
Ara mengelus kedua sisi lengannya yang dingin karena tertiup angin malam.
Ia berusaha mencari Morgan kembali. Tapi, Ara merasa kalau semakin lama semakin jelas sekali ada yang mengikutinya dari arah belakangnya.
Ara mulai melangkah agak cepat, karena dirinya sudah mulai takut dengan keadaan saat ini.
‘Duh … siapa sih?’ batin Ara yang agak khawatir dengan keadaan.
Ia mengirimkan pesan singkat lagi kepada Morgan.
“Kamu di mana? Aku lagi nyari kamu nih. Perasaan aku gak enak, ada yang ngikutin aku terus dari tadi. Aku nyari kamu jalan kaki, aku gak tau harus gimana lagi.”
Ara mengetik pesan singkat dengan sangat takut. Ia berusaha mengatur napasnya berulang kali, dan bergegas mempercepat langkah kakinya.
Semakin lama, suasana menjadi semakin mencekam. Apalagi suasana di belakang Ara saat ini.
Ara sudah semakin takut.
Terlintas di pikirannya, aku harus membagikan lokasi terkiniku kepada Morgan. Aku ingin agar Morgan mengetahui kalau diriku sedang dalam bahaya.
Ara membuka handphone-nya kembali, dan mengirim lokasi terkini keberadaan dirinya. Ara membagikannya selama 8 jam, karena khawatir Morgan tidak bisa menemukannya dalam waktu satu jam ke depan, jika benar sampai terjadi sesuatu dengan dirinya.
‘Ya ampun, mudah-mudahan gue gak kenapa-napa. Siapa sih, orang iseng yang bikin gue merinding malem-malem?’ batin Ara ketakutan.
Ara berusaha tidak mempedulikan arah belakangnya.
Ia melangkah jenjang ke depan, tanpa mempedulikan siapa yang sudah mengikutinya sejak tadi.
Tiba lah Ara di suatu sudut jalan. Ia melewati sekelompok orang yang sedang duduk di jalan yang sepi ini.
Ara telah aman dari orang sebelumnya, yang mengikutinya. Ara berusaha menenangkan diri, dan bersikap baik-baik saja.
Sekelompok orang itu memperhatikan Ara dengan dalam, membuat Ara agak berjaga-jaga ketika melewati mereka.
“Eh ... tuh ...,” ucap salah seorang dari mereka.
Ara mendelik. Ia mengira, dirinya akan aman dari orang yang sudah mengikutinya tadi.
Tapi ternyata, Ara justru tidak aman karena sudah bertemu dengan sekelompok orang tidak jelas itu.
Mereka menghadang jalan Ara, dengan memutari semua sisi Ara. Ara yang kaget, tidak tahu akan berbuat seperti apa.
Yang ada di pikiran Ara saat ini, hanya Morgan.
Apakah dia bisa menolongku? Aku benar-benar sangat takut kali ini, pikir Ara.
Ara mendelik takut, mencoba untuk menerobos sisi yang renggang di sebelah mereka.
Salah satu dari mereka menghadang jalan Ara, “eit ... cantik, buru-buru amat. Mau kemana sih?” ucapnya, menggunakan nada yang sangat jahil.
Jantung Ara sampai berdebar, karena takut mereka berbuat macam-macam kepadanya.
__ADS_1
Ara mulai tidak tenang.
Ara mendelik, “siapa kalian?!” tanya Ara dengan sinis.
Mereka melontarkan senyuman jahil kepada Ara, membuat Ara semakin tidak bisa menahan rasa takut ini.
“Mau kemana cantik? Mau kita antar gak?” tanyanya, sembari memegang rambut Ara, dan sesekali menciuminya.
Ara mendelik, berusaha menarik rambutnya dari orang tersebut hingga terlepas.
“Gak usah pegang-pegang gue!” ucap Ara dengan nada mengancam.
Laki-laki yang sedari tadi membuntuti Ara, melihat kejadian itu dengan sangat geram. Ia mendelik, ingin rasanya untuk menolong Ara.
Mereka masih tetap tidak mau diam, dan terus menggerayangi sekujur tubuh Ara, hingga tak segan untuk menyentuhnya.
Ara berusaha menghalangi mereka sebisa mungkin. Ara tidak ingin, tangan kotor mereka menyentuh setiap sisi dari tubuhnya.
“Galak amat sih ...,” mereka terus-menerus menyentuh setiap sisi dari tubuh Ara, sampai Ara tidak tahan lagi dengan mereka.
“Gak usah pegang-pegang!”
“Plaaakkk ....”
Ara menampar salah seorang dari mereka, yang kelihatannya adalah bos mereka. Ekspresinya seperti tidak terima, karena Ara yang sudah menampar pipinya itu. Ia langsung melotot ke arah Ara.
“Dasar perempuan ********!” Amarahnya memuncak, ia terlihat melayangkan tangannya ke arah wajah Ara.
Laki-laki itu mendelik, karena preman yang ingin menyentuh Ara dengan tangannya.
“Hah?” lirihnya, yang segera berlarian ke arah Ara, namun langkahnya terhenti, karena melihat seseorang yang sudah menahan tangan preman itu, lebih dulu.
Ia segera menghindar, dan kembali melihat ke arah kerumunan orang itu, dari kejauhan.
“Shitsureina koto wa shinaide kudasai!” ucap seseorang yang tidak asing di telinga Ara.
(Shitsureina koto wa shinaide kudasai \= Jangan kasar).
Mendengar suaranya, Ara menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat laki-laki Jepang itu, sedang menahan tamparan dari para preman itu. Ara terdiam tanpa kata. Ia hanya bisa memandang pemandangan langka ini.
‘Untung saja orang asing itu datang tepat waktu,’ batin pria misterius itu, yang sangat bersyukur dengan waktu yang tepat itu.
Ara mendelik, tidak kusangka, Tuhan masih begitu baik padaku dengan mengirimkan bantuan di saat sulit seperti ini. Aku sangat bersyukur, pikir Ara.
“Ciihh ….” Preman itu meludah dengan kasar di hadapan pria Jepang itu.
“Gak usah sok jadi pahlawan!” bentak orang itu.
Preman itu sekuat tenaga melepaskan cengkeraman tangan laki-laki Jepang itu, dengan kuat, sampai dia hampir terhempas ke arah samping.
__ADS_1
“Please step aside!” suruhnya pada Ara.
Ara mengangguk paham, dan segera berlari menuju tempat yang aman.
Ara menjauhi keramaian tersebut. Entah bagaimana jadinya laki-laki Jepang itu melawan para preman itu.
Ara hanya berjongkok meringkuk, di atas aspal pinggir jalan.
Ia sangat ketakutan, bahkan sampai tidak ingin melihat ke mana pun. Ara hanya meringkuk menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
Terdengar suara mereka yang sangat ribut saat bertengkar, membuat Ara sedikit takut karena tiba-tiba saja teringat kejadian saat Arash sedang ribut besar dengan ayahnya.
“Jangan lagi …,” lirih Ara yang merasa ketakutan dengan keadaan.
“Trass ….”
Ara mulai terusik dengan seseorang yang menyoroti lampu ke arahnya. Ara mencoba melihat siapa yang berani melakukan ini. Ara mulai melihat ada yang turun dan bergegas berhambur ke arahnya.
“Ara!” pekiknya dengan nada cemas.
Ara mendelik, karena baru menyadari, bahwa dia adalah Morgan.
“Tes ….”
Air mata Ara sudah mengalir deras, saking takutnya dengan keadaan.
“Morgan!”
Ara bangkit dan berusaha mendekatinya.
Ara pun memeluknya dengan sangat erat.
Aku saat ini, adalah aku yang pengecut. Aku begitu takut dengan semua kejadian yang aku alami tadi. Aku tidak tahu seperti apa jadinya kalau tidak ada laki-laki itu yang menolongku, pikir Ara.
“Ra, kenapa bisa begini sih?” tanyanya dengan lemas.
Ara tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia sudah tidak bisa berbicara apa pun lagi, saking lemasnya tubuhnya.
“Ayo, kita pulang,” ajak Morgan.
Ara berusaha memberitahu Morgan, bahwa ada seseorang lagi yang membutuhkan bantuan. Tapi kekuatannya kini, sudah tidak cukup lagi untuk sekedar berbicara.
Ara hanya melihatnya dari kejauhan, dia disergap oleh beberapa orang dan dipukuli dengan kerasnya. Membuat air mata Ara tak sadar terjatuh dengan sendirinya.
Ara tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
‘Terima kasih, dan maaf,’ batin Ara sembari melangkah masuk ke dalam mobil Morgan.
Aku tidak tahu akan terjadi hal buruk apa dengannya. Aku hanya bisa berharap, tidak ada sesuatu yang akan terjadi padanya, pikir Ara.
...***...
__ADS_1