
Ara menoleh ke arah jendela, dan melihat mobil Morgan yang masih terparkir rapi di halaman depan rumah Ara, membuat Ara meyakini bahwa Morgan masih ada di rumahnya.
Ara berusaha mencari keberadaan Morgan, menuju halaman depan rumahnya. Tapi, Ara tertahan karena mencium aroma yang lezat sekali.
Ara menghirup aroma tersebut sembari memejamkan matanya, “hmm ... wangi banget,” Ara mengendus aroma lezat yang berasal dari dapur.
“Tumben bibi masak siang-siang gini,” lirih Ara yang penasaran dengan kelakuan bibinya.
Ara yang penasaran, segera menuju ke dapur untuk melihat bibi memasak.
Sesampainya di dapur, Ara dikejutkan dengan pemandangan yang baru saja ia lihat ini.
Dari sudut sana, terlihat Morgan yang sedang mengaduk-aduk masakan yang ia buat sendiri.
Ternyata, bukan bibi yang sedang memasak. Tapi, Morgan lah yang sedang memasak. Mata Ara sampai membulat karena melihat pemandangan langka ini.
Apa Morgan bisa memasak? Pikir Ara.
“Sini, Den. Biar bibi aja yang lanjutin masaknya,” ucap bibi yang berusaha mengambil spatula untuk melanjutkan memasak.
Morgan hanya fokus membolak-balikkan masakan yang sedang ia buat.
“Gak usah, Bi. Biar saya saja yang masakin untuk Ara,” tolak Morgan.
Ara yang mendengar satu kalimat dari Morgan, membuat hatinya sangat sejuk karenanya.
Satu hal lagi yang baru aku ketahui tentang Morgan. Ia bisa memasak. Berbeda dengan diriku yang sama sekali tidak ada keahlian memasak. Aku hanya ikut-ikutan bibi memasak saja. Aku juga tidak paham dengan takaran bumbu yang harus diberikan agar rasanya menjadi pas dan lezat, pikir Ara.
“Eh jangan gitu atuh, Den. Aden kan capek abis kerja. Biar bibi aja ya yang terusin,” Bibi ternyata masih belum menyerah untuk membujuk Morgan.
Bibi terus-menerus memaksa agar Morgan memberikan alih masakannya padanya.
Morgan menoleh, “Bi, izinin saya buat bikinin Ara makanan ya ... saya udah jadi pacarnya sekarang, Bi. Dan mau minta maaf ke Ara karena saya bikin kesalahan sama dia,” ucap Morgan.
Hati Ara menjadi tidak keruan saat ini, setelah mendengar Morgan mengatakan demikian.
Morgan tidak malu untuk memberi tahu hubungan mereka kepada orang lain.
Berbeda dengan Ara. Ara sangat malu kalau sampai mereka semua tahu kalau ia berpacaran dengan Morgan. Padahal, apa yang salah dari diri Morgan? Dia tampan, kaya, dingin, berpendidikan, tapi Ara malu jika harus mengumbar kemesraan dengan Morgan di depan publik.
“Waaahhhh ... selamat yaa Den Morgan. Akhirnya, udah jadian nih yeeeee ... gak sia-sia ngedeketin Non Ara sampe segininya,” ledek Bibi.
Morgan hanya tersenyum sembari membolak-balikkan masakannya.
Ara tersenyum mendengar percakapan mereka.
Sepertinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dari Morgan.
__ADS_1
Ara meninggalkan Morgan yang sedang asyik bercanda dengan Bibi. Ia duduk di sofa sembari men-scroll beranda akun media sosialnya.
“Tseeeettttt ....”
Seketika, muncul akun media sosial Bisma yang melewati timeline Ara.
Ara jadi merindukannya, karena tak sengaja melihat postingan foto Bisma bersama dengan klub basketnya itu.
Terakhir mereka berhubungan, saat Ara dan Morgan sedang makan di restoran Jepang itu. Ara tiba-tiba sangat merindukan Bisma.
Bagaimana keadaan Bisma sekarang? Pikir Ara.
Morgan tak sengaja melihat ke arah Ara yang terlihat sedang menatap ke arah layar handphone-nya.
“Sayang ...,” pekik Morgan dari arah belakang.
Ara terkejut, sampai tak sadar menjatuhkan handphone-nya ke lantai.
Jantung Ara terus berdetak dengan kencang, sampai menjadi tidak teratur.
Morgan berhenti di hadapan Ara, sembari membawa sepiring nasi goreng yang telah ia buat.
Buru-buru Ara mengambil handphone-nya yang tadi terjatuh.
“Bibi bikinin kamu nasi goreng nih,” ucap Morgan membuat Ara menjadi bingung.
Jelas-jelas tadi aku melihat ia yang membuatnya. Kenapa ia berkata bahwa Bibi lah yang membuatkannya untukku? Pikir Ara.
Morgan tersenyum tipis ke arah Ara.
“Tukkk ....”
Morgan menyentuh hidung Ara dengan lembut, sembari tersenyum manis. Mata Ara membulat karenanya.
“Kenapa gak peluk saya pas saya lagi masak tadi?” tanya Morgan, membuat Ara merasa malu mendengarnya.
Ara mendelik, “ngapain aku harus peluk kamu,” tepis Ara, membuat Morgan menyipitkan kedua matanya.
“Kalau mau ngintip, jangan sampai ketahuan, dong?” ledek Morgan dengan tatapan tajam, membuat Ara terkejut.
Aku ketahuan semudah ini, kah? Pikir Ara.
“Sok tau kamu,” tepis Ara dengan nada yang gelagapan.
Morgan hanya tersenyum dan segera duduk di samping Ara.
Morgan mendekatkan wajahnya ke arah Ara, “gak ada yang bisa kamu sembunyikan dari saya, Ra,” lirihnya.
__ADS_1
Tanpa disadari, Ara menelan salivanya sendiri. Matanya hanya tertuju pada mata cokelat Morgan, yang selalu mampu membuat Ara mabuk kepayang.
Apa benar, aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya? Pikir Ara.
Morgan hanya tertawa kecil, “mau makan sendiri, atau disuapin?” tanya Morgan dengan ekspresi datar.
Ara tertegun, karena baru kali ini Morgan bertanya seperti itu. Ara sangat bingung untuk menjawabnya, sehingga membuatnya mati gaya, tak bisa berbuat apa pun.
Morgan memiringkan kepalanya, “gak jawab? Berarti minta disuapin,” bidik Morgan yang langsung bersiap menyendok makanan.
Ara menahannya, “eh ... aku bisa makan sendiri kok,” tolak Ara lalu segera merebut piring yang ada di tangan Morgan.
Ara langsung menyuap suapan pertamanya.
“Aaaaaaa ....”
Morgan melihatnya dengan tatapan jahil. Dengan segera, Morgan menyambar suapa tersebut, sehingga suapan pertama didapat oleh Morgan.
“Mmmmm ...,” lirih Morgan.
Ara melihatnya dengan tatapan tidak rela.
“Ih … Morgan, mah!” bentak Ara, membuat Morgan mengusap pucuk rambutnya.
Ara bersiap untuk menyendok suapan kedua.
Woah!
Satu suapan berhasil mendarat di mulut Ara.
Rasa nasi goreng buatan Morgan sangat cocok dengan lidah Ara. Tidak kurang satu apa pun.
Nasi goreng ini persis sekali seperti nasi goreng buatan ibu Ara. Dengan kecap yang tidak terlalu banyak, dan juga dengan nasi yang tidak lengket sama sekali. Hanya satu hal yang Ara tidak suka.
Bawang goreng!
Ara memisahkan sedikit demi sedikit taburan bawang goreng ke tepi piring.
Morgan melihatnya dengan aneh, lalu mengambil taburan bawang itu dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Morgan mengunyah sampai habis tak tersisa, membuat Ara memandang wajahnya dengan tatapan aneh.
Morgan mengetahui pandangan Ara terhadapnya, “aneh, ya?” tanya Morgan, membuat Ara gelagapan lagi dan langsung memakan sisa nasi yang ada di piring.
Ara lalu memandang wajah Morgan itu.
“Mulai sekarang, makanan apa pun yang kamu gak suka, kamu kasih saya aja. Biar saya telan habis sendiri,” ucap Morgan, membuat Ara terdiam sembari menatap syahdu manik matanya.
__ADS_1
“Sama halnya dengan suatu hal lain yang kamu gak suka, kamu kasih ke saya ya. Tumpahin semua rasa kesal kamu. Saya pasti akan telan semuanya sendiri kok. Asal kamu bahagia, Ra,” sambung Morgan.
“Deg ….”