Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bertambah Ragu


__ADS_3

Arash pun melanjutkan makanannya, dan berusaha tak menghiraukan Fla.


Arash jadi teringat dengan tujuan Fla, yang mengajaknya bertemu.


Arash menoleh ke arah Fla, "oh ya, ada perlu apa kamu ngajak saya ketemu?" tanya Arash, membuat Fla menghentikan aktivitasnya, dan segera meletakkan perkakas makannya yang sedang ia pegang.


Fla mengambil selembar tissue, dan mengelap bibirnya menggunakan itu.


"Gini lho, Kak. Aku ngajak kakak ketemu itu cuma mau bilang terima kasih, karena waktu itu udah nolongin aku," lirih Fla, membuat Arash tersenyum tipis.


"Kamu ngajak saya ketemu, cuma mau bilang itu?" tanya Arash sembari mendelikkan matanya, karena tak percaya dengan yang Fla lakukan.


Arash tersenyum, tak habis pikir dengan Fla.


Fla mengerenyitkan dahinya, "ih apaan sih, Kak Arash mah!" bentak Fla, membuat Arash tak bisa menahan tawanya.


Arash menghentikan tawanya, "oh ya, gimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" tanya Arash, membuat wajah Fla seketika terasa panas.


Fla segera menafikan wajahnya, "sudah lebih baik," jawab Fla singkat, membuat Arash mengangguk kecil.


"Ya sudah kalau seperti itu," lirih Arash yang tidak menghiraukan Fla lagi.


Arash membuka botol absinthe yang sudah tersedia hadapannya, kemudian menuangkannya ke dalam gelasnya, dan juga gelas Fla.


Fla melirik ke arah hadiah yang ia persiapkan untuk Arash. Ia mendadak jadi ragu, dengan niat yang ingin ia lakukan. Ia ragu, apakah harus memberikan ini pada Arash atau tidak.


'Jadi nambah ragu. Kasih hadiahnya gak sih?' batin Fla yang benar-benar sudah menjadi ragu sekarang.


Arash menyodorkan segelas absinthe itu pada Fla, membuat Fla mendelik melihatnya.


"Mau cheers?" tanya Arash, membuat Fla mengangguk kecil.


Fla mengambil gelas yang Arash sodorkan ke arahnya.


"Temani saya minum," lirih Arash, membuat Fla agak ragu dengan itu.

__ADS_1


"Gimana, ya? Aku besok masih ujian, dan Kak Arash pun pasti kerja besok. Gimana kalau kita gak bisa pulang karena terlalu mabuk?" tanya Fla, membuat Arash tersadar akan hal itu.


Arash segera mengambil handphone-nya, dan mengirimkan pesan singkat pada Ilham.


"Ham, telepon saya sekitar jam 1 malam. Kalau saya tidak angkat telepon kamu, tolong ke hotel tempat biasa kita sewa meeting room. Saya minum sedikit di sini. Khawatir mabuk." Isi pesan singkat yang Arash kirimkan pada Ilham.


Di sana, Ilham yang sedang berendam di bath tub rumahnya, terkejut mendapatkan notifikasi pesan dari Arash. Ilham segera melihat isi pesan itu.


Setelah membaca pesan singkat dari Arash, Ilham pun menggelengkan kepalanya, karena merasa sedikit lucu dengan yang selalu Arash lakukan.


"Ada apa sih dia? Kan bisa ngajak tadi. Kenapa gak ngajak saya tadi?" gumam Ilham yang merasa aneh dengan Arash, tapi Ilham selalu diam, dengan semua hal yang Arash lakukan.


Itu semua sudah terbiasa Arash lakukan sejak ia masih kecil. Ilham selalu melihat hal-hal yang Arash lakukan, dari kejauhan. Ilham tidak ingin ikut campur dengan permasalahan Arash, meskipun pada saat itu Arash sudah babak belur dibuat teman-teman sebaya Bunga.


Ilham hanya bisa memandangnya dari jauh, karena sikap introvertnya yang tidak bisa ia buang sejak kecil, bahkan sampai saat ini.


"Pasti tentang wanita," lirih Ilham, yang sudah mengetahui perilaku Arash, jika ia tidak mengajak Ilham.


Sama seperti saat Arash berlibur dengan Bunga dan Ares kemarin, Arash tidak mengajak Ilham sama sekali, dan justru malah memberikannya tugas untuk menjaga Arasha dan juga Jessline.


Ilham tersenyum, memandang foto lucu Arasha sejak ia masih berumur 8 tahun. Ara memang selalu bisa membuat Ilham tersenyum kala itu, bahkan sampai saat ini.


Ilham memperhatikan slide demi slide foto-foto Arasha dan juga foto-foto mereka saat itu. Ilham bahkan sempat berfoto bersama dengan Arash dan juga Bunga Foto itu, hanya ia yang punya. Bahkan jika ditanya, Arash pun belum tentu ingat kapan foto itu diambil.


"Waktu tidak akan bisa diputar kembali," lirih Ilham yang sangat bijak dalam menyimpulkan dan menerima takdirnya.


Di sisi sana, Arash kembali menyodorkan gelas kepada Fla, untuk mengajaknya bersulang.


"Saya sudah minta tolong Ilham untuk menjemput," ucap Arash, membuat Fla mengangkat gelasnya.


"cheers."


Mereka menenggak absinthe itu, dan berusaha menahan perihnya di tenggorokan.


"Ahh ...."

__ADS_1


Mereka memandang satu sama lain. Sepertinya, Arash masih mempunyai beban pikiran yang mengganjal di hatinya.


"Gimana rasanya?" tanya Arash.


"Seperti alkohol," jawab Fla yang polos, membuat Arash tersenyum lebar mendengar jawaban polos dari Fla.


"Ya memang itu alkohol," gumam Arash, membuat Fla menjadi tertawa karenanya.


Arash melirik Fla, "hei, gimana Morgan memperlakukan kamu selama ini?" tanya Arash, membuat Fla tersenyum.


"Kak Morgan baik banget. Tapi karena sibuk, dia jadi kurang perhatiin aku," jawab Fla, sembari memutar-mutar gelasnya.


Mendengar hal itu, membuat Arash menunduk malu. Terlintas di pikirannya, mungkin saya juga kurang memperhatikan Ara selama ini, pikir Arash.


Kesibukan Arash selama ini, mungkin secara tidak langsung bisa membuat Ara membatasi dirinya. Arash meyakini, banyak sekali sesuatu yang Ara rahasiakan darinya.


Arash melihat ke arah Fla kembali, "kalau sama Jessline, sikap Morgan bagaimana?" tanya Arash.


Fla memandang diri Arash, "kayaknya kak Morgan nggak pernah ngobrol banyak sama Jessline. Jessline juga nggak pernah ngobrol banyak sama kak Morgan. Jessline juga jarang pulang, jadi kita nggak tahu hal apa aja yang udah Jessline lakuin di luar sana," ucap Fla menjelaskan, membuat Arash mengangguk kecil.


'Jadi bener yang dibilang Jess. Tapi, Kenapa dia sampai menyamarkan namanya?' batin Arash, yang masih bertanya-tanya tentang keadaan Jessline kala itu.


Arash kembali memandang ke arah Fla, "lantas, kalian berdua sering ngobrol gak?" tanya Arash, membuat Fla menggeleng.


"Enggak. Apalagi, ditambah dengan kejadian masalah cowok, yang membuat Jessline semakin benci sama aku."


"Deg ...."


Seketika dada Arash terenyuh, mendengar ucapan Fla kali ini.


'Gak salah lagi, pasti Bisma,' batin Arash yang memang sudah mengetahui tentang laki-laki yang membuat Jessline sampai seperti itu.


Fla menunduk, kenapa Kak Arash ngomongin Jessline mulu, ya? Apa ... dia punya hubungan sama Jess? Pikir Fla yang kembali sendu dengan keadaan.


Hal itu yang membuat Fla semakin ragu untuk memberikan hadiah itu pada Arash. Fla berada di ambang batas keraguan.

__ADS_1


Apakah hadiah itu akan diberikan pada Arash?


__ADS_2