Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Prepare Holiday 3


__ADS_3

Ara tidak ingin terbang saat ini, tapi ia juga tidak ingin kalau mereka harus putar balik.


Dasar, Morgan bodoh.


"Menurut kamu?" tanya Ara dengan nada yang sedikit melengking, mengisyaratkan pada Morgan, supaya ia kembali berpikir tentang apa yang Ara inginkan.


Morgan menghela napasnya, "kita bermalam di hotel?" tanya Morgan lagi, membuat Ara tersenyum tipis.


Bermalam di hotel, dan menghabiskan rindu bersama setelah sekian lama merasakan sesak karena rindu, bukan ide yang buruk juga, pikir Ara.


"Baiklah, kita ke hotel malam ini," ucap Morgan dengan penuh gairah.


Ara tersenyum simpul pada Morgan, karena ia berpikir, dirinya akan memeluk Morgan sampai pagi. Itulah saat-saat yang sangat Ara nantikan.


Mereka memutar kembali kendaraan menuju hotel terdekat. Morgan berusaha mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, supaya mereka bisa lebih cepat sampai ke hotel terdekat.


Kini, mereka sudah sampai di hotel terdekat. Ara dan Morgan melangkahkan kaki ke meja resepsionis, dan memesan kamar yang lumayan bagus.


"Ckreeekkk ...."


Ara membuka pintu kamar hotel, dan menyalakan lampu kamar.


Nuansa kamar hotel ini terlihat sangat rapi dan nyaman. Cocok untuk bermalam di sini bersama sang kekasih. Lampu kelap-kelip berwarna gold itu, semakin menguatkan nuansa romantis di antara mereka.


Ara masuk ke dalam kamar, dan meletakkan barang-barangnya di dalam lemari yang tersedia.


Saking khawatirnya dengan cuaca malam ini, Ara sampai lupa dengan kado yang ingin ia berikan pada Morgan.


Kapankah waktu yang tepat, untuk memberikan kado ini? Pikir Ara.


Morgan melepas jas hitamnya, dan segera meletakkannya di sudut ruangan. Ia juga meletakkan kopernya di dekat tempat Ara meletakkan kopernya.


Suasana nampak canggung sekali saat ini.


Ara mencuri-curi pandang ke arah Morgan, yang sedang meletakkan barang-barangnya. Ketika Morgan menoleh ke arahnya, Ara pun segera menafikan pandangannya.


"Kamu mau mandi?" tanyanya yang terlihat seperti malu-malu, membuat Ara mendelik, dan ikut malu dibuatnya.


Ayolah, bukan pertama lagi kita melakukan ini. Harusnya dia sudah cukup ahli untuk mengendalikan suasana yang canggung, pikir Ara yang sangat gemas dengan tingkah Morgan yang malu-malu itu, membuat Ara menjadi ikut malu dibuatnya.


Ara tersadar dari lamunannya, "i-iya, aku mau mandi dulu," ucap Ara yang ikut canggung karena pembawaan Morgan yang terkesan canggung.


Ara juga tidak tahu, mengapa rasa canggung ini bisa menular.


Ara mempersiapkan kemeja tidurnya, dan mengambil handuk yang sudah tersedia di pojok ruangan. Ara pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Sraaakkk …."


Ara membiarkan sekujur tubuhnya menjadi basah, karena tersiram air langsung dari shower. Ia meremas pelan rambutnya yang masih setengah basah, dan seketika perasaannya mendadak menjadi mellow.


Aku tidak tahu, apa yang akan Morgan lakukan, setelah menahan rindu sekian lama. Aku juga mungkin sudah tidak akan bisa menahan emosi, pikir Ara yang sudah kalut dalam kerinduan.


Ara menyelesaikan mandinya, kemudian melilitkan handuk di sekujur tubuhnya.


Ara mendelik, "gawat, gue lupa ngambil pakaian dalam!" lirih Ara yang sangat terkejut.


Ia menghela napasnya, untuk menguatkan dirinya. Apakah Ara harus keluar menggunakan sehelai handuk saja?


"Apa gue teriak aja kali, ya?" gumam Ara, yang terus berpikir.


"Ahh enggak ah! Malu!" Ara seketika menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bagaimana ini? Pikir Ara.


Dari luar sana, Morgan ragu untuk memanggil Ara, karena ia yang tak sengaja melihat pakaian dalam Ara yang berserakan di atas ranjang.


Morgan berusaha menguatkan diri, dengan menghela napasnya.


"Ra ... boleh saya masuk sekarang?" pekik Morgan, membuat Ara mendelik kaget.


"M-mau ngapain?" tanya Ara dengan nada yang panik.


Wajah Morgan seketika terasa panas, "pakaian dalam kamu ...,"


Mata Ara membulat, ternyata dia sudah melihat dan menyadari bahwa aku lupa membawa pakaian dalamku ke dalam kamar mandi, pikir Ara.


"Gimana dong?" gumam Ara yang setengah berteriak.


Mana boleh aku mengizinkan dia masuk? Yang ada, aku mati karena malu, pikir Ara.


Di sana, Morgan juga merasa bingung, karena ia juga tidak ingin masuk ke dalam kamar mandi. Sangat canggung bagi Morgan saat ini, karena mungkin mereka yang sudah jarang bertemu, membuat Morgan sudah tidak terbiasa lagi seperti dulu.


"Buka sedikit aja. Saya gak akan lihat," ucap Morgan, membuat Ara sedikit berpikir.


Betul juga ucapannya, pikir Ara.


Ara mempersiapkan dirinya, dan membuka sedikit pintu kamar mandi. Kini, pintu itu sudah sedikit terbuka.


"Sini ...," pinta Ara.


‘Duh … saya mana bisa menahan godaan seperti ini? Mungkin bisa kalau bukan kamu, tapi kalu kamu …,’ batin Morgan yang seketika berubah mood.

__ADS_1


Morgan tiba-tiba saja mendelik, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Brakkkk ...."


Ara terkejut sekali, karena Morgan yang membuka paksa pintu kamar mandi yang sedang Ara tahan, membuat Ara mendelik kaget karenanya.


“Ngapain--”


"Huaaahhhhhh!"


Morgan mengangkat Ara, seperti sedang menggendong seorang bayi. Morgan membawa Ara menuju ke arah ranjang tidurnya.


“Lepasin, Gan! Kamu mau apa?” pekik Ara yang masih kaget dengan keadaan.


Morgan pun mengabulkan permintaan Ara, untuk melepaskan pelukannya, tentunya ketika sudah sampai di atas ranjang.


"Brukkkk ...."


Morgan menjatuhkan Ara di atas ranjang, membuat Ara bingung dibuatnya.


Apa yang akan dia lakukan padaku, yang saat ini hanya memakai sehelai handuk saja? Pikir Ara.


"Gan--" lirih Ara yang terpotong, karena aksi Morgan yang sangat arogan.


"Cupppsss ...."


Morgan tiba-tiba saja mengecup bibir Ara, dengan dipenuhi nafsu, membuat Ara melenguh setiap kali terkena kecupan Morgan. Tangannya tidak tinggal diam, ia mulai menggerayangi dada Ara, sembari membuka paksa handuk yang sedang Ara pakai.


Morgan yang sudah kalap, langsung mengecup dada Ara dengan sangat agresif, meninggalkan bekas kecupan kepemilikan di sana, membuat Ara hampir saja kehilangan kendali atas dirinya.


"Ahhh ... Pak Morgan ...." Ara merasa, kali ini dirinya tidak dapat menahannya lagi.


Mendengar ucapan Ara yang seperti itu, tiba-tiba saja, Morgan menghentikan aktivitasnya, dan seketika berubah sikap menjadi dingin.


Morgan pun bangkit, dan langsung merapikan kemeja yang sedang ia kenakan. Hal itu membuat Ara tersadar dari rasa hilang kendalinya.


Morgan menafikan pandangannya, "kamu siap-siap pakai baju. Saya mau mandi dulu," ucap Morgan yang mendadak berubah sikap menjadi dingin.


Sikapnya sangat tidak selaras dengan tindakan yang baru saja ia lakukan pada Ara.


Ara mendelik kebingungan dengan yang Morgan lakukan.


“Morgan kenapa?” gumam Ara bertanya-tanya dengan keadaan Morgan yang baginya sangat aneh itu.


Morgan pun menuju kamar mandi, membuat Ara benar berpikir, ia benar-benar meninggalkanku dalam kondisi seperti ini. Aku merasa bingung, ada apa yang terjadi dengannya?

__ADS_1


__ADS_2