
Ilham terkejut karena mendengar suara seperti orang yang terjatuh dari arah tangga darurat. Ia menoleh, dan terdiam sejenak.
Ia segera berlari menuju ke arah tangga darurat, karena pada tengah malam ini, situasi di gedung itu sangat sepi.
"Awss ...."
Seseorang merintih, karena terjatuh dari atas menuju ke bagian bawah tangga darurat.
Ilham mendelik, karena yang ia lihat adalah Jessline yang saat ini sudah tersungkur di bawah lantai.
"Jessline!" pekik Ilham, yang membuat Jessline menoleh ke arahnya.
Di sisi sana, Fla baru menyadari keadaannya. Mungkin karena sudah cukup lama tertidur, kesadarannya sudah sedikit pulih dari sebelumnya.
Ia mendelik, dan mengedarkan pandangan ke segala arah, yang saat itu sudah sangat gelap, tak ada lampu dan udara sedikit pun.
"Kak Arash ...," pekik Fla yang sudah takut karena penglihatan yang kurang jelas baginya.
"Ada apa?" jawab Arash, yang suaranya terdengar tak jauh darinya.
Fla segera melompat, untuk memeluk Arash, karena kelemahan Fla adalah kegelapan, ia sangat takut berada di ruangan yang gelap, bahkan setiap kali ia tidur, ia tak pernah memadamkan lampu di kamarnya.
Fla memeluk Arash dengan sangat erat, membuat Arash mendelik tak percaya dengan apa yang Fla lakukan ini.
"Fla, are you okay?" tanya Arash, yang merasakan tubuh Fla yang sudah bergetar.
Arash terdiam, membiarkan Fla memeluknya dengan sangat erat, meski pun ia merasa sedikit sesak, karena Fla yang terlalu erat memeluknya.
Itu membuat Arash mengerti, kalau Fla takut dengan kegelapan.
"Kamu takut gelap, Fla?" tanya Arash, membuat Fla mengangguk kecil.
"Saat ini, kita sudah terjebak di dalam lift. Saya gak tahu caranya keluar dari sini seperti apa," lirih Arash.
__ADS_1
Arash teringat dengan Ilham, dan berusaha untuk mengambil handphone-nya.
Arash mencari-cari telepon genggamnya, tapi ia sama sekali tidak bisa menemukannya.
"Di mana handphone saya, ya?" gumam Arash dengan lirih, membuatnya panik, karena keterbatasan penglihatan, ia tidak bisa menemukan handphone-nya.
Fla mengerenyitkan dahinya, "gimana caranya kita keluar dari sini, Kak?" tanya Fla, membuat Arash menggelengkan kepalanya.
Di sana, Ilham segera memapah Jessline yang sudah tersungkur di lantai. Ia mendudukkan Jess pada tangga darurat, berusaha menunggu Jess sampai ia merasa tenang dengan keadaannya.
"Kamu kenapa, Jess? Kok bisa kamu ada di sini?" tanya Ilham, membuat Jessline memandang ke arahnya.
"Aku di sini, bertemu kawan lama. Gak sengaja ngeliat Arash lagi sama Fla tadi," jawab Jessline dengan lirih, karena dia malu dengan Ilham.
"Kenapa kamu sampai jatuh begitu?" tanya Ilham yang penasaran dengan Jessline.
"Tadi, aku mau minta tolong karena ... Arash terjebak di lift," jawab Jessline membuat Ilham mendelik, saking kagetnya dengan apa yang dia ucapkan.
Ternyata dugaan saya benar! Arash terjebak di lift, pikir Ilham yang tak habis pikir dengan firasatnya yang hampir semuanya selalu benar.
Arash cuma bisa menunggu pertolongan di sana. Ia sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi, karena semakin ia bergerak, semakin juga oksigen di dalam sana terasa lebih cepat habis, berganti dengan karbondioksida. Arash tidak ingin terlalu sering menghirup napasnya.
Arash melihat Fla yang masih memeluknya dengan erat, yang keadaannya saat ini sudah terlihat cukup lemas.
Melihat pakaian Fla yang terlalu terbuka, Arash segera melepaskan jas hitamnya, dan menyelimuti tubuh Fla dengan jas yang ia pakai. Hal itu, membuat Fla tersadar, dan merasa canggung dengan perlakuan manis Arash, yang lagi-lagi membuatnya mati gaya.
"Bertahan, Fla. Jangan terlalu sering menghirup napas," gumam Arash lirih, membuat Fla mengangguk kecil.
Ilham berlarian ke arah pos satpam, berharap masih ada satpam yang berjaga di pos, untuk segera membantunya membuka lift secepat mungkin, khawatir keadaan Arash tidak tertolong lagi, apalagi Ilham mengetahui kalau Arash sedang kehilangan kesadarannya karena mabuk. Hal itu semakin membuat Ilham khawatir dengan keadaannya.
Ilham tiba di pos satpam, dan melihat beberapa satpam sedang bersiap untuk berpatroli, mengitari seluruh kawasan gedung.
"Pak, tolong sebentar," ucap Ilham yang tiba-tiba, membuat semua orang melihat ke arahnya dengan pandangan yang panik.
__ADS_1
Melihat Fla yang nampaknya sudah hampir tak sadarkan diri, Arash berusaha merengkuh Fla ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin sampai terjadi sesuatu terhadap Fla.
Arash mendelik, "Fla, bertahan, jangan mau kalah sama keadaan!" lirih Arash, yang tak dihiraukan oleh Fla, karena ia merasa dadanya kini yang sudah sesak.
Fla memegangi dadanya, yang terasa sangat sesak, membuat Arash mendelik tak percaya dengan apa yang Fla rasakan.
"Fla, kamu kenapa?" tanya Arash yang bingung dengan keadaan Fla.
Ia melihat Fla yang sepertinya sedang sesak napas, membuatnya bingung harus melakukan apa lagi. Arash berusaha menggoyangkan bahu Fla dengan kedua tangannya, karena bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Fla, kamu kenapa?" tanya Arash, yang masih tak dihiraukan oleh Fla.
Ilham bersama para satpam lainnya, segera menuju ke arah resepsionis. Kini, mereka sudah tiba di sana dengan keadaan yang sangat tergesa-gesa.
"Mbak, gimana teknisinya, sudah datang?" tanya Ilham.
"Saya sudah hubungi, Pak. Sepertinya masih dalam perjalanan."
"Tolong minta dipercepat lagi, Mbak. Arash terjebak di lift!" ujar Ilham, membuat resepsionis itu mendelik kaget, karena mendengar salah satu tamunya yang paling sering mengunjungi tempat ini, terjebak di dalam lift.
"Baik, Pak. Saya hubungi sekali lagi," ucapnya dengan nada yang sangat khawatir.
Sebelumnya memang resepsionis itu tidak mengetahui, kalau ada yang terjebak di lift. Tetapi saat Ilham berkata ada seseorang yang terjebak di sana, terlebih lagi yang terjebak itu adalah Arash, tamu yang paling sering berkunjung dan memesan meeting room di hotel ini, membuat resepsionis itu menjadi sangat panik dibuatnya.
Ilham segera menghubungi rumah sakit, untuk segera mengirimkan tabung oksigen, dan juga alat bantu pernapasan untuk Arash. Ia tidak ingin temannya mati sia-sia, begitu saja.
Di sana, Arash sangat bingung dengan nasib mereka saat ini, terlebih lagi Fla yang semakin kehabisan oksigen, membuat Arash semakin tertekan dengan keadaan. Tak bisa dipungkiri, Arash juga merasa sangat sesak, karena di dalam sini, ia merasa sangat sesak, dan hampir saja kehabisan napasnya.
Arash memandang ke arah Fla, yang sudah lemas, "masa sih, saya harus kasih kamu napas buatan?" gumam Arash yang bingung dengan keadaan.
Arash melihat ke arah Fla yang sudah sesak, dan hampir tak sadarkan diri lagi.
Mau tidak mau, Arash harus melakukannya, agar Fla tidak terlalu kehabisan oksigen, sebelum ada pertolongan untuk menolong mereka.
__ADS_1
"Gleekk ...."