Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Sensasi Mobil Mevvah


__ADS_3

Morgan menahan tangan Ara, hingga Ara tidak bisa pergi darinya. Ara lantas menoleh ke arahnya.


“Aduh, ada apa lagi, sih?” tanya Ara dengan sinis.


“Soal ke rumah saya, gimana?” tanya Morgan.


Untuk apa dia mengajak aku ke rumahnya? Atau jangan-jangan, dia ingin membuat diriku malu lagi dengan berbuat mesum seperti makan malam waktu itu? Pikir Ara.


Ara mendelik ke arahnya, “jangan macam-macam deh loe!” bentak Ara secara refleks.


Morgan mendecak sembari menggelengkan kepalanya, “kamu tenang aja, saya nggak akan macam-macam kok! Cuma satu macam aja, yaitu ngajak kamu ke rumah saya buat makan malam. Saya akan jaga sikap saya selama kita di rumah saya nanti,” jawabnya membuat Ara merasa sedikit tenang.


Ara berpikir sejenak.


‘Ya kalau misalkan dia gak ngapa-ngapain sih ... ya enggak apa-apa sih, itung-itung buat gue lebih dekat sama keluarganya Fla,’ batin Ara yang merasa bingung dengan keadaan, ‘tapi kalau omongan dia nggak bisa dijaga, gimana? Kalau dia berbuat yang macam-macam lagi gimana? Kalau sampai ketahuan Fla lagi gimana? Atau bahkan ketahuan sama orang tuanya Fla? Duh ...,’ batin Ara yang sebelah lagi mengatakan demikian.


Terjadi perdebatan batin di antara kubu sebelah kiri dan sebelah kanan, membuat suasana terlihat semakin rancu.


Morgan mendelik, “gimana ...,” tanya Morgan, “mau?” sambungnya.


Mudah-mudahan keputusanku kali ini tidak salah, pikir Ara.


“Jaminannya apa kalau loe nggak bakal macam-macam sama gue?” tanya Ara yang mungkin membuat Morgan sedikit bingung.


Terlihat Morgan yang sedang mengernyitkan dahinya.


“Jaminan?”


“Iya jaminan. Gue nggak pernah tahu yang akan terjadi itu seperti apa. Gue cuman mau loe kasih jaminan ke gue supaya gue bisa yakin untuk ikut sama loe ke sana, dan nggak akan terjadi hal apa pun dengan gue nantinya. Simpel, kan?” jelas Ara panjang lebar, dengan nada menyinyir.


Morgan menyentuh dagunya dengan jari telunjuknya, kemudian seketika melihat ke arah Ara, “datang, makan malam, jalan-jalan sebentar, langsung saya antar pulang,” Morgan menjelaskan alur ceritanya.


Ara sedikit berpikir, ya tidak ada yang aneh sih dari jalan pikirannya saat ini.


Ara merasa, tidak masalah jika menuruti permintaannya itu.


“Okelah! Tapi ada satu syarat,” ucap Ara sembari tersenyum jahil, membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.


***


Ada sedikit rasa heran terhadap teman-temannya yang saat ini masih tertidur pulas di ruang tamu. Ara bergerak sedikit cepat, karena mereka yang terlihat tidak punya semangat hidup.


“Woi … woi … woi … woi! Bangun, bangun, bangun, bangun, bangun, bangun!” Ara berusaha membangunkan mereka yang masih tertidur pulas akibat minum shochu kemarin.


Tak ada yang merespon ucapan Ara, sehingga membuatnya merasa geram. Morgan yang melihat adiknya sedang tertidur pulas bersama teman-temannya, seketika menggeleng.

__ADS_1


‘Sudah dipindahin ke kamar, masih aja tidur di sini,’ batin Morgan yang tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.


Ara mendelik, “yeh … pada gak mau bangun ya?” sinis Ara, yang langsung menepuk-nepuk pipi mereka satu per satu.


Satu per satu dari mereka pun mulai bangun, dari mulai Rey, Rafa, Fla hingga kakaknya. Posisi tidur mereka sangat lucu, sehingga membuat Ara ingin memotretnya, untuk dijadikan bahan tertawaan.


“Duh ... berisik banget, sih!” Arash sepertinya mulai risih dengan Ara yang sedari tadi berusaha untuk membuatnya terbangun.


Arash terlihat berusaha untuk membuka matanya, dan melihat siapa yang sudah mengganggunya tidur.


Arash melihat Ara yang sedang berdiri di hadapannya, sembari bertolak pinggang.


“Oh, kamu …,” lirih Arash dengan nada yang malas.


“Mau sampai kapan tidur aja? Mentang-mentang sekarang hari minggu?” tanya Ara ketus.


Kakaknya mencoba untuk mengumpulkan nyawanya. Ia memejamkan mata dan membuka matanya secara cepat, sembari memegangi kepalanya. Mereka semua pun terbangun.


Mereka terlihat sangat kacau, Ara hanya tertawa kecil melihat keadaan mereka yang sangat lucu baginya.


“Aduh … jam berapa ini?” tanya Rafa.


Ara seketika menengok ke arah jam tangan yang berada di lengan kirinya.


“Udah jam 11! Mandi semuanya hey!” suruh Ara.


Ara menoleh ke arah Fla, “Fla, mandi gih di kamar gue!” suruh Ara sembari menarik tangan Fla, seakan sedang memaksanya.


“Iya iya, udah sih jangan narik-narik! Sakit tau,” ketusnya, Ara hanya menyinyir sedikit di hadapannya.


“Aku mau jalan sebentar sama Morgan ya kak,” ucap Ara yang langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari kakaknya.


Ara dan Morgan menuju mobil Morgan, yang sudah terparkir rapi di halaman depan rumahnya. Morgan terlihat seperti mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil sebuah kartu dan di tempelkannya pada pintu mobilnya.


Mobil itu pun seketika terbuka dengan sendirinya. Ara mebolakan matanya, terkagum-kagum melihat teknologi zaman sekarang yang tumbuh dengan pesat.


Morgan pun masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Ara yang masih berada di luar.


Ara tersadar dari lamunannya, “heh kok loe masuk duluan sih?” tanya Ara dengan sinis padanya, sembari mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.


Morgan membuka kaca jendela mobilnya.


Morgan memandang datar ke arah Ara, “kenapa emangnya?” tanyanya yang tidak merasa bersalah sama sekali.


Ara menahan kesalnya terhadap Morgan.

__ADS_1


“Harusnya tuh loe bukain gue pintu!” Ara mengomel layaknya emak-emak yang sudah kehilangan tupp*rware kesayangannya.


Morgan memakai kacamata hitamnya, kemudian melihat ke arah Ara, “harus, ya?” pertanyaan Morgan berhasil membuat Ara tidak bisa menahan emosinya lagi.


“Rese banget sih loe jadi cowok! Harusnya memperlakukan pacar tuh nggak kayak gini!” bentak Ara dengan asap yang keluar dari hidung.


Morgan menyeringai ke arahnya. Ara yang tersadar dengan ucapannya, mendelik lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Terlihat Morgan yang tersenyum seperti malu. Melihat Morgan tersenyum seperti itu, Ara ketularan malu juga.


“Sudah saya bilang, jangan suka sama saya,” celetuk Morgan, membuat Ara sangat muak mendengarnya.


Lagi-lagi ia mengucapkan kalimat itu lagi. Ara langsung saja masuk ke dalam mobilnya tanpa basa-basi.


“Brukkkk ....”


Ara menutup pintu mobil dengan sangat keras. Kemudian ia memasang sabuk pengaman dan melipat kedua tangannya. Belum apa-apa, Ara sudah dibuat kesal dengannya.


“Mau ke mana kita?” ketus Ara pada Morgan.


“Tanya peta,” jawab Morgan dengan datar, membuat Ara seketika menoleh ke arahnya, lalu memukul bahunya dengan keras.


“Kesel lama-lama, heran!” sinis Ara, Morgan hanya diam menerima saja perlakuan Ara yang sedang berapi-api itu.


“Kemana aja lah, toh kamu nggak ngomong mau ke mana. Perjanjiannya kan, kamu cuma minta saya nganterin kamu untuk jalan-jalan aja kan?” tanya Morgan dengan nada seperti angkuh.


Sudah cukup aku menahan emosiku padanya, pikir Ara.


“Loe tuh ya, lama-lama ngeselin banget sih!” teriak Ara kesal dengan keadaan.


“Cuppsss ....”


Morgan tiba-tiba saja mengecup kening Ara dengan lembut, membuat Ara seperti kehabisan kata-kata dibuatnya.


Banyak hal dari Morgan yang belum Ara mengerti. Mungkin lambat-laun, Ara dapat mengerti segala sesuatu hal dari dirinya.


Ara mendadak jinak pada Morgan.


Seperti hewan peliharaan saja jadinya, pikir Ara.


Morgan menyentuh layar yang berada di hadapannya. Seperti touch screen handphone pada umumnya. Yang membedakan adalah ukurannya yang mungkin sebesar pad. Morgan mengetik tulisan “mall terdekat”, sensor mobil pun aktif dan mobil berjalan tanpa dikemudikan oleh Morgan.


Oh ... jadi seperti ini sensasinya naik mobil mewah sekeren ini? Pikir Ara.


Ara bersedia ikut dengan Morgan ke rumahnya, asalkan Morgan mengajaknya jalan-jalan dengan mobil barunya ini.

__ADS_1


Sekalian Ara merasakan sensasi kemewahan mobil ini.


Seperti naik MRT, lho, hihihi.


__ADS_2