Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kaki Tangan Arash


__ADS_3

Ilham yang menerima pesan singkat dari Arash, mengerenyitkan dahinya, dan segera menuju ke tempat yang Arash beritahu sebelumnya, untuk menjaga gadis yang saat ini mungkin saja sudah tak sadarkan diri akibat mabuk, karena terlalu banyak minum.


“Arash ini, selalu saja seperti ini. Entah adiknya, atau gadis yang dekat dengan dirinya, dia selalu minta bantuan saya buat menjaga mereka. Padahal mereka sedang dalam bahaya, seperti adiknya kemarin yang hampir diterkam para preman. Dan sekarang, gadis yang dia suka mungkin sudah kehilangan kesadaran juga karena minum terlalu banyak,” gumam Ilham dengan nada yang sangat miris.


“Entah kapan bisa berubahnya si Arash itu,” lirih Ilham yang tidak habis pikir dengan kelakuan sahabat sekaligus atasannya itu.


“Arash, Arash. Kenapa harus sama dengan ayah kamu, sih? Mengabaikan keselamatan orang yang jelas-jelas ada kaitannya dengan kamu, untuk orang lain yang belum tentu selalu ada buat kamu?” Ilham menyesali sikap Arash ini.


Tapi biar bagaimanapun juga, Ilham mengerti dengan kondisinya. Arash masih jauh lebih baik dari ayahnya. Bukan tanpa sebab jika Arash tidak bisa melakukan sesuatu.


Ilham segera menambah kecepatan untuk melajukan mobilnya, menuju tempat tujuan.


Di sana, Jessline terlihat sangat kacau. Ia sudah menghabiskan beberapa botol wine, membuatnya sudah kehilangan akal dan kesadarannya.


“Glkk ….”


Jess menenggak habis satu gelas terakhirnya.


“Brukk ….”


Ia sudah tidak bisa lagi menopang berat kepalanya, yang semakin lama seperti terasa menjadi besar.


“Ternyata, Arash gak datang …,” lirih Jessline yang sudah kehilangan kesadaran penuh atas dirinya.


...***...


Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah ada Rafael di samping Ara saat ini, yang tengah asyik menyantap keripik kentang kesukaannya itu.


Ara melirik sedikit ke arahnya. Ada hal yang masih Ara pikirkan, dan hal itulah yang membuatnya agak canggung sekarang dengan Rafa.


“Raf …,” pekik Ara.


Rafa pun menoleh ke arahnya sambil tetap memakan keripik kentangnya.


“Kenapa, Ra?” tanyanya.


Ara bingung harus bertanya mulai darimana. Ara berusaha menghela napasnya dengan pelan, dan berusaha memilih kata untuk ia tanyakan kepada Rafa.


“Gue mau nanya.”


Rafa mengerenyitkan dahinya, “nanya apa, Ra? Tanya aja,” jawabnya dengan nada santai, sambil mengunyah kembali keripik kentangnya itu.


Ara merasa tidak enak dengannya, “maaf kalau loe ngerasa gimana gitu sama pertanyaan gue. Gue cuma mau tanya ...,” ucap Ara menggantung, karena mendadak ia lupa dengan pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Rafa.

__ADS_1


“Ya elah, bikin gue penasaran aja.”


Ara melirik ke arahnya, “hehe. Maaf,” Ara tidak enak hati padanya.


“Nama panjang Putri mantan loe itu, siapa ya?” tanya Ara dengan ragu.


Mendadak Rafa menghentikan aktivitasnya itu dan memandang ke arah Ara. Ia berusaha menelan sisa makanan yang masih berada di mulutnya.


“Kenapa loe nanya begitu, Ra?” tanya balik Rafa, membuat diri Ara sedih karena mungkin ia telah menyingung perasaan temannya itu.


Walau bagaimanapun, itu adalah bagian dari masa lalu Rafa, pikir Ara.


“Maaf ya, gue gak maksud buat bikin loe kesinggung atau keinget masa lalu loe Raf. Gue cuma mau tau aja,” ucap Ara berusaha membuat Rafa tidak tersinggung lagi dengan ucapannya.


“Hmm ... gak apa-apa, Ra. Nama panjang Putri itu, Adinda Putri,” ucapnya.


Ara mengangguk dengan cepat, tanda paham dengan yang Rafa ucapkan.


Sayangnya, aku masih harus menanyakan hal ini dengan Morgan, pikir Ara yang tidak mengetahui nama lengkap Putri yang Morgan ceritakan padanya.


“Ting ... nong ....”


Suara bel berbunyi. Ara memandang ke arah Rafael yang juga sedang memandang ke arahnya.


Rafa pun pergi menuju pintu untuk membukakan pintu.


Tak lama kemudian, Ray dan Fla pun datang dari arah pintu masuk rumah. Ara senang melihat kedatangan mereka yang sudah membawakan makanan yang sudah ia pesan tadi. Ara menyambutnya dengan sangat antusias.


“Haaaah akhirnya sampai juga,” Fla menghela napas panjang.


Ia menyodorkan plastik berisi makanan yang sudah Ara pesan sebelumnya. Ara pun menerimanya dengan senang hati.


“Makasih loh ...,” ledek Ara.


Fla memasang tampang jutek ke arah Ara. Ara hanya menyeringainya saja.


“Kalau gak bareng Ray, gue gak akan mau rela ngantri cuma buat beliin loe seblak doang!” ucapnya dengan kesal.


Ara tertawa kecil melihat ekspresi Fla yang sangat lucu baginya.


“Kok bisa sih loe berangkat sama Ray?” tanya Rafael.


“Huh ... pokoknya panjang cerita. Tadinya mau bareng sama kak Morgan, tapi dia lagi ke toko buku katanya,” jelas Fla.

__ADS_1


Ternyata Morgan berkata jujur padaku. Aku jadi tidak perlu risau lagi dengan posisi dan keberadaan Morgan saat ini, pikir Ara.


“Terus sekarang Morgan masih di sana?” tanya Ara, Fla mengangkat kedua bahunya.


“Hmm ... yaudah, yuk makan seblaknya!” ajak Ara pada mereka semua.


“Loe aja sama Rafa. Gue sama Ray udah makan di sana tadi. Sekalian tadi gue beliin buat kak Morgan sama Farha nanti kalau mereka ke sini. Tadi sih … Farha bilang mau beresin kamarnya dulu,” ucap Fla, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.


“Oh ... oke deh. Loe mau makan sekarang gak, Raf?” tanya Ara.


Rafa nampak masih asyik dengan keripik kentangnya itu.


“Gue makan bareng Farha aja nanti. Masih kenyang makan ini,” Rafa menunjuk ke arah keripik kentang yang ia pegang di tangannya.


Ara pun mengeluarkan satu bungkus seblak dari dalam plastik yang Fla berikan padanya.


“Maunya loe itu mah makan bareng Farha,” ketus Ray.


Rafa melemparkan beberapa keripik yang ia pegang barusan ke arah Ray yang sudah sedang mengelak darinya.


“Berisik banget! Ambil sana, gue udah dapet yang lebih-lebih-lebih glowing!” balas Rafa.


Ara hanya menggelengkan kecil kepalanya melihat mereka yang selalu memperebutkan masalah wanita.


Ara menuju ke arah dapur untuk menuangkan seblak ke dalam mangkuk besar, kemudian mulai menyantapnya. Terasa bibir dan lidahnya yang melepuh akibat terlalu terburu-buru melahap kuah seblak yang masih panas itu.


“Gila ... panas amat! Pedes lagi! Level berapa nih seblak?” tanya Ara kesal.


Fla dan Ray terlihat sedang menyeringai Ara di sana.


“Level 30,” Fla mengatakan dengan wajah yang tidak enak dan agak ragu.


Ara memelototinya karena kaget mendengar jawabannya itu.


“What! Yang bener aja, Fla?” Ara terkejut mendengarnya.


Mereka hanya cengengesan saja melihat Ara.


Tidak kusangka akan jadi sepedas ini. Aku hanya bercanda mengatakannya pada Fla. Ternyata, ia benar membelikannya untukku, pikir Ara yang merasa ketulah dengan yang ia katakan pada Fla.


Ara menggeleng kecil ke arah mereka.


“Hai semua,” pekik seseorang gadis yang terdengar dari arah pintu masuk.

__ADS_1


__ADS_2