
Ara sudah berada di dalam taksi, hendak pulang menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Ara tidak berhenti untuk mengingat kejadian memalukan dirinya dan juga Morgan.
Ara sangat bingung dengan perasaannya sendiri. Ia sampai tidak bisa berkata apa pun, hanya bisa memikirkannya saja dengan perasaan gondok.
‘Apa-apaan dia? Gue gak suka sama dia. Tapi kenapa pas gue ngeliat dia berdua sama wanita itu, hati gue kok kayak retak gini,’ batin Ara yang terbayang tentang kejadian di lobby hotel tadi.
Ia mendadak jadi kesal, karena terus terbayang dengan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.
Buang-buang energi saja, pikirnya.
“Di depan belok mana, Non?” tanya sopir taksi itu.
Ara terpaksa harus menaiki taksi, karena kakaknya pasti masih tertidur pulas.
Kalau bukan karena Morgan, ia tidak akan tertimpa masalah seperti ini. Ditambah lagi kehormatannya yang lagi-lagi Morgan rebut.
Sudah jatuh, tertimpa tangga.
Ara merasa dirinya sudah kotor.
Apakah wanita sepertiku masih layak mendapatkan cinta yang tulus dari laki-laki? Pikirnya.
“Non?” pekik sopir taksi tersebut, membuat Ara tersadar dari lamunannya.
“Oh, iya pak. Di depan ambil kanan, gak lama lagi sampe kok, Pak,” ucap Ara.
“Baik, Non.”
Taksi melaju dengan sangat pelan, sampai-sampai Ara merasa mengantuk lagi. Ara harus bisa menahan rasa kantuknya, karena tak lama lagi, ia akan sampai di rumahnya.
Mobil pun berhenti, saat ini Ara sudah tiba di rumahnya, membayar ongkos taksi, dan segera masuk ke dalam rumah.
Ara berhenti di depan pintu rumah, untuk mengambil kunci cadangan yang ia bawa sebelumnya. Ara tahu, sewaktu-waktu, pasti akan ada kejadian yang membuatnya terlambat untuk sampai ke rumah. Ara diam-diam meminta kunci pada bibi, setiap ingin pergi.
“Ckrekk ....”
Ternyata, pintu rumahnya belum terkunci, membuat Ara terkejut setengah mati.
Kenapa kakak tidak menguncinya? Apa kakak lupa? Atau jangan-jangan, ada maling yang menyusup ke rumah ini? Pikirnya.
“Hah?”
Ara langsung memeriksa keadaan kakaknya. Apakah yang terjadi padanya sampai ia lupa mengunci pintu rumah?
Ara berjalan pelan, sangat pelan, untuk menuju kamar kakaknya.
Terlihat sedikit, ternyata pintu kamarnya pun tidak dikunci dan sedikit terbuka.
Ara menengok ke arah dalam sedikit.
“Ahh ....”
__ADS_1
Terdengar suara jeritan wanita dari dalam kamar Arash, membuat Ara kaget dan langsung penasaran apa yang sedang kakaknya perbuat.
Desahannya semakin keras, membuat Ara semakin penasaran. Ia langsung menyiapkan kameranya, untuk mendokumentasikan kejadian ini.
Paling tidak, ada senjata untuk membantah kakak, sewaktu-waktu kakak mengekang aku kembali, pikir Ara.
“Cepetan, dong.”
Rasa penasaran Ara semakin menggebu, membuatnya ingin melihat lebih banyak lagi, dan bergerak maju menuju kamar Arash.
Terlihat samar gadis yang sedang menikmati indahnya cinta bersama kakaknya.
Ara mengerutkan dahinya. Dari bentuk postur badannya, sepertinya Ara mengenali gadis ini.
Tapi, siapa?
Permainan mereka nampaknya semakin panas, membuat Ara sampai terbawa suasana.
‘Sial,’ batin Ara yang berusaha menahan dirinya.
“Brakk ....”
Ara tak sengaja menyenggol sesuatu yang berada di sampingnya. Ara seketika langsung menutup mulutnya. Kakak dan gadis asing itu, seketika menoleh ke arahnya.
Terlihat samar seseorang yang nampak familiar sekali bagi Ara.
“Jessline?”
Ara sudah kehabisan kata-kata kali ini.
“Brakk ....”
Ara tak sengaja menjatuhkan handphone-nya, namun seketika ia langsung mengambilnya kembali.
“Ra,” pekik Arash, yang sepertinya kaget dengan kehadiran Ara.
Arash dan Jessline segera menutupi tubuh mereka dengan selimut. Tak disangka, kakaknya bermain cinta dengan adik dari orang yang paling Ara benci, dan juga, mantan dari pacarnya, Bisma.
Entah kenapa dunia menjadi sempit seperti ini.
Ara tidak peduli kakaknya bercinta dengan siapa pun itu, asalkan jangan dengan dia.
“Eh, Ra. Kamu baru pulang jam segini? Dari mana aja kamu?” tanya kakak dengan nada yang santai, seperti sedang tidak terjadi apa-apa.
Ara memang sudah biasa melihat Arash bercinta, bersama wanita mana pun. Tapi, ia sangat kaget saat mengetahui kakaknya bercinta dengan Jessline.
Kenapa dunia bisa terasa sempit seperti ini?
Ara dengan kakak dari Jessline, dan Jessline dengan kakaknya.
“Namanya Monica, bukan Jessline, Ra,” ucap Arash lagi.
__ADS_1
Ara menatap dalam gadis itu, yang sepertinya sedang merasa ketakutan, sehingga memilih menyembunyikan dirinya di belakang Arash.
‘Ah, bener kok itu si Jessline,’ batin Ara memastikan kembali dengan apa yang sudah ia lihat.
Ara tiba-tiba saja tersadar, kenapa ia malah jadi memikirkan hal yang tidak penting?
“Udah ah. Aku mau tidur,” ucap Ara asal, kemudian meninggalkan mereka di sana.
“Gak jelas banget itu orang,” lirih Arash.
Ia langsung berubah sikap, ketika menoleh ke arah gadis yang ia anggap bernama Monica itu.
“Sampai di mana tadi, sayang?” tanya Arash dengan senyuman mautnya, yang kembali memulai aksinya.
Di sisi lain, Ara masih tak habis pikir dengan Jessline.
Bisa-bisanya dia mengubah namanya menjadi Monica. Padahal jelas-jelas, namanya adalah Jessline, pikir Ara.
Apa itu salah satu siasat untuk mengelabui Arash?
Ara pergi menuju kamarnya. Ia meletakkan seluruh barang-barangnya di atas ranjang tidur, kemudian mulai menanggalkan kemeja yang ia pakai.
Ara melangkah menuju kamar mandi. Kucuran air membasahi ujung kepala, dan mengalir sampai ke ujung kakinya.
Ara menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Tak disangka, dunia yang begitu besar ini, terlihat sangat sempit saat ini.
Ara meringkuk takut di dalam bathtub, sembari sesekali mengusap kedua bahunya secara menyilang.
Ara sudah kehilangan kehormatannya lagi. Harus bagaimana lagi ia untuk bisa melanjutkan hidupnya?
Ara sudah tidak memiliki apa pun lagi. Apa masih pantas ia dicintai?
Bisma ... benar atau tidak ucapan Morgan tadi, ia sudah tidak bisa Ara harapkan lagi. Ara sudah kehilangan kepercayaan sepenuhnya pada Bisma. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan Bisma.
Awalnya, Ara berpikir Bisma bisa menerimanya dengan baik, meskipun Ara sudah jujur dan mengatakan kebenarannya, bahwa ia sudah tidak mempunyai kehormatan lagi. Tak disangka, Bisma malah memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa menghinanya lagi.
Biar bagaimana pun juga, Morgan sudah menyelamatkan Ara. Walaupun akhirnya, dia juga merebut kehormatan Ara lagi, untuk yang kedua kalinya.
Ara meremas keras rambutnya, tak bisa menerima semua ini.
Itu tandanya, sama saja bukan? Hanya berbeda cara dan orang yang melakukannya saja? Kenapa aku sebodoh ini? Pikir Ara.
“Argh.”
“Harusnya gak gini, deh,” lirihnya sembari mengelap wajahnya yang terkena cipratan air.
Air mata Ara bercampur dengan air yang bercucuran dari shower, sampai ia tidak bisa membedakan lagi, air mata dan air yang bercucuran itu.
Ara berusaha mengatur napasnya yang tak teratur ini. Sulit sekali bernapas pada kehidupan yang tidak jelas ini.
Rasanya sesak sekali.
__ADS_1
***