
Ara terkejut, saat melihat video yang Morgan beri tahu. Ara menganga kaget, dan langsung melihat semua hal yang sudah terjadi antara mereka, tadi malam.
“Lho, kenapa loe ngerekam semua yang terjadi sama kita, tadi malam?” tanya Ara sinis, membuat Morgan menghela napasnya.
“Kalau saya gak rekam, mungkin kamu akan terus mengelak tentang perasaan kamu terhadap saya. Dan saya jadi gak bisa buat milikin hati kamu seutuhnya, kalau kamu terus-menerus lari dari kenyataan dan perasaan yang kamu miliki,” jelas Morgan panjang lebar, membuat Ara tersadar dengan apa yang ia lakukan.
Ara merenungi semua perkataan yang Morgan jelaskan tadi, membuat Ara semakin yakin, kalau perasaan yang ia rasakan belakangan ini, adalah perasaan cintanya terhadap Morgan. Meskipun dilanda ragu, Ara tetap masih bisa merasakan kehangatan yang Morgan berikan padanya, meskipun Morgan bukanlah orang yang sehangat Reza saat itu.
Morgan mendekat, dan meniadakan jarak di antara mereka. Morgan ingin sekali merasakan dekapan dari Ara, gadis yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Meskipun Morgan selalu dingin terhadap Ara, tapi ... hatinya tak sedingin sikapnya. Hatinya masih punya sisi kehangatan, yang mampu membuat Ara menerimanya.
Sikap Ara yang terlalu gengsi, membuatnya merasa kesulitan sendiri menghadapi Morgan. Jika saja Ara berhati besar, dan mau menerima Morgan sejak awal, mungkin kejadian mereka yang tidak menyenangkan, tidak akan pernah terjadi pada Ara.
Tapi, kalau perasaan Ara mulus-mulus saja, author yang bingung, harus menulis cerita yang seperti apa alurnya. Hihih.
“Bangun, yuk ....”
Morgan mengajak Ara bangkit dari tidurnya, dan meminta Ara untuk berdiri di hadapannya. Ara mengikutinya, karena ia merasa sudah terhipnotis dengan Morgan.
Morgan bersimpuh di hadapan Ara, membuat Ara terkagum-kagum melihat pemandangan yang langka ini. Ia tidak pernah melihat Morgan melakukan hal semacam ini.
‘Gak nyangka, Morgan ada sisi romantisnya juga ternyata ...,’ batin Ara, yang tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menganga kaget, melihat perlakuan Morgan kepadanya.
Morgan meraih tangan Ara dengan sangat lembut, “Ra, please ... be my girl!” ucap Morgan dengan sangat romantis, membuat Ara tak bisa berkata apa pun lagi.
Ara tidak menyangka, Morgan akan menyatakan perasaannya lagi padanya. Ara tidak bisa berkata apa-apa, sementara ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya yang aneh itu.
Ara hanya menatap Morgan dengan tatapan yang aneh, membuat Morgan tidak bisa berkutik lagi. Morgan sudah sangat yakin dengan perasaannya pada Ara, ditambah lagi tentang Arash yang waktu itu sudah menitipkan adiknya ini padanya. Morgan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk melapas semua keresahan di dalam hatinya.
__ADS_1
“Kalau kamu gak bisa nerima perasaan saya, saya gak tahu lagi harus berbuat apa. Karena, saya gak bisa hidup tanpa kamu,” lirih Morgan, membuat hati Ara bertambah bimbang.
“Loe gak bisa hidup tanpa gue? Terus, kenapa waktu itu loe nerima pemberian dari wanita gak jelas itu?” sanggah Ara, membuat suasana romantis berubah menjadi suasana mencekam.
Morgan sampai menghela napasnya, dan segera bangkit menyamai Ara.
“Maksud kamu itu apa? Wanita gak jelas seperti apa yang kamu maksud?” tanya Morgan, membuat Ara menyeleneh mendengar pertanyaan yang baginya sangat tidak bermutu itu.
“Ah udah deh, loe gak usah menyanggah lagi! Gue tahu kok, loe pasti selalu dihubungin sama cewek itu, kan? Dari melek mata, sampe pengen tidur lagi, loe selalu tuker kabar kan sama dia?” tanya Ara sinis, membuat Morgan menatap Ara dengan tatapan tajam.
“Maksud saya, wanita gak jelas yang mana yang kamu maksud?” tanya Morgan, membuat Ara tersadar dengan perkataan Morgan yang rancu itu.
Ara menganga kaget, “kok yang mana sih? Berarti banyak dong, gak cuma dia doang?” tanya Ara sinis, Morgan hanya terdiam sembari menikmati manik mata Ara yang indah.
“Berapa banyak orang yang udah chating-an sama loe?” tanya Ara yang mulai posesif terhadap Morgan, membuat satu senyuman mengembang di wajah Morgan.
“Itulah kenapa saya tanya kamu demikian. Masalahnya, banyak yang hubungin saya. Pagi, siang, sore, malam--” ucapan Morgan terpotong, karena Ara tiba-tiba saja mengambil handphone Morgan yang berada di atas ranjang.
‘Sudah seperti ini, masih saja mengelak tentang perasaan kamu. Dasar wanita,’ batin Morgan yang gemas melihat respon Ara seperti orang yang sedang terbakar api cemburu ini.
Ara mendelik ke arah Morgan, membuat Morgan terkejut, “password-nya apa?” tanya Ara dengan sinis, membuat Morgan menggelengkan kepalanya.
Morgan tersenyum, “kata sandinya, kamu mau gak jadi pacar saya?” goda Morgan, membuat Ara melontarkan pandangan sinis padanya.
“Ih! Cepetan kasih tau!” bentak Ara yang kesal dengan lelucon yang Morgan lontarkan.
“Arasha ...,” lirih Morgan, membuat Ara semakin memandang malas dirinya.
__ADS_1
“Aduh, udah deh, cepetan jangan kayak gini, ah,” gumam malas Ara, lagi-lagi membuat Morgan tersenyum.
Morgan sangat senang menggoda Ara, entah mengapa Morgan jadi punya trik baru untuk menghadapi emosi Ara yang tidak bisa terkendali itu.
“Coba aja,” lirih Morgan, Ara melihat ke arah Morgan dengan sinis.
Ara mencoba mengetikkan namanya di handphone Morgan.
Ia terkejut, saat handphone-nya benar-benar terbuka ketika namanya dimasukkan. Ara benar-benar tidak percaya dengan Morgan, yang sudah memakai namanya itu untuk dijadikan kata sandi handphone-nya.
Ara melihat sinis ke arah Morgan, yang sedang menyeringai.
Ara kembali melihat ke arah handphone-nya dan memeriksa semua pesan masuk yang ada di dalamnya.
Betapa terkejutnya Ara, saat melihat semua chat yang menumpuk, yang sama sekali tidak dibaca oleh Morgan. Sama sekali tidak ada balasan dari Morgan.
‘Gila, pesan sebanyak ini, dari orang yang berbeda, padahal handphone Morgan baru, tapi kenapa banyak banget yang nge-chat dia?’ batin Ara yang mendadak jadi kesal dengan Morgan.
“Ah udah deh! Banyak banget isi chat loe, udah kayak israma putri aja!” bentak Ara, membuat Morgan tertawa kecil.
“Banyak yang ngejar-ngejar saya, makanya kamu beruntung bisa dekat sama saya,” ucap Morgan dengan penuh percaya diri, membuat Ara hampir muntah mendengarnya.
“Ih geli banget dengernya!” bentak Ara, dengan wajah masam yang tidak enak dipandang.
Ara kembali melihat ke arah Morgan, “terus penjelasan loe tentang gelang yang dikasih itu, gimana?” tanya Ara, yang masih ingin meminta penjelasan tentang gelang yang sudah ia rusak waktu itu.
“Saya ambil gelang itu, karena keinginan saya, suka-suka saya dong, mau ngambil atau enggak? Orang ini diri saya, kok,” ucap Morgan meniru gaya bicara Ara yang tadi, sontak membuat Ara geram padanya.
__ADS_1
“Apaan sih! Kesel gue lama-lama!” sinis Ara, lalu segera pergi dari hadapan Morgan.
“Grepp ....”