Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Adegan Panas di Pagi Hari


__ADS_3

Setelah menjalani kehidupan dua bulan ke depan, Ara dan Ilham nampaknya menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Sikap Ilham yang sangat manis, membuat Ara yang haus akan kasih sayang menjadi sangat beruntung memilikinya.


Tak jarang Ara merasa kalau Ilham menjadi sangat bucin dengannya. Sikap Ilham sangatlah romantis, sehingga membuat Ara setiap saat menjadi sangat terguncang karena sikapnya.


Pagi hari di hari Minggu, Ara baru saja membuka matanya di pagi hari. Ia melihat di sebelahnya kini sudah tak ada Ilham. Mengetahui hal itu, Ara menjadi sangat bingung dengan keberadaan suaminya itu.


"Srakk ...."


Tak sengaja, Ara mendengar suara shower dari kamar mandi, membuat dirinya menyadari keberadaan Ilham saat ini.


"Oh ... lagi mandi," gumam Ara, yang khawatir dengan keberadaan Ilham.


Di dalam sana, Ilham sudah menyelesaikan mandinya. Ia menutup keran sehabis ia pakai, dan meraba ke arah tempat biasa ia menggantung handuk. Ia terkejut, karena sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan handuk itu.


"Aduh ... saya lupa bawa handuk?" gumam Ilham yang sedikit kesal karenanya.


"Apa saya keluar aja kali, ya? Ara juga belum bangun pastinya," gumam Ilham, tetapi hatinya belum yakin mengenai hal itu.


"Sayang ... udah bangun belum?" teriak Ilham dari dalam kamar mandi.


Mendengar pekikan Ilham, Ara pun menyahut, "Belum!" sahut Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.


"Oh belum ...," gumam Ilham yang agak tenang karena mendengar Ara berkata demi kian.


Ilham pun membuka pintu kamar mandi, dan keluar tanpa mengenakan busana. Melihat pemandangan aneh dari Ilham, wajah Ara seketika memerah karena malu dengan Ilham yang melangkah keluar tanpa busana.


Ilham menghentikan langkahnya, karena sadar kalau Ara ternyata sudah bangun dari tidurnya.


Ilham mendelik, "Ahh!!" teriak keduanya secara bersamaan.


Ilham segera masuk kembali ke dalam kamar mandi, sementara Ara segera membenamkan dirinya di dalam selimut.


Dengan jantung yang sudah hampir mau copot, Ilham berusaha menghela napasnya panjang, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengannya.

__ADS_1


Ilham mengelus dadanya karena merasa sangat kaget dibuatnya.


"Kenapa kamu bilang belum, sih?" teriak Ilham, membuat Ara mendelik.


"Kalau aku belum bangun, gak mungkin aku jawab pertanyaan kamu!" teriak Ara balik, membuat Ilham terdiam sejenak sembari mendelik.


"Bener juga," gumam Ilham yang merasa kalau dirinya sangat idiot kali ini.


"Udah cepat ambilin handuk!" suruh Ilham yang sudah malu dengan keadaan.


"Hah? I-iya!" jawab Ara yang segera berlarian menuju ke arah balkon kamar tempat ia menjemur handuk.


Ara pun menyambar handuk tersebut, dan segera berlarian menuju ke arah kamar mandi. Saking semangatnya dirinya, ia menginjak bekas air yang menetes dari diri Ilham, yang berada di luar kamar mandi tersebut, sehingga membuatnya terpeleset dan kehilangan keseimbangannya.


"Eh!!" teriak Ara membuat Ilham waspada dengan keadaannya.


"Brukk ...."


Ara menabrak pintu kamar mandi, dan dirinya pun jatuh di atas tubuh Ilham, dengan handuk yang Ara pegang, yang beruntung sudah menutupi tubuh Ilham yang tidak berbusana itu.


'Sudah waktunya, kan? Bolehkah?' batin Ilham yang sudah sangat sabar menanti saat-saat indah ini.


"Haaa!" teriak Ara, yang segera bangkit dari tubuh Ilham, dan segera keluar dari kamar mandi.


Ilham pun bangkit sembari memakai handuknya melingkari area pinggangnya, dan menarik tangan Ara, sebelum akhirnya Ara keluar dari kamar mandi tersebut.


"Ra!" pekik Ilham, yang berhasil menahan Ara agar tidak pergi dari sisinya.


Ilham pun berhasil memeluk Ara dan membuat Ara menjadi sangat berdebar. Pandangan mereka pun bertumpu pada satu titik, dengan jarak yang sangat dekat, membuat Ara tak sengaja menelan salivanya.


Ara mendelik, masih tak menyangka dengan Ilham yang sudah sangat mahir dalam menghadapi dirinya yang selalu malu jika berhadapan dengan Ilham.


'A-apa dia mau berbuat seperti itu? Memang sih ... sudah lebih dari 40 hari sejak saat aku keguguran. Tapi, masa secepat ini, sih?' batin Ara yang agak kaget dengan yang Ilham lakukan.

__ADS_1


Dengan sangat hati-hati, Ilham pun mendekatkan wajahnya ke arah Ara. Anehnya, Ara sama sekali tidak bersikap apa pun. Tidak menerimanya, tetapi juga tidak menolaknya.


"Cupps ...."


Ilham berhasil mendaratkan ciumannya pada bibir manis Ara, membuat Ara menerimanya dengan sangat senang. Perasaan yang mereka tahan selama ini, sepertinya sudah boleh mereka luapkan.


Ilham dengan sangat menggebu, membuat dirinya hampir saja kehilangan akal sehatnya. Dengan sangat berani, tangan Ilham tak tinggal diam, dan membuka sedikit demi sedikit kancing kemeja tidur yang masih Ara kenakan.


Satu per satu pakaian yang Ara pakai, sudah berhasil Ilham lucuti. Dengan jarak yang sangat dekat, Ara merasa sesuatu yang sepertinya sudah berdiri tegak di sana, dan menggesek sedikit ke arah inti darinya.


Ilham memagut bibir manis Ara tanpa henti, bahkan kali ini ia sudah terlihat lebih mahir dari biasanya yang hanya malu-malu di hadapan Ara. Tangannya pun tak tinggal diam. Walaupun sama sekali tidak melihat karena saking hanyutnya dengan ciumannya bersama Ara, Ilham tetap masih bisa membuka bra yang Ara kenakan, hanya dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya hanya berfokus pada leher Ara.


Ilham menyesap bibir manis Ara tanpa henti, berusaha menuntun Ara menuju ke arah ranjang tidurnya.


"Brukk!"


Ilham menjatuhkan dirinya di atas tubuh Ara, ketika sudah berada di atas ranjangnya. Tanpa tinggal diam, Ilham segera menurunkan tangannya dari leher Ara, hingga menuju ke arah dua gundukan kenyal yang Ara miliki.


Tidak terlalu besar, namun sangat pas di tangan Ilham. Ini adalah kali pertama Ilham memegang benda kenyal itu.


Ara sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, membuatnya sampai melenguh, setiap kali Ilham menyentuh tubuhnya. Dengan sangat menggebu, Ilham pun memainkan gundukan kenyal itu, hingga ujungnya sudah menyembul di pangkalnya.


"Emhh ...."


Suara indah Ara terdengar sangat menggairahkan Ilham, membuatnya menjadi sangat terpacu untuk menambah lagi dan lagi pergerakannya.


Ilham menghentikan ciuman mesranya, dan menatap ke arah Ara yang terlihat sudah berantakan itu. Ia mendekat ke arah telinga Ara.


"Bolehkah?" tanya Ilham yang sudah mulai tidak kuat menahan perasaannya pada Ara.


Mendengar Ilham yang masih saja bertanya, membuat Ara seketika menjadi sinis memandangnya.


Ara pun menafikan pandangannya dari Ilham, membuat Ilham mendelik kaget, "Sudah begini, masih nanya juga?" tanya sinis Ara dengan pipi yang sudah merah merona, membuat Ilham semakin menggelora dibuatnya.

__ADS_1


Ilham berusaha tersenyum, dengan keadaan yang sudah sangat memabukkannya.


'Ternyata seindah ini?' batin Ilham yang sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata lagi, saking bahagianya dia.


__ADS_2