Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kencan Buta 2


__ADS_3

Terdengar Fla yang seperti orang yang sedang menahan tawa. Ara seketika menjadi tidak mood setelah mendengar responnya.


“Gak usah sok ketawa deh, loe!” ketus Ara yang kesal dengan Fla.


Fla yang sudah mengetahui sifat Ara, mungkin sudah memaklumi setiap perkataan yang terlontar dari mulut Ara. Fla juga pernah berkata pada Ara, bahwa ia sudah menganggap semua yang Ara ucapkan hanyalah bercanda. Dia ingin menjadikan Ara sebagai sahabat, karena merasa sudah berhutang pada Ara, karena kejadian dengan Jessline waktu itu.


“Yeh … gak usah ngegas gitu kali, Mbak,” ucap Fla, terdengar menyeleneh, Ara sampai terkekeh mendengarnya.


Morgan sudah dalam perjalanan menuju ke arah sini, dan Ara bahkan belum ada persiapan apapun.


‘Aku harus bergegas,’ batin Ara yang mendadak terpikir tentang Morgan.


“Udah ah, bye!”


“Tuut ….”


Ara memutuskan telfon dari Fla.


Kurang ajar sekali diriku ini, pikir Ara.


Ara bergegas untuk bersiap. Pakaian apa yang akan ia pakai untuk berkencan dengan Morgan?


Tunggu … apa ini?


‘What? Morgan ngajak gue nonton bioskop? Itu tandanya kan, kencan? Kenapa gue bisa mau diajak kencan dengan dia? Bisa-bisanya gue baru sadar dengan maksudnya ini,’ batin Ara sontak kaget ketika menyadari semuanya.


“Gila, ah!” ucap Ara gemas, yang sudah tidak bisa berpikir secara rasional lagi.


Sudahlah. Lagi pula, ini sudah terlanjur. Lain kali, aku tidak akan mau menerima tawarannya, pikir Ara.


Ara melanjutkan memilih pakaian yang akan ia kenakan.


‘Gue harus pakai style yang mana? Kok gue ngerasa, gak punya outfit yang cocok, ya?’ batin Ara.


“Duh … apaan sih? Besok-besok harus beli baju yang banyak, biar gak bingung kalau mau pergi-pergian!” geram Ara merasa kesal.


Ara melihat-lihat isi lemarinya, dan mengambil beberapa stel baju, kemudian mencocokkannya di badannya.


Setelah mencocokkan beberapa baju, akhirnya ia memilih kaos polos dengan jumpsuit kesukaannya. Ara memilih tema yang tidak ribet, namun tetap mengedepankan look. Make up pun ia usap seadanya.


Ara hanya mengusap bedak seadanya dan menambahkan sedikit usapan blush on berwarna peach. Menebalkan sedikit ekor alisnya, mengoleskan sedikit lip cream berwarna nude di pinggir garis bibirnya, dan menambahkan lipstick berwarna merah menyala pada bagian tengah bibir.


Walah … Ara siap untuk bertemu dengan Morgan.


Ara memandang dirinya di hadapan cermin. Penampilannya kali ini, ternyata tidak terlalu buruk. Ara tersenyum, sembari memperhatikan setiap sisi dari ujung rambut, hingga ujung kakinya.

__ADS_1


Ara mengambil sneakers-nya yang berwarna merah muda, dominan putih, yang semakin menunjang penampilannya kali ini. Ara merasa sangat puas dengan dandanannya kali ini. Tidak terkesan berlebihan, dan tidak terlalu sederhana. Cocok untuk style gadis seusianya.


Ara bergegas memakai sepatu, dan mengambil tas. Ara menyelipkan beberapa permen susu di saku tas.


Ara tidak tahu, sebenarnya isi hatinya itu seperti apa. Ia hanya menjalani hubungan, yang menurutnya nyaman. Tapi, Ara tidak tahu, orang seperti apa Morgan itu?


Memang, Morgan sudah banyak menolong Ara, tapi kalau Ara sampai jatuh cinta padanya karena itu, itu berarti ia hanya iba terhadap Morgan, bukan?


Ara tidak mau mengawali hubungan karena merasa iba. Itu akan membuatnya terus terpaku dengannya.


“Dring ... dring ….” Handphone-nya berdering kencang.


Ara menyentuh layar berwarna hijau, untuk mengangkat telepon, yang ia ketahui dari kakaknya.


“Ya?” tanya Ara.


“Ada Morgan, nih.”


“Oke, aku ke sana, Kak.”


“Tuut ….”


Ara mengakhiri telepon dari kakaknya.


‘Apa yang salah sama gue? Padahal, gue baru aja ngisi perut. Apa tadi gue salah makan?’ batin Ara bingung, sembari memikirkan kembali apa yang baru saja ia makan, ‘ahh, kayaknya gak deh,’ sambungnya.


Tapi, Ara seperti gemetar mendengar Morgan sudah sampai di rumahnya. Apa artinya ini?


Seumur hidup Ara, ia tidak pernah mengajak siapa pun datang ke rumahnya. Bahkan, Reza saja tidak pernah ia biarkan datang ke rumah ini, karena takut dengan ancaman kakak, yang katanya ingin menghentikkan pasokan dana padanta, jika ia sampai ketahuan berpacaran. Itu sebabnya, Ara dan Reza menjalani hubungan mereka dengan backstreet.


Huft.


Zaman Sekolah Menengah Atas, zaman di mana Ara merasakan kebahagiaan, sekaligus kesedihan yang mendalam karena kehilangan cinta pertamanya.


Ah.


‘Kenapa tiba-tiba gue jadi keingetan lagi masa lalu sama Reza?’ batin Ara kesal.


“Ah. Payah banget sih gue!” Ara membentak dirinya sendiri, dengan maksud memberikan semangat untuk diri sendiri.


Apa yang salah darinya? Padahal, Ara merasa dirinya baik-baik saja.


“Ah, masa iya gue tolak, sih? Kan gak enak juga,” lirih Ara seketika menjadi kesal dengan dirinya sendiri.


“Tapi gue lemes gini, kenapa ya? Parah sih kalo gini mah.”

__ADS_1


Ara sangat gelisah, memilih antara keluar atau tetap di dalam kamar. Ia tidak bisa menjamin keselamatannya, kalau ia masih tetap nekat pergi.


“Crekkkk ....”


Seseorang terdengar seperti sedang membuka pintu kamar Ara. Seketika, mata Ara langsung membulat, karena kaget mendengar suara aneh itu.


“Hah, siapa tuh?” pekik Ara, yang langsung menoleh ke sumber suara.


Ara membulatkan matanya, saat mengetahui yang memasuki kamarnya adalah Morgan.


“Hah? Ngapain loe di sini?” lirih Ara ketakutan, setengah mati.


Ara melihat Morgan, yang sudah berada di ambang pintu kamarnya.


“Brakk ….”


Morgan menutup pintu kamarnya kembali. Ara semakin ketakutan dibuatnya.


“Eh, loe jangan macem-macem deh ya!” ancam Ara sinis.


Seperti biasa, Morgan datang dengan gayanya yang cool, yang menyebalkan itu. Ara benci sikapnya yang tidak bisa manis dengan siapa pun, termasuk jika Morgan sedang berhadapan dengannya.


Morgan sudah berdiri di hadapan Ara, yang sedang duduk di bibir ranjang. Suasana sangat canggung. Morgan hanya memandang Ara, tak bergeming sama sekali.


Pikiran Ara sudah melayang-layang, khawatir Morgan melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.


Morgan tiba-tiba saja duduk di samping Ara, membuatnya agak merasa canggung. Terlihat Morgan yang duduk dengan sangat ragu. Terbayang tidak, kondisi jantung Ara sekarang, seperti apa?


Rasanya, seperti habis lari maraton sejauh 5-km tanpa henti.


Ara menoleh ke kanan, membuang pandangannya dari Morgan. Morgan pun tidak menatapnya sama sekali. Ia hanya memandang arah depannya.


Ara memainkan jemarinya, karena merasa sangat cemas, khawatir dengan apa yang nantinya akan Morgan lakukan. Ara belum cukup siap untuk melakukan adegan itu lagi dengannya.


Nampaknya Morgan juga mengalami hal yang sama dengan yang Ara rasakan. Ara sesekali menolehnya ke arahnya. Namun, tak ada respon sama sekali darinya. Ara hanya diam sembari menunggu Morgan berbicara.


Beberapa waktu berlalu. Namun Morgan masih belum memulai pembicaraan. Ara jadi merasa, kalau Morgan mengabaikannya.


Padahal Ara dari tadi berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk hal-hal yang tidak terduga yang mungkin nanti akan Morgan lakukan kepadanya.


Bisa saja.


‘Duh, sia-sia pikiran kotor gue dari tadi,’ batin Ara mengaduh.


“Ekhm ….”

__ADS_1


__ADS_2