
Tapi yang namanya mega proyek, pasti sudah banyak kerugian yang Arash keluarkan. Bukan hanya sedikit, tapi sudah sampai tak terhingga biaya yang ia keluarkan.
Arash masih terdiam, tak bisa berkata apa pun lagi. Ia hanya bisa merenungi setiap hal yang sudah ia lakukan, beberapa bulan terakhir ini.
"Cklekk ...."
Ilham membuka pintu ruangannya, dan sangat terkejut melihat Arash yang saat ini berada di depan ruangannya. Ilham mendelik kaget, karena ia menyadari setiap perkataannya tadi, pasti sudah didengar oleh Arash.
"Arash," gumam Ilham lirih, membuat Arash melirik ke arahnya.
Rangga yang melihat keberadaan Arash pun, menjadi tercengang. Belum sampai ia ke ruangan Arash, namun ternyata Arash sudah ada di depan ruangan Ilham.
"Pak Arash," lirih Rangga, membuat Arash semakin tidak bisa merasakan dirinya sendiri.
Sedih, kecewa, kesal, gelisah, pasti sedang Arash rasakan saat ini. Tidak ada seorang pun yang bisa menerima kekalahan dengan mudahnya. Rasa kaget berlebih pasti lebih dulu menyerang, sebelum akhirnya mereka bisa menerima semuanya dengan lapang dada.
"Rash, saya--"
"Bisa tolong antar saya?" potong Arash dengan cepat, membuat Ilham dan Rangga seketika memandangnya dengan sendu.
Ilham dan Rangga pun bergegas menuju arah yang Arash tuju, dan segera mengantarkan Arash, ke tempat yang ingin ia datangi.
...***...
__ADS_1
"Ya sebelum menyudahi pertemuan kali ini, ada lagi tidak yang ingin dipertanyakan?" tanya Prof Handoko, selaku kepala program studi dan juga pimpinan rapat kali ini.
Morgan menoleh ke segala arah, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda mereka untuk bertanya padanya.
Morgan mengangkat tangannya untuk meminta waktu berbicara, "Prof ...," ucap Morgan, Prof Handoko pun menoleh ke arahnya.
"Iya silakan Pak Morgan untuk menanyakan atau memberikan tambahan," ucap Prof Handoko, yang memberikan kesempatan Morgan untuk berbicara.
Kiranya dirasa sudah dipersilakan, Morgan pun mulai bangkit dan berdiri di hadapan mereka semua.
Morgan mengedarkan pandangannya ke arah mereka, "sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Prof Handoko, yang sudah memberikan saya waktu dan tempat untuk berbicara. Berdirinya saya di sini, hanya untuk meminta maaf secara terbuka kepada semua dosen dan staf yang bekerja sama dalam rangka akhir semester kali ini. Atas keteledoran saya kemarin karena tidak bisa dihubungi, dan saya melakukan absen selama 2 hari dan tidak memberi kabar, yang mungkin saja menghambat pekerjaan kawan-kawan semua untuk proses penginputan data nilai mahasiswa ke website nilai," ucap Morgan dengan mereka semua yang memperhatikannya.
Dicky memandangnya dengan heran, 'kecakapan dalam berbicara sih boleh diacungi jempol. Tapi kecakapan dalam mengambil sikap dan tindakan? Hah ...,' batin Dicky yang agak kesal dengan Morgan.
"Karena kecerobohan saya, akhirnya terpaksa penerbitan nilai diundur sesuai jumlah hari yang tertinggal kemarin. Untuk menebus kesalahan saya, saya akan bekerja lebih keras untuk mengganti 24 jam yang tertinggal. Saya akan membagi waktu dari sekarang, untuk berusaha mengerjakan ketertinggalan itu. Dan saya mohon untuk diberikan hak akses lebih ketika kalian sudah menyelesaikan tugas kalian, seperti misalnya membiarkan saya memakai komputer lebih lama dari biasanya. Lalu memberikan hak akses password untuk saya masuk ke dalam website, dan lain sebagainnya," ucap Morgan panjang lebar.
"Tapi Pak Morgan ...."
Seseorang tiba-tiba membuka suara. Spontan seluruh pandangan langsung tertuju padanya.
"Ya, ada apa Ibu Lidya?" tanya Morgan yang merasa terusik dengan Lidya yang seenaknya memotong pembicaraannya.
Dosen yang sedang dekat dengan Dicky itu, tiba-tiba memprotes ucapan Morgan. Tapi, Morgan sebisa mungkin harus menyikapinya dengan bijak.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Pak Morgan memakai komputer lebih lama? Karena tepat pukul 9 malam saja seluruh ruangan di kampus ini sudah dipadamkan listriknya," protesnya.
Sebetulnya itu bukan jawaban yang sulit untuk dijawab, pikir Morgan.
"Sebetulnya kalaupun saya tidak bisa memakai komputer dan fasilitas kampus lebih lama dari batasnya, saya bisa menggunakan laptop pribadi dan mengerjakannya di rumah. Seperti yang saya bilang tadi, saya ingin diberikan hak akses untuk masuk ke dalam situs website yang dikelola untuk menginput nilai mahasiswa. Dengan kata lain, saya ingin minta diberitahu password atau kata sandi sebagai adminnya," jawab Morgan.
Lidya terlihat tidak senang dengan jawaban yang Morgan berikan.
Karena mungkin ia masih sangat kecewa dengan perlakuan Morgan padanya, dan terlebih lagi Lidya sudah mengetahui hubungan Morgan dengan mahasiswa bernama Ara itu, membuat dirinya menjadi tak terima.
"Memangnya bisa? Kan seluruh data software dan database-nya ada di localhost komputer kampus ini?" Lidya terus menerus membantah ucapan Morgan.
Memang benar,dia adalah dosen fakultas teknik informatika di kampus ini. Dan Morgan juga tidak begitu paham dengan sistemnya.
"Tapi Bu Lidya ...."
Seseorang terdengar sedang membantah ucapan Lidya. Ia bangkit dan seketika semua orang yang ada di ruangan ini memusatkan perhatian padanya.
"Walaupun seluruh data ada di komputer kampus, bukan berarti Pak Morgan tidak bisa membukanya di komputer lain. Kita tinggal jadikan Pak Morgan sebagai client. Anggaplah komputer yang ada di kampus ini sebagai server. Tapi kita juga bisa memberikan hak akses bagi client yang telah terdaftar, bukan?" dosen Ardi pun membela Morgan.
Dosen Ardi adalah bagian dari tim fakultas teknik informatika bersama dengan dosen Lidya.
Setahuku, mereka berdua sempat mempunyai konflik karena selalu mempunyai paham yang berbeda. dan Dosen Ardi bukanlah tipe orang yang dengan mudah membela seseorang. Dengan kata lain, dia tidak akan membelaku tanpa alasan. Alasan yang memang sudah pasti adalah tak lain untuk menjatuhkan Lidya di hadapan semuanya. Sebetulnya aku tidak terlalu setuju dengan cara Ardi. Akan tetapi, Lidya selalu berusaha mencari cara untuk kontra denganku, pikir Morgan yang menganalisis keadaan.
__ADS_1
Mungkin Lidya masih menyimpan perasaan sakit hatinya kepada Morgan. Karena waktu itu, Morgan telah menolak perasaannya mentah-mentah. Setelah itu, Lidya berusaha mendekati Dicky. Dicky mengatakan pada Morgan, kalau modus dari pendekatan itu adalah untuk tetap bisa selalu dekat dengan Morgan. Dicky juga mengatakan bahwa ia hanya main-main dengan dosen itu. Dicky hanya menginginkan tubuh Lidya yang menggoda itu. Bahkan Dicky mengaku, dia tidak peduli dengan perasaan Lidya terhadapnya. Dan dia juga tidak peduli dengan setiap sikap dan ambisi Lidya.
Morgan tak bisa mengatakan apa pun. Ardi sudah terlalu baik untuk membelanya di depan umum. Itu yang memang Morgan maksud, tapi ia tidak bisa mengucapkannya dengan kata-kata. Tapi ucapan dosen Ardi itu tepat sekali.