Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kekhawatiran Sahabat 2


__ADS_3

"Cklekk ...."


Ilham membuka pintu kamar Ara. Mereka pun masuk ke dalam kamar Ara, dan melihat seisi kamar Ara yang sangat berantakan, akibat barang-barang Ara yang tadi diporak-porandakan oleh dirinya sendiri.


Bahkan, Ilham belum sempat mengelap darahnya yang tadi berceceran, membuat Fla dan Ray mendelik tak percaya melihat darah kental yang berceceran di atas lantai.


"OMG! Ara kenapa, Kak?" tanya Fla yang terkejut melihat darah di kamar Ara.


Ray pun sebagaimana Fla, yang juga terkejut karena melihat darah yang berceceran itu.


"Ara sampai berbuat seperti ini, Kak?" tanya Ray, membuat Ilham menghela napasnya.


Ilham menunjukkan tangan kirinya yang sudah dibalut dengan perban, "Itu darah saya. Ara gak terluka sama sekali, kok," gumam Ilham menjelaskan, membuat Ray dan Fla bisa bernapas dengan lega setelah mendengarnya.


"Syukurlah ... aku kira itu darah Ara," gumam Fla yang sangat bersyukur, tidak terjadi apa pun dengan Ara.


"Kenapa Kak Ilham berdarah?" tanya Ray yang agak penasaran dengan keadaan Ilham.


"Tadi, pas Ara ngamuk-ngamuk, dan berantakin semua ini, gak sengaja gelas itu pecah. Pas saya mau beresin, ternyata kurang hati-hati dan akhirnya kena deh," jawab Ilham, tentu saja menutupi sebagian kebenaran itu.


"Wah ... gitu ternyata. Btw, kenapa Ara ngamuk-ngamuk, Kak?" tanya Fla yang merasa penasaran dengan keadaan Ara yang sebenarnya.


Ilham memandangnya dengan tatapan datar, berusaha menyembunyikan dengan rapat semua rahasia yang hanya Ara dan dirinya saja yang mengetahui.


"Biasa, namanya orang habis putus cinta. Ya ... begitu deh," jawab Ilham, membuat Ray menggelengkan kecil kepalanya.


"Ara ... Ara. Terlalu dalam cintanya sama Pak Morgan, sampai-sampai begini jadinya," gumam Ray yang tak habis pikir dengan perilaku Ara.


Fla kembali memandang sekeliling kamar Ara. Ia tak sengaja melihat handphone Ara yang sudah hancur di atas lantai, membuat Fla menggelengkan kecil kepalanya.


"Pantesan dihubungin gak nyambung. HP-nya udah wafat ternyata," gumam Fla, membuat Ray juga melihat ke arah yang Fla lihat.


"Ya ampun. Kan ... segitunya dia cinta sama kakak loe, Fla," ledek Ray, membuat Fla mendelik ke arahnya.

__ADS_1


"Heh! Cewek sama cowok beda, ya! Pasti yang namanya putus bakal ngerasain depresi, lah! Tiap hari bareng, ke mana-mana bareng, ini bareng itu bareng, jadi ibarat kayak kaki. Kalau salah satunya hilang, ya pasti akan pincang," bentak Fla kesal, dengan nada yang sangat kasar, membuat Ray terdiam mendengarnya.


"Apa sih," umpat Ray yang sedikit banyaknya kesal dengan ucapan Fla yang menurutnya sangat annoying.


Mendengar suara ribut dari Fla dan Ray, Ara pun terbangun dari tidurnya, dan memandang ke arah Fla dan juga Ray.


Mengetahui Ara sudah sadar, Fla pun duduk di pinggir ranjang Ara, sementara Ray duduk di lantai.


"Ra ...," pekik Fla dengan nada sendu, membuat Ara juga menatapnya dengan sendu.


"Kalian kenapa ada di sini?" tanya Ara yang masih sangat lemas, karena ia memang merasa terus kelelahan.


"Kita khawatir sama loe, Ra. Makanya kita ke sini," jawab Fla, yang mendapat anggukan dari Ray.


"Maaf ya, kita baru ada sekarang. Rafa dan Farha gak ada, karena Rafa saat ini masih di Korea, dan Farha ... gue gak tau di mana dia," gumam Ray, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.


"Rafa ngapain di sana?" tanya Ara yang bingung mendengarnya.


Fla dan Ray saling melempar pandangan. Fla pun kembali memandang ke arah Ara.


"Syukurlah," gumam Ara, yang terlihat masih lemas.


Ara tak sengaja melihat ke arah wallpaper handphone Fla, yang saat ini ia pegang. Ia melihat Fla yang memasang foto kakaknya di sana, membuat Ara mengerenyitkan dahinya, saking bingungnya.


"Lho, kok ada foto kak Arash di HP loe?" tanya Ara bingung, membuat Fla tercengang, karena sudah teledor memperlihatkannya pada Ara.


Sejak mereka resmi berpacaran, Fla sama sekali belum memberitahukannya pada Ara, tentang hubungan dirinya dengan kakak dari Ara. Wajar saja jika Ara bertanya-tanya dan kebingungan melihatnya.


Fla mendadak menjadi gagap, karena merasa terpojokkan.


"Emm ... ini ...."


Ray menarik paksa handphone milik Fla, membuat dirinya bisa melihat dengan jelas foto Arash yang terpampang di layar handphone-nya.

__ADS_1


"Wah ... iya! Hayo ngaku! Ada hubungan apa loe sama kak Arash?" tanya Ray dengan setengah meledek, membuat Fla geram dengannya.


Fla menyeringai ke arah mereka, "Gue sama Arash pacaran," jawab Fla, membuat Ara dan Ray terkejut mendengarnya.


"Wah gila! Kapan?" tanya Ray yang merasa sangat kaget dengan pengakuan Fla.


"Belum lama," jawab Fla membuat Ara tersenyum.


"Pantesan waktu Ara mau ke Jepang, pas kita VC, loe kayaknya keceplosan bilang suka sama Ar ... ternyata Arash?" ledek Ray lagi, membuat Fla mendadak menjadi malu karenanya.


"Apa sih loe? Udah deh, jangan bikin gue malu!" bentak Fla, sembari menahan tawanya.


Ara memandangi mereka yang sedang bercanda. Mendengar Ray berbicara mengenai dirinya yang pergi ke Jepang waktu itu, membuat Ara merasa sangat terpukul, karena secara tidak langsung, Ray kembali mengingatkan dirinya dengan Morgan, membuat Ara tak bisa menahan tangisannya.


Mengetahui Ara yang menangis, Fla dan Ray menghentikan candanya, dan langsung berfokus pada Ara yang air matanya kini sudah mengalir deras.


Ilham memandangnya dengan sendu, karena Ilham paham, Ray sudah membuat Ara mengingat tentang Morgan, secara tidak langsung. Ia pun hanya bisa menghela napasnya panjang.


"Ra ... loe kenapa, Ra?" tanya Fla yang mendadak sendu melihat Ara menangis.


"Iya, Ra, loe kenapa?" tanya Ray.


Ara berusaha dengan keras, untuk menahan tangisannya, dan membuat dirinya menjadi lebih kuat lagi dari sebelumnya.


"Gak, gue cuma seneng aja, karena kakak gue akhirnya nemuin cewek yang baik kayak Fla," gumam Ara yang tentu saja berkilah, atas semua yang ia rasakan.


Ara tidak mau mereka mengasihaninya, karena Ara yang sampai saat ini masih belum melupakan Morgan. Terlebih lagi, Fla adalah adik dari mantan kekasihnya itu. Ara semakin malu untuk menampakkan kesedihannya.


Ara menatap Fla dengan tatapan yang begitu dalam, "Fla, jaga kakak gue, ya," gumam Ara dengan sangat serius.


'Jangan seperti gue, yang gak bisa jagain kakak loe. Gue gak mau hal yang gue alami, terjadi sama loe,' batin Ara, yang tidak sanggup mengatakan itu, terlebih lagi di hadapan Ilham, orang yang sudah sangat baik terhadapnya.


Mendengar Ara berbicara seperti itu, sedikit banyaknya telah membuat hati Fla tersentuh. Fla pun mengangguk, seraya mengusap-usap lengan Ara yang terasa sangat dingin.

__ADS_1


"Pasti."


__ADS_2