
"Engghhh ...."
Ara tersadar dari tidurnya. Terlihat samar Morgan yang sedang duduk sembari membaca sebuah buku, di sebelah Ara.
"Morgan ...," pekik Ara membuat Morgan tersadar dan menghentikan aktivitasnya.
"Nah, mimpimu indah?" sambutnya lirih membuat Ara tersenyum kemudian memeluknya.
"Pagi ini, kita ke mana?" tanya Ara.
Morgan tersenyum hangat. Senyumannya benar-benar mengalihkan dunia Ara. Morgan membelai hangat pipi chubby Ara.
"Kita pergi menjenguk seseorang. Setelah itu, kita pergi mengunjungi Naoki," ucap Morgan membuat Ara mengangguk kecil.
Tiba-tiba saja, Ara teringat dengan nasib Farha yang kemarin diusir Morgan.
Aku jadi iba padanya. Haruskah aku menghubunginya? Pikir Ara yang menjadi bimbang dengan perasaannya.
Melihat perubahan sikap Ara yang drastis, Morgan pun mengerenyitkan dahinya, "kamu kenapa?" tanya Morgan yang nampak khawatir.
llllllllllllll)o)o
Ara mendelik, ternyata, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku di hadapannya, pikir Ara.
"Apa kabar Farha ya?" tanya Ara dengan lirih.
Mood Morgan tiba-tiba saja berubah menjadi dingin, membuat Ara menatapnya dengan sendu.
Aku seharusnya tidak berkata demikian. Tapi jujur saja, aku menghawatirkan Farha, pikir Ara.
"Jauhi anak itu. Dia gak baik untuk kamu," ucap Morgan keras, mencoba memperingati Ara.
Ara mengerenyitkan dahinya, ada apa sampai ia terus menerus menyuruhku untuk menjauhi Farha? Sejauh ini, dia adalah gadis yang baik menurutku, pikir Ara.
"Tapi--"
"Jangan tanya lagi. Saya sudah memperingatkan kamu," pangkasnya.
Kali ini sepertinya, ia sedang tidak ingin didebat, pikir Ara.
Ara menghela napasnya panjang, "ya oke kalau kamu nyuruh aku untuk ngejauhin dia. Aku pasti jauhin dia," ucap Ara dengan tegas membuat Morgan spontan melihat ke arah Ara.
"Bagus, itu yang aku mau," lirih Morgan.
Ara mendelik, "tapi setidaknya, aku harus tau apa alasan kamu nyuruh aku supaya bisa jauhin Farha," tambah Ara.
__ADS_1
Morgan hanya terdiam sembari menutup matanya. Kesal, mungkin saja ia rasakan.
Morgan kembali menatap Ara dengan tajam, "nanti juga kamu tahu. Dan saya akan kasih tahu semuanya, dengan cara saya sendiri," ucapnya menjelaskan.
Ara masih belum paham dengan yang Morgan katakan. Tapi Ara sudah mengambil kesimpulan, bahwa dirinya masih harus menunggu untuk bisa mengetahui semuanya secara jelas.
Morgan mengesampingkan egonya, dan mengelus rambut Ara.
"Siap-siap gih," lirihnya yang langsung kembali melanjutkan aktivitasnya membaca buku.
Ara terdiam sejenak sembari menatapnya, apa yang akan ia lakukan supaya aku bisa mengetahui yang ia maksudkan? Pikir Ara.
...***...
Morgan mengajak Ara untuk menuju suatu tempat yang sangat asing baginya. Lebih tepatnya, ke rumah seseorang. Ia menggandeng tangan Ara dengan hangat, membuat Ara terkesima dengan Morgan.
Mereka memasuki rumah yang seperti kastil kerajaan Jepang. Ara melihat-lihat ke sekelilingnya, sepanjang masuk dari gerbang depan. Merek berhadapan dengan dua orang yang berbadan besar sekali, seperti sumo.
Mereka memperhatikan Morgan dengan seksama. Seperti mengenali sosok Morgan.
"Lama tidak bertemu," sapa Morgan dengan menggunakan Bahasa Jepang.
Mereka terlihat seperti terkejut melihat kedatangan Morgan datang.
"Apa yang Kamu lakukan di sini?" tanya mereka serempak.
'Pulang dari sini, minta ajarin Morgan Bahasa Jepang lah,' batin Ara saking kesalnya.
"Saya ingin pergi melihat Nyonya yang sedang sakit," jawab Morgan.
Mereka berdua terlihat lebih terkejut dari sebelumnya.
"Apakah anda terbang sejauh ini hanya untuk melihat kondisi Nyonya?" tanya salah satu dari mereka.
Morgan mengerenyit, "hey, biarkan kami lewat," ucap Morgan dengan nada yang sedikit ditekankan, membuat mereka terkejut.
"Silakan," ucapnya.
Mereka seperti membelah jalannya dan membuka jalan untuk Ara dan juga Morgan.
"Lewat sini, Tuan Putri," lirih Morgan dengan sangat lembut, persis seperti tangan kanan kerajaan yang sedang menunjukkan jalan.
Ara tersenyum malu dan segera melangkah beriringan dengannya.
"Siapa gadis itu?" ucap mereka, yang mulai berbisik persis setelah Ara dan Morgan melewati mereka.
__ADS_1
"Dia kekasihku," balas Morgan.
Mereka berdua seperti terkejut setelah mendengar celetukan Morgan, Ara hanya diam saja mendengar ucapan Morgan yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Apa katanya?" tanya Ara yang tak paham dengan bahasanya, Morgan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ara.
"Katanya, kamu cantik. Terus saya jawab, memang benar," ucap Morgan menjelaskan.
Ara terdiam, apa benar seperti itu artinya? Lalu, mengapa mereka kaget saat Morgan menjawab? Apa aku seburuk itu di mata mereka? Pikir Ara yang bingung dengan maksud dan artinya.
Ara berjalan menuju suatu aula yang cukup luas. Kesan tradisional Jepangnya terasa sekali di sini.
"Silakan duduk," suruh Morgan.
Ara pun duduk di atas bantal dan melipat kedua kakinya.
Ara hanya celingukan memandang luasnya bangunan ini, "kita ngapain di sini?" bisik Ara.
Morgan hanya terdiam. Tidak tersenyum, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba seorang wanita dan seorang laki-laki muncul di hadapan mereka. Sontak Ara pun terkejut karena Hatake lah yang saat ini ia lihat. Ara tidak bisa berkata apa pun. Lidahnya terasa sangat kelu, tak tahu harus berkata apa.
"Ternyata ada tamu," sapa wanita itu.
Ara menelan salivanya sendiri, sepertinya, aku pernah melihat wanita ini, pikir Ara untuk mengingat wajahnya.
Ara kembali memperhatikannya, 'bener ah! Siapa ya? Pernah lihat!' batin Ara yang mulai menebak.
Tidak mungkin jika Ara sampai salah melihat seseorang.
Morgan menoleh ke arah Ara, sepertinya Ara terlihat tidak nyaman saat melihat Meygumi dan adiknya yang saat ini sedang berdiri di hadapan kami. Apa tidak apa-apa jika diteruskan? Pikir Morgan, yang bingung dengan keadaan.
Morgan menepis kembali pikirannya, ah ... lagi pula, saya ke sini itu tujuannya hanya ingin menjenguk ibunya yang sedang sakit. Bukan untuk mengingat kembali kenangan yang pernah saya dan Mey lalui, pikir Morgan lagi yang berpikir dengan positif.
Semoga saja, Ara tidak marah setelah ini, sambungnya memikirkan.
Morgan menoleh ke arah Meygumi, "apa kabar? Saya ingin bertemu nyonya yang sedang sakit," ucap Morgan dengan nada yang paling lembut yang ia miliki.
"Bisakah kamu memperkenalkan saya kepada gadis yang ada di sebelah kamu?" tanya Meygumi, yang sepertinya tak menghiraukan sapaan lembut dari Morgan.
Morgan menghela napas dalam-dalam, ternyata, dia sama sekali belum berubah, pikir Morgan.
Morgan menoleh ke arah Ara, "perkenalkan diri kamu," suruh Morgan.
Jelas sekali Ara tersenyum paksa kepada mereka semua.
__ADS_1
"Hallo, my name is Ara. Nice to meet you all," ucap Ara yang berusaha memperkenalkan dirinya.
Nadanya agak canggung. Mungkin saja, Ara tidak menyukai suasana ini, pikir Morgan