
“Kak Morgan, mau ke mana?” lirih Jess, membuat Ilham menoleh ke arah Jess.
“Mari saya antar ke mobil,” lirih Ilham dengan sangat lembut, membuat Jess mengangguk kecil.
Jess bangkit dari tempatnya, dan segera berjalan menghampiri Ilham dengan keadaan susah payah. Efek dari alkohol itu membuat Jess masih belum sanggup menyanggah tubuhnya.
Dengan susah payah Jess melangkah, akhirnya ia sudah pada batasnya. Jess hampir saja tergelincir dan menabrak tubuh Ilham yang kekar, membuat Ilham refleks dan segera menangkap tubuh Jess yang sudah lemas itu.
Pandangan mereka bertemu pada satu titik, membuat Jess menatapnya dengan sangat dalam.
Beberapa saat berlalu, dan mereka masih dalam keadaan yang sama.
Ilham berusaha membenarkan pikirannya, dan segera menggendong Jess.
Jess merasa sangat tersentuh, karena perlakuan manis Ilham yang sangat romantis baginya.
Ilham tidak memikirkan apa pun. Yang ia tahu, adalah tugasnya untuk menjaga Jessline, selama Arash tidak berada di sisinya.
Ilham menggendong Jess menuju ke mobilnya. Ia melihat ke arah Jessline yang sudah tertidur di pelukannya, membuatnya meletakkan Jessline pada kursi bagian belakang mobil.
“Brukk ….”
Ilham menutup kembali pintu mobil, dan segera menuju ke kursi kemudi.
Ilham mendelik, langkahnya terhenti karena melihat Morgan yang berjalan ke arah sebuah mobil, yang jika dilihat kembali, seperti mobil miliknya.
“Nekat sekali orang itu, mau mengemudi di saat mabuk?” lirih Ilham sembari memperhatikan Morgan yang sedang mencari sesuatu di dompetnya.
“Ke mana kartu itu?” lirih Morgan yang sudah sangat kesal, dengan penglihatan yang buram, ia berusaha mencari kartu untuk membuka mobilnya.
Pandangannya gelap, seketika membuat dirinya jatuh tersungkur di atas aspal. Hal itu membuat Ilham mendelik, dan segera berhambur ke arahnya.
Ilham memperhatikan Morgan yang sudah tak sadarkan diri, sembari menghela napasnya dengan panjang.
“Sepertinya tugas saya bertambah kali ini,” lirih Ilham, yang memandang sendu laki-laki yang tersungkur di hadapannya saat ini.
Ilham memperhatikan sekeliling mobil milik Morgan.
__ADS_1
“Sepertinya, mobil ini bisa menyetir otomatis,” lirih Ilham yang memang sudah mengetahui jenis mobil Morgan.
Ilham melihat ke arah dompet dan handphone Morgan yang tercecer di atas aspal, membuatnya harus merapikan semua kartu dan uang Morgan yang berserakan.
“Drrtt ….”
Fokus Ilham teralihkan pada handphone Morgan yang terus-menerus bergetar, seperti ada notifikasi yang masuk ke handphone-nya.
Dengan ragu, ilham mengambilnya dan membaca sedikit pesan yang ada di latar belakang layar.
Ilham mendelik, karena sebagian besar pesan, tertulis nama Arasha. Ilham berpikir sejenak.
“Jadi dia yang saya lihat waktu malam itu, yang sudah membawa Arasha pergi?” lirih Ilham yang tak percaya dengan yang ia lihat saat ini.
“Kenapa dia bisa egois seperti itu? Padahal ada orang baik yang menolong Ara waktu itu, dia malah membawa Ara pergi, dan mengabaikan keselamatan orang yang sudah menolong Ara. Beruntung ada saya, kalau gak ada, mungkin laki-laki itu sudah habis oleh preman yang gak bertanggung jawab,” lirih Ilham.
Terpikir tentang wanita yang bersama dengan Morgan tadi, membuat Ilham semakin bingung dengan keadaan.
“Lantas, siapa wanita yang mau membawa dia ke hotel tadi? Kalau tidak salah, wanita itu bilang kalau Morgan adalah tunangannya,” lirih Ilham yang tak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.
Ilham menempelkan kartu itu pada konsol tengah dekat kemudi, membuat mobil itu seketika menyala dengan sendirinya.
“Ara …,” lirih Morgan, yang sepertinya mengigau, membuat Ilham berpikir agar mengirimnya ke rumah Ara.
‘Mungkin mereka lagi bertengkar. Ya sudah, kirim ke rumah Ara aja,’ batin Ilham yang sudah membuat keputusan tepat.
Ia memasukkan alamat rumah Ara pada layar yang ada di dekat kemudi, lalu mobil canggih itu membawa Morgan dengan kecepatan pelan, menuju ke rumah Ara.
Ilham tidak tinggal diam. Ia segera membuntuti mobil Morgan dari belakang, karena perasaan risaunya pada Morgan, yang bukanlah siapa-siapa baginya.
Beberapa saat kemudian, Morgan sudah sampai pada rumah Ara, membuat Ilham agak tenang dengan keadaan Morgan.
Ia lalu menoleh ke arah spion, melihat Jessline yang sudah tertidur pulas di kursi belakang mobil. Ia menghela napas panjang, lalu segera melajukan mobilnya untuk mengantar Jess pulang ke rumahnya.
Beberapa jam berlalu, membuat Morgan tersadar dari tidurnya. Ia melihat ke arah sekitarnya, dan masih meraba tempat yang ada di sekitarnya.
Morgan membenarkan pandangannya, dan segera mengusap kedua matanya yang berair.
__ADS_1
Ia menoleh ke segala arah, dan menyadari bahwa dirinya sudah ada di depan rumah Ara.
Morgan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
“Kenapa saya bisa ada di rumah Ara? Apa saya menyetir tadi?” lirih Morgan yang terasa aneh sekali dengan keadaan dirinya.
Ia berjalan gontai ke arah pintu masuk rumah Ara, dengan sisa kesadarannya yang masih ada akibat terlalu banyak minum alkohol.
“Cklek ....”
Morgan membuka pintu rumah Ara dengan sangat hati-hati, khawatir semua orang terbangun karena ulahnya. Beruntung Morgan sudah menggandakan kunci rumah Ara waktu itu, agar ia bisa dengan mudahnya menyelinap masuk ke dalam rumah Ara.
Morgan meraba dinding, karena suasana sangat gelap dan mencekam. Ditambah lagi karena kepalanya yang cukup sakit, akibat terbentur stir mobil saat perjalan menuju ke rumah Ara.
“Morgan ....”
Terdengar lirih, suara yang sangat asing baginya, membuat Morgan menghentikan langkahnya karena ada seseorang yang memanggilnya.
Suaranya terdengar dari kamar Arash. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Morgan pun memutuskan untuk mendekatinya secara perlahan.
Remang-remang pandangannya sangat kabur saat ini. Terlihat dalam gelap karena tidak ada penerangan yang cukup, sosok wanita berambut panjang yang sedang duduk di bibir ranjang.
Morgan berusaha membenarkan pandangannya yang kabur. Dalam pandangan Morgan saat ini, terlihat Ara yang sedang duduk manis di sana.
“Ara ....”
Morgan memanggilnya dengan sangat lirih. Ia menoleh, dan seperti sedang tersenyum pada Morgan. Ia membuka kedua lengannya seperti sedang meminta untuk dipeluk.
Morgan yang masih bingung, langsung saja mendekatinya dan memeluknya. Dengan perasaan yang sangat menggebu, karena rasa depresi Morgan yang sangat mendalam akibat permasalahan Farha, Ia pun menindihnya dengan sangat lembut, khawatir membuat ribut di malam hari.
Masih teringat jelas ucapan Meygumi tadi, Morgan pun merasa sangat menyesal karena ia mungkin telah membuat Ara sakit hati.
“Maaf, Ra,” lirih Morgan tepat di telinga kirinya.
Morgan terkejut, karena Ara bereaksi seperti orang yang merasa geli.
Mungkin deru napasku membuat telinganya merasa tidak nyaman, pikir Morgan.
__ADS_1