
Gadis yang baru masuk itu, ternyata adalah Farha. Ara langsung menoleh ke arahnya.
“Lho, sama siapa loe ke sini, Far? Perasaan gue gak denger ada suara mobil deh,” tanya Ray, membuat Farha melontarkan senyuman tak enak padanya.
‘Oh my god, masa sih pendengaran Ray setajam itu? Padahal kan di lagi main game,’ batin Farha yang merasa bimbang dengan pertanyaan Ray.
“Oh ya tadi, dianter taksi sampai depan gang komplek,” ucap Farha, membuat Ray mengangguk.
“Lah, bisa masuk? Emang gak dikunci?” tanya Fla yang bingung dengan kehadiran Farha.
“Enggak kok, tadi gue liat pintunya kebuka. Terus gue masuk aja deh,” jawabnya.
Ara langsung menoleh dan memandang sinis ke arah Rafael, karena Rafa lah yang membuka pintunya tadi. Rafa seperti orang yang sedang kebingungan.
“Apa?” tanya Rafa dengan nada bingung dicampur takut.
Ara tidak jadi marah pada Rafael karena sebelumnya ia sudah berbaik hati memberikannya keripik kentang yang lumayan banyak, untuk stok selama satu minggu ke depan.
Ara berusaha menghela napasnya dalam-dalam. Mereka terlihat sedang mentertawakan Ara diam-diam.
Ara mendelik, “apa loe!” bentak Ara dengan sinis, yang justru membuat mereka semua semakin tak bisa menahan tawanya.
Farha menoleh ke arah Fla, “Fla, gue bawa buku komik bagus nih ...” ucap Farha, sembari mengeluarkan seluruh buku komiknya itu.
Fla terlihat sangat antusias mendengarnya.
Ya! Fla memang sangat suka membaca komik. Hadiah yang Farha berikan pada Fla sebelum kejadiannya masuk rumah sakit, adalah setumpuk komik kesukaan Fla.
Entah darimana Farha mengetahui kesukaan Fla. Tapi itu adalah salah satu trik untuk menggait perhatian adik dari orang yang ia suka, yaitu Morgan.
Mata Fla berbinar, “wah! Gue suka banget baca komik! Far, gue minjem!” Fla langsung merebut komik yang ada di tangan Farha.
“Gue ada banyak kalau loe mau pinjem,” ucap Farha.
Fla memancarkan aura bahagia yang hanya bisa Ara lihat sendiri. Ara menggelengkan kepala melihat semangatnya Fla.
__ADS_1
Farha menyunggingkan senyumnya ke arah Fla yang saat ini sedang merasa bahagia, ‘pendekatan yang lumayan menguras uang,’ batin Farha.
Pasalnya, Farha sama sekali tidak pernah membeli komik apa pun. Ia sama sekali tidak senang membaca komik. Ia sengaja membelinya, karena ia mengetahui kalau adik dari Morgan menyukai komik. Sama seperti Morgan, yang juga suka membaca novel.
Ara melanjutkan santapannya. Ara agak berhati-hati kali ini. Ia tidak mau sampai melukai tenggorokannya lagi, saking pedasnya makanan yang ia makan.
Farha dan Fla sedang asyik membaca komiknya. Rafael sedang menyantap keripik kentang sembari menonton tv, sedangkan Ray sedang asyik memainkan game online.
Ara berpikir, ada untungnya juga mereka menginap di sini. Aku jadi tidak kesepian sekarang. Paling tidak, ada yang bisa aku ajak mengobrol kalau aku kesepian.
“Drrtttt ....”
Handphone Ara bergetar tiba-tiba. Ada pesan masuk yang ternyata adalah dari Morgan.
Ara yang mengetahui itu, segera membuka pesan tersebut.
“Hari ini, saya gak menginap di sana dulu. Kalau ada apa-apa, kabari saya secepatnya ya,” pesan singkat dari Morgan, membuat Ara menjadi sedih.
Kenapa gak menginap di sini aja sih? Pikir Ara yang sedikit kesal dengan Morgan.
“Terus kamu di mana sekarang?” tanya Ara yang sudah membalas pesan singkat dari Morgan tadi.
Di sana, Morgan hanya bisa merenung, melihat pesan singkat dari Ara, yang sama sekali tidak bisa ia balas.
Apa yang harus aku katakan padanya? Pikir Morgan.
“Watashi o mitsumeru dake janai,” gadis itu mengatakan demikian, sembari menyodorkan segelas shochu pada Morgan.
...(Watashi o mitsumeru dake janai \= Jangan hanya menatapku)....
Morgan hanya diam, dan terpaksa mengambil gelas yang gadis itu berikan padanya.
Meygumi, ia nampak cantik malam ini. Mespkipun rasa cinta ini sudah lama terkubur, tapi ia seperti hadir kembali dengan sosok yang berbeda dari biasanya. Perangainya nampak lembut, berbeda sekali dari Meygumi yang aku kenal dulu, pikir Morgan yang saat ini sedang bersama dengan gadis bernama Meygumi di salah satu bar.
“Cheers!”
__ADS_1
“Glkk ... glkk ....”
Morgan menenggak habis dalam satu tenggakan, membuat tenggorokannya terasa sangat perih akibat alkohol itu.
Sudah lama tidak melepaskan lelah dengan meminum shochu. Akhir-akhir ini aku telah melewati permasalahan yang cukup sulit. Belum habis masalah Gemi, sudah muncul masalah Farha, dan sekarang Meygumi pun kembali lagi ke Indonesia untuk menjalani bisnisnya yang sudah lama ia rintis, pikir Morgan.
Morgan tidak sengaja bertemu dengan Meygumi. Morgan melihat dirinya di kafe biasa Ara dan Morgan kunjungi.
Morgan mengantarkan Farha sampai ke depan kompleks rumah Ara, karena ia tidak ingin kejadian yang hampir menimpa Ara, akan terjadi dan menimpa Farha selanjutnya.
Aku hanya menjaga Farha dengan porsinya, tidak lebih, pikir Morgan.
“Kamu masih sekuat dulu,” ucap Meygumi menggunaka bahasa Jepang, dengan memandang lembut ke arah Morgan.
Morgan tidak mempedulikan ucapan gadis itu, dan menuang kembali shochu ke dalam gelas yang sudah kosong. Morgan menenggak kembali gelas ke enamnya, hingga tetes terakhir.
“Watashi wa mondai ga arimasu,” ucap Morgan padanya, yang memberitahu kalau Morgan saat ini mempunyai masalah.
Nampaknya kali ini Morgan sudah mulai lepas kendali atas dirinya. Ucapanya sudah melantur, rasa di hatinya juga sudah tidak teratur lagi. Ia seperti ingin bebas dari masalah yang ia derita saat ini.
Aku seperti ingin sekali meluapkan rasa kesalku padanya. Aku ingin dia mendengarkan segala keluh kesahku. Aku butuh teman untuk mengusir sepiku, pikir Morgan sembari memandang lekat ke arah Meygumi, tentunya dengan mata yang sudah kehilangan cahayanya, efek dari alkohol yang ia minum.
Sementara Morgan sedang bersenang-senang dengan Meygumi, di sisi lain, Ara sedang bingung dengan kabar dari Morgan, yang sampai sekarang tidak membalas pesan singkatnya lagi.
Ia menunggu sembari memandangi terus layar handphone-nya itu, berharap Morgan membalas pesan singkat darinya. Nyatanya saat ini, Morgan sedang bersama dengan Meygumi untuk menghilangkan stres yang melanda dirinya itu. Di sisi lain, Arash sedang memeluk Ares dan juga Bunga di dalam pelukannya, melewati malam dengan derasnya hujan yang mengguyur seluruh pesisir pantai.
Sementara itu, Ilham yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Jessline, yang sudah tidak keruan lagi keadaannya, saking banyaknya alkohol yang ia minum. Ilham hanya bisa memandangi Jessline yang sudah tidak berdaya itu, tugasnya hanyalah menjaga Jessline, agar sesuatu yang buruk tidak terjadi dengannya, di saat yang tidak tepat seperti ini.
Apakah yang akan dilakukan Ara, Arash, Morgan dan juga Ilham selanjutnya?
Nantikan di season 2 ya ....
Terima kasih sudah mengikuti novel Terjerat Cinta Dosen Idiot.
Lanjut season 2 gak nih? Heheh.
__ADS_1