
“Haaaaaaa ...,” teriak Ara lirih.
Morgan tidak bereaksi sama sekali. Dari arah sana, terlihat wajah Fla yang kebingungan. Lagi-lagi Ara tertangkap basah oleh Fla, karena sedang berduaan dengan Morgan. Apa lagi sekarang Morgan sedang berada di atas tubuhnya.
Ara menjadi tengsin sekali dengan Fla.
Seketika, suasana nampak hening, Ara masih saja menganga melihat kedatangan Fla.
Fla membenarkan sikapnya, “ekhm ... gu-gue tunggu di luar, ya,” Fla tergagap, dan langsung segera menuju ke luar kamar Ara.
Ara mendelik ke arahnya, “Fla! Fla!” pekik Ara yang sudah getir bukan kepalang.
Nampaknya, Fla lagi-lagi salah paham dengan keadaan yang sebenarnya.
‘Gue harus jelasin bagaimana ke Fla nanti?’ batin Ara kesal, yang seketika berubah fokus ke arah Morgan yang masih saja tidak sadarkan diri, ‘ini semua gara-gara dosen idiot ini! Kenapa juga gue harus kasihan sama dia?’ sambungnya kesal.
Ara geram dengan, hanya dengan melihat Morgan, “ini semuanya karena ulah loe!” jerit Ara dengan lirih, yang takut membangunkan Morgan.
Ara seketika terdiam, sembari melihat wajah Morgan lebih dalam lagi. Ara mencubit kecil pipi Morgan itu.
Entah kenapa, nyaman sekali berada di dekatnya. Apa lagi di dalam pelukannya seperti ini. Dia punya bahu ternyaman setelah ayah, kakak, dan Bisma. Tapi aku tidak boleh jatuh cinta padanya, pikir Ara.
“Udah mulai suka sama saya?” tanya Morgan tiba-tiba, membuat Ara terkejut.
Ara merasa sudah ditipu oleh Morgan. Ia tertangkap basah sedang mencubit kecil pipinya. Ara melotot kaget, dan mendorong tubuh dengan kasar, membuat Morgan terhempas dari tubuhnya. Ara tak menyangka, Morgan sama sekali tidak tidur.
‘Jadi dari tadi dia …,’ batin Ara geram.
“Apaan sih loe!” bentak Ara kasar, Morgan berusaha bangkit, kemudian duduk di hadapan Ara.
Morgan berusaha menyentuh wajah Ara, tapi Ara menepis dan tidak membiarkan ia menyentuhnya lagi, “jangan gitu dong ...,” ucap Morgan lirih, dengan nada yang beda dari biasanya yang selalu dingin.
Morgan yang saat ini, bukanlah Morgan yang Ara kenal dingin dan tak berperasaan. Morgan saat ini, adalah Morgan yang sangat hangat, terlebih lagi pelukannya yang membuat Ara sangat nyaman berada berlama-lama di dalam dekapannya.
“Jadi dari tadi loe gak beneran tidur? Tau gak, Fla ngeliat kita tadi!” bentakAra dengan sinis, tetapi Morgan hanya mengerenyitkan dahinya.
__ADS_1
“Lho ... kok ada dia di sini?” tanya Morgan yang kebingungan.
“Iya, hari ini gue ngajak mereka buat main ke rumah. Tapi, gak nyangka hari ini kakak malah ngasih tau hal yang bikin gue kesel,” jelas Ara.
Morgan lagi-lagi mengerenyitkan dahinya, “bukannya hari ini, hari pertama kamu belajar tambahan?” tanya Morgan.
Mata Ara membulat, ia jadi mengerti satu hal.
“Oh ... jadi loe guru privatnya?!” pekik Ara kaget, sembari membelalak ke arah Morgan yang sedang tersenyum hangat padanya.
Ara melongo kaget mendengarnya, ‘jadi, dia yang nantinya bakal jadi guru privat gue? Ya ampun! Kenapa dunia sempit begini, sih?’ batin Ara tak habis pikir, ‘atau jangan-jangan … ini memang sudah skenarionya kakak?’ batinnya kembali berpikiran yang tidak-tidak tentang kakaknya sendiri.
“Yaps,” jawab Morgan singkat.
Ara sampai kesal sekali, setelah mendengar kalau Morgan yang akan menjadi guru privatnya.
‘Kenapa gue dipaksa buat tetep berada dalam satu lingkup dengan Morgan? Apa gue gak punya kebebasan berpendapat sama sekali? Semuanya dipilihin! Mulai dari sekolah, kampus, jurusan, dosen pembimbing ... lantas apa lagi? Lama-lama juga jalan hidup gue semua hasil dipilihin sama kakak! Gue juga sih, kenapa gue diem aja dan gak bisa berontak?’ batin Ara berpikir keras dengan semua kejadian yang terjadi padanya.
Ara mendelik, “gue gak bisa gini terus!” bentak Ara, lalu segera mengambil koper dan memasukkan semua bajunya ke dalam koper.
Morgan hanya bisa diam, sembari memperhatikan apa yang akan Ara lakukan selanjutnya.
“Mau kemana kamu, Ra?” tanya Morgan.
Terselip nada khawatir di sana. Namun Ara masih terus melakukan aktivitasnya untuk membereskan semua bajunya yang ada di lemari.
Tidak ada gunanya lagi aku di sini. Lebih baik hidup di jalanan tanpa terkekang daripada aku harus hidup dengan pilihan orang lain, pikir Ara.
Ara selesai membereskan bajunya. Ia langsung menutup kopernya rapat-rapat dan segera pergi dari sana.
Morgan menggeleng melihat kelakuan kekanak-kanakkan yang sedang Ara lakukan ini.
“Grep ....”
Morgan menahan tangan Ara. Ara menoleh ke arahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya yang di cengkeram oleh Morgan.
__ADS_1
“Lepas!” lirih Ara sembari terus berusaha menarik paksa tangannya.
Morgan benar-benar tidak membiarkan Ara pergi.
“Apa kamu gak malu, di depan ada teman-teman kamu datang?” ucap Morgan berusaha untuk menyadarkan Ara, “mau kamu taruh di mana muka kamu, kalau teman-teman kamu tahu, kalau kamu akan pergi? Mereka pasti merasa sangat sedih melihat kamu pergi!” ucap Morgan yang sedikit membentak ke arah Ara.
Ara terdiam, lagi-lagi langkahnya dihentikan oleh Morgan.
“Jangan pergi ...,” lirih Morgan dengan nada seperti orang yang sedang memohon.
Ara berpikir, kalau ucapan Morgan memang ada betulnya. Ara kemudian melepaskan tangannya dari Morgan dan menatap Morgan dengan sinis.
Ara melemparkan koper yang ia pegang, ke arah Morgan dan Morgan pun segera menangkapnya.
“Puas loe udah ngalangin gue?!” teriak Ara dengan sinis.
Morgan hanya memandang Ara dengan tatapan yang dingin.
‘Kalo bukan karena teman-teman gue, gue pasti udah keluar dari rumah ini dan mencari kehidupan yang lebih cocok sesuai gaya hidup gue. Dosen ini benar-benar menjijikan!’ batin Ara yang sangat kesal dengan Morgan, ‘semenjak gue masuk di kampus itu, gue gak bisa bernapas lega! Ada aja masalahnya. Sampai-sampai, gue juga kehilangan keperawanan, gara-gara Morgan, dan juga karena kakak juga yang udah bersekongkol dengan pihak yayasan kampus,’ tambahnya yang masih saja kesal dengan Morgan.
Ara duduk tersungkur di atas lantai, “gue harus bilang apa ke Fla tentang kejadian yang sebenarnya?” tanya Ara yang sudah tidak mengerti lagi harus berbuat apa.
Lagi-lagi Morgan hanya diam, tidak merespon ucapan Ara sama sekali. Ara mendelik ke arah Morgan, karena bukan itu yang ia butuhkan, Ara sangat butuh saran darinya, karena ini adalah hal besar yang menyangkut mereka.
“Kalo loe gak mau ngomong, mending loe pergi aja deh!” Ara geram, dan mengusir Morgan dengan gayanya yang sangat tengil.
Morgan berlutut di hadapan Ara, kemudian merapikan poni rambut Ara. Mendadak, Ara kembali menjadi gugup. Terlihat Morgan yang sedang memikirkan sesuatu, sembari memandang Ara.
“Drrrtt ....”
Ara melihat handphone-nya yang bergetar, karena ada pemberitahuan dari pesan yang baru saja masuk. Di sana, tertera nama Fla.
“Pantesan … ada mobil Morgan.” Isi pesan singkat darinya.
Hah? Di mana Morgan menaruh mobilnya? Saat aku masuk ke rumah, tidak ada sama sekali mobil asing di halaman? Pikir Ara.
__ADS_1
Ara melirik Morgan sinis. Ia nampak bingung melihat Ara yang sedang memelototinya.
“Mobil loe mana?” tanya Ara to the point pada Morgan.