
"Tok ... tok ...."
Seseorang terdengar seperti sedang mengetuk pintu. Ilham yang sedang menyantap makanan cepat saji yang ia pesan, merasa terusik dengan kehadiran seseorang di sana.
Ilham terdiam sejenak, sembari mencoba untuk mendengarkan kembali, karena siapa tahu saja ia hanya salah mendengar saja.
"Tok ... tok ... tok ...."
Suara ketukan pintu sangat jelas terdengar, membuat Ilham yakin dengan keberadaan tamu yang mengusik dirinya.
"Siapa yang pagi-pagi seperti ini bertamu?" gumam Ilham bertanya-tanya, karena hari masih sangat dini untuk bertamu.
Ilham segera menuju ke arah pintu rumah, dan membukakan pintu itu untuk tamu yang baru saja tiba.
"Cklekk ...."
Ilham membukakan pintu itu, dan sangat terkejut karena melihat seseorang yang ia jumpai di rumah sakit, kemarin.
Penampilannya terlihat sangat urakan, berbeda dengan Ilham yang sangat menyukai sesuatu hal yang rapi.
Ilham memandang pria bernama Reza itu, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Reza terlihat sedang membawa seikat mawar di tangannya.
"Maaf, anda siapa dan mau apa datang ke tempat ini?" tanya Ilham dengan nada yang sinis, ke arah Reza.
Reza melontarkan senyuman pahit ke arah Ilham, "Perkenalkan," gumam Reza yang menyodorkan tangannya ke arah Ilham, "nama saya Reza. Saya ke tempat ini, untuk bertemu dengan Arasha," sambungnya.
Ilham sama sekali tidak menjabat tangannya, dan hanya memandangnya dengan penuh kebencian, membuat Reza sedikit kesal lalu segera menarik kembali tangannya.
Ilham hanya memandang Reza dengan tatapan tajam, sehingga membuat Reza hampir mati gaya karenanya.
"Jangan ganggu Ara lagi," gumam Ilham yang to the point, berbicara pada Reza, membuat Reza mengerenyitkan dahinya.
"Lho, kenapa saya gak boleh ganggu Ara? Lagipula, saya cuma mau bertemu dia sebentar saja," tanyanya Reza dengan nada yang sangat mengesalkan bagi Ilham, membuat Ilham hanya bisa memandang Reza dengan tatapan kebencian.
Reza mendekatkan wajahnya ke arah Ilham, "Memangnya, anda siapanya Ara?" tanya Reza, membuat Ilham tak bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
Pertanyaannya membuat Ilham sangat bingung untuk menjawabnya.
'Sepertinya, dia sangat mengerti tentang Ara,' batin Ilham, yang sama sekali tidak bisa berkutik lagi.
"Siapa di situ ...."
Ara seketika mengentikan langkahnya, karena saat ia melihat, ternyata pemandangan pertama yang ia lihat adalah Reza, yang merupakan mantan kekasihnya. Ara mendelik, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Reza memandang Ara dengan senyuman hangat, "Ara, gue datang," gumam Reza, membuat Ara mendelik kaget.
Ara sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia seperti sedang tertangkap basah, dengan Reza yang saat ini sedang ada di hadapannya.
"Ngapain loe ke sini?" tanya Ara dengan sinis, membuat Reza tersenyum tipis ke arahnya.
Ilham memperhatikan Ara dengan sangat tajam, ia menganalisis setiap kelakuan Ara di hadapan pria bernama Reza itu.
"Seperti janji gue waktu itu. Kalau gue ninggalin loe, gue bakal putar balik buat nemuin loe lagi," gumam Reza membuat Ara mendelik.
Tiba-tiba saja, teringat dengan ucapan Reza kala itu. Reza memang pernah berkata demikian, tetapi Ara tidak menyangka kalau perkataannya kala itu, benar ia lakukan saat ini.
Ara berbalik, tak menghiraukan Reza yang saat ini sedang berusaha keras untuk mendapatkan perhatian Ara kembali.
"Ra--"
Mendengar ucapan Ara tadi, Ilham segera menghalangi Reza yang hendak masuk ke dalam rumah Ara, membuat Reza mendelik ke arah Ilham dengan sangat sinis.
"Minggir!" gumam Reza dengan sinis, namun tak membuat Ilham gentar dengannya.
"Kamu tidak dengar yang Ara bilang tadi?" ucap Ilham, yang berusaha mengingatkan Reza tentang ucapan Ara.
Reza tak menghiraukan Ilham, dan malah memandang ke arah Ara yang masih pada tempatnya.
"Ra, gue udah jauh-jauh datang dari Amerika. Gue cuma minta sedikit waktu loe aja buat bicara empat mata. Please, gue mohon banget sama loe, Ra," gumam Reza yang terdengar seperti merendah di hadapan Ara, membuat Ara sedikit iba dengannya.
"Ra, please, sebentar ... aja," gumam Reza, tapi Ara masih saja diam, tak bergeming.
__ADS_1
Ilham memandangnya dengan sangat sinis, "Apa perlu, saya tunjukkan jalan keluar?" tanya Ilham, membuat Ara membalikkan tubuhnya lagi ke arah mereka.
"Kak Ilham, aku mau ngomong sama dia sebentar," gumam Ara, membuat Ilham mendelik tak percaya dengan apa yang Ara ucapkan.
Namun, apalah saya Ilham, yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan. Ilham sama sekali tidak berhak untuk melarangnya.
Ilham menunduk, "Jangan lama-lama," gumam Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Ara pun melangkah menuju kursi di koridor depan rumahnya. Suasana pagi yang masih terasa sejuk, membuat tubuh Ara sedikit dingin karena menyesuaikan suhu di luar rumah.
Kini, Ara dan Reza sudah duduk di kursi pelataran rumah Ara. Reza sudah sangat menantikan saat-saat ini.
Reza menghela napasnya, mempersiapkan dirinya untuk berbicara dengan Ara, "Ra, gimana kabarnya?" tanya Reza yang berbasa-basi dengan Ara.
Namun, Ara segera melihat ke arah jam tangan yang ada di tangan kirinya, "Waktu loe cuma 5 menit," gumam Ara, membuat Reza mendelik tak percaya dengan apa yang Ara katakan.
"Emm ... terus terang, gue rindu sama loe, Ra. Udah lama kita gak ketemu," gumam Reza membuat Ara menafikan pandangannya dari Reza.
"Hah, rindu? Memangnya loe Dylan?" celetuk Ara, membuat Reza tertawa kecil mendengar lelucon Ara.
"Lebih ganteng gue dong dibanding Dylan," gumam Reza membuat Ara tersenyum tipis ke arahnya.
"Apa sih, percaya diri banget," gumam Ara, yang tak habis pikir dengan sikap Reza yang tak pernah berubah.
Suasana kembali menjadi tegang. Tak kuasa Ilham mendengar mereka bercengkerama. Namun yang bisa Ilham lakukan, hanyalah diam sembari menunggu Ara di balik pintu. Ilham tidak sampai hati meninggalkan Ara berduaan di sana, bersama dengan pria yang Ilham tidak tahu dengan jelas asal-usulnya.
Walaupun sangat perih baginya, tetapi keselamatan Ara lebih penting dari segalanya. Bisa saja Reza berbuat sesuatu yang menyakiti Ara. Ilham tidak ingin itu semua terjadi.
Reza menoleh ke arah Ara, "Ra," pekik Reza membuat Ara menoleh ke arahnya seketika.
Mereka saling pandang, membuat suasana semakin canggung saat ini.
"Gue jauh-jauh datang dari Amerika, ke sini cuma untuk minta maaf sama loe, Ra. Gue gak mau memendam semua ini lebih lama lagi. Gue merasa tertekan, karena selama ini banyak banget hal yang selalu gue tutupin," gumam Reza membuat Ara mendelik tak percaya.
Ara mendelik bingung, "Maksudnya apa, Za?"
__ADS_1