
Terlihat Fla yang sudah mulai kembali menjalani rutinitasnya di kampus. Ia hanya duduk diam di tempatnya, karena jam pertama ini, tidak ada dosen yang mengisi kelasnya.
Fla terdiam, sembari memikirkan tentang Arash, yang sudah menyelamatkannya waktu itu. Fla masih belum menyangka, kenapa bisa Arash menolongnya saat itu?
‘Ternyata kak Arash sampai segitunya ya? Kenapa jadi gak bisa berhenti mikirin dia?’ batin Fla yang tak sadar, sudah terkesima dengan Arash yang sudah menolongnya.
Fla yang penasaran, segera membuka handphone-nya. Ia mencari akun media sosial milik Arash.
Di layar handphone-nya kini, sudah terlihat akun milik Arash.
Tapi, Arash memprivasi akunnya, agar tidak sembarang orang, yang bisa melihat setiap aktivitas yang sedang Arash lakukan.
Hal itu membuat Fla merasa bimbang. Fla ragu, ingin sekali dirinya mem-follow akun Arash, untuk sekedar melihat foto yang ada di dalam akunnya itu.
‘Boleh gak ya aku follow dia? Apa gak terlalu mencolok, ya?’ batin Fla.
Rasa penasarannya menutupi rasa khawatirnya. Fla berusaha menghilangkan rasa khawatirnya, dan segera mengikuti akun Arash yang sudah ia perhatikan, kurang lebih lima menit terakhir.
Ia mengarahkan jemarinya, dan kini ia sudah berhasil mengikuti akun Arash.
Dari arah sana, Arash yang sedang menunggu Ares di pinggir pantai, dikejutkan dengan satu notifikasi dari handphone-nya.
Ia melihat pada layar handphone-nya, tertera akun milik Fla, yang baru saja mengikutinya.
Arash mengerenyitkan dahinya, “kok dia bisa tahu akun gue, ya?” lirih Arash bingung dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Kakak …,” pekik Aresha dari arah pantai, membuat Arash menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” teriak Arash, Ares terlihat sedang melambaikan tangannya, bermaksud untuk meminta Arash agar datang menghampiri ke arahnya.
Arash bimbang, karena Ares yang masih asyik bermain di dekat pantai bersama dengan Bunga. Kepalanya masih terasa sakit, akibat efek dari minuman yang ia pesan semalam.
Arash pun terpaksa bangun awal waktu, karena ia sudah berjanji untuk mengajak Ares bermain pagi ini. Sejujurnya, Arash tidak ingin berada terlalu dekat lagi dengan Bunga.
Rasa cintanya terhadap Bunga, sudah lama pupus, meskipun masih tersisa serpihan rasa sakitnya. Bertahun-tahun Arash berusaha melupakan Bunga, dengan berganti-ganti gadis untuk ia tiduri, tetap saja tidak bisa membuatnya lupa sepenuhnya dengan sosok Bunga di pikirannya.
__ADS_1
Tapi, semua itu sedikit teralihkan, karena pertemuan Arash dengan gadis yang dulunya mengaku sebagai Monic.
Yap! Dia adalah Jessline.
Arash terkesima, bahkan sejak pandangan pertamanya melihat Jess di bar, kala itu. Gadis yang sangat menawan menurut pandangan Arash.
Bagaimana tidak? Pakaian feminin, wajah yang sangat putih bersih, tubuh bak gitar Spanyol dan rambut hitam panjang milik Jess, membuat Arash seketika semakin terkesima karenanya.
Saat itulah, merupakan titik balik dari perasaannya terhadap Bunga.
“Kakak …,” pekik Ares lagi, membuat kesadaran Arash kembali seketika.
Arash melihat adiknya, yang masih melambaikan tangannya ke arahnya. Arash meletakkan handphone-nya di atas kursi yang ia tempati sebelumnya, dan segera menuju ke arah Ares berada.
Ternyata, Arash tak sengaja menyentuh menyetujui permintaan mengikuti dari Fla.
Fla mendelik kaget, karena ia melihat notifikasi dari Arash, yang ternyata menyetujui permintaan mengikuti darinya, membuat satu senyuman mengembang di pipinya.
Fla langsung saja melihat setiap foto yang ada di beranda akun milik Arash.
Matanya semakin berbinar, karena melihat foto lama milik Arash yang sedang bermain di pantai, dan bertelanjang dada, sampai terlihat lekukan six pack yang ia miliki.
‘Kak Arash perfect sih,’ batin Fla, yang sepertinya sudah mulai luluh dengan Arash.
Fla tak sengaja melihat foto Arash, yang sedang duduk di sebuah restoran yang terlihat nuansa yang sangat romantis di sekitarnya. Captionnya tertulis “beautiful like you.”
Matanya tiba-tiba saja kehilangan cahaya binarnya. Fla menundukkan kepalanya, karena ia lupa akan sesuatu.
Pria sesempurna Arash, mana mungkin tidak memiliki kekasih? Pasti kisah percintaannya lebih memukau, sama seperti karirnya saat ini, pikir Fla yang sudah down memikirkan hal itu.
Ia merasa sudah lupa dengan status Arash, sebagai direktur utama perusahaan milik keluarganya. Padahal, Fla juga memiliki kakak yang sangat hebat, yang tak kalah memukau dengan pesona Arash.
‘Apa aku terlalu berlebihan berpikiran tentang kak Arash? Siapa tahu, dia cuma gak sengaja nolong aku kemarin,’ batin Fla yang masih bersikap seolah-olah tidak ada harapan apa pun untuknya.
Ia sama sekali tidak percaya dengan dirinya sendiri. Padahal, Fla termasuk gadis yang sangat imut. Kecantikannya tak kalah dengan gadis-gadis lainnya. Bahkan, jika diperhatikan, Fla memiliki wajah bak idol Korea yang sedang naik daun.
__ADS_1
Dia saja yang tidak pernah mau membuka hatinya untuk siapa pun. Bahkan untuk Bisma pun, yang waktu itu menggodanya, ia sama sekali tidak tertarik.
Bahkan seumur hidupnya, Fla sama sekali tidak pernah berpacaran, karena dirinya pernah menjadi bahan taruhan teman-temannya, sewaktu ia masih menduduki bangku SMA.
Sejak saat itu, Fla tidak ingin lagi membuka hatinya untuk siapa pun, termasuk Bisma yang pada saat itu berniat untuk menggodanya. Ditambah lagi, Fla mengetahui, kalau Bisma adalah pacar dari Jessline, yang merupakan kakak tirinya.
Fla merenung, karena tidak percaya diri dengan dirinya sendiri.
‘Apa aku boleh ngasih kak Arash hadiah?’ batin Fla.
Ia masih saja bingung, memandang ke arah layar handphone-nya.
Fla hanya ingin memberikan hadiah, sebagai permintaan terima kasihnya, karena Arash yang saat itu sudah menolongnya. Tapi, ketakutan selalu menyelimuti hati Fla, karena dirinya yang memang selalu canggung saat berhadapan dengan seorang pria.
Sikap aslinya, sangat berbeda jauh dengan sikapnya sehari-hari jika sedang berhadapan dengan Ara dan teman-teman yang lainnya.
Fla membulatkan matanya, ‘apa salahnya? Lagipula, aku cuma ngasih dia hadiah aja kok, gak lebih,’ batin Fla, yang berusaha menguatkan dirinya untuk tetap melakukan niatnya.
Fla membulatkan niatnya. Ia berusaha untuk mengirimkan pesan singkat kepada Arash.
“Kak Arash, ini Fla, ada waktu luang kapan ya? Bisa gak kita ketemu sebentar?” Isi pesan dari Fla, yang sudah ia kirimkan untuk Arash.
Fla pun hanya bisa menunggu balasan pesan dari Arash.
Di sana, Arash sudah selesai bermain bersama dengan Ares. Ia kembali ke tempat ia meninggalkan handphone-nya.
Arash melihat handphone-nya yang masih menyala, karena ia tak sempat untuk mengunci layarnya.
Tak sengaja, ia melihat sebuah pesan masuk di akun media sosialnya, membuatnya mengerenyitkan dahinya karena penasaran dengan notifikasi itu.
‘Pesan dari siapa?’ batin Arash, yang nampak bingung dengan yang ia lihat.
Ia pun segera melihat isi dari pesan yang baru saja masuk.
“Hah?”
__ADS_1