
Dengan sangat sedih, Ara pun memeluk ayah mertuanya itu dengan pelukan yang sangat erat. Saat Ara memandang wajah mertuanya itu, ia selalu teringat dengan wajah Ilham. Mereka benar-benar mirip secara lahir dan batin.
"Kalau butuh apa-apa, kamu kabarin ayah aja," ujar ayah, membuat Ara mengangguk kecil.
Ara melepas pelukannya pada ayahnya, sembari berusaha menghapus air matanya yang sudah membasahi pipi.
Ayahnya menengok ke arah Arash, "Kamu juga, Rash. Jangan sungkan ya sama om," ujar ayah, membuat Arash mengangguk kecil ke arahnya, "jaga Ara baik-baik," pesan ayah Ilham, membuat Arash menitikkan air matanya.
Dengan cepat, Arash menghapus air matanya yang sempat keluar. Ia tak ingin terlihat lemah di mata ayah besannya.
"Pasti, om," ujar Arash.
"Terima kasih sudah mau berteman dengan Ilham selama ini. Ilham sangat bahagia mempunyai teman seperti kamu, Rash," ujar ayah Ilham, yang membuat Arash tidak bisa menahan tangisnya.
Tangisnya pecah ketika mendengar hal itu dari mulut ayahnya. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, membuat Morgan dan Fla mengelus bahu Arash.
"Om pamit dulu," ujar ayah Ilham, yang segera meninggalkan pemakaman anaknya itu.
Bunga memandang ke arah makam Ilham dengan sendu, 'Biar bagaimana pun juga, kamu teman Arash yang sangat baik, Ham. Saya gak akan lupakan kamu,' batin Bunga, yang merasa sangat kehilangan sosok teman sepermainannya kala itu.
Jessline juga memandang sendu ke arah makam Ilham, 'Makasih waktu itu udah nolong aku, saat aku sedang mabuk. Makasih udah nolong aku pas aku jatuh dari tangga. Makasih udah hadir, walaupun hanya sebentar,' batin Jessline yang juga merasa kehilangan sosok Ilham.
Mereka yang ada di sana, sangat merasa kehilangan, tak terkecuali Morgan.
Morgan memandang makam Ilham dengan sendu, 'Saya gak sangka, kamu akan membuka semua rahasia tepat pada waktunya,' batin Morgan yang salut dengan yang Ilham pendam selama ini.
Morgan mengingat semua percakapan dirinya dan juga Ilham kemarin. Saat Ilham menelepon seseorang, saat itu Ilham menelepon Morgan. Ternyata, Ilham mengajak Morgan bertemu, untuk mengatakan semua kebenaran yang ia pendam selama ini. Dari mulai mereka kecil, hingga dewasa.
Semuanya Ilham ceritakan secara gamblang, dan tidak ada yang ditutupi atau dilebihkan. Morgan juga sudah tahu, kalau Ara sempat mengandung anaknya. Hal itu yang membuat Ara mengambil keputusan untuk menikahi Ilham. Intinya, Morgan sudah tahu semuanya.
__ADS_1
'Saya akan meneruskan untuk menjaga Ara. Saya akan menerima anak yang Ara kandung, sebagaimana kamu menerima anak saya saat itu, Ham,' batin Morgan yang kurang lebih terpukul atas kepergian Ilham.
Ara memeluk erat Arash, disusul Ray, Rafa, Fla dan juga Ares. Mereka berpelukan, memberi semangat untuk Ara supaya bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi ke depannya.
"We love you, Ra," gumam Rafa, membuat semuanya mengatakan hal demikian.
Ara semakin menangis di pelukan Arash dan yang lainnya. Ia tak kuasa menahan tangisnya di hadapan makam Ilham.
Dari arah sana, Ares tak sengaja melihat Ilham yang mengenakan pakaian serba putih. Ilham tersenyum sembari melihat ke arah Ara yang sedang dipeluk kakak dan teman-temannya.
Ilham tak sengaja melihat ke arah Ares, yang hanya memandangnya dengan tatapan tak percaya. Ilham pun tersenyum ke arah Ares, membuat air mata Ares seketika menggenang di pelupuk matanya.
"Hai cantik, jaga Kak Ara ya," bisik Ilham, membuat Ares mendelik tak percaya.
Ilham melambaikan tangannya ke arah Ares, membuat Ares juga melambaikan tangan ke arah Ilham. Perlahan, Ilham pun memudar, dan akhirnya hilang entah ke mana.
Bunga memandang Ares yang sedang melambaikan tangan, entah ke arah siapa.
Ares mengusap air matanya, "Sama kak Ilham, Bu," jawab Ares, membuat semua orang terkejut.
"Katanya, hai cantik jaga Kak Ara ya," ujar polos Ares, membuat tangis Ara semakin pecah mendengarnya.
Morgan kaget dengan ucapan Ares, membuat dirinya berpikir tentang cinta Ilham pada Ara.
'Cinta kamu benar-benar murni, Ham. Gak cuma nafsu seperti saya, tetapi benar-benar paham cara mencintai,' batin Morgan, yang tersentuh dengan kejadian yang Ares lihat.
...***...
Kini, Ara sudah berhasil melahirkan Ardi dan Ardan ke dunia. Semua orang menangis haru melihat malaikat kecil yang Ara lahirkan ke dunia.
__ADS_1
Serangkaian tahap berangsur cepat, membuat Ara sangat bahagia bisa bertemu dengan jagoan kecilnya.
Sudah satu bulan, sejak kepergian Ilham. Kini, Ara pun sudah lebih lega melepaskan Ilham, karena sudah ada dua jagoan mereka yang terlahir ke dunia.
Mereka secara bergantian membesuk Ara, dan bermain dengan kedua jagoan kecil Ara.
Hari-hari berlalu dengan sangat berat, tetapi terasa lebih ringan karena Morgan yang selalu membantu Ara untuk menjaga kedua anaknya itu. Morgan dengan siap sedia membelikan semua peralatan yang Ara butuhkan, untuk merawat si kembar.
Beberapa bulan bersama Morgan, membuat Ara mengerti apa yang Ilham maksudkan.
"Jangan nangis lagi. Suatu saat, akan ada yang bisa menghapus air mata kamu. Jangan pernah kamu menolak takdir lagi, ya? Ingat pesan aku."
Pesan terakhir Ilham yang akan selalu Ara ingat. Walaupun tak dipungkiri, Ara juga sangat mencintai Ilham. Namun, ia tidak akan melawan takdir lagi kali ini. Jika memang Morgan adalah orang yang Ilham maksudkan, Ara dengan senang hati akan menerima Morgan kembali di sisinya.
Biar bagaimana pun juga, benar kata Ilham. Anak mereka harus mempunyai sosok seorang ayah.
Pagi ini, Ara meminta Morgan menemaninya untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal di rumah Ilham dan Ara kala itu. Ara dan Morgan masuk ke dalam kamar, dan hal yang pertama Ara lihat adalah bingkai yang masih terpasang rapi pada dinding kamar.
Ara tersenyum memandang foto pernikahan mereka, membuat Morgan menghela napas karenanya.
Ara segera melihat ke arah kunci, yang ternyata masih berada pada tempatnya. Ara segera mengambilnya, kemudian segera membuka laci meja kerja Ilham.
"Cklekk ...."
Ara merogoh isi dari laci tersebut, dan terkejut melihat kalung pemberian Morgan, yang ternyata Ilham yang menyimpannya selama ini.
Ara memandang ke arah Morgan. Melihat hal itu, Morgan hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak bisa lagi menyalahkan orang yang sudah tiada.
Ara pun kembali merogoh isi laci tersebut. Ternyata, Ara menemukan sebuah amplop. Ara pun mengambilnya dan membuka amplop tersebut.
__ADS_1
Terlihat sebuah cek yang jumlahnya sangat fantastis. Tertulis di amplop tersebut, "asuransi untuk si kembar."
Ara tak kuasa menahan gejolak perasaan yang sudah satu bulan terkubur itu. Ilham tidak hanya meninggalkan anak-anaknya, tetapi juga menyediakan seluruh kebutuhan untuk mereka.