
Sudah 10 menit berlalu, waktu Ara untuk menunggu Morgan terbuang sia-sia. Ia kesal menunggu sendirian di mobil ini. Perasaannya sudah sangat campur aduk. Malu, kesal, geram, semua bercampur jadi satu, membuat hatinya menjadi gondok.
Dasar, Morgan idiot! Kenapa dia bersikap seenaknya seperti ini, sih? Mempermainkan perasaanku, dengan membuat suasana yang canggung. Aku pikir, dia akan menyatakan cinta padaku, pikir Ara.
Ah.
‘Gue aja yang bodoh, karena udah terlalu berharap lebih sama orang gak jelas itu!’ batin Ara yang masih gondok dengan perlakuan Morgan tadi.
Setelah beberapa lama, akhirnya Ara melihat juga batang hidung Morgan. Morgan pun masuk ke dalam mobil, dan Ara langsung membuang pandangannya, supaya tidak terlalu terlihat sedang menunggu Morgan saat ini.
“Maaf, udah buat kamu menunggu,” ucap Morgan asal, dengan nada yang sama seperti biasa, dingin.
Ara tak menghiraukan ucapannya, dan hanya cuek saja.
“Kita jalan sekarang?” tanya Morgan, seketika membuat Ara menoleh dan menatapnya sinis.
“Besok!” ketus Ara.
Morgan menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Ara agak takut padanya.
Oh tidak, apa mood-nya berubah? Apa aku menyinggung perasaannya lagi? Pikir Ara.
Morgan mendekat sedikit ke Ara, membuatnya agak takut berhadapan dengan Morgan. Morgan hampir menindih Ara dengan posisi tetap duduk di kursinya.
Ara terpojok sekarang!
Ara tidak bisa melakukan apa pun lagi. Pandangan mereka pun bertemu pada satu titik. Rasa lemas itu muncul kembali di diri Ara.
‘Gue udah makan! Kenapa bisa masih merasakan lemas begini, sih?’ batin Ara, ‘apa ini cinta?’ ‘apa gue mencintai Morgan?’ ‘kenapa setiap dia natap gue, dengan tatapan seperti itu, jantung gue ini kayak berhenti berdetak sebentar?’
Terjadi perang batin di hati Ara. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, karena Morgan yang selalu terus mengintimidasinya seperti ini. Ara merasa sangat sesak karena Morgan terus melakukan hal yang tidak disangka-sangka oleh Ara.
‘Untung aja, gue masih bisa hidup, sampai detik ini.’
Tenaga Ara habis terkuras, lidahnya terasa kelu sekali. Hanya diam yang bisa ia lakukan. Sorotan mata Morgan, seperti mengajak Ara untuk masuk ke dalam dunianya. Seperti black hole yang hendak menyedot Ara ke dalamnya.
“M-mau apa loe?” lirih Ara yang sudah sangat ketakutan.
Tapi, ia berpikir kembali dan meyakini, bahwa Morgan pasti tidak akan melakukan apapun kepadanya!
Dengan kata lain, Morgan pasti hanya menggertak Ara saja.
Aku tak perlu takut padanya, pikir Ara.
“Mana hadiah buat saya?” tanya Morgan, dengan mata yang sangat menggoda, membuat Ara ingin sekali memilikinya.
__ADS_1
Perbedaan usia mereka yang cukup jauh, sehingga jika Ara menikah dengannya, mungkin akan terlihat seperti ayah dan anak.
‘****! Gue mikir apa, sih? Nikah, nikah! Udah gila, kah?’ batin Ara yang sudah mulai berpikir melantur.
Tadi dia bilang apa? Hadiah?
“Drrtt ....” Handphone Ara bergetar.
Ia mengambil handphone-nya dengan segera, dan melihat siapa yang mengirim pesan singkat itu.
Morgan nampak mencoba melihat ke arah handphone Ara. Sepertinya, dia penasaran dengan orang yang mengirim pesan pada Ara. Hal itu membuat Ara risih.
“Mundur, kek!”
Ara menyuruhnya mundur, karena merasa terusik dengan tubuh Morgan yang menghalangi kebebasan Ara dalam bergerak. Ara kembali mengalihkan fokusnya pada layar handphone. Di sana, tertera nama Fla.
“Kalo udah ketemu kakak gue, jangan lupa ucapin happy birthday! Dia udah gak muda lho! Udah 28 tahun. Hihih. Jangan bilang kalo gue kasih tau umur dia yaa.” Isi pesan singkat dari Fla, membuat Ara menelan salivanya, sembari menaruh handphone kembali ke dalam tas kecil yang ia pakai.
Jarak tubuh Morgan, dengan tubuh Ara, masih berada 5-cm di hadapannya, membuat Ara semakin mati gaya saja.
Morgan kembali menatap Ara dalam.
‘Mampus! Telat ngasih taunya! Gue gak tau kalo dia ultah sekarang!’ batin Ara mengaduh.
Apa yang harus Ara katakan? Untuk menelepon atau mengirim pesan singkat meminta tolong kepada Fla, agar dia membelikan Ara hadiah ulang tahun, pun sudah tidak mungkin. Ara sudah tidak bisa berkutik sekarang. Apa yang harus Ara lakukan?
Ara menghela napas panjang, berusaha untuk mempersiapkan dirinya. Sebetulnya, Ara malu untuk melakukan ini. Tapi, mau bagaimana lagi?
“Cups ….”
Sekilas, Ara mengecup lembut bibir Morgan.
Ara tidak mempedulikan reaksi Morgan terhadap hal yang memalukan ini. Mungkin saja Morgan kaget, atau bagaimana terhadap kelakuan Ara yang tiba-tiba ini. Kalau bukan karena Ara tidak tahu ulang tahun Morgan, dan lupa menyiapkan hadiah untuknya, Ara juga tidak akan berbuat seperti ini padanya.
Morgan terkesiap, karena reaksi Ara yang tiba-tiba, membuatnya tidak bisa berkata apapun lagi.
‘Hah? Kenapa Ara nyium saya dengan suka rela?’ batin Morgan yang merasa kebingungan, dengan tingkah laku Ara.
Morgan yang masih penasaran, langsung meneruskan aksinya. Kali ini, Morgan merengkuhnya dengan lembut, membuat Ara merasakan kasih tulus darinya. Morgan mengecup lembut bibir manis Arasha, dan melanjutkan aksinya dengan sedikit hal yang tidak akan pernah Ara lupakan.
Morgan memainkan permainannya dengan sangat mahir. Tak sungkan, Morgan memang rindu sekali pada semua hal yang ada pada Ara. Matanya, senyumnya, bibirnya dan … tubuhnya ….
‘Kenapa dia gak berontak sama sekali?’ batin Morgan yang masih bingung dengan keadaan Ara saat ini, tidak seperti biasanya yang selalu menolak jika Morgan berinisiatif untuk merasakan cinta dengannya.
Di sisi lain, Ara merasa nyaman dengan yang Morgan lakukan saat ini. Ara berpikir kalau Morgan kali ini memperlakukannya dengan sangat lembut, tanpa ada tindakan kasar sedikit pun. Tidak ada perasaan takut terhadap Morgan.
__ADS_1
Aku nyaman, pikir Ara.
Setelah beberapa saat, Ara hanyut dalam permainan Morgan. Arash tiba-tiba saja datang dari dalam rumah, karena tidak mendengar suara mobil Morgan sejak tadi.
“Ra, kok gak jalan sih udah mal ...,” ucap Arash menggantung, karena tak sengaja melihat sesuatu yang menarik di sana.
Ara dan Morgan terkejut, saat melihat Arash yang datang tiba-tiba.
‘Kakak …,’ batin Ara yang merasa sudah tertangkap basah dengan kakaknya.
Ara mendorong spontan tubuh Morgan, hingga Morgan jatuh tersungkur ke kursi kemudi. Ara panik bukan kepalang, membuatnya salah tingkah, tak tahu harus bagaimana.
“Ah, ngapain sih loe?” panik Ara yang takut kalau kakak melihat kejadian tadi.
Kakaknya tiba-tiba saja tersenyum jahil, setelah melihat sekejap Morgan yang sedang melancarkan aksinya mencium Ara, tadi.
Salah.
Ara yang mencium Morgan.
“Oke, lanjut ...,” ledek Arash dengan nada yang sangat aneh, lalu masuk kembali ke dalam rumah, tanpa menghiraukan Ara atau Morgan.
Ara kesal dengan Morgan! Bisa-bisanya Morgan membuat Ara malu seperti ini. Ini pertama kalinya Ara tertangkap basah dengan kakaknya. Ternyata, seperti ini rasanya. Tapi kenapa kakaknya biasa saja, saat sering kali Ara pergoki sedang bermesraan dengan banyak wanita?
“Loe tuh ya! Gue malu tau gak dilihat kakak! Ngapain sih loe nyium gue segala?” sinis Ara sembari mendelik, Morgan terlihat membolakan matanya.
“Apa gak terbalik? Bukannya kamu yang cium saya duluan, tadi?” tanya Morgan, yang sontak membuat panas telinga Ara.
Ara sangat malu dengan perkataan Morgan.
‘Ya … bener sih,’ batin Ara, yang tidak berani mengucapkannya pada Morgan.
“Hmp!” Ara membuang pandangannya, sembari melipat kedua tangannya. Morgan tertawa kecil melihat ekspresi Ara yang sudah tidak bisa berbicara lagi.
‘Berani-beraninya dia permainin gue. Bikin malu aja!’ batin Ara mendengus kesal.
“Gak usah ketawa deh loe!” sinis Ara sembari mendelik.
Morgan semakin tak bisa menahan tawanya.
“Lucu, sih,” lirih Morgan sembari menyeka air matanya yang keluar dari pelupuk matanya.
Morgan mendekat kembali ke arah telinga Ara, membuat Ara memundurkan dirinya, tapi tak bisa karena sudah terbentur dengan kursi.
Ara hanya bisa pasrah.
__ADS_1
“Mau apa lagi loe?” sinis Ara sembari tetap berjaga-jaga.
“Terima kasih … ciumannya,” gumam Morgan, membuat sekujur tubuh Ara bergetar.