaian adat kimono. Ara sangat terlihat cantik mengenakannya, membuat Morgan sampai pangling melihatnya.


Ara tak sengaja melirik ke arah Morgan, yang saat ini sedang memperhatikannya. Morgan pun hanya tersenyum, melihat kekasihnya berdandan sangat cantik seperti itu.


Mereka berhenti tepat di depan gedung University of Tokyo, tempat di mana Morgan menimba ilmu selama 3 tahun di Negeri Sakura ini.


Morgan melepaskan pandangan, sejauh mata memandang. Ia sangat merindukan masa-masa indah dirinya di sini. Walau menemukan banyak perbedaan, tapi ia merasa tempat ini sudah menjadi bagian dari kehidupannya.


Morgan menoleh ke arah Ara, "ini tempat saya melanjutkan S-2. Kamu pasti kaget, kan?" gumam Morgan dengan bangga.


Ara memasang tampang yang tidak meyakinkan.


"Gak percaya tuh ...," ucapnya dengan nada yang sedikit mengesalkan, membuat Morgan sampai merasa sedikit kesal padanya.


Ara hanya menunjukkan ekspresi datarnya, membuat Morgan berpikir, apa aku tidak menarik baginya?


Ara menafikan pandangannya, "yayaya ... saking populernya, sampai lupa kalau udah punya pacar," gerutu Ara.


Ternyata, Ara sedang cemburu padaku, pikir Morgan, yang menggeleng kecil sembari menyentil keningnya.


"Tukk ...."


"Aduh ... sakit tau!" geram Ara sembari mengusap-usap bagian kening yang sakit.


Tapi kenyataannya, Morgan tidak sekejam itu, kok.


Melihat responnya yang berlebihan, Morgan mendekatkan wajahnya pada Ara. Terlihat Ara yang sedang berusaha untuk menahan malunya.


"Ih, ngapain sih kamu!" bentak Ara yang menghindari wajahnya dari wajah Morgan.


Morgan tersenyum, aku suka sekali menggodanya seperti ini. Aku sangat bahagia melihat setiap respon yang ia keluarkan untuk setiap keisenganku, pikir Morgan.


Morgan mendekat kembali ke arah Ara, "pacarmu ini ... tampan, tidak?" tanya Morgan berbisik pada Ara.

__ADS_1


Telinganya terlihat berubah menjadi merah. Itu sangat terlihat jelas dari perubahan sikapnya.


Ara memberi jarak kembali pada Morgan, "udah deh ... jangan ganggu!" ucapnya lalu mengerutkan bibirnya.


Ara tak sengaja melihat sesuatu ke arah sana. Morgan mencoba memperhatikan apa yang Ara lihat. Ternyata, Ara sedang melihat muda-mudi yang berciuman di pinggir jalan.


Melihat kejadian itu, Morgan pun tersenyum padanya dan mendekatkan kembali wajahnya ke telinga Ara.


"Kamu mau seperti itu?" tanya Morgan dengan nada menggoda.


Ara kembali menyingkirkan wajahnya dari hadapan Morgan. Kali ini, Ara menutupi hampir seluruh bagian wajanya dengan kedua tangannya. Ia sudah benar-benar merasa malu.


"Jangan gila deh!" ucapnya yang masih menentang betul keadaan.


Aku jadi mengetahui satu hal, semakin aku menggodanya, semakin juga ia melawan perasaannya padaku. Aku tidak boleh menembaknya dengan spontan. Aku harus mengulurnya, sama seperti saat ujian akhir berlangsung. Ia menjadi lunak saat aku ulur. Lain halnya saat aku selalu menembaknya dengan percaya diri. Ia juga pasti akan selalu melawan hatinya, pikir Morgan.


Morgan tersenyum, "udah yuk ... kita ke tempat Naoki," ajak Morgan.


Ara terlihat bingung dengan yang ia ucapkan tadi.


"Naoki?" tanyanya.


Benar saja, apa aku belum memberi tahunya tentang temanku yang bekerja di pabrik pulpen yang ia banggakan waktu itu? Pikir Morgan sembari menghela napasnya panjang.


"Apa saya belum memberi tahu kamu?" tanya Morgan, membuat Ara menggeleng kecil.


"Teman saya yang bekerja di pabrik pulpen yang kamu banggakan itu, namanya Naoki," ucap Morgan.


Ia terdiam sesaat. Morgan merasa, ia sedang mencerna perkataannya tadi.


"Oh! Yang waktu itu aku debat sama Kaprodi gara-gara pulpen?" tanyanya, membuat Morgan mengangguk mantap ke arahnya.


"Wah ... apa dia masih kerja di sana?" tanyanya, membuat Morgan tersenyum padanya.


"Masih. Apa kamu mau dikenalkan?" tanya Morgan.


Mata Ara terlihat berbinar, saat Morgan bertanya demikian.


"Mau!" jawabnya dengan mantap.


Morgan menghela napasnya dalam. Tampaknya, Ara sangat senang dengan ajakannya kali ini.


Tanpa basa-basi, Morgan pun mengajaknya menuju apartemen yang Naoki singgahi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2