
Di saat menuju ke arah parkiran mobil, Ilham tak sengaja melihat Ara yang sedang memperhatikan sesuatu di hadapannya. Ilham yang penasaran, hanya memandangnya dari jauh, dan memperhatikan apa yang Ara lihat.
Tak lama, Ara segera berjalan menuju ke arah yang ia perhatikan. Ternyata Ara masuk ke dalam sebuah toko boneka. Ilham hanya diam, karena bingung dengan yang Ara lakukan.
"Dia mau ngapain, ya?" lirih Ilham, yang masih penasaran dengan yang Ara lakukan.
Tak ada yang bisa Ilham lakukan, selain menunggu di depan toko boneka itu. Ilham menunggu beberapa saat, sampai akhirnya Ara pun keluar dari toko itu, dengan membawa sebuah boneka seukuran setengah tinggi badannya.
Ilham mengerenyitkan dahinya, 'kalau suka boneka, kenapa gak ngomong sama saya? Saya kan bisa belikan,' batin Ilham yang merasa sedikit kesal dengan Ara.
Ilham tiba-tiba teringat tentang posisi dirinya, yang bukan siapa-siapa di dalam hidup Ara, membuatnya mengurungkan niatnya untuk memberikan boneka padanya.
'Aku bukan siapa-siapa,' batin Ilham lagi, yang sudah menyadari khilafnya.
"Yuk," ucap Ara yang baru saja sampai di hadapan Ilham.
Tanpa basa-basi, Ilham pergi bersama Ara menuju ke mobilnya.
Sepanjang perjalanannya menuju mobil, Ilham masih saja tidak bisa lepas dari bayangan Ara, yang sudah menahan lengannya tadi. Bahkan sampai saat ini, Ilham masih merasakan hangat tangan Ara.
'Seperti itu saja, sudah membuat saya mabuk,' batin Ilham, yang sembari tetap melangkahkan kakinya dengan jenjang.
"Brukk ...."
Kini, mereka sudah berada di dalam mobil. Ilham mengenakan sabuk pengamannya, begitu pun Ara.
Ilham memperhatikan Ara dengan saksama, karena Ara yang sejak tadi memeluk boneka yang baru saja ia beli tadi.
Ilham tanpa kata, segera mengarahkan mobilnya, menuju ke arah rumah Ara.
...***...
Mereka kini sudah sampai di tempat tujuan. Ara menghela napasnya panjang, berusaha untuk mempersiapkan diri masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Ilham memperhatikan Ara, yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi, memang dasar Ilham yang penakut dan terlalu introvert, ia jadi tidak berani bertanya tentang keadaan Ara.
"Yuk, kita masuk," lirih Ilham, yang mendapat anggukan dari Ara.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah.
Baru saja Ara melangkah masuk ke arah dapur, langkahnya sudah terhenti karena melihat Ares yang sedang bersama dengan Arash, sedang makan malam bersama, membuat mood Ara menjadi seketika hancur.
Arash yang melihat kedatangan Ara, segera menoleh ke arah Ara, "Ra, kamu udah makan?" tanya Arash, tapi wajah Ara hanya tertuju pada Ares, yang sedang duduk di hadapan kakaknya itu.
Melihat tatapan Ara yang tajam bagaikan mata elang, membuat Arash merasa keadaan tidak sedang baik-baik saja.
Arash memandang ke arah Ilham, yang baru sama tiba di sana, kemudian memandang kembali ke arah Ara dan Ares.
Ares memperhatikan pandangan kakaknya, yang sepertinya tidak menyukai keberadaannya di rumah ini.
"Ada apa, Ra?" tanya Arash, yang lagi-lagi tak dihiraukan oleh Ara.
Ara masih memandangnya dengan sengit, membuat Ares hanya bisa menundukkan pandangannya saja.
"Srukk ...."
Mata Ares membulat, karena melihat sebuah boneka yang saat ini ada di hadapannya. Ares segera mendongakkan kepalanya, dan melihat boneka itu dengan jelas.
Ara menyodorkan boneka beruang berwarna cream dengan tinggi sekitar 80 cm itu, ke arah Ares. Mata Ares membulat, saking ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya saat ini.
Arash dan Ilham yang melihatnya pun, nampak tidak percaya dengan yang Ara lakukan pada Ares.
'Jadi, boneka itu untuk Ares?' batin Ilham, yang tak sengaja tersenyum melihat reaksi Ara yang sepertinya sudah bisa lebih menerima takdirnya.
"Welcome home," lirih Ara dengan nada yang masih sedikit cuek, membuat Ares semakin tak bisa berkata apa-apa lagi.
Arash mendelikkan matanya, merasa tak percaya dengan kejadian yang ia lihat ini.
__ADS_1
Ares mendelik, dan mengalihkan pandangannya ke arah Arash. Arash mengangguk untuk memberikan kode pada Ares, agar dia mau mengambil pemberian dari Ara itu.
Setelah mendapat anggukan dari Arash, Ares pun tersenyum dan segera menoleh kembali ke arah Ara yang terlihat masih tidak ada ekspresi apa pun padanya.
Dengan ragu, Ares mengulurkan tangannya, untuk mengambil boneka yang Ara sodorkan padanya. Ares memeluknya dengan sangat lembut, karena ia merasa bahagia menerima pemberian dari Ara.
Tanpa kata, Ara segera pergi meninggalkan Ares dan yang lainnya yang berada di meja makan.
Arash mendelik kegirangan ke arah Ilham, membuat Ilham melontarkan senyuman khasnya ke arah Arash.
"Cie ... yang dapat boneka dari kakak cantik," goda Arash, membuat Ares tersenyum kegirangan karenanya.
"Ih kakak, apaan sih," lirih Ares yang merasa malu dengan Arash yang menggodanya.
Ilham hanya bisa tersenyum melihat ekspresi bahagia Ares, yang sangat terpancar dari dirinya.
"Emm ... Ham, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu," lirih Arash, membuat Ilham mengangguk.
Arash menoleh ke arah Ares, "Ares, kamu main di kamar kakak dulu, ya. Ada yang mau kakak obrolin sama Kak Ilham," ucap Arash, membuat Ares mengangguk tak lupa dengan senyumannya yang selalu terlontar.
Ares pun pergi menuju ke arah kamar Arash, tak lupa membawa boneka yang Ara berikan tadi.
Kini, hanya tinggal Ilham dan Arash lah yang ada di ruang makan. Ilham pun duduk di salah satu kursi kosong, yang tak jauh dari Arash berada.
"Ada apa, Rash?" tanya Ilham, membuat Arash menghela napas panjang.
"Saya senang sekali dengan sikap Ara yang sudah mulai bisa menerima Ares," Arash memandang ke arah Ilham, "memangnya, apa yang kamu ucapkan sehingga membuat Ara bisa menerima semuanya seperti ini?" tanya Arash, membuat Ilham tersenyum.
"Banyak hal yang terjadi. Dari Ara yang hampir aja kecelakaan pagi tadi, lalu makan es krim satu ember di mall, setelah itu dia berinisiatif membeli boneka dan terus memeluknya sampai ke rumah," ucap Ilham, membuat Arash mendelikkan matanya karena kaget.
"Hah? Kok bisa?" tanya Arash.
"Ya. Cara kamu masih kurang efektif buat bikin Ara bisa menerima semuanya. Memang butuh pendekatan yang cukup panjang agar bisa membuat Ara paham dengan permasalahan yang dia hadapi," jawab Ilham menjelaskan, membuat Arash terdiam.
__ADS_1
'Jadi, cara saya belum cukup untuk bikin Ara mengerti?' batin Arash, yang sepertinya masih harus belajar lagi untuk bersikap kepada adiknya itu.
Arash menoleh ke arah Ilham, 'tapi bagaimana bisa, orang se-introvert Ilham, bisa dengan mudahnya membalikkan keadaan supaya Ara bisa menerima semua takdir yang sudah digariskan ini? Padahal, bukan hal yang mudah untuk bisa menerima kenyataan pahit seperti ini, dengan sangat cepat,' batin Arash yang masih tidak percaya dengan Ilham.