Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Truth or Dare


__ADS_3

Ara memejamkan matanya, “aisssshhhh ...,” Ara mendengus kesal dengan perlakuan Morgan.


“Adooooohhhh apaan sih manggil-manggil gak jelas??” Ara membalas teriakan Morgan dengan sangat kesal.


Mungkin suara Ara tadi, sudah terdengar sampai ke ujung komplek perumahan ini. Gak, bercanda ya gaes hihi.


Morgan melongok dari ambang pintu kamar Ara.


“Mandi gih.”


“Deg ....”


Jantung Ara berdegup dengan sangat kencang. Rasanya, benar sudah seperti pasangan suami istri yang baru saja menikah. Mata Ara membulat setelah mendengar ucapan Morgan tadi. Sedikit terbayang kehidupan Ara nantinya, mungkin saat Ara dan Morgan menjadi kita.


“Hey ... kok bengong?” tanya Morgan yang berhasil mengagetkan Ara.


Ara menatapnya dengan tatapan masam, “iya, gue mandi!” jawab Ara dengan asal.


Morgan tersenyum kecil setelah melihat respon dari Ara. Tapi, Ara malah membuat wajahnya semakin masam.


“Apa loe?” ucap Ara dengan angkuh.


Morgan lagi-lagi hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi wajah, dan tingkah laku gadis pujaan hatinya itu.


“Sana keluar! Ngapain masih di sini, sih!” Ara bergegas mengusir Morgan untuk segera keluar dari kamarnya.


Ara berusaha menutup pintu kamarnya, tapi Morgan menghalanginya dan pintu itu tidak bisa tertutup sama sekali. Morgan hanya terkekeh kecil.


“Apaan sih! Udah sana!” bentak Ara lagi sembari menghentikan aktivitasnya mendorong pintu.


Morgan tersenyum, “mau mandi bareng kamu ....”


Ara melotot dan menganga kaget, “WHAT?! NO WAY!”


Ara jelas menolak permintaan Morgan yang aneh itu. Walaupun Morgan sudah melihat semua yang Ara miliki, tapi bukan berarti Ara sudah tidak memiliki harga diri lagi di hadapannya. Ara masih sangat boleh untuk membela harga dirinya.


“Biasa aja kali,” gumam Morgan dengan nada cool seperti biasanya.


Ara hanya komat-kamit sendiri, menanggapi sikap Morgan yang terlalu berani untuk melakukan hal bodoh kepada gadis yang sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengannya.


“Apa loe?!” sinis Ara karena kesal dengan ucapan Morgan.


Tangan Ara menggerayang, mengambil bantal kecil yang ada di sudut ranjang. Ara menyambar dengan segera, lalu ia membidik bantal ke arah Morgan.


“Pergi gak loe?!” bentak Ara sembari memasang tampang yang sangar.


Morgan bersikap seperti orang yang sedang ketakutan, padahal hal seperti ini sama sekali tak membuatnya gentar, “eh iya ampun,” ucapnya mengalah pada Ara.


Morgan langsung pergi tanpa menutup kembali pintu kamar Ara. Lagi-lagi Ara dibuat kesal oleh tingkah Morgan. Tapi setelah Ara pikir kembali, ternyata Morgan itu lucu juga.


Ara tertawa kecil secara spontan. Padahal saat itu, Ara sedang kesal dengan perlakuan absurd Morgan terhadapnya. Tapi tanpa ia sadari, dirinya malah tertawa sendiri dengan lepas seperti itu, karena mengingat Morgan.


Apa aku sudah gila? Apa ini yang namanya cinta? Pikir Ara.


***

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Ara sudah selesai membersihkan tubuhnya. Sepertinya, teman-teman Ara pun sudah pulang ke rumah. Ara dengan perasaan yang berbunga-bunga, bergegas untuk menemui teman-temannya di luar.


Terlihat mereka semua yang sedang asyik bercerita bersama Arash dan juga Morgan. Terlihat dari jauh, tawa mereka yang sepertinya lepas tanpa beban, membuat Ara semakin ingin cepat-cepat berbincang dengan mereka.


Ara melontarkan senyum ke arah mereka, “lho ... asik banget sih ceritanya. Ketawanya aja sampe kedengeran ke dalem,” goda Ara.


Mereka menghentikan aktivitasnya sejenak, dan melihat ke arah Ara.


“Nah ... nih dia ratu kita dateng,” ucap Ray yang sepertinya sedang menggoda balik Ara.


Ara tersenyum tak enak padanya.


“Sini duduk, Ra,” Rafa tiba-tiba saja menyambar, meminta Ara untuk duduk di sebelahnya.


Ray menatap Rafa dengan tatapan malas, kemudian langsung menoleh ke arah Ara, “sini aja Ra,” Ray sepertinya juga tak mau kalah dengan Rafa.


Rafa mendelik ke arah Ray, kemudian kembali memandang Ara, “apaan si ... sini aja sih!” gumam Rafa gusar.


“Gak, sini aja ra!”


“Gue duluan!”


“Apaan sih, orang gue duluan juga!”


Mereka saling berdebat, satu sama lain, memperebutkan sesuatu yang tidak begitu penting. Ara tertawa kecil melihat tingkah kekanakkan mereka.


Di sana, Fla hanya terlihat mendecap sembari menggelengkan kepalanya. Ara duduk di antara mereka berdua untuk menghindari keributan di antara mereka.


“Udah ah ... pada kayak anak kecil dah!” bentak Ara sembari tak berhenti untuk tertawa.


“Tau nih ...,” ucap Ray membenarkan perkataan Ara.


“Loe tuh!”


“Loe!”


Mereka masih saja memperebutkan sesuatu yang tidak penting.


Morgan langsung melancarkan aksinya untuk menarik tangan Ara.


“Udah, Ara sini biar saya pangku,” lirih Morgan yang tiba-tiba, sembari menarik tangan Ara untuk duduk dipangkuannya.


Wajah Ara berubah menjadi merah padam, membuat Ara menjadi kesal kembali pada Morgan.


Ara terduduk di sebelah Morgan, “apaan sih loe!” bentak Ara kesal.


“Ciee ....”


Mereka semua berusaha menggoda Ara dan juga Morgan, tak terkecuali Arash, kakak dari Arasha.


“Udah-udah! Ayo kita mulai permainannya!” ucap Fla yang berhasil membuat Ara menjadi bingung.


“Wait, permainan apa nih?” tanya Ara.


Mereka semua menoleh satu sama lain, sembari tersenyum jahat.

__ADS_1


“Putar shochu!” teriak mereka serempak.


Ara menganga kaget, karena kelemahannya adalah minum minuman beralkohol. Ara sungguh tidak bisa minum, walau hanya setetes.


Apa tujuan mereka melakukan hal seperti ini, untuk mempermalukanku? Pikir Ara.


*Shochu (焼酎 Shōchū) adalah sebutan untuk minuman keras asal Jepang yang kandungan alkoholnya lebih tinggi dari sake atau anggur, tetapi lebih rendah dari wiski.


“Gila ya semua!” sinis Ara.


Mereka menertawakan Ara. Terlihat Morgan dan Arash yang hanya diam tak bergeming. Arash tahu kalau Ara tidak bisa sama sekali untuk minum shochu. Jangankan shochu, untuk sake pun Ara tidak bisa.


“Takut, kah?” tanya Fla, yang membuat Ara menjadi tertantang.


Ara terlalu mudah untuk diprovokasi.


Ara mendelik, “enak aja!” tepisnya spontan.


Mereka semua semakin tertawa kencang.


“Ayo dong kasih tau,” tantang Fla.


Demi harga dirinya Ara akan mengikuti permainan ini, meskipun ini sangat sulit untuknya.


“Siap ....”


“Kak Arash sama Kak Morgan ikutan juga dong yuk ...,” ajak Fla pada mereka.


Ara yakin sekali, Morgan tidak akan mau untuk ikut permainan bodoh seperti ini.


“Oke,” jawab Morgan spontan.


Ara menganga kaget mendengar responnya.


Kenapa dia menyetujui yang mereka pinta? Hey Morgan, sadarlah! Pikir Ara.


“Ayo ajah sih,” sambung kakaknya menambahkan.


Tidak ada yang bisa Ara katakan lagi.


“Yang kalah, harus pilih, antara minum atau jujur,” jelas Rafa kepada semuanya.


Mereka pun mengangguk paham dengan penjelasan yang Rafa paparkan.


“Siap?”


“Siap!”


Botol mulai diputar searah jarum jaram. Semua mata tertuju pada arah gerak botol itu. Botol itu perlahan berhenti ke arah Ara, membuat Ara melotot kaget.


“Nah ....”


Tak sadar, Ara sampai menelan salivanya sendiri.


“Truth or dare?” tanya mereka serempak.

__ADS_1


Ara bingung untuk memilih jujur, atau menyanggupi tantangan dari mereka.


__ADS_2