Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Flashdisk, Ehh ...


__ADS_3

-FLASHBACK ON-


Ara selalu bahagia dengan kehadiran laki-laki itu di sisinya. Ia tak pernah bosan memandang setiap sisi dari dirinya.


Ara melipat kedua tangannya dan menyandarkan rahangnya di atasnya.


Satu senyuman mengembang di pipi Ara, sesaat setelah ia melihat ke arah kamera yang sedang laki-laki itu pegang.


Setiap liburan akhir pekan, mereka selalu menyempatkan diri untuk berlibur, atau hanya sekadar jalan-jalan saja. Di setiap perjalanan, tentunya Ara sangat menikmati berfoto bersamanya. Ara tak pernah bosan, saat laki-laki itu meminta Ara untuk terus mengganti gaya berposenya.


“Ckrek ….”


Satu foto berhasil diambil.


“Yuk, ganti gaya dong …,” pinta laki-laki itu, membuat Ara berpikir tentang gaya apa yang harus ia pakai.


“Gimana?” tanya Ara yang Nampak bingung dan seperti sedang kehabisan ide.


“Yah gimana aja terserah, loe gaya apa juga udah cantik, kok,” ucapnya membuat Ara tersipu malu.


Ara berusaha mencari gaya yang cocok dengannya, tentu saja menghindari kesamaan gayanya dari yang sebelumnya.


Ara tersenyum, sembari memejamkan matanya, membuatnya terlihat sangat manis, dengan background bunga berwarna-warni di sekitarnya.


“Tahan … satu …,” ucapnya.


Laki-laki itu tersenyum, dan menghampiri Ara yang sedang duduk lima meter di hadapannya.


“Dua …,”


Ia mencubit pelan pipi Ara, “tiga ….”


“Ckrek ….”


Ia berhasil mengambil hasil foto dirinya yang sedang menjahili Ara, lalu mengibaskan kertas foto itu untuk mengetahui hasil jepretannya.


“Ih … iseng aja,” gumam Ara dengan lirih, membuat laki-laki itu hanya bisa tersenyum ke arahnya.


Mereka melihat hasilnya secara bersamaan.


“Wahh ... foto loe emang gak ada duanya. Setiap foto yang gue ambil, pasti bagus,” ucapnya yang terdengar seperti sedang memuji, membuat Ara sedikit tersipu malu.


“Tentu aja, karena modelnya gue, kan?” ucap Ara yang memperjelas keadaan.


Laki-laki itu hanya mengusap-usap rambut Ara, sembari tersenyum simpul.

__ADS_1


“Haus gak?” tanyanya, Ara mengangguk kecil.


“Tunggu ya ... gue beli minum dulu,” ucapnya membuat Ara mengangkat hormat tangannya.


“Siap bos.”


Ara tersenyum hangat padanya. Sang kekasih langsung pergi meninggalkannya sendiri di sana, untuk membeli minuman untuk Ara.


Saat itu, Ara merasa beruntung sekali memiliki laki-laki seperti dirinya, yang selalu memberi pengertian kepada Ara.


Teringat tentang hasil foto yang sudah mereka ambil dengan kamera yang lainnya, yang tergeletak di dekat Ara.


Ara meraih kamera itu, dan melihat kembali hasil foto yang diambil oleh kekasihnya itu. Ara tersenyum setiap melihat foto dirinya bersama kekasihnya.


Tak lama kemudian, Ara masih saja berfokus kepada foto yang ia lihat di lensa kamera. Ia masih tidak bosan untuk melihatnya, membuat senyumannya terus-menerus mengembang, setiap menggeser slide demi slide yang ada.


“Hayo … kenapa senyum sendiri ...,” goda laki-laki itu, yang ternyata sudah duduk di hadapan Ara.


Ara melontarkan senyuman hangat padanya.


“Ihh … apa sih,” gumam Ara lirih, sembari menahan rasa malunya.


Terlihat ia sedang memegang dua eskrim. Ia menyodorkan satu eskrimnya pada Ara.


Ara mencolek es krim itu, dan mengusapnya pada hidung laki-laki itu. Ia terlihat kaget, kemudian tertawa karena perilaku Ara.


Mereka berdua tertawa bersama, dan mulai menjilati es krimnya.


“Loe gak bosen sama gue kan, Ra?” tanyanya yang berhasil membuat Ara menghentikan aktivitasnya.


Ara melotot kaget ke arahnya.


Kenapa dia mengatakan seperti itu? Apa aku terlihat tidak bahagia bila bersamanya? Pikir Ara.


Ara mengerenyitkan dahinya, “what do you mean?” tanya Ara, tapi ia hanya tersenyum seperti tidak terjadi apa pun.


“Hihi ... kenapa sih?” tanya laki-laki yang bernama Reza, dengan nada yang sangat jahil.


Ara malah terbawa suasana, “jelasin yang loe maksud tadi tuh apa!” bentak Ara.


Reza mengubah posisinya, menjadi berbaring di atas paha Ara. Ia menjilati es krim yang tersisa. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun.


Ara menahan emosinya.


Reza tiba-tiba saja mengangkat sebelah tangannya ke atas, sembari memandanginya. Ara yang penasaran, jadi ikut memandangnya.

__ADS_1


“Gue Cuma ... sedang tidak percaya diri aja,” ucapnya, membuat Ara kembali melihat ke arahnya.


Orang yang selalu ada untuk Ara, selalu menyemangati Ara di saat Ara jatuh dan terpuruk, orang yang tetap tersenyum meski dalam keadaan sulit, orang yang bahkan tidak pernah berani menyentuh Ara, lebih dari batas wajar, sekarang memberitahukan sisi kelemahannya.


Ara merasa, dia adalah laki-laki yang spesial. Dia tidak ingin membebankan pikiran orang yang mencintainya.


“Tess ….”


Air mata Ara tiba-tiba saja jatuh tanpa ia sadari, dan jatuh tepat di pipi Reza. Ia mendadak menatap Ara dengan tatapan khawatir.


Sebenarnya, Ara tidak ingin membuat Reza khawatir. Ara pun tidak sengaja meneteskannya.


“Siapa yang nyuruh loe buat nangis?” tanyanya dengan nada yang terdengar seperti khawatir.


Ara semakin terenyuh karenanya, air mata mulai deras membanjiri pipinya.


“Ehehe udah dong ... kena pipi nih,” Reza mengajak Ara untuk bercanda, tapi dengan suasana hati Ara yang masih memikirkan ucapan Reza tadi, membuat leluconnya sama sekali tidak lucu bagi Ara.


Ara menutup wajahnya dengan lengannya.


“Senyum, dong,” lirihnya membuat Ara terdiam dan menghentikan tangisannya.


Ada firasat yang mengatakan tentang sesuatu yang tidak pernah Ara inginkan. Ara melihat wajah Reza yang mempunyai ciri khas itu.


“Gimana gak nangis? Loe kayak gini tuh … seakan-akan loe pengen pergi jauh dari hidup gue. Maksudnya apa loe ngomong kayak gitu?” tanya Ara, membuat Reza menghela napasnya dalam.


“Loe nanya gue bosen atau engga, apa jangan-jangan, loe yang bosen sama gue ya?” ucap Ara dengan sinis.


Reza mengerenyitkan dahinya. Ia mendadak bangkit dari posisinya yang sedang terbaring di atas paha Ara, kemudian duduk di hadapan Ara.


Reza langsung melahap habis sisa es krim yang baru saja ia makan. Ia terlihat sedang mengambil sesuatu.


“Minum dulu. Nanti haus,” tawarnya sembari menyodorkan botol air minum kepada Ara.


Ara hanya diam, karena merasa bingung dengan sikap Reza yang bisa setenang itu. Padahal, Ara yang mendengarnya saja sampai menangis tersedu seperti itu.


“Bisa-bisanya ya, loe tenang begini? Gue tuh sedih tau!” bentak Ara.


Reza memandang ke arah Ara dengan lekat, dan tiba-tiba saja Reza menyentuh lembut hidung Ara.


“Gak usah khawatir gitu ah. Gue gak akan ninggalin loe kok,” sanggahnya yang berusaha membuat Ara percaya pada perkataannya.


Satu senyuman mengembang di pipi Ara. Ara senang mendengar ucapan Reza tadi. Tapi, Ara masih belum bisa sepenuhnya merasa tenang, dengan perasaan yang aneh yang mengganggu Ara sejak tadi.


Ara memandang Reza dengan lekat, “janji, loe gak akan ninggalin gue?” tanya Ara, membuat Reza mengangguk sembari tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


__ADS_2