Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ciuman Pertama Untuk Orang Pertama


__ADS_3

Dengan perasaan yang sudah sangat menggebu, Ilham pun memberanikan diri untuk memeluk Ara dengan erat. Meskipun ragu, Ilham sama sekali tidak merasa takut jika Ara menolaknya lagi.


Ara yang saat ini, sudah menjadi sepenuhnya milik Ilham. Meskipun, Ilham paham kalau perasaan Ara sedikit banyaknya masih ada untuk Morgan. Namun, kali ini dia sudah sangat senang dengan pencapaiannya itu.


Dengan deraian air mata yang masih tersisa, Ilham kembali menyatu dengan Ara di dalam pelukan yang lebih hangat dari sebelumnya. Saking eratnya Ilham memeluk Ara, ia sampai tak sadar kalau Ara sedang berusaha untuk melepaskan diri darinya, karena terlalu sesak.


"Kak, jangan terlalu erat," gumam Ara, membuat Ilham agak melonggarkan pelukannya sedikit.


Tak bisa dipungkiri, Ilham sangat senang karena sudah bisa menaklukkan hati Ara. Tidak sia-sia ia menunggu Ara untuk jatuh cinta padanya.


'Bolehkah?' batin Ilham yang sangat tegang, karena ia sudah sangat menginginkan untuk mencium Ara.


Ilham sudah sangat menunggu saat-saat itu tiba, tetapi ia juga tidak bisa melakukannya secepat ini. Ia tidak ingin, Ara sampai berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


Ilham hanya bisa memandangnya saja, tanpa ingin berbuat apa-apa. Ia masih harus menahan dirinya, agar Ara tidak berpikir yang aneh tentang dirinya.


Ara menatap Ilham dengan heran, "Kenapa? Gak mau cium aku?" ledek Ara, membuat Ilham seketika menggebu mendengarnya.


"Sa-saya belum pernah," gumam Ilham dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah.


Ara menghela napasnya panjang, "Aku lumayan jago masalah itu," gumam Ara, membuat Ilham tidak punya alasan lagi untuk menolak Ara kali ini.


Di samping dirinya yang memang sudah tak tahan, ia juga mendengar Ara menggodanya seperti itu, membuat ia semakin terpacu dengan keadaan.


'Apa salahnya mencium istri sendiri,' batin Ilham, yang memang sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak.


Dengan ragu dan sangat hati-hati, Ilham berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Teringat ciuman pertamanya dengan Ara di altar kala itu, yang tidak tersampaikan, membuat Ilham merasa sangat menyesali hal itu.


Perlahan dan pasti, Ilham menarik dagu Ara dengan pelan, dan sangat ragu meletakkan bibirnya pada bibir Ara.


"Degg ...."


Detak jantungnya terdengar lebih jelas pada jarak yang sedekat ini dengan Ara, membuat dirinya sangat malu dengan istrinya itu.


"Cupps ...."


Seperti sebuah mercon, yang ditembakkan ke langit. Begitulah perasaan Ilham setelah berhasil mendaratkan ciuman pertamanya pada orang yang ia cintai, yang saat ini sudah menjadi istri sahnya, dan juga sudah mulai menerimanya.


Rasanya sangat aneh, pikir Ilham yang memang sama sekali belum pernah merasakan berciuman dengan gadis mana pun.


Selama beberapa detik, mereka saling menyatukan bibirnya, membuat Ilham sangat menggelora dibuatnya.


Masih terlalu dini untuk mereka melakukan hal yang lebih dari ini, karena kondisi Ara yang juga belum memungkinkan, akibat keguguran kemarin.

__ADS_1


Tangan Ilham sampai gemetar, karena sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya. Ia akhirnya melepaskan ciumannya, yang ia daratkan di bibir Ara.


Tanpa kata, Ilham hanya bisa tersenyum malu sembari berusaha memandang wajah istrinya yang sedang berseri-seri itu.


"Cukup, jangan diteruskan," ucap Ilham saking senangnya dengan yang sudah terjadi di antara mereka.


Baru saja melakukan ini, Ilham sudah sangat senang. Apalagi harus melakukan yang lebih dari ini.


Ara menatap wajah suaminya dengan sangat bahagia, "Kak, boleh bertanya sesuatu?" tanya Ara, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya sembari tetap tersenyum.


"Mau nanya apa?" tanya balik Ilham.


"Sampai kapan Kak Ilham mau kaku seperti ini terus?" ledek Ara, membuat Ilham sontak terkejut dengan pertanyaan Ara.


Ilham menghela napasnya, "Sampai kapan kamu panggil saya Kakak terus?" tanya balik Ilham, membuat Ara menjadi sedikit malu mendengarnya.


Pertanyaan Ara, selalu bisa dibalikkan oleh Ilham, membuat Ara agak kesal jadinya.


Ara memegang wajah Ilham dengan tangannya, membuat Ilham mendadak menelan salivanya dengan kasar.


"Suamiku ...."


"Degg ...."


Betapa bahagianya hatiku saat


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Namunku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agarku tak berharap

__ADS_1


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya t'lah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Ilham menyentuh tombol play pada lagu berjudul Akad, yang dibawakan oleh Payung teduh. Suasana semakin terasa mendalam, ketika mereka sama-sama memahami isi liriknya yang sangat mendalam.


Ilham yang sudah terpaku dengan Ara, menatap Ara kembali dengan sangat bahagia, "Sekarang, saatnya sudah tiba. Seperti kata payung teduh, saya ingin kamu menjadi istri saya. Izinkan saya menjaga kamu, menikmati pelukan di ujung waktu seperti ini. Sudikah kamu temani saya?" gumam Ilham, membuat Ara menjadi tersentuh mendengarnya.


"Walaupun aku masih menyimpan perasaan untuk Morgan?" tanya Ara mencoba untuk meyakinkan kembali dirinya.


Ilham tersenyum tipis, "Walaupun kamu masih mencintai pria lain. Asalkan kamu ada bersama saya, seharusnya gak masalah," jawab Ilham, membuat Ara semakin yakin dengan dirinya.


Ara memeluk Ilham dengan tiba-tiba, membuat Ilham terkejut dibuatnya, "Terima kasih," gumam Ara, membuat Ilham menghela napasnya, lalu membalas pelukan hangat Ara.


"Gak perlu bilang terima kasih. Harusnya saya yang mengucapkan itu. Terima kasih, sudah mau memberikan tempat untuk saya, di hati kamu," bantah Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.


Tiba-tiba saja, Ara teringat dengan pertanyaannya kala itu, yang belum sempat dijawab oleh Ilham. Ara merenggangkan pelukannya, dan menatap Ilham dengan saksama.


"Aku boleh tanya satu hal?" tanya Ara, membuat Ilham mengerenyit heran ke arahnya.


"Kita kan sedang tidak mengadakan kuis," goda Ilham, membuat Ara mendadak menjadi kesal karenanya.


"Ih, serius!" bentak Ara, membuat Ilham tertawa kecil karenanya.


"Iya, kamu mau tanya apa?" tanya Ilham kembali, membuat Ara memandangnya dengan ragu.


"Soal pertanyaan aku waktu itu, sepertinya aku gak asing sama Kak Ilham. Apa dulu, kita pernah bertemu?" tanya Ara, membuat Ilham terdiam sejenak mendengarnya.


Tidak ada alasan lagi untuk Ilham menyembunyikan perasaannya terhadap Ara. Kini, ia bisa dengan mudahnya menumpahkan perasaannya kepada Ara.

__ADS_1


Ilham memang sangat ingin memberitahu pada Ara, tentang masa lalu mereka. Namun, kala itu bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya berbicara jujur pada Ara.


Ilham melontarkan senyuman ke arah Ara, "Baiklah, saya akan ceritakan semua dari awal," gumam Ilham, membuat Ara terlihat sangat bersemangat.


__ADS_2