Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Indahnya Cinta


__ADS_3

"Engghh ...."


Ara terbangun dari tidurnya, karena merasakan seseorang yang sedang menciumi lehernya. Ara mencoba membenarkan pandangannya terhadapnya.


Mengetahui Ara yang sudah sadar dari tidurnya, Morgan pun mengentikan aksinya yang sedang bermanja-manja bersama Ara, saat Ara sedang tak sadarkan diri.


Saking rindunya ia dengan Ara, ia sampai tak tega membangunkannya.


Ara mendelik bingung dengan yang Morgan lakukan.


"Morgan ...."


Benar saja, Morgan sudah siap sedia menerkam Ara dari atas tubuhnya. Ara sampai tidak bisa bergerak sama sekali, karena tubuhnya yang hampir seluruhnya tertindih dengan Morgan.


Morgan yang sudah terlanjur hanyut dalam gejolak kerinduan, tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Temani saya, sebentar saja ...," lirihnya, membuat Ara seketika merasakan sensasi yang tidak biasanya.


Deru napasnya, membuat napas Ara pun ikut mengiringi nadanya. Ara bingung sekali dengan Morgan yang saat ini sedang berada di atas tubuhnya itu.


Apa aku tertidur sejenak saat ia membersihkan dirinya? Pikir Ara.


Wajah Morgan terlihat memerah sekali, sembari sesekali ia menciumi leher Ara, membuat Ara merasakan gejolak yang seketika membuat dirinya tak bisa menahannya.


"Ahhh ...."


Ara kelepasan menjerit seperti melenguh dengan nikmat, karena merasa sensasi geli saat Morgan mengecup lehernya secara terus-menerus.


Mendengar lenguhan Ara, nafsunya seketika naik, membuat dirinya kembali bersemangat walaupun sudah cukup lelah karena melakukan perjalanan yang menyita waktu dan tenaga itu.


Morgan memandang Ara dengan tatapan jahil, "gadis kecil, kenapa kamu memancing saya?" tanya Morgan, yang bermaksud menggoda Ara.


Mendengar godaan Morgan, Ara pun tak sengaja melihat ke arah wajah Morgan, yang kini terlihat sangat kacau.


Aku tidak bermaksud demikian, pikir Ara.


Ara mendelik, "siapa? Aku gak mancing kamu, kok," ucap Ara yang berusaha menjelaskan tentang hal yang sebenarnya terjadi.


Tapi, yang namanya Morgan, tidak akan mau mendengarkan penjelasan lawan bicaranya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang sudah tak bisa tertahan lagi, Morgan pun segera menyambar bibir Ara, dengan nafsunya yang sangat tinggi.


"Cupppp ...."


Morgan mulai mencium bibir Ara tanpa henti, membuat Ara sangat kesulitan bernapas.


Apakah ini akan menjadi malam yang sangat indah?


Morgan melepaskan ciumannya, dan segera memandang ke arah Ara yang sudah sangat kacau karenanya, "bolehkah ...," ucap Morgan menggantung, sembari membuka beberapa kancing kemeja Ara.


Ciuman Morgan tadi membuat Ara tidak bisa menahan diri nya lagi, dengan rasa yang sedang ia rasakan saat ini.


Aku rindu dirinya, pikir Ara.


"Jangan bertanya ...," ucap Ara, yang dengan segera membuka sisa kancing kemejanya secara suka rela.


Ia terlihat sangat agresif malam ini, pikir Morgan sembari memandangi tubuh eksotis Ara.


Melihat Ara yang sangat agresif, Morgan pun segera membuka kaosnya dan kembali menatap Ara dengan jarak yang cukup dekat.


Pandangan mereka bertemu satu sama lain, membuat Ara tak sabar ingin merasakan sensasi yang sudah sangat ia rindukan.


Biarlah malam ini menjadi milik mereka.


Morgan ingin sekali mengawali hal ini dengan sangat lembut. Ia ingin memberikan kenyamanan terhadap Ara, sampai Ara menyerah terhadapnya.


Dengan inisiatif yang tinggi, Morgan meletakkan ujung jari telunjuknya di antara kaki Ara, dan sedikit mengusapnya dengan pelan.


Hal itu membuat Ara tak bisa menahannya, dan seperti menggeliat nikmat pada setiap sentuhan lembut yang Morgan berikan.


Beberapa saat Ara sangat menikmati permainan jari Morgan. Hal itu yang membuat Ara menginginkan hal yang lebih dan lebih dari hanya sekedar usapan saja.


"Cupps ...."


Morgan tak tinggal diam. Ia juga menciumi bibir Ara, dan tak membiarkan Ara berhenti sedikit pun. Morgan terus mengusapkan jarinya pada milik Ara, membuat Ara tak tahan dan ingin meminta hal lebih darinya.


Tangan Morgan yang lain, segera membuka bra yang Ara pakai, sehingga dua gundukan kenyal itu akhirnya terbebas dari sangkarnya.


Kiranya dirasa cukup, Morgan segera melepaskan ciumannya, membuat Ara bisa mengambil napas sejenak, tapi Morgan segera mengecup setiap sisi wajah Ara, hingga ia menciuminya turun sampai ke leher jenjang Ara, dan meninggalkan bekas kecupan kepemilikan berwarna merah di sana. Tak hanya satu, bahkan setiap sisi yang Morgan sambani, selalu ia tinggalkan bekas itu di sana.

__ADS_1


Sesekali Morgan menghisap leher Ara dengan kencang, saking dirinya tak bisa menahannya. Tangannya pun tak tinggal diam, ia selalu memainkan gundukan kenyal milik Ara, membuat Ara terus-menerus berekspresi seperti orang yang sedang kejang-kejang.


Ara pun tak tinggal diam. Tangannya terus memainkan pu*thing Morgan. Sesekali ia putar dengan halus, sesekali juga ia cubit halus, membuat nafsu Morgan semakin meningkat karenanya.


Ciuman Morgan terus turun sampai ke dada Ara. Morgan mengulum pu*thing gundukan kenyal Ara, dan sesekali ia mainkan, membuat Ara semakin bertambah gairah kenikmatannya.


Ara terus melenguh di setiap sentuhan Morgan, membuat Morgan semakin lagi dan lagi menghadapi Ara.


Morgan mulai menciumi area dada Ara, sehingga membuat Ara hampir kehilangan kesadaran. Ia merasakan sensasi yang tidak bisa jika dijelaskan dengan kata-kata. Morgan sudah berhasil membuat Ara tidak bisa bernapas dengan baik.


Morgan menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah Ara, "saya sangat menantikan ini. Bolehkah?" tanyanya kembali.


Ara semakin tidak sabar untuk menerima yang lebih darinya.


Apalah dayaku? Aku tidak bisa menahan lebih dari ini, pikir Ara.


Ara membiarkan morgan menggerayangi setiap cm bagian tubuhnya.


Ara melewati malam ini dengan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ymorgan kali ini tidak seagresif sebelumnya. ia lebih memperhatikan kondisi dan kenyamanan Ara, membuat Ara terharu dengannya kali ini.


Ara sengaja menekankan dadanya lebih kencang ke arah wajah Morgan, supaya ia bisa mendapatkan sensasi yang lebih dalam dari yang ia rasakan saat ini.


Morgan bergerak turun, sampai ke perut Ara, membuat Ara bisa mengambil jeda untuk bernapas. Dengan ciuman yang selalu ia daratkan pada setiap sisi yang ia jelajahi, tangannya lagi-lagi tak tinggal diam. Ia segera membantu Ara untuk membukakan celana pendek yang Ara pakai.


Kini, Ara benar-benar polos, tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya.


Morgan membantu Ara untuk mengangkat kakinya. Matanya tertuju pada sebuah lubang inti dari diri Ara, membuatnya tak sabar untuk membenamkan miliknya di sana.


Morgan melihat ke arah sana dengan tatapan heran, karena yang ia lihat sekarang Ara sudah sangat basah akibat pemanasan yang cukup lama tadi.


"Saya belum berbuat sesuatu, kenapa kamu sudah seperti ini?" tanya Morgan yang dengan jahil bertanya seperti itu pada Ara.


Tentu saja Ara tak menghiraukannya, karena dirinya yang sudah tak bisa lagi berpikir, karena keadaan dirinya yang sedang kacau.


Morgan mempersiapkan dirinya. Ia me****** inti Ara, sampai Ara selalu melenguh di setiap sentuhan lidah dari Morgan. Rasanya sangat nikmat, membuat Ara sampai tak bisa berbuat apa-apa lagi, saking nikmatnya permainan lidah yang Morgan berikan.


Morgan dengan segera membuka celananya. Terlihat sesuatu yang sudah berdiri dengan tegak di sana. Morgan yang sudah tidak tahan lagi, segera mengarahkan intinya ke milik Ara. Dengan sedikit gesekan kecil, akhirnya Morgan mulai memasukkannya.


Indahnya cinta.

__ADS_1


***


Happy 200 episodes.


__ADS_2