
Dicky segera menyambar kemeja putihnya yang sudah berserakan di atas lantai. Ia pun mengenakannya, dan segera keluar dari kamar hotel tersebut.
"Bipp ...."
"Halo?" sapa Dicky.
"Morgan mana?" tanya Ara, tanpa basa-basi pada Dicky, membuat Dicky mengerenyitkan dahinya.
Efek panasnya gairah cintanya, Dicky hampir saja melupakan status Ara yang merupakan mantan dari sahabatnya itu.
Dicky mengusap kasar wajahnya, "Morgan?" tanya Dicky kembali, membuat Ara kesal dengan ucapan Dicky.
"Morgan mana, Pak?" tanya Ara dengan kesal sembari menangis histeris karena sudah putus asa dengan keadaan.
Ilham hanya bisa memandangnya, tanpa bisa melakukan apa pun.
Dicky teringat dengan ucapan Morgan, yang melarangnya untuk memberitahu tentang Morgan yang sudah berangkat ke Amerika. Hal itu membuat Dicky menjadi bimbang.
Dicky tidak tega dengan Ara, namun ia sudah terlanjur berjanji untuk tidak memberitahu pada Ara.
Dicky menghela napasnya panjang, berusaha mempersiapkan dirinya.
"Huft ...."
"Morgan ... pagi ini dia ... sudah berangkat ke Amerika untuk program pertukaran dosen. Kemungkinan 4 bulan dia di sana," jawab Dicky membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
"Arghh!"
"Brukk!"
"Prangg!"
Saking kesalnya, Ara melempar dengan keras handphone yang ia pegang, membuat handphone-nya menjadi pecah tak beraturan, berserakan di atas lantai kamarnya.
__ADS_1
"Bangsat! Morgan sialan!" teriak Ara, yang saking kesalnya, seluruh nama-nama hewan yang berada di kebun binatang, terlontar semua dari bibirnya, membuat Ilham mendelik kaget dengan ucapan Ara yang sangat kasar baginya.
Ilham sadar, kalau saat ini Ara sedang dalam titik terendahnya. Ilham berusaha untuk menerima apa pun yang Ara lakukan.
Ara terlihat sangat kacau saat ini. Namun, Ilham masih saja memperhatikannya dengan saksama.
"Kenapa malah begini jadinya sih?" teriak Ara yang sudah mulai k KK k(erasukan arwah jahat.
Sikapnya sudah tak terkendali. Ia mengacak-acak semua make up yang ada di meja riasnya. Membanting semua vas bunga yang ada di atas meja.
"Prangg!!"
Gelas yang ada di atas mejanya pun ikut pecah karenanya. Ilham memandang Ara yang sepertinya ingin sekali mengambil pecahan kaca itu, membuat Ilham mendelik dibuatnya.
Ara mengambil pecahan itu dengan segera. Melihat Ara yang hendak mengambil pecahan kaca itu, Ilham dengan sangat cepat mencengkeram pecahan beling itu dengan tangannya, sehingga membuat tangan Ilham seketika robek, karena pecahan beling itu.
Cairan kental berwarna merah seketika keluar dari telapak tangan Ilham, membuat Ara mendelik ke arah Ilham.
Rasa traumanya akan darah, membuat Ara kembali berpikir untuk tidak jadi bunuh diri. Kepalanya seketika terasa sangat sakit, dan ia pun memeganginya sekarang.
"Sadar, Ra!" bentak Ilham, yang sudah tidak konsen dengan kondisi Ara, karena telapak tangan kirinya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Ilham tidak ingin membuat tubuh Ara kotor, terkena darah yang sudah mengalir banyak dari luka goresan tersebut.
"Gak ada yang bisa dipertahanin lagi! Gak ada gunanya juga gue hidup di dunia ini lagi!" teriak Ara yang sikapnya sudah seperti orang yang kehilangan pegangan hidup.
Ilham mendelik kesal ke arah Ara, karena ucapannya yang tidak terkendali itu, "Gak seharusnya kamu bicara seperti itu, Ra! Gak ada gunanya juga kamu ngeluh, bahkan sampai mencoba untuk mengakhiri hidup seperti ini!" bentak Ilham, membuat air mata Ara kembali keluar dengan derasnya.
"Brukk ...."
Ara tertunduk lemas, karena tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya.
"Gue udah gak guna lagi sekarang. Gue cuma sampah, yang terbuang!" gumam Ara dengan lemas, yang meratapi sisa hidupnya.
__ADS_1
Sepenggal kisah ini, harus dipetik hikmahnya. Jangan pernah bermain dengan yang namanya cinta. Jika sudah seperti ini, bagaimana bisa ia melanjutkan kehidupannya, seperti kebanyakan gadis lainnya?
"Lebih baik gue mati!!" teriak Ara, membuat Ilham mendelik.
Ara dengan sangat kesal, memukul-mukul perutnya dengan sangat keras, bertujuan agar janin yang ada di dalam perutnya, bisa gugur dengan sendirinya. Dengan begitu, Ara berpikir sudah tidak ada lagi yang perlu ia pikirkan.
"Mati! Antara loe atau gue yang harus mati! Gue gak mau punya anak dari orang idiot, yang sama sekali gak bertanggung jawab sama semuanya!!" teriak Ara histeris, membuat Ilham mendelik.
Melihat hal bodoh yang Ara lakukan, Ilham pun mendelik sinis. Tak tinggal diam, Ilham segera menarik kasar tangan Ara menggunakan tangan kanannya.
"Sudah, cukup! Jangan lakukan hal bodoh lagi, Ra!" bentak Ilham membuat Ara terdiam sejenak sembari tetap meratapi kepedihan yang ia rasakan.
Dengan emosi yang sudah terpancing, akhirnya Ilham pun langsung menarik Ara ke dalam pelukannya, berusaha menyalurkan energi positif kepada Ara.
Melihat perlakuan Ilham yang sangat di luar batas, Ara pun kesal dengan dirinya sendiri. Lagi-lagi, ia bersikap bodoh di hadapan seorang pria. Namun, dengan sikap hangat yang Ilham miliki, mampu membuat Ara sedikit tenang dari sebelumnya.
Sudah tidak ada harapan lagi, pikir Ara yang kesal dengan Morgan.
Ia juga sangat kesal, karena Morgan sama sekali tidak memberitahu padanya tentang keberangkatannya ke Amerika, membuat dirinya merasa dibohongi berkali-kali. Ara sama sekali tidak bisa menahan perasaan kesalnya. Ia sangat gelisah dengan keadaan yang mungkin nantinya akan ia jalani, tanpa adanya Morgan di sisinya.
Dengan perasaan yang masih menggebu, seketika tangisan Ara kembali pecah.
"Gue gak guna! Gue sampah! Gak harusnya gue hidup lagi di dunia!" teriak Ara, sembari memukul-mukul keras dada bidang Ilham, membuat Ilham kembali merasakan sakit.
Apalagi, kali ini Ara melakukannya tanpa ragu. Hal itu membuat Ilham merasa kesulitan bernapas. Namun, mau bagaimana lagi? Ilham juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa memeluk Ara dengan sangat erat, berusaha menyalurkan energi positif untuk Ara, yang mungkin sedikit banyaknya bisa meredakan emosi dalam dirinya.
"Morgan sialan!" teriak Ara yang masih memukuli dada bidang Ilham.
Lama-kelamaan, karena terlalu lelah, Ara menghentikan aktivitasnya, dan berusaha menghela napasnya yang tersendat karena hidungnya kini sudah tersumbat akibat menangis terlalu dalam.
Ilham memandang Ara dengan sendu, "Pukul lagi, Ra, pukul. Satu yang perlu kamu ingat, jangan pernah kamu sakiti diri kamu sendiri, apalagi kalau kamu sampai menyakiti janin yang ada di perut kamu," gumam Ilham, membuat Ara mendelik ke arahnya.
"Percuma juga, gue udah gak punya harapan hidup lagi! Gue udah hancur, gak ada yang bisa gue lakuin lagi!" bantah Ara, yang masih meratapi keadaannya.
__ADS_1
Ilham menghela napas panjang. Ia pun menatap Ara dengan pandangan yang mantap, membuat Ara menghentikan sejenak sikap kurang pantasnya itu, "Saya akan tanggung jawab. Saya akan menikahi kamu, Ra!" gumam Ilham dengan sangat mantap, membuat Ara tercengang mendengarnya.