Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pertarungan Melawan Batin


__ADS_3

Ara sampai tidak peduli lagi dengan keadaan sekelilingnya. Ara sudah bosan berada di ruang lingkup yang sama, dengan dosen aneh itu. Kalau bukan karena Morgan sudah pernah merebut kehormatannya, Ara juga tidak akan mau bertahan dengan rasa yang menjijikan ini.


“Duh … harusnya kejadian ini gak terjadi! Kalau udah begini kan, gimana? Gue mau nuntut ke siapa coba?” lirih Ara, yang sudah mulai melantur.


Mungkin, karena Ara sudah terpaku dengan Morgan yang sudah mengambil dan menodai kesuciannya, sehingga membuat Ara terus terngiang dengannya.


Ara mendelik kesal, “awas aja tuh orang kalau misalkan begitu lagi--”


“Drrrrtttt ....”


Getar handphone Ara terdengar lumayan kencang, sehingga memotong dumelannya tadi.


Ara mengambil handphone-nya dari saku kemeja yang ia pakai, lalu melihat isi pesan masuk tersebut.


Di awal, sudah tertera nama “Bii” dengan emotikon hati yang mengiringinya. Matanya langsung membulat, karena senang mendapatkan notifikasi dari Bisma.


“Chat dari Bisma!” pekik Ara bersemangat.


Ara langsung membuka pesan dari Bisma.


“Hai, Ra. Di sini udah jam 12 malam, lho. Pasti, di sana udah jam 12 siang, kan? Loe lagi apa sekarang? Udah makan, kah? Udah jam makan siang nih. Don't forget your lunch, ya. Gak usah bales juga gak apa-apa kok, Ra! Gue cuma mau ngingetin loe makan aja kok. Maaf ya gue belum bisa hubungin loe dengan benar. But, i believe you're okay now! Take care ya beib. See you next time. I'll text you soon. Big love for you.” Isi pesan singkat dari Bisma.


Satu senyuman merekah di wajah Ara, “emm ... so sweet,” lirih Ara yang terkesima, setelah membaca pesan singkat dari Bisma.


Entah kenapa Ara bisa sebahagia ini, hanya dengan melihat pesan singkat dari orang lain yang mempedulikan keadaannya.


“Duh … seneng banget ngeliatnya,” gumam Ara saking senangnya.


Ara kembali menekuk wajahnya, karena merasa, mood-nya saat ini sudah berubah secara tiba-tiba. Ara menjadi jengkel sendiri, karena tiba-tiba saja Ara terpikir dengan Morgan.


“Gak kayak orang itu! Yang ngakunya gak punya handphone, padahal mah ada!” ketus Ara kesal.


Mood-nya memang suka beruba-ubah. Membuatnya kesulitan beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Tidak hanya saat sedang berhadapan dengan Morgan saja, bahkan saat berhadapan dengan kakaknya, atau dengan siapa pun itu, Ara juga tidak bisa menjaga mood-nya sendiri. Menjaga mood adalah hal paling sulit yang tidak bisa Ara lakukan.

__ADS_1


Ara berubah mood menjadi kesal dan geram. Entah kenapa, setiap teringat dengan dosen itu, membuat Ara menjadi jengkel sendiri. Setiap Ara bertemu atau memikirkannya, hidupnya seketika menjadi berantakan.


Morgan pandai sekali memainkan perasaan Ara! Dia pandai menarik-ulur perasaan wanita.


“Huah! Mikirin dia jadi emosi. Laper jadinya!” lirih Ara sembari memegang perutnya yang sudah mendemo untuk makan.


“Apa makan dulu aja, kali ya?” Ara berpikir, sepertinya ia tidak mood untuk makan, tapi kalau tidak makan, Ara akan lemas karena asam lambungnya yang mungkin saja akan naik nantinya.


“Okelah! Makan dulu! Bodo amat lah kalau kakak gak ngizinin gue buat makan di kantin. Emangnya, dia bakalan sampai sedetil itu apa, buat mata-matain kegiatan gue selama di kampus?” dumel Ara yang tiba-tiba kesal mengingat kakaknya itu.


Ara mengusap wajahnya, “eh tapi, cuci muka dulu deh. Kayaknya, kusam banget ini muka.”


Ara bergegas menuju toilet, untuk sekedar mencuci wajahnya yang sudah kusam, karena terus-menerus terkena perubahan suhu dari AC ke suhu ruang.


Kini, Ara sudah tiba di toilet, dan sudah berada di depan cermin. Ara menatap seksama ke arah wajahnya, yang kini sudah berubah menjadi kusam.


“Duh, kenapa nih muka gue?” lirih Ara bingung, sembari tetap memperhatikan wajahnya yang kusam.


Ara membuka kran air itu, lalu setelahnya mengalirlah air yang cukup deras, yang sepertinya sangat menyejukkan. Ara menampung air itu di kedua tangannya yang ia satukan.


“Byurrr ….”


Ara membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran itu, membuatnya sedikit lebih segar dari sebelumnya.


Tiba-tiba, teringat tentang kejadian yang baru saja terjadi di ruangan Morgan tadi.


“Tadi gue kenapa? Gue megang apa?” tanya Ara lirih, karena masih belum mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.


Apa aku harus berbuat seperti ini terus terhadap Morgan? Apa aku harus terus berbuat kasar seperti ini padanya? Pikir Ara yang bingung dengan apa yang ia perbuat.


“Huft ….”


Ara menghela napas panjang, merasa sudah tidak habis pikir lagi dengan urusan ini.

__ADS_1


Entah, kenapa ia tidak menyerah saja pada keadaan? Lagi pula, walau Ara sudah mengalami kerugian, Ara juga tidak keberatan jika Morgan menghilang dari hidupnya. Asalkan Morgan tidak kembali muncul di hadapan Ara lagi.


Kalau Morgan kembali muncul, itu sama saja memaksa Ara untuk terus mengingat tentang kejadian yang bisa membuatnya menjadi depresi.


“Argh ….”


Kepala Ara mendadak berat, semua yang ia lihat menjadi berbayang. Ia meremas keras rambutnya yang sudah basah terkena air. Tak disangka, kali ini, sekelibat Ara malah melihat Morgan di hadapannya, yang sedang bergerak memutari pandangannya.


“Bisa gak sih, loe berhenti muter-muter gak jelas di pikiran gue?” lirih Ara yang bingung dengan pemandangan yang sedang lihat.


Ia tidak mau berhenti, membuat Ara menjadi pusing tujuh keliling seperti ini. Ara semakin kesal saja dengan orang yang bernama Morgan itu.


“Huft … apa sih bagusnya dia? Cuma menang jabatan sebagai dosen aja juga, udah sombong!” Geram Ara sembari menatap tajam ke arah Morgan yang masih mengelilingi pandangannya.


Ara berpikir sejenak, dan mengulangi pernyataannya yang baru saja Ara katakan.


“Apa sih bagusnya dia? Cuma menang jabatan sebagai dosen, dan punya pendidikan S-2 lulusan universitas ternama di Jepang aja juga, udah sombong!”


Lagi-lagi Ara berpikir sejenak dengan ucapan yang baru saja ia ucapkan.


“Apa sih bagusnya dia? Cuma menang jabatan sebagai dosen, punya pendidikan S-2 lulusan universitas ternama di Jepang, dan punya harta berlimpah aja juga, udah sombong!”


Ara semakin kesal saja dan lagi-lagi ia kembali berpikir.


“Apa sih bagusnya dia? Cuma menang jabatan sebagai dosen, punya pendidikan S-2 lulusan universitas ternama di Jepang, dan punya harta berlimpah, punya mobil mewah, postur tinggi atletis, hidung mancung, kulit putih, berwibawa, dan … punya tampang ganteng ….”


Ara diam tercengang dengan perkataannya. Seketika ia hanyut dalam suasana.


Matanya mendelik tak percaya, “ternyata, dia perfect, coy!”


Kali ini, Ara mengaku kalah dari Morgan. Latar belakang orang itu sangat sempurna untuk seukuran orang idiot seperti dirinya.


Ara sampai mengangkat bendera putih di tangannya, mengaku kalah telak dengan Morgan.

__ADS_1


__ADS_2