
Kim menatap mata Rafa dengan tatapan dalam. Ia tak menyangka, kalau Rafa akan berkata demikian. Hal itu sedikit banyaknya membuat Kim tertawa kecil ke arahnya. Selain karena perkataannya yang lucu, gerak-gerik Rafa yang tidak berani memegang tangan Kim, juga membuat Kim tertawa.
Rafa mendelik, karena tidak paham dengan reaksi Kim yang hanya tertawa setelah mendengar dirinya berbicara.
“Lho, Kak Kim kenapa ketawa? Aku lagi gak main-main, lho,” tanya Rafa, membuat Kim menghentikan tawanya.
“Di Korea, usia legal laki-laki untuk menikah itu 22 tahun,” ucap Kim, membuat Rafa mendelik.
“November kemarin, aku sudah 22 tahun,” ucap Rafa, membuat Kim berhenti tertawa.
Kim tidak menyangka, bahwa Rafael sudah berusia 22 tahun. Ia berpikir, Rafael baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas, dan masih berusia sekitar 19 tahun. Tak disangka, Rafael sudah berusia 22 tahun.
“Apa?” lirih Kim, tak percaya dengan yang Rafa ucapkan.
“Ya, aku ngomong jujur. Mau lihat KTP-ku?” ucap Rafa membenarkan perkataannya.
Kim mendelik, “gak perlu. Bagaimana mungkin?” tanyanya yang masih tak percaya degan perkataan Rafa.
Rafa tersenyum, “aku udah lama lulus SMA. Pasti kamu mikir aku masih usia belasan, kan?” tanya Rafa membuat Kim mengangguk kecil.
“Tapi, usia aku lebih tua daripada kamu. Apa kamu tidak malu?” tanya Kim, membuat Rafa melontarkan senyum padanya.
“Aku udah suka sama kamu, sejak awal kita ketemu. Soal usia hanyalah angka, aku gak mempermasalahkan itu,” ucap Rafa, berusaha untuk meyakinkan Kim tentang perasaan yang ia rasakan.
Kim tidak mempunyai alasan untuk menolak Rafa. Apalagi, Rafa sudah berkata akan membuatnya bahagia, dan dirinya yang memang ingin sekali menghindari perjodohan dari orang tuanya, semakin membuat Kim tidak bisa menolak Rafa.
__ADS_1
Rafa menatapnya dengan dalam, membuat Kim menafikan pandangannya dari Rafa.
“Aku punya niat baik, untuk menjalin hubungan yang serius sama kamu,” ucap Rafa, membuat Kim menoleh ke arahnya, “apa kamu mau, menikah dengan aku?” tanya Rafa dengan suasana yang sangat romantis di malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang.
Kim menatap mata Rafa, yang di dalamnya terdapat ketulusan yang sangat berarti baginya. Ia tidak bisa berkata apa pun lagi, kata-kata Rafa kali ini sudah benar-benar membuat Kim kehilangan akal sehat.
“Gimana?” tanya Rafa lagi, untuk meyakinkan Kim.
“Ki-kita baru aja kenal, kan?” tanya Kim, membuat Rafa tertawa kecil.
“Ya, kita memang baru aja kenal. Tapi entah kenapa, perasaan aku ini sudah sangat mantap. Aku gak mau mainin perasaan wanita, dengan janji-janji manis yang terus terlontar dari mulut aku. Aku mau serius sama kamu, buat menjalani bahtera rumah tangga sama kamu,” ucap Rafa, membuat mata Kim seketika membulat sempurna.
Ia tidak pernah mendengar kata-kata seperti ini, saat ia bertemu dengan semua laki-laki di Negara asalnya. Bagi Kim, mereka semua sama saja, hanya ingin main-main dengan yang namanya bercinta.
Ini adalah kali pertama, Kim mendengar perkataan itu dari laki-laki seperti Rafa. Dengan masa lalu Kim yang sangat suram, membuatnya tidak ingin menerima perjodohan dari orang tuanya.
Kim adalah anak dari CEO yang mempunyai nama yang cukup familiar di telinga orang yang berada di wilayah mereka. Karena dirinya yang sempat salah jalan, dan hanya dijadikan mainan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab padanya, membuat Kim menjadi sangat frustrasi untuk menjalani kehidupan percintaan lagi.
Ia terus mengurung dirinya di kamar, dengan tidak melakukan apa pun.
Orang tuanya merasa sangat iba dengannya, karena di usianya yang sudah menginjak angka 28 tahun itu, anak gadisnya sama sekali tidak ingin memulai kisah percintaan kembali, setelah mendapatka pelecehan seperti itu oleh mantan kekasihnya.
Orang tua Kim berniat untuk menjodohkannya dengan seorang CEO yang juga terkenal seperti mereka, yang tak lain adalah rekan bisnis mereka, agar anaknya tidak merasakan sakitnya dihianati lagi.
Hanya saja, usia laki-laki itu sangat jauh di atas Kim. Usianya bahkan hampir menyaingi usia ayahnya pada saat itu. Kim tidak ingin menyia-nyiakan masa mudanya, hanya untuk mengurus laki-laki paruh baya yang sebaya dengan ayahnya itu.
__ADS_1
Karena ada satu atau dua hal, yang mampu membuat Kim bertekad untuk pergi dari sana sejauh mungkin.
Keberuntungan berpihak padanya, profesinya sebagai pelukis terkenal di Negaranya, membuat dirinya mendapatkan beasiswa untuk menjadi seorang pengajar lukis, yang akan disalurkan ke Negara lain.
Merasa tidak ingin membuang-buang kesempatan, dengan segera Kim mempersiapkan seluruh berkas yang diperlukan untuk keberangkatannya menuju ke Indonesia.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan Rafa, untuk pertama kalinya. Dan di saat yang bersamaan, ia juga melihat seorang yang sangat mirip dengan masa lalunya. Ia seperti melihat mantan kekasihnya, ketika ia melihat sosok Morgan, yang saat itu ada di hadapannya.
Hal itu yang membuatnya menyukai Morgan, karena ia masih belum bisa lepas dari bayang-bayang mantan kekasihnya, yang sudah mempermainkan cintanya itu.
Tapi ia lekas sadar, karena saat itu Rafa berusaha mendekati dirinya. Awalnya, ia tidak ingin membuka hatinya pada Rafa, karena seperti yang kita ketahui, Kim masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Tapi, berhubung ia sedang berada di Negeri orang, membuatnya sedikit banyaknya harus memanfaatkan Rafa sebagai satu-satunya orang yang ia kenal di Negara ini.
Entah bagaimana bisa kejadian bisa seperti ini. Rafa akhirnya menyatakan perasaannya pada Kim, dan berniat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Hal itu membuat Kim menjadi terkesima dengan perkataan Rafa, apalagi Rafa sudah benar-benar menyukai Kim.
Saat ini, laki-laki yang berada di hadapannya ini, sedang menunggu jawaban dari pernyataannya. Perasaan Kim saat ini sangat sulit untuk dijelaskan. Di satu sisi ia belum ingin membuka hatinya, di sisi lain ia sangat tersentuh dengan perkataan tulus yang keluar dari mulut Rafa.
“Gimana, ya? Aku sudah cerita semuanya yang aku sembunyikan selama ini ke kamu. Masa lalu, permasalahan, persoalan, depresi dan lain sebagainya, sudah aku ceritakan. Ya, seperti yang kamu tahu, aku ini bukan wanita baik-baik,” ucap Kim yang sudah sangat malu untuk melihat ke arah Rafa.
“Sini, lihat ke aku,” ucap Rafa, saking tidak ingin menyentuh Kim.
Kim pun melihat ke arah Rafa.
“Kalau aku udah buat keputusan untuk seriusin kamu, kamu gak perlu pertanyain hal-hal yang gak penting lagi. Aku terima kamu apa adanya, gak masalah kamu wanita yang seperti apa di masa lalu. Bagi aku sekarang, kamu itu ya kamu yang sekarang, bukan kamu dengan masa lalu yang kelam seperti dulu,” ucap Rafa sukses membuat air mata Kim menggenang di pelupuknya.
Kebahagiaan ternyata sesederhana itu, jika bertemu orang yang memang benar-benar tepat untuknya. Tak peduli masa lalumu seburuk apa, jika ia jodohmu, tidak akan ada yang bisa menentangnya, bahkan dirimu sendiri pun tidak bisa menentang itu.
__ADS_1
...***...