
Ia melontarkan senyuman, lalu bangkit dan merapikan pakaiannya yang berantakan karena terdorong oleh Ara.
Arasha menarik selimutnya dan membalikkan badannya membelakangi Morgan.
“Selamat malam,” gumam Morgan lirih, tapi Ara tidak menghiraukannya.
Morgan beranjak pergi dan mengunci pintu kembali.
Perasaan Ara campur aduk, karena kejadian hari ini, banyak kejadian tak terduga yang membuatnya kesal. Apa yang barusan terjadi, membuat dirinya menjadi seseorang yang idiot.
“Maksudnya apa, coba?” lirihnya kesal, lalu memukul bantal yang sedang ia pegang.
“Drrrt ... drtt ....”
Handphone-nya tiba-tiba saja bergetar, karena ada pesan singkat yang masuk. Ara yang penasaran, langsung melihat ke arah layar handphone. Terlihat tulisan Bisma tertera di sana. Ara membuka pesan singkat dari kekasihnya itu.
“Have a nice dreams yaa sweet heart. :*”
Pesan singkat yang manis sekali, dengan tanda titik dua bintang di akhir pesan.
Perasaannya pada Bisma menjadi berkurang, karena perlakuan manis Morgan terhadapnya. Ara sama sekali tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
“Maaf,” gumamnya lirih, setelah itu segera memejamkan matanya.
***
Pagi hari menyapa. Langit pun nampak bersahabat. Ara bergegas untuk pergi ke kampus. Di depan ruang tamu, ia berpapasan dengan kakaknya.
“Oh, pagi,” sapa Arash yang dingin.
“Pagi, Kak.”
“Kakak gak bisa antar kamu hari ini,” ucapannya membuat Ara menyipitkan mata ke arahnya.
“Kakak mau jemput cewek yang semalem, ya?” tanya Ara yang sedikit menyelidiki.
Kalau dipikir kembali, kenapa kemarin dia tidak ada saat Ara kembali dari mini market? Pikir Ara.
“Jangan ngawur kamu,” bantah Arash yang terlihat masih sibuk di depan laptopnya.
Ara menghela napas panjang. Sepertinya sedang ada masalah di kantor.
“Oh ... aku ngerti, kok,” jawab Ara dengan nada datar.
Ara memang sudah biasa seperti ini. Biasanya, ia berjalan sendiri saja kemana pun ia mau.
Tapi, semua itu berubah setelah bertemu Reza.
Reza selalu mengantarkan Ara, kemana pun Ara inginkan. Ucapannya sama persis dengan apa yang Morgan ucapkan pada Ara waktu itu. Itu sebabnya, Ara tidak ingin mengulangi kesalahan dua kali. Ia tidak mau memberikan hatinya lagi pada Morgan, yang selalu memaksanya.
“Huft ....”
Waktu cepat sekali berlalu.
“Tapi, hari ini bareng Morgan ya.”
“Uhuk ... bareng sama dia?” Ara terkejut sampai tersedak, karena mendengar Arash mengucapkan kata itu.
Ada apa ini? Apa ada hal yang tidak aku ketahui, yang baru saja terjadi? Pikir Ara.
__ADS_1
“Kaget amat. Morgan itu dosen di kampus kamu, jadi kakak pikir, dia mungkin aja mau direpotin buat anter jemput kamu setiap hari.”
‘Apa? Antar-jemput setiap hari?’ batinnya merasa resah.
“Aku gak mau!” tolaknya tegas, sembari mendelik.
Ara langsung pergi dari hadapan kakaknya. Ternyata, sudah ada Morgan di sana. Ara melewatinya dengan cepat, yang sudah berdiri di depan halaman rumahnya.
“Ra!” Pekik Morgan, namun Ara sama sekali tak menghiraukannya.
Ia malah pergi, dengan berjalan kaki. Ia tidak sudi untuk berangkat bersama Morgan, walaupun dia adalah teman kakaknya, sekaligus dosen di kampusnya.
Morgan hanya diam, tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba datang Arash dari dalam rumah.
“Tolong ya, Gan,” pinta Arash.
Morgan mengacungkan jempol pada Arash, kemudian bergegas untuk mengejar Ara.
“Cepat sekali larinya,” lirihnya, sembari melihat Ara yang sudah sampai di ujung sana.
Morgan kembali berlari untuk mengejarnya. Jangan sampai ia pergi dengan berjalan kaki.
Ara berjalan cepat dan hampir seperti setengah berlari. Ia merasa, ada seseorang yang mengikutinya. Semakin lama, semakin mendekat, membuat Ara semakin ketakutan.
‘Aduh, siapa sih?’ batin Ara merasa sangat takut.
Ara merasa terancam. Ia pun berlari sekuat tenaga yang ia miliki.
“Hap ....”
Morgan berhasil menangkap tangannya, membuat Ara tidak bisa berlari lagi. Ara yang takut, langsung saja menghempaskan tangannya sekuat tenaga.
Ia pun mendelik ke arah Morgan.
“Lepasin!” bentak Ara, yang baru sadar, kalau yang berulah adalah Morgan.
“Mau kemana? Ikut bareng saya,” gumamnya dengan nada yang datar.
Ara mendengus kesal karena perlakuan Morgan padanya yang menurutnya sangat kasar.
“Gak mau! Pokoknya, gue gak mau bareng sama loe!” bantah Ara tak kalah kasar.
Ara sama sekali tidak ingin miliki sangkut-paut apa pun dengan Morgan lagi. Satu sisi, ia sudah punya Bisma, di sisi lain, Morgan pun sudah memiliki orang yang ia suka.
“Ih lepasin gak--”
“Tin ....”
Terdengar keras suara klakson motor, membuat Ara menoleh ke belakang.
Terlihat Bisma di sana.
“Bisma!” pekik Ara.
Dengan sekuat tenaga, ia melepaskan tangannya dari cengkraman Morgan yang sudah melonggar itu. Ara buru-buru menghampiri Bisma.
“Ayo naik,” suruh Bisma, Ara pun hanya mengangguk kecil.
Pandangan mata laki-laki itu, seakan menyorotkan kebencian. Morgan tidak menghiraukannya. Yang ia pedulikan hanyalah Ara.
__ADS_1
Kenapa dia bisa ikut bersamanya, namun ia tidak mau ikut bersamaku? Pikir Morgan.
Ara meninggalkan Morgan di sana. Sepanjang jalan menuju kampus, Ara bercengkrama dengan Bisma.
“Kenapa sih, dia keras banget, dan gak pernah mau nyerah?” gumam Bisma, terdengar seperti orang yang kesal.
“Gue juga udah berusaha menghindar dari dia. Cuma gue gak bisa. Keadaan yang gak berpihak,” jawab Ara.
“Morgan itu ... harus dikasih pelajaran!” ucap Bisma, yang membuat Ara terkejut.
Apa yang mau Bisma lakukan pada Morgan?
“Jangan ngada-ngada deh, Bis! Gue gak pengen loe terlibat sama dia. Udah cukup, gue gak mau loe perpanjang masalah yang terjadi antara gue sama dia,”geram Ara, yang berusaha untuk memperingatkan Bisma.
“Oke, gue paham.”
Mereka, Ara dan Bisma, akhirnya sampai di kampusnya. Ara pun turun dari motor Bisma, dan membenarkan kemejanya yang terlipat.
Bisma meletakkan helm yang ia pakai, kemudian nampak sedang melihat sesuatu, dan membuatnya terlihat resah. Ara yang melihatnya bingung dengan perubahan sikap Bisma.
Ara mengerenyitkan dahinya, “loe lihat apa?” tanyanya.
“Bukan apa-apa, kok. Ayo jalan.”
Ara terdiam karena melihat reaksi Bisma yang gugup. Bisma kemudian menggenggam tangannya dan mengajaknya pergi dari sana secepat mungkin.
Di arah menuju kelas, mereka pun berpisah.
“Gue masuk kelas, ya,” ucap Bisma.
“Okey, bye,” jawab Ara, Bisma mengacak-acak rambut Ara dengan lembut, membuat Ara tersenyum manis padanya.
Mereka akhirnya berpisah sampai di sini. Tidak ada kata yang terucap setelahnya.
Ya, tidak ada. Karena Ara baru saja memulai kisah cinta ini, dengan tujuan untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Mungkin, Ara perlu sedikit waktu untuk bisa benar-benar menerima Bisma untuk menggantikan posisi Reza di hatinya.
“Huft ....”
Lagi-lagi ia mengingat Reza.
“Ahh ....” Ara jadi kesal sendiri.
Arasha berjalan menuju ke arah kelasnya yang berada sebelum ujung bangunan ini. Ia tak sengaja melihat seseorang, yang sepertinya sedang di-bully di pojok sana.
Langkahnya terhenti, karena terlalu serius memperhatikan mereka. Ada sekitar empat orang gadis di sana, termasuk gadis yang sedang di-bully itu.
Apa yang sebenarnya terjadi, ya? Aku merasa sedikit iba dengannya, pikir Ara.
“Ah, bukan urusan gue,” lirihnya, kemudian masuk ke dalam kelas.
Sepanjang jalan menuju mejanya, ia berpikir, kalau saja ia yang berada di posisi gadis itu, bagaimana? Bisa-bisa, Ara tidak punya kekuatan lagi untuk melanjutkan perkuliahannya, dan selamanya akan menjadi depresi.
‘Ah. Itu gak boleh kejadian sama dia,’ batin Ara yang menguatkan tekadnya untuk menolong gadis itu.
Ara meyakinkan dirinya untuk menolong gadis itu, kemudian meletakkan tasnya dan bergegas menuju kerumunan orang tersebut.
“Gue gak tau apa-apa!” teriak gadis yang berstatus korban tersebut.
“Hah? Loe pikir, gue bego apa?”
__ADS_1
“Plak ....”