Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pernyataan Cinta Morgan 2


__ADS_3

Morgan tahu, Ara pasti akan menolaknya mentah-mentah. Ia tidak bisa menerima kenyataan itu. Apalagi di pikiran Ara, dia tahu, kalau Morgan sudah mempunyai pacar.


Padahal kemarin itu, Morgan hanya bercanda dan mengucap asal saja. Mobil dan handphone itu, adalah pemberian dari Meygumi. Dia memberikan Morgan secara sukarela, dengan alasan sebagai hadiah ulang tahun untuk Morgan.


Entah apa maksudnya memberikan hadiah semahal itu kepada laki-laki yang belum tentu akan menerima dirinya kembali.


Karena, status Morgan dengan Meygumi saat ini, hanyalah sebagai mantan saja. Tidak selayaknya mantan kekasih untuk menerima pemberian semahal ini.


Kala itu, Morgan menerima pemberian darinya hanya karena untuk bertahan hidup saja di Negri orang. Tidak untuk memerasnya, apalagi memanfaatkannya di luar batas kemampuan.


‘Kenapa saya jadi terpikir tentang Meygumi? Padahal, saya mau menyatakan perasaan hari ini pada Ara,’ batin Morgan mendadak resah.


“Iya mau.”


Ah.


Mata Morgan membelalak, karena jawaban Ara yang mampu membuat hati Morgan terkejut, kaget, dan merasa kegirangan. Dirinya seperti sedang bermimpi, entah apa yang membuat Ara menerimanya dengan mudah?


Walaupun Morgan tidak begitu yakin dengan pernyataannya kali ini, ia sudah sangat yakin dengan cintanya pada Arasha. Tidak sedetik pun Morgan lalui, tanpa mengingat Ara di dalam pikirannya. Bahkan, Morgan selalu memandangi wajah Ara yang terpampang jelas di dinding kamarnya, jika ia sedang merindukan Ara.


Morgan melakukan selebrasi atas kemenangan yang sudah ia dapatkan ini.


“Yaa … yuhu … yuuu … yeyeye ...” Morgan bersorak kegirangan.


Sementara itu, Ara menatap heran orang idiot ini, karena sejak tadi ia selalu bertingkah yang aneh.


‘Hah ini orang kenapa si? Dari tadi diem aja, tau-taunya malah kegirangan gak jelas gini sekarang!’ batin Ara yang merasa terganggu dengan aksi dan sikap aneh Morgan itu.


Entah apa yang ada di pikiran Morgan. Padahal sejak tadi, Morgan hanya diam tak bergeming, sembari menatap kosong ke arah Arasha, lalu tiba-tiba mengagetkan Ara dengan cara melakukan selebrasi seperti itu.


Ara benar-benar tidak mengerti dengan sikap Morgan kali ini.


Tidak, bukan hanya kali ini saja, bahkan setiap kali Morgan melakukan sesuatu, Ara tidak pernah mengerti tindakannya itu.


“Sumpah ya, gue tuh nggak ngerti apa yang lagi loe pikirin! Yang jelas sekarang, keluar dari kamar gue!” Ara mendadak menjadi marah sekali dengan Morgan.


Lagi-lagi dia hanya diam dan membuat Ara penasaran dengan apa yang mau dia katakan.


Kenapa dia se-misterius itu? Padahal Ara sangat benci kalau Morgan terus menunda-nunda memberitahukan suatu hal kepadanya.

__ADS_1


Ara ingin tahu sebenarnya ....


“Ehh …,” lirihnya yang kelihatan kaget, seperti habis selesai melamun.


Kenapa akhir-akhir ini, dia selalu melamun seperti itu? Apa ada yang salah dengan kehidupannya? Apa ada masalah yang besar, yang tidak bisa ia selesaikan? Pikir Ara.


Ah ... lagi pula, aku bukan siapa-siapa di dalam hidupnya, dan lagi, dia sudah mempunyai tambatan hati, pikir Ara meneruskan.


‘Kenapa gue harus mikirin orang yang udah punya kehidupannya sendiri itu?’ batin Ara kesal sendiri mengingatnya.


Morgan mengedipkan matanya, seperti kesal dengan pikiran yang selalu menghantuinya. Sepertinya, tidak ada apa pun yang terjadi di antara mereka. Dirinya sama sekali tidak menyatakan cinta pada Ara.


Pikirannya sudah dipenuhi oleh Ara. Sampai ia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Alhasil, Morgan menjadi malu bukan kepalang.


‘Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi?’ batin Morgan kesal.


Morgan tiba-tiba saja menarik Ara dengan kasar, kemudian menjatuhkannya ke atas ranjang tidurnya.


Itu berhasil membuat Ara sangat shock.


Morgan lagi-lagi menindih di atas Ara. Ara sangat kaget dengan perlakuan Morgan itu. Kenapa Morgan selalu bersikap seenaknya pada Ara? Perasaan Ara selalu diombang-ambing olehnya.


Morgan menindih diri Ara lagi. Ara tidak bisa menahan atau pun mengelak darinya. Kini, pandangan mereka berada pada satu titik.


Ara mendelik, “ish, kasar banget sih loe!” geram Ara kesal.


Morgan hanya diam tak bergeming, sembari menatap ke arah Ara.


Ara merasakan, mungkin akan ada hal aneh yang akan terjadi nanti. Ara hanya diam pasrah dengan keadaan yang terjadi pada mereka saat ini.


Ara memperhatikan keadaan Morgan, yang saat ini terlihat menyedihkan sekali. Rambutnya yang mulai lebat tak terurus, jenggotnya yang mulai muncul, matanya yang sembab tidak tahu karena menangis atau karena kurang tidur, membuat Ara merasa bahwa Morgan sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Ara mendadak jadi iba padanya.


Ara menghela napas pelan, karena takut Morgan merasakan ******* napasnya yang tersengal.


“Mmm ... apa loe lagi ada masalah?” tanya Ara dengan ragu.


Morgan hanya diam, memandang ke arah Ara. Ara tidak tega setelah melihat wajahnya secara seksama. Terlihat wajah yang nampaknya banyak memendam perasaan. Sepertinya, beban yang Morgan pendam sangat besar kali ini.

__ADS_1


Morgan yang merasa malu dengan aksi selebrasinya tadi, tiba-tiba saja memeluk Ara dengan erat.


Sangat erat.


Ara bingung dengan yang sebenarnya terjadi pada Morgan, namun tidak bisa menolaknya untuk saat ini. Karena Ara tahu, keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja.


Pikiran Morgan kalut, saking malu dan kesal, karena harapannya yang tiba-tiba saja pupus. Ternyata itu semua hanya angan-angannya saja.


“Saya mohon ... tetap seperti ini,” lirih Morgan terdengar menyedihkan.


Ara semakin tak tega untuk membentaknya, apalagi memarahinya.


“Sebentar saja ….” tambahnya.


Ara membalas pelukannya itu. Sejujurnya, Ara tidak ingin melakukannya. Tapi, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menghibur hati Morgan yang sedang gundah gulana.


Ara tahu, Morgan bukan tipe lelaki yang suka berbicara terang-terangan tentang kehidupan pribadinya. Ara menahan diri untuk tidak bertanya to the point padanya saat ini.


Nanti kalau sudah tenang, Ara pasti akan bertanya tentang keadaannya.


Sepuluh Menit berlalu. Morgan sepertinya terlihat benar-benar down. Ia sama sekali tidak melakukan apa pun pada Ara. Morgan tidak macam-macam kali ini. Ara jadi semakin percaya, kalau keadaannya sedang tidak beres saat ini.


Kalau seperti ini, rasanya, seperti sudah menjadi Pasutri.


‘Sampai kapan begini terus?’ batin Ara yang mulai resah dengan keadaan, khawatir jika kakak melihat kejadian yang tidak mengenakkan ini.


“Gan ...,” pekik Ara lirih, namun tak ada jawaban darinya.


“Gan ...,” pekiknya sekali lagi.


‘Mungkin dia ketiduran sekarang. Gue jadi gak enak banguninnya,’ batin Ara bimbang.


“Crekkkk ....”


Seseorang terdengar sedang membuka pintu kamar Ara. Ara mendelik, dan langsung melihat ke arah pintu kamarnya.


“Araaaaaa ...,” pekik riang seseorang yang kemudian berubah nada menjadi menurun.


Ara terkejut bukan main.

__ADS_1


“Haaaaaaa ….”


__ADS_2