Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bahaya Datang


__ADS_3

Mendengar semua yang Ilham katakan pada Arash, membuat Ara semakin sakit dibuatnya. Bukan sakit karena merasa dikecewakan, tetapi sakit karena ia sudah mengecewakan orang yang benar-benar menyayanginya.


Muncul perselisihan di hati Ara, membuatnya merasa terganggu saat ini.


'Biar bagaimana, dia yang udah bikin Morgan mutusin gue. Di sisi lain, harusnya gue juga bersyukur, karena Tuhan udah kasih lihat sisi terburuk Morgan. Bagusnya, Ilham tanggung jawab dengan hal yang sama sekali gak pernah dia lakukan. Jadi, aku harus gimana?' batin Ara yang sangat pro dan kontra mengenai Ilham dan Morgan.


Di luar kediaman Ara dan Ilham, sudah menunggu seorang gadis yang misterius, yang memakai topeng misterius, sedang menunggu di dalam mobil.


"Jadi ... dia sudah menikah?" gumam gadis itu, yang baru saja mendapatkan informasi mengenai Ara.


"Kenapa Morgan bisa menikahi Ara? Apa dia gak takut sama ancaman gue?" gumamnya dengan lirih, yang sepertinya sudah salah paham dengan keadaan.


Ia mengira bahwa Morgan yang sudah menikah dengan Ara. Namun, pada kenyataannya adalah Ilham yang sudah menikahinya.


Di sebelahnya, juga ada gadis yang memakai topeng yang sama, yang juga memiliki visi misi yang sama dengan gadis di sebelahnya.


"Jangan lupa untuk menghabisi cewek sialan itu!" bentaknya, membuat gadis bertopeng yang pertama tertawa kecil.


"Gak perlu loe suruh, gue juga udah muak sama cewek sialan itu!" bantahnya, membuat mereka sama-sama tertawa mendengarnya.


...***...


Ilham membuka matanya dengan sangat berat, karena merasa dirinya yang sudah sangat pegal, karena harus tertidur dengan posisi terduduk di sana. Merasakan pergerakan Ilham yang tiba-tiba, Ara yang masih berada di pelukannya pun segera membuka matanya juga.


Ilham yang masih setengah sadar, menoleh ke arah Ara yang masih berada di pelukannya.


"Ya ampun, mimpinya indah sekali. Bahkan terasa sampai saat ini, kalau dia masih ada di pelukan saya," gumam Ilham, membuat Ara tersadar dengan keadaan.


Ilham memejamkan matanya kembali dan kembali memeluk Ara dengan erat, "Mimpinya indah, sampai gak mau bangun dari tidur," gumam Ilham membuat Ara mendelik mendengarnya.


'Hah, dia pikir ini mimpi?' batin Ara yang kebingungan dengan yang Ilham pikirkan.


"Katanya, kita bisa lucydream? Bisa gak ya kita mikir kalau dia akan mencium saya?" gumam Ilham, yang terlihat seperti orang yang sedang mengigau.


Mendengar Ilham mengatakan demikian, Ara pun menelan salivanya dengan kasar. Ia mempersiapkan diri untuk mengecup pipi Ilham.


"Cupp ...."


Ara mengecup mesra Ilham dengan singkat, membuat Ilham mendelik kaget.

__ADS_1


"Hah?!" gumam Ilham dengan sangat kaget, membuat Ara menjadi lebih terkejut mengetahuinya.


"Bangun!" bentak Ara, membuat Ilham segera melepaskan pelukannya dari Ara.


Ilham memegangi pipinya, yang habis dikecup mesra dengan Ara. Ia sangat tidak percaya dengan Ara yang mencium dirinya.


"Ka-kamu nyium saya?" tanya Ilham dengan sangat malu, membuat Ara memandangnya dengan malas.


"Apa sih? Kapan? Kakak lucydream kali!" bantah Ara, membuat Ilham melongo kaget mendengarnya.


'Ah, masa iya saya beneran lucydream, sih?' batin Ilham yang aneh dengan dirinya sendiri.


Ara beranjak dari ranjangnya, membuat Ilham heran dengan yang akan Ara lakukan.


"Mau ke mana, Ra?" tanya Ilham penasaran, membuat Ara memandangnya dengan sinis.


"Mau mandi. Kenapa? Mau ikut?" tanya Ara dengan asal, membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.


Ilham menafikan wajahnya karena malu, "Kalau boleh," gumam Ilham lirih, membuat Ara mendelik mendengarnya.


"Apa, sih?" bentak Ara dengan sinis, membuat Ilham kembali memandang ke arahnya.


"Ayo cepetan! Keburu aku berubah pikiran!" pangkas Ara, membuat Ilham mendelik kaget mendengar ucapannya.


'Hah, ini masih lucydream, kah?' batin Ilham yang sangat terkejut dengan apa yang Ara ucapkan.


Tanpa basa-basi, Ilham pun mengikuti ke arah Ara melangkah, membuatnya menjadi canggung sendiri dibuatnya.


'Apa-apaan ini?' batin Ilham dengan heran bercampur kaget, membuatnya bingung setengah mati dengan yang Ara katakan.


Kini, Ilham sudah berada di dalam kamar mandi bersama dengan Ara. Ilham benar-benar sangat kaku dengan keadaan ini.


Ara menatap Ilham dengan tatapan datar, "Tolong bantuin bukain baju aku?" tanya Ara, yang memintanya dengan nada yang sangat terdengar malu.


Karena kandungan Ara yang sudah mulai membesar, ia sampai tidak bisa berbuat banyak dengan dirinya sendiri, bahkan untuk melepaskan kaos yang ia kenakan saja, terkadang harus butuh tenaga dan eforia yang besar.


"Glekk ...."


Ilham menelan kasar salivanya, membuat wajahnya panas, dan sangat malu dibuatnya.

__ADS_1


"Oke," gumam Ilham yang menyanggupi permintaan Ara.


Dengan sangat berhati-hati, Ilham segera membantu Ara untuk melepaskan kaos yang ia kenakan. Namun, Ilham sama sekali tidak menatap ke arah Ara, yang saat ini tidak memakai busana.


Ara memandang Ilham yang terlihat sedang menutup matanya. Ara tersenyum tipis melihat ekspresi Ilham yang sepertinya sangat gugup melihat dirinya tidak memakai baju.


"Tolong bantu aku naik ke bath tub," pinta Ara, membuat Ilham memegang tangan Ara dan membantunya menaiki bath tub.


Ara merasakan tangan Ilham yang gemetar, sembari tetap memejamkan matanya. Setelah selesai membantu Ara, Ilham segera menutup tirai, membiarkan Ara untuk berendam dengan tenang.


"Ka-kamu di sini dulu. Nanti kalau sudah, panggil saya aja, ya," gumam Ilham yang sangat ragu.


"Kak Ilham di sini aja," ucap Ara, membuat sekujur tubuh Ilham merasa sangat kaku.


"Glekk ...."


Ilham lagi-lagi menelan salivanya dengan kasar.


"Baiklah," gumam Ilham, yang lalu menunggu Ara di luar tirai.


Ara hanya bisa memandangi langit-langit kamar mandi, karena dirinya merasa sangat aneh. Ia tidak mau jika terus diperlakukan manis oleh Ilham, tetapi ia tidak bisa jika tanpa Ilham di sisinya.


Saat ini, Ara benar-benar sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.


"Kak Ilham," pekik Ara.


"Saya di sini," jawab Ilham, sembari memandang handphone-nya.


"Menurut Kak Ilham, apa tujuan kita untuk hidup?" tanya Ara, yang merasa sudah buntu memikirkannya.


"Berkembang biak," jawab Ilham asal, karena fokusnya yang ia tujukan ke layar ponselnya, karena ia sama sekali tidak ingin membayangkan yang macam-macam tentang Ara yang saat ini sedang berada di dalam bath tub.


Mendengar jawaban Ilham yang terdengar asal, Ara sangat merasa tersinggung dengan jawabannya.


'Masa tujuan hidup untuk berkembang biak? Memangnya kita hewan, yang cuma bisa berkembang biak?' batin Ara yang sangat kesal mendengar jawabannya.


"Gak ada yang lain, gitu?" tanya Ara.


"Tentu saja mencintai orang yang kita cinta," jawab Ilham lagi, membuat Ara terdiam sejenak.

__ADS_1


"Walaupun orang itu gak cinta sama dia?" tanya Ara, membuat Ilham menjadi sadar dengan kata-kata Ara, yang ditujukan untuknya.


__ADS_2