Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Maniak


__ADS_3

Ara sangat malu pada Fla. Kenapa kejadian ini bisa sampai terlihat oleh orang lain? Terlebih lagi, Fla adalah teman sekaligus adik dari orang yang paling ia benci.


Ah. Kenapa dunia terasa begitu sempit?


Ara berjalan gontai di pinggir jalan. Tanpa ia sadari, hujan mengguyur tubuhnya. Seketika pakaiannya menjadi basah. Sepatunya juga tidak mendukung untuk ia berjalan. Ara melepaskan kedua sepatunya itu.


“Dasar cowok brengsek!” Ara berteriak kesal sembari membuang sepatu itu ke arah hadapannya.


Ara berjalan pelan melewati sepatu yang sudah ia buang tadi.


“Sopir gue mana sih?”


Suasana apa pun dan siapa pun orangnya, ingin sekali Ara menumpahkan emosinya itu.


“Haaaaaaaaa!” teriaknya.


Terlalu cepat untuk Ara kembali. Ia membuat janji dengan sopirnya, untuk menjemputnya pada pukul sembilan malam. Tapi, ini baru saja pukul delapan malam.


Nasibnya sial sekali.


“Harus nelepon sopir!” lirihnya.


Ara baru tersadar, kalau tasnya tertinggal di kamar Morgan.


Nahas, memang nahas.


Ara tidak bisa menghubungi siapa pun sekarang.


“Tuhan, ini gak adil banget. Kenapa harus Ara yang nerima semua ini?” teriak Ara dalam derasnya hujan malam.


Ara menangis dan menutup wajahnya. Ara tidak menyangka, kejadian ini membuat dirinya menjadi down.


Sepertinya, masalah ini sudah mengenai mentalnya, saking malunya ia dengan Fla.


Ara tidak tahu, harus bersikap apa setelah kejadian ini. Ia sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Fla.


“Dasar Morgan idiot!” Ara mendelik, karena tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan.


Morgan sama sekali tidak merasa bersalah di hadapan Fla. Ia seperti sudah biasa saja melakukan ini di hadapan adiknya.


Apa ... sebelumnya dia sudah sering melakukan hal bodoh ini di hadapan Fla? Pikir Ara.


“Argh ....”


Tubuhnya seketika terasa sangat lemas, tak berdaya. Ara sampai tidak bisa merasakan dingin lagi, padahal hujan sudah mengguyur seluruh tubuhnya.


Kepalanya mendadak berat, tak keruan. Pandangannya pun menjadi rabun. Apakah nasibnya akan berakhir di sini?


“Brukk ....”


Tak ada lagi tenaga yang tersisa. Ara jatuh di atas aspal yang basah karena hujan, sebagai isyarat jatuhnya harga dirinya di hadapan laki-laki itu. Mungkin, memang ini sudah digariskan untuknya.


Sekilas Ara melihat dengan pandangan yang kabur, ada sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya, yang sedang tergeletak di aspal jalan. Dengan pandangan yang tidak jelas, karena penerangan yang minim, Ara berusaha berjuang untuk melihatnya.


“S-siapa loe?” tanya Ara lemah.

__ADS_1


Kepala dan penglihatannya terasa berat sekali. Matanya perlahan tertutup, tanpa peduli lagi dengan sosok misterius yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.


***


Sinar matahari menembus celah gorden, dan menyinari wajah Ara. Memaksanya, untuk segera bangun dari mimpi indahnya.


Ara tersadar, perlahan mengumpulkan keberanian untuk bisa membuka matanya.


“Aws ...,” rintih Ara sembari memegang kepalanya.


Ara berusaha membuka matanya dan bangkit dari tidur. Saat ia sudah mulai sadar, ia tidak tahu di mana ia berada.


Ara hanya bisa diam, karena memang suasana ini sama sekali tidak ia kenal. Sepertinya, ini bukan kamar tidurnya, dan ini juga bukan kamar tidur Morgan. Ara masih meraba suasana di tempat ini. Ara masih belum mengetahui pasti karena keterbatasan cahaya.


Suasana nampak mencekam, karena lampu kamar saat itu mati. Tapi satu hal yang semakin ia sadari, ini bukanlah kamarnya.


“Di mana ini?” tanyanya lirih, sembari memperhatikan keadaan sekitar.


Ara berusaha bangkit dari ranjang tidurnya.


“Bruk ....”


Tangannya tak sengaja menabrak seseorang. Matanya mendelik kaget. Betapa kagetnya ia saat itu. Ada seseorang di sampingnya, yang sedang tidur bersamanya.


“Heh, siapa loe!” teriak Ara histeris, karena ada sosok laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya.


Ia pun terbangun, mungkin karena terganggu suara teriakan Ara.


“Eh, sudah bangun,” gumamnya seperti tidak terjadi apa pun.


Ara semakin histeris dengan kejadian janggal ini.


“Aws ....”


Kepalanya terasa sangat sakit, mungkin efek terbentur dengan aspal malam itu.


Laki-laki itu menyalakan lampu tidurnya.


Terlihat samar wajah laki-laki itu. Sepertinya, Ara mengenalnya.


Matanya membulat saat melihat wajahnya, “M-Morgan?” pekik Ara kaget.


Morgan tersenyum padanya. Senyumnya nampak hangat untuk dipandang. Kalau keadaannya seperti ini, bukankah terasa seperti sepasang pasutri yang baru saja menikah?


Ara bingung dan takut dengan kejadian ini. Ia tersadar, dan langsung melihat baju yang ia kenakan.


“Hah?” Ara mendelik, karena melihat baju yang berbeda dari yang kemarin ia kenakan.


Baju ini berbeda dengan yang Ara kenakan pada saat makan malam.


‘Kalo gak salah, bukannya waktu itu gue pakai gaun?’ batin Ara.


Saat ini, Ara memakai kemeja putih, yang ukurannya sangat besar di tubuhnya.


Mungkinkah ini baju Morgan? Pikirnya.

__ADS_1


“Loe macem-macem ya sama gue?” tanya Ara sinis.


Morgan menatap Ara teriring senyuman, dengan tatapan yang menurutnya sangat menjijikan.


‘Dia lagi mikirin apa, sih?’ batin Ara heran.


“Ngapain loe senyum-senyum gak jelas? Kayak orang gila aja!” Ara membentaknya dengan kasar.


Ara sudah muak dengan dirinya. Kenapa Morgan selalu menganggapnya sebagai wanitanya?


Ara ini sudah memiliki pacar!


Morgan tiba-tiba saja meraih kancing kemeja Ara. Tentu saja Ara menghalanginya dengan sangat sinis.


“Heh! Loe mau ngapain!” bentak Ara, yang sepertinya sudah tidak bisa berkutik lagi.


Morgan nampak berani menyentuh Ara.


“Bagian tubuh kamu, sudah setengahnya saya lihat. Kenapa masih malu untuk memperlihatkannya?” gumam Morgan membuat amarah Ara meluap.


Morgan tak hanya menjatuhkan harga dirinya sekali, tapi dua kali berturut-turut.


“Udah gue bilang, gue tuh gak suka sama loe!” Ara berteriak, lalu bangkit dari ranjang itu.


“Hap ....”


Tak disangka, Morgan pun bangkit dari tidurnya, kemudian menerkam Ara dan menindihnya kembali, membuat Ara tidak bisa berkutik sama sekali.


“Apaan sih! Gue gak suka loe lecehin gini, ya!” Ara mendorong tubuhnya sekuat mungkin, untuk menghindari sesuatu hal yang aneh terjadi.


Ara tidak mau Morgan sampai melecehkannya kembali.


“Lepasin! Atau gue aduin ke kakak gue!” Ara menggertak Morgan, berharap Morgan bisa segera melepaskannya.


Hanya ini cara terakhir, agar tidak terjadi apa pun di antara mereka.


“Hey ... kenapa kamu masih bersikap kasar pada orang yang selalu bersikap lembut padamu?” tanya Morgan yang sepertinya sedang memastikan.


Ara mendelik, seakan mengirimkan sinyal padanya, karena tak sudi bersikap lembut pada monster seperti dia.


“Sampai kapan pun, gue gak akan pernah bersikap lembut sama maniak kayak loe!” bentak Ara.


“Stt ....”


Morgan meletakkan jari telunjuknya di bibir Ara.


Seketika jantung Ara berdegup kencang lagi. Ia tak tahu ini di mana dan ia tak tahu apa yang akan Morgan perbuat selanjutnya.


“Mari, kita lanjutkan yang semalam ...,” ajaknya seraya tersenyum tipis pada Ara.


Mata Ara membelalak, tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.


“What? Loe gila, hah? Gue harus ke kampus sekarang--”


“Saya akan ambil cuti untuk kamu.” Morgan memotong ucapan Ara.

__ADS_1


Ia semakin semena-mena dengan Ara. Ara hanya bisa terkekeh mendengarnya.


“Emangnya loe siapa, hah?” tantang Ara sinis.


__ADS_2