Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Morgan Gak Suka Cewek?


__ADS_3

Ara melangkahkan kaki menuju koridor kelasnya. Nampak Fla dan Ray sedang berbincang di sana.


Tumben sekali, kenapa mereka menjadi akrab seperti ini? Pikir Ara.


Ara yang penasaran, langsung saja menghampirinya.


Mereka menyadari akan kedatangan Ara. Ara masih saja merasa kaku, karena masalahnya waktu itu, yang membuat Fla salah paham. Ara jadi agak canggung dengan Fla.


“Eh, Ra. Udah 2 hari ini loe ngilang entah kabar. Loe kemana aja? Gue khawatir sama loe,” sapa Fla yang sudah menghujani Ara dengan pertanyaan yang terlalu to the point.


Ara tersenyum pada Fla.


“Iya, Ra, bukan cuma Fla doang, gue juga kangen kok sama loe,” goda Ray.


Ara tersipu malu. Fla terlihat langsung mendorong bahu Ray.


“Huh, gombal,” gumam Fla.


Ara dan Ray tertawa kecil mendengar suara lucu Fla yang seperti anak kecil.


“Sejak kapan loe jadi gombalin gue gini?” tanya Ara sembari tertawa, Mereka tertawa mendengar pertanyaan Ara.


Saat mereka sedang berbincang riang, Morgan pun terlihat sedang melewati mereka dengan dingin. Ara menatap heran ke arahnya. Ia sama sekali tak seperti biasanya. Tidak menyapa Ara, atau pun menyapa Fla yang jelas-jelas adalah adiknya.


Morgan berlalu melewati mereka. Ara menjadi penasaran sekali, karena Morgan benar-benar sama sekali tidak menghubunginya sejak terakhir kali mereka bertemu.


‘Dia kenapa ya,’ batin Ara penasaran.


Biasanya, Morgan menyempatkan untuk mengirim pesan singkat kepada Ara. Tapi, sudah dua hari ini, dia tidak menghubungi Ara sama sekali.


‘Apa gue tanya aja kali ya, ke Fla?’ pikir Ara.


Ara tersadar dengan pikirannya itu. Kenapa ia memikirkan hal yang tidak penting seperti ini?


Aku sudah membuang-buang waktuku yang berharga, pikir Ara.


‘Ah, tapi gengsi lah!’ batin Ara, sembari menyipitkan matanya.


Ara tak sengaja melihat Morgan yang sedang berbincang dengan dosen yang waktu itu Ara lihat, saat sedang mengantarkan buku ke ruangan Morgan. Raut wajah Morgan nampak kusut, Ara jadi merasa sedikit sedih melihat raut wajahnya.


Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Arasha. Ara menjadi gelagapan, karena merasa tertangkap basah sedang memperhatikannya.


Karena sudah begitu, Ara melanjutkan saja. Tapi Morgan hanya melihatnya dengan santai dan dingin, seperti tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka, sementara Ara melihatnya dengan tatapan yang sedih.


Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Kenapa dia jadi tega seperti ini padaku? Pikir Ara.

__ADS_1


Morgan tiba-tiba saja pergi dari hadapan Ara. Ara ingin sekali memanggilnya, namun, lidahnya mendadak terasa sangat kelu.


Fla melirik ke arah Arasha, yang nampaknya sedang melihat sesuatu.


“Ra?” pekik Fla.


Ara tersadar dari lamunannya, karena Fla.


“Eh, iya ....” Ara berusaha membenarkan pandangannya.


“Kenapa, Ra?”


“Emm ... gak apa-apa, kok Fla,” jawab Ara dengan terbata-bata.


Ara mungkin saja sudah membuat mereka bingung dengan gelagatnya.


“Oh ya, gue masuk dulu ya, Ra, Fla,” ucap Ray.


Ara tiba-tiba mengubah fokusnya pada Ray.


“Okey deh,” Fla menjawab demikian.


Ray pun pamit, meninggalkan tempat ini. Kini, hanya tinggal Ara dan Fla saja.


Kenapa mendadak suasana menjadi rancu, ya? Pikir Ara.


Ara memberanikan diri untuk menatap Fla, yang ternyata juga sedang menatapnya juga. Pandangan mereka pun bertemu, membuat Ara menjadi semakin malu.


“Emm ... Fla,” panggil Ara, membuat Fla menoleh ke arahnya.


“Iya, Ra? Kenapa?” tanya Fla, yang sepertinya sudah bisa bersikap biasa saja, berbeda dengan Ara yang masih canggung karena masih kepikiran dengan masalah itu.


Ara ragu untuk membicarakan ini pada Fla. Tapi, ia rasa harus membicarakannya, cepat atau lambat.


“Huft ....”


Ara menghela napas, untuk mempersiapkan dirinya.


“Yaelah, santai aja lagi, Ra. Gak usah kaku gitu,” gumam Fla.


Tetap saja, Ara merasakan rasa yang tidak biasa. Bagaimana bisa orang yang sudah tertangkap basah tidak merasakan hal yang sama dengan yang Ara rasakan saat ini? Pasti semua orang merasakan hal yang Ara rasakan, bukan?


Ara melirik kecil ke arah Fla yang sepertinya tidak terlalu memperhatikannya. Perhatiannya terpecah pada buku pelajaran yang sedang Fla baca. Tak disangka, Fla masih bisa menyempatkan untuk membaca buku, di sela sebelum jam pelajaran dimulai. Ara jadi agak malu dengan Fla.


“Gue ... ganggu waktu belajar loe, gak?” tanya Ara, yang masih tidak enak padanya.

__ADS_1


Fla menghentikan aktivitasnya untuk membaca. Ia meletakkan bukunya, dan menatap tajam ke arah Arasha.


“Apa, sih? Loe sama sekali gak ganggu waktu gue, kok,” Fla menarik tangan Ara, “sini duduk,” ucapnya.


Ara pun duduk bersebelahan dengan Fla. Ia terlihat sangat repot, karena mengambil sesuatu di dalam tasnya.


Terlihat dua kaleng minuman ringan yang ia pegang, ia menyodorkan satu kepada Ara.


“Nih, minum dulu biar agak tenang,” ucapnya, yang sepertinya tulus.


Ara agak ragu untuk mengambilnya, karena ia sudah takut untuk menerima makanan atau minuman pemberian orang lain.


Ara masih trauma dengan kejadian malam itu, saat ia bertemu dengan Bisma. Morgan memberitahu Ara, kalau Bisma sudah membubuhkan obat, agar bisa menaikkan ***** Ara.


Mulai dari situ, Ara sudah tidak pernah menerima pemberian siapa pun lagi, kecuali yang kakaknya berikan padanya.


Ara hanya menatap Fla tajam, masih khawatir dengan kejadian yang kemarin ia alami.


“Maaf, Fla, gue gak minum minuman bersoda.” Ara menolak dengan lembut pemberian Fla.


Sebenarnya, Ara tidak mau menolaknya, tapi, ia terpaksa melakukannya karena rasa trauma ini. Walaupun ia yakin, Fla tidak akan mungkin melakukan itu padanya.


Ia menarik kembali minuman itu, dan meletakkannya kembali di dalam tasnya.


“Sorry ya, Ra, gue gak tahu,” ucapnya, Ara hanya tersenyum tipis pada Fla.


Ara terlupa dengan tujuannya. Ara harus mengutarakan maksud dan tujuannya secepat mungkin, agar tidak terhambat hal-hal yang lain lagi nantinya.


“Fla ...” Fla menoleh ke arahnya, “kejadian yang loe lihat waktu makan malem itu ...,” ucap Ara yang terpotong karena ragu.


Fla nampaknya sudah mengerti dengan yang ingin Ara sampaikan. Ia melontarkan senyum kepada Ara.


“Oh, tenang aja, Ra. Gue cuma kaget aja. Baru kali ini gue ngeliat dia begitu sama cewek.”


“Deg ....”


‘Berarti, ucapan Morgan waktu itu, beneran?’ batin Ara.


Morgan baru pertama kali melakukan itu bersama Ara. Ara jadi merasa tak enak hati pada Morgan, karena sudah tidak mempercayainya.


“Ya, setidaknya gue tau kalau dia itu normal,” tambah Fla, membuat ARa sedikit tertawa.


Yang benar saja? Morgan yang lumayan tampan itu sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh wanita? Padahal, ada banyak wanita cantik yang mungkin mengelilingi kehidupan Morgan setiap harinya. Termasuk baru-baru ini, wanita yang Ara temui di hotel waktu itu.


Mengingat pertemuan itu, tiba-tiba Ara menjadi sedikit sedih.

__ADS_1


“Jadi maksudnya, Morgan itu gak suka cewek--”


__ADS_2