
“Mobil? Di pakai tadi. Habis nganterin ayah,” jawab Morgan dengan polosnya.
Ara sama sekali tidak mengerti ucapan Morgan.
Ara mengerenyitkan dahinya, “maksudnya?” tanya Ara yang penasaran dan juga tak mengerti dengan maksudnya.
“Tadi saya ke sini sama ayah. Terus mobilnya di pakai ayah. Terus sekarang udah balik lagi mungkin,” jawabnya enteng.
Ara masih saja tak mengerti dengan apa yang Morgan ucapkan.
Ara masih berusaha berpikir dengan keras, “tunggu, kalo loe ke sini sama ayah doang, terus … yang anter mobil siapa?” tanya Ara.
Morgan pun melontarkan senyuman kepada Ara, “mobilnya pintar, jalan sendiri gak diantar,” jawab Morgan.
Ara menganga karena terkejut, sembari menahan emosinya karena mungkin saja Ara sedang dipermainkan dengan Morgan.
Dia pikir, aku anak-anak yang bisa dibohongi dengan dongeng seperti itu? Pikir Ara.
“Haha. Lucu?” tanya Ara dengan sinis.
Morgan menatap Ara dengan tatapan yang tak kalah sinis darinya. Ara yang juga tak mau kalah, langsung menatapnya kembali dengan tatapan yang lebih sinis.
Terjadilah perdebatan sengit di sini.
“Ih … udah deh! Sana!” bentak Ara, lalu segera pergi menjauh dari Morgan.
Morgan menggelengkan kepalanya, sembari menepuk dahinya, “aish … mobil saya memang bisa jalan sendiri. Itu keluaran baru tahun ini,” jawab Morgan dengan sikapnya yang dingin.
Ara terdiam, karena ia mengetahui, Morgan bukan tipe pria yang akan berbohong dengan masalah kecil seperti ini. Dan lagi, situasi dirinya saat ini, memang sedang tidak bercanda.
Tapi, apa betul mobil keluaran terbaru bisa berjalan tanpa ada yang mengemudi? Pikir Ara, masih tak percaya dengan ucapan Morgan.
Ara menganga di hadapan Morgan, “teknologi pesat banget, ya ....”
Ara terdiam setelah mendengar penjelasan Morgan. Bagi Ara, ini hanya sebuah omong kosong belaka.
Morgan mendecak sembari menggelengkan kepalanya. Ara masih saja tidak habis pikir dengan teknologi zaman sekarang. Kenapa Ara sampai tidak tahu kalau ada produk buatan manusia yang sehebat itu?
“Kapan-kapan, saya ajak kamu jalan deh,” lirih Morgan, yang membuat Ara tersadar kemudian menatap Morgan dengan tatapan yang risih.
Ara mendelik, “idih, siapa juga yang mau diajak jalan sama loe!” tolak Ara mentah-mentah.
__ADS_1
Morgan hanya bisa tertawa kecil setelah mengetahui respon dari Ara.
Apa yang lucu dariku? Padahal aku selalu berusaha memasang tampang yang paling menjengkelkan. Tapi, dia sepertinya terlihat sudah biasa dengan responku, pikir Ara sembari menatap tajam Morgan dengan tatapan yang kesal.
“Ra …,” pekik Morgan lirih.
Suasana berubah seketika menjadi sangat canggung. Ara dan Morgan saling bertatapan. Wajahnya yang sedikit lusuh itu, membuat Ara kembali merasa miris ketika melihatnya.
Morgan terdiam sesaat untuk mengambil jeda, “besok malam, ikut saya ke rumah, ya?”
“Deg ....”
Jantung Ara tidak seperti biasanya. Kali ini, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ada apa dia menyuruhku untuk ikut dengannya? Pikir Ara.
“Kenapa gue harus ikut sama loe?” tanya Ara dengan nada yang mengesalkan.
“Nanti … kamu juga tahu.”
Morgan mengedipkan sebelah matanya, membuat Ara merasa jijik dengan sikapnya yang sok keren seperti itu.
Tapi di sisi lain, Ara merasa … memang gayanya itu sangat cocok dengan pribadi Morgan. Itu sangat mencerminkan dirinya. Tak heran jika banyak gadis yang selalu mengejar Morgan.
Tangan Morgan kini, sedang berada di atas kepala Ara. Ia mengusap rambut Ara ke kiri dan ke kanan, seakan menganggap Ara sebagai adiknya. Ara sampai tidak berani menatap ke arah Morgan. Biar bagaimana pun juga, Ara adalah seorang wanita, yang mempunyai perasaan terhadap lawan jenisnya.
“Hei anak kecil, jangan suka sama saya, ya?” lirih Morgan, dengan senyuman yang mengandung banyak arti.
Ara mendelik, ‘Dia bilang apa tadi? Apa dia gak salah ngomong, buat minta gue untuk jangan suka sama dia? Sebenernya, apa sih yang ada di pikiran dia sekarang? Kenapa gue gak boleh suka sama dia? Suka atau enggak, itu mah urusan gue kali, kenapa juga harus diatur untuk masalah begini?’ batin Ara yang mulai kumat, karena tidak suka dikekang oleh siapa pun.
“Aishh ....”
Ara menundukkan kepalanya. Apa yang sedang Ara pikirkan tadi? Ara tidak seharusnya berpikir demikian tentang Morgan. Ara sendiri pun tidak tahu, bagaimana perasaan Ara terhadap Morgan.
Ara lagi-lagi menghindarinya, dan mundur agak jauh dari tempat Morgan berdiri.
Ara mendelik ke arah Morgan, “gak perduli loe mau gimana kek ... intinya, gue sama sekali gak ada perasaan ke loe!” bentak Ara dengan keras.
Morgan tersenyum setelah mendengar ucapan Ara. Ia melepaskan koper yang sedari tadi ia pegang dan maju beberapa langkah ke arah Ara. Ara merasa terusik dengan langkah Morgan, yang kian lama mendekat.
“Ngapain loe?” tanya Ara sinis, sembari terus-menerus mengikuti langkahnya ke arah belakang.
__ADS_1
Ara tidak mau sampai bertabrakan dengan Morgan.
Morgan masih saja tidak menjawab, dan hanya berfokus pada Ara.
Ara mendadak gemetar, “heh, loe mau apa si?” tanya Ara kembali.
Morgan masih tetap tidak mau menjawab pertanyaan dari Ara, dan malah semakin mendekati Ara, membuat Ara semakin terpojok. Ara terus-menerus mundur, sampai ia merasa kakinya menginjak sesuatu dan membuatnya tergelincir.
“Aaaaaaaa ....”
“Hap ....”
Morgan dengan sigap menangkap Ara yang hampir saja terjatuh. Kini adegannya sama seperti saat Ara terpeleset di kampus waktu itu, karena mengintip Dicky yang sedang melakukan adegan panas bersama dengan dosen Lidya, di dalam ruangan Morgan.
Ara sekarang berada di rangkulan Morgan. Pandangan mereka pun bertemu di satu titik. Terlihat mata cokelat Morgan yang sangat Ara sukai itu.
“Awas! Lepasin gue pelan-pelan! Awas aja kalo loe sampe ngelepas gue dadak kayak waktu itu!” bentak Ara yang masih mengingat jelas tentang kejadian waktu itu, tapi Morgan tak menghiraukannya.
“Drrrrrtttt ….”
Terdengar getar handphone milik Morgan, dan dengan cepat ia langsung melihat ke arah handphone-nya dengan cepat. Ia seperti sedang membaca pesan. Ara tidak mengetahui, pesan dari siapa yang Morgan lihat. Setelahnya, Morgan langsung meletakkan kembali handphone-nya ke dalam sakunya.
Morgan kembali menatap ke arah Ara, “kalau mau begini, di ranjang aja,” lirih Morgan di telinga Ara terdengar sangat genit.
Ara sampai merinding mendengar ******* napasnya yang berat itu.
“Eh ... gila kau ya? Ada kakak gue sama temen-temen di luar!” Bentak Ara dengan nada yang meninggi.
Morgan tersenyum jahil. Ia lantas menggendong Ara seperti menggendong seorang bayi, membuat Ara memberontak ngeri. Morgan meletakkan tubuh Ara di atas ranjang.
“Bruukkk ....”
Morgan kembali menindih Ara. Ara semakin panas karena khawatir kakaknya melihat semua kebejatan Morgan terhadap Ara.
“Gila! Loe mau apa?! Awas, nanti kakak gue liat!” Ara berusaha meronta untuk melepaskan diri darinya, tapi Morgan sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.
Morgan mengelus wajah Ara, menggunakan hidungnya, “Arash lagi ngajak temen-temen kamu ke mall. Tadi dia ngabarin saya,” jawab Morgan sontak membuat Ara terkejut.
Ara memelototinya dengan sinis.
“WHAT?!” teriak Ara sinis, bisa-bisanya kakaknya pergi meninggalkan Ara dengan morgan di rumah.
__ADS_1
Morgan kembali tersenyum, “ayo, kita bersenang-senang,” lirih Morgan sembari tersenyum jahil.