Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ara Hilang!


__ADS_3

Ara berjalan menyusuri jembatan pelangi yang terlihat sangat indah. Ternyata, Ara sudah berjalan sejauh ini. Kira-kira, sekitar 6 km dari Hotel Sangri-La Tokyo, tempat mereka menginap.


Karena dirinya sudah mendengar percakapan Morgan bersama wanita lain, di kamar sebelahnya, Ara sampai sedih bercampur kesal, dan kemudian pergi tak tentu arah.


Untung saja dirinya memegang handphone, jadi ia bisa melihat pemandangan sekitar melalui map untuk menuntun jalan.


"Morgan lagi bicara sama siapa sih? Ngomongnya mau beli makan malam, tapi kok dia malah ngobrol sama cewe lain?" lirih Ara dengan nada yang sangat sendu.


Ara tidak sadar berjalan dan hanya mengandalkan map di handphone-nya. Kelap-kelip di jembatan pelangi ini, membuat Ara tertarik untuk melihatnya dari dekat. Ara pun mendekati parkiran motor yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Wah ... bagus banget jembatannya di sini," gumam Ara, sembari berjalan dan menikmati pemandangan malam ini.


"Brakkk ...."


"Eh ...."


Ara terkejut, karena merasa tak sengaja menabrak seseorang. Tak sekeras itu, tapi lumayan membuat lengan Ara menjadi sakit.


"Ara!" pekiknya yang terdengar sangat senang.


Ara pun melihatnya dengan seksama karena minimnya penerangan di sini.


"Siapa sih?" gumam Ara, yang masih tetap berusaha memperhatikannya.


Ara mengerenyitkan dahinya, seperti tak asing bagiku, pikir Ara.


Ara pun mendelik, "Hatake!" pekik Ara yang langsung berhambur memeluknya.


Ara sangat senang karena bisa bertemu dengan Hatake di tempat ini.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ara, saking senangnya melihat Hatake di sini.


Mereka pun saling melepaskan pelukan.


"Tidak ada. Hanya berjalan-jalan saja," jawabnya.


Ara memandangnya dengan lekat, aku sangat senang bertemu dengannya. Ternyata, dunia bisa begitu sempit sekali untuk kami, pikir Ara.


"Aku gak sangka kamu bakal ke sini juga," ucap Hatake yang terlihat juga sangat senang dengan keberadaan Ara.


"Ya, Aku juga gak nyangka akan ke sini," jawab Ara.

__ADS_1


'Aku hanya diajak dengan kekasihku,' batin Ara menjawab, tidak mungkin juga ia mengatakan itu padanya.


"Kamu tahu tidak, pemandangan malam di sini sangat indah," ucapnya sembari melihat dan menunjuk ke arah hadapannya.


Ara pun melihat ke arah yang ia tunjuk.


Ara tersenyum, "ya, aku juga berpikir demikian," jawab Ara, tiba-tiba Ara mengingat sesuatu, "oh ya, rumah kamu deket dari sini?" tanya Ara, membuat Hatake mengangguk kecil.


Ara mengerenyitkan dahinya, "kenapa malam-malam seperti ini kamu pergi sendirian?" tanya Ara lagi.


Hatake mendadak terlihat mellow, saat Ara bertanya demikian.


Apa ada sesuatu yang terjadi? Pikir Ara yang tak tega melihat ekspresinya.


"Hey, kenapa kamu terlihat sedih? Apa yang terjadi pada mu?" tanya Ara, tapi ia hanya diam tak bergeming.


Ara memandangnya semakin lekat, "siapa tau, aku bisa jadi tempat kamu buat curhat," tambah Ara.


Hatake terlihat seperti sedang menguatkan dirinya sendiri, membuat Ara semakin iba melihatnya.


"Ibu aku sakit. Hatiku sangat hancur mendengarnya. Itulah sebabnya aku langsung terbang ke Jepang. Aku sangat menyayangi ibuku," lirihnya menjelaskan tentang yang terjadi.


Ara jadi sedikit iba dan juga sedikit merindukan sosok seorang ibu. Hatinya tersentuh sesaat setelah mendengarnya.


Hatake menoleh ke arah Ara dengan pandangan seperti orang yang bersalah. Ara yang menyadarinya langsung menyeka air matanya yang tiba-tiba saja keluar dari pelupuk matanya.


"Maafkan aku, aku gak maksud untuk--"


"Gak apa-apa, kamu kan gak tau," potong Ara yang berusaha tegar dengan keadaan.


Tapi mendengar ibunya jatuh sakit seperti itu, dan mendengar kalau dia sangat menyayangi ibunya, membuat hati Ara terenyuh.


Tak bisa aku pungkiri, aku rindu Ibu, pikir Ara.


Tangis Ara pecah, saat ia berusaha menahan air matanya. Ara tak sadar dengan air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya.


Ara menutup matanya dengan kedua tangannya. Ara tak kuasa dilihat oleh siapa pun.


Pasti wajahku saat ini sangat jelek, bukan? Pikir Ara.


"Ara!" pekik seseorang tiba-tiba, yang terdengar lumayan jauh jaraknya.

__ADS_1


Ara menoleh, dan memandangnya dengan air mata yang bercucuran deras.


Di sana ada Morgan yang sedang berdiri di hadapannya. Ia seperti kelelahan, dan seperti sedang menangis.


Ara mendelik, apa yang aku lakukan di sini? Pasti Morgan sangat khawatir dengan keberadaanku, pikir Ara yang bahkan sudah melupakan kejadian tadi.


Morgan menyergapnya, dan langsung memeluk Ara dengan sangat erat. Morgan mungkin saja sangat menghawatirkan Ara.


Ara pun menangis di pelukannya pada malam yang indah ini. Tubuh Morgan sangat cocok memakai jaket yang Ara hadiahkan untuknya. Ternyata, dia sudah memakai jaket itu. Ara senang sekali melihatnya.


Morgan memeluk Ara dengan erat dan tanpa sadar, ia sudah membasahi jaket yang sedang Morgan kenakan.


"Kamu gak apa-apa? Saya kira kamu diculik," lirih Morgan.


Ara menggeleng kecil, lalu melepaskan pelukan Morgan.


"Aku cuma kesal sama kamu," gumam Ara, membuat Morgan mendelik.


"Kesal kenapa?" tanya Morgan, membuat Ara terdiam dan menggeleng seketika, tak mau Morgan tahu dengan apa yang ia rasakan.


Ara mengedarkan pandangannya, mencari-cari keberadaan Hatake. Tapi, tidak ada sama sekali dirinya di sekitarnya.


Ara mengerenyitkan dahinya, apa aku sedang berhalusinasi? Ah ... tidak mungkin senyata itu. Apa mungkin, dia tidak mau kalau sampai bertemu dengan Morgan? Aku harus menutupi kejadian yang sebenarnya kalau itu memang maunya, pikir Ara.


Morgan memandangnya dengan lekat, "maaf, saya sudah bersikap dingin sama kamu. Terima kasih untuk hadiahnya. Saya suka banget," lirihnya membuat hati Ara menjadi tenang, karena Morgan bisa mengungkapkan perasaan padanya.


Ara tersenyum, karena merasa sudah sangat bahagia mendengar Morgan berkata demikian.


"Aku cinta kamu, Arasha," gumam Morgan dengan lirih.


Mendengar ucapan itu dari Morgan, Ara lantas mempererat pelukannya karena Morgan yang mengatakan hal manis yang membuat Ara makin mencintainya.


"Terima kasih," gumam Ara lirih, membuat Morgan menghela napasnya panjang.


'Jadi ini yang dimaksud surat, yang ada di kertas kecil dalam bingkisan itu?' batin Morgan, yang sudah mengerti dengan arti tulisan yang ada di kertas itu.


"Lain kali, jangan pergi sendirian. Tunggu saya pulang," ucap Morgan sembari melepaskan pelukannya.


Ara merasa bersalah pada Morgan, dan hanya diam menunduk walaupun sebenarnya Ara juga merasa kesal dengan yang Morgan lakukan bersama wanita lain di sebelah ruangan kamar hotelnya.


"Maaf," ucap Ara dengan lirih.

__ADS_1


Morgan menatap Ara dengan tatapan dingin. Ia menghela napas panjang karena sikapnya yang memang tidak bisa berubah. Ara pun menatap Morgan dengan lekat.


Aku menyadari sesuatu. Walaupun dia dingin dan cuek, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia selalu memperhatikanku, pikir Ara.


__ADS_2