
Siang itu, Morgan sedang berjalan melintas di koridor sekolahnya. Morgan terlalu memaksakan untuk menghadiri panggilan dari Kaprodi, padahal kondisinya siang itu, masih belum terlalu pulih dari efek mabuknya semalam.
Berhubung Morgan sudah tidak masuk kerja kemarin, mau tidak mau, ia harus memenuhi panggilan itu pada hari ini.
Morgan tidak seperti biasanya, yang selalu menjaga penampilannya ketika di kampus. Saat ini, wajahnya sudah ditutupi jenggot dan kumis yang sudah lumayan tebal karena dirinya yang belum sempat untuk merawat penampilannya.
Itu semua berdampak dari permasalahan yang iya hadapi kemarin. Dari mulai permasalahan Gemi, Aca, Meygumi kemudian permasalahan Fla, dilanjut dengan permasalahan Farha yang sudah tidak masuk di pikiran Morgan.
Kenapa kisah percintaanku begitu rumit seperti ini, sih? Apa tidak bisa menjadi pria tampan yang normal, yang hanya mencintai dan dicintai oleh satu orang saja? Pikir Morgan, yang merasa sudah tidak nyaman dengan kehidupannya saat ini.
Ia melangkah jenjang menuju kantor Kaprodi. Tanpa mengetuk pintu, Morgan pun membuka pintu itu.
Di sana, ternyata sudah terlihat Kaprodi, Dicky dan juga Lidya yang sudah menunggu kedatangan Morgan.
Mereka melihat ke arah Morgan yang baru saja datang dari arah pintu masuk.
“Selamat siang, semuanya,” lirih Morgan, membuat Dicky dan Lidya seketika menoleh ke arahnya.
“Siang, Pak Morgan,” jawab mereka serempak.
Morgan pun duduk di kursi kosong, melingkari meja bundar yang ada di hadapannya.
Ruangan ini, tempat yang paling nyaman untuk berdiskusi, karena bentuk mejanya yang bundar, semakin menambah kesan konfrensi. Sangat jarang orang yang bisa duduk di kursi yang ada di ruangan ini. Dengan kata lain, hanya dosen-dosen tertentu saja yang bisa menduduki kursi ini.
Entah apa istimewanya kursi ini. Jika dilihat kembali dengan saksama, bagi mereka semua yang tidak memiliki kepentingan akan terasa sama saja. Tapi, bagi mereka yang sudah diundang ke ruangan ini, itu merupakan satu kehormatan untuk mereka.
Berbanding terbalik dengan kehormatan, justru ruangan ini bisa menjadi ancaman untuk para mahasiswa dan dosen yang sedang terkena kasus scandal, maka ruangan ini akan terasa sangat sesak untuk mereka.
__ADS_1
Entah apa ajaibnya ruangan ini.
“Baiklah, semua sudah lengkap, mari kita bahas pembahasan kali ini. Saya mohon, kesediaannya untuk tetap tenang, dan juga memberikan keseriusan dalam berbicara. Sekali lagi, rapat kali ini tidak ada main-main, karena pembahasan yang akan kita bahas adalah pembahasan yang sangat serius, bisa dimengerti?” tanya Pak Handoko, selaku Kaprodi di kampus ini.
“Mengerti,” jawab mereka secara serempak.
“Baiklah, kita buka saja rapat kali ini dengan beberapa pertanyaan ringan,” ucap Kaprodi.
Ia menatap ke arah Morgan dengan tatapan yang sangat tajam, “Pak Morgan, kenapa wajah anda terasa sangat berbeda dari biasanya? Apa ada masalah yang berarti, sehingga anda tidak merawat diri dengan benar?” tanya Kaprodi, membuat Morgan memandang ke arahnya.
“Ya benar. Ini, permasalahan internal, Pak,” jawab Morgan, membuat Kaprodi mengangguk paham.
“Baiklah, karena permasalahan internal, saya tidak akan membahas lebih jauh lagi. Inti dari pembahasan kali ini adalah, mengenai kasus Aca,” ucap Kaprodi, yang sudah mulai to the point ke inti permasalahan, setelah lama bertele-tele.
‘Akhirnya hari ini datang juga,’ batin Morgan.
“Bisa anda jelaskan kesalahan, dan peran anda juga rekan-rekan sekalian mengenai ini?” tanya Kaprodi, membuat Morgan memandang ke arah Lidya dan Dicky secara bergantian.
Dicky menyodorkan sebuah berkas kepada Morgan, dan Morgan pun menerimanya.
Morgan menyodorkan berkas itu pada Kaprodi, “semua pembahasan mengenai Aca, ada di berkas ini. Semua sudah tertera jelas pada tiap lembaran yang ada. Ada juga media pendukung seperti CD hasil rekaman pengakuan dari Aca, dan lain-lainnya. Tetapi, barang bukti seperti sepatu high heels yang dipakai Aca untuk menyerang saya, sudah diamankan oleh petugas kepolisian sebagai barang bukti,” ucap Morgan, membuat Kaprodi yang rambutnya setengah botak itu, mengambil berkas yang tadi Morgan sodorkan padanya.
“Berapa lama masa tahanan Aca?” tanya Kaprodi.
“Sekitar 3 tahunan, itu pun jika orang tuanya tidak menebusnya,” jawab Morgan, membuat Kaprodi mengangguk.
“Baiklah, pembahasan tentang Aca, cukup sampai di sini,” ucap Kaprodi, membuat mereka tenang mendengarnya.
__ADS_1
“Satu pembahasan yang akan saya bahas lagi. Ini tentang program pertukaran dosen yang sudah mendapat gelar S-2,” ucap Kaprodi, membuat mereka mendengarkan secara saksama.
“Program ini akan dimulai ketika awal perkuliahan semester depan. Tapi, setelah melaksanakan ujian, sudah harus berkemas dan sudah harus berada di sana, untuk sekedar berorientasi dengan keadaan sekitar yang berada di Negara itu,” ucap Kaprodi, membuat mereka tercengang mendengarnya.
“Memangnya, ke Negara apa nantinya, Pak?” tanya Dicky yang penasaran dengan program pertukaran dosen ini.
“Amerika,” jawab Kaprodi secara singkat, membuat mereka saling menatap satu sama lain.
“Berapa lama?” tanya Lidya, yang juga mulai penasaran dengan program tersebut.
“Sekitar tiga sampai empat bulan, menghabiskan tengah semester di sana,” jawab Kaprodi, membuat Morgan tidak tenang.
“Apa semua yang ada di sini harus ikut program itu, Pak?” tanya Morgan.
“Tidak, hanya Pak Morgan saja yang diikut sertakan,” ucap Kaprodi, membuat Lidya, Dicky dan Morgan tercengang bukan main.
“Lho, kenapa, Pak? Ada Dicky di sini sebagai salah satu dosen terbaik di fakultas ini, bahkan di kampus ini. Kenapa harus saya?” tanya Morgan, membuat Kaprodi terdiam.
“Justru karena dia adalah dosen terbaik di kampus ini, kami masih harus menahan Pak Dicky. Karena jika ada permasalahan, kami selalu bertanya pada Dicky, dan dia selalu bisa memecahkan masalah itu. Ya seperti kasus Aca sekarang ini contohnya,” ucap Kaprodi, membuat Morgan tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Atau Lidya, dia juga pantas didaftarkan pada program ini, Pak. IT Support terbaik di kampus ini, walaupun wanita, tetap saja gak bisa diremehkan,” ucap Morgan yang terus mencari alibi untuk mencegah agar dirinya tidak jadi pergi ke Amerika meninggalkan Ara di sini.
“Kalau Lidya pergi, Lantas yang menangani server kalau sedang eror, siapa?” tanya Kaprodi, membuat harapan Morgan hilang karenanya.
“Apa ... tidak bisa dosen yang lain, Pak?” tanya Morgan sekali lagi, dengan nada yang sangat sendu.
“Tidak usah banyak berkilah. Persiapkan saja semua yang diperlukan. Tiga hari setelah selesai ujian semester kali ini, akan diadakan rapat kembali untuk membahas mengenai program ini, dan juga pembahasan tentang penginputan nilai mahasiswa,” ucap Kaprodi, membuat Morgan tidak bisa berkata apa pun lagi.
__ADS_1
Morgan hanya bisa menghela napas, dan merenungi permasalahan yang nantinya pasti akan muncul di dalam kisah dirinya dan Ara.
‘Saya harus gimana?’ batin Morgan yang sedang dalam kesulitan saat ini.