
Arash dan Ilham sedang asyik mempersiapkan peralatan untuk pesta barbeque di tepi pantai. Setelah selesai membersihkan diri karena mereka yang langsung bermain di pantai, mereka pun segera mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pesta malam ini.
Arash dan Ilham sedang menyiapkan alat untuk memanggang, sedangkan Bunga dan Fla, mempersiapkan makanan dan bumbu yang akan diolah oleh Arash dan Ilham.
Tugas Ares? Jangan ditanya!
Ares bagian mencicipi makanan. Enak tidaknya makanan, sesuai dengan lidah dan seleranya.
"Berhubung susah nyari daging sapi, kita bakar ikan sama jagung aja, ya," gumam Arash, membuat Ilham dan Fla tertawa kecil.
"Semangat semuanya! Ares bantu nyicip aja ya," teriak Ares, membuat semua orang yang ada di sana tertawa mendengarnya.
Mereka mempersiapkan semua bahan-bahan yang mereka perlukan untuk menunjang keperluan pesta.
Keseruan mereka dalam merayakan malam tahun baru, sangatlah mengasyikan. Ares memegang sebuah kamera, dan terus mengambil gambar mereka yang sedang melakukan tugasnya masing-masing.
"Ckrekk ...."
Ares mengambil gambar Arash yang sedang membalikkan jagung, dan Ilham yang sedang mengoleskan bumbu penyedap pada jagung lainnya.
Arash dan Ilham memandang ke arah Ares, "kalau mau foto tuh pakai aba-aba dong," goda Arash, membuat Ares mengerutkan bibirnya.
"Kakak lakukan aja yang harus kakak lakukan, aku juga sama," ucap Ares, membuat Arash dan Ilham tertawa kecil ke arahnya.
Bunga terlihat sedang memotong-motong cabai dan bawang, sementara Fla sedang menusukkan potongan kecil daging ayam ke tusukkan sate.
Fla tersenyum dan sangat bahagia di malam yang penuh kebahagiaan ini.
"Tukk ...."
"Aws ...."
Saking senangnya, Fla sampai tak sadar tertusuk oleh tusukkan yang akan ia pakai untuk menusuk sate, membuat jari telunjuknya mengeluarkan darah kental.
Fla refleks berteriak, sehingga membuat Bunga dan yang lainnya mengalihkan fokus ke arahnya.
Bunga memandangnya dengan senyum yang menyungging, 'rasakan,' batin Bunga yang senang karena Fla yang terluka, tanpa ia harus repot-repot melakukan sesuatu.
__ADS_1
Mengetahui Fla terluka, Arash mendelik kaget ke arahnya dan segera menghampiri Fla.
"Fla, kamu kenapa?" tanya Arash, yang langsung melihat ke arah jari telunjuk Fla yang sedari tadi Fla pegangi.
Arash melihat cairan kental berwarna merah itu, keluar dengan cukup banyak, membuat Arash terkejut karenanya.
"Sakit, Kak ...," lirih Fla, membuat Arash refleks, dan segera menghisap darah yang ada di telunjuk Fla.
Fla terkesiap, karena Arash yang dengan rela melakukan hal di luar nalarnya. Fla hanya bisa memandangi Arash yang sedang menghisap darah di telunjuknya.
'Kak Arash kenapa rela ngelakuin apa aja demi aku?' batin Fla yang terkesima dengan hal yang Arash lakukan.
Melihat respon Arash yang ternyata di luar nalarnya, Bunga pun mendadak kesal, karena walaupun Fla terluka, Arash akan siap sedia untuk memasang badan untuknya. Bunga melupakan sesuatu yang sangat penting itu.
'Sial, lagi-lagi dia nolongin Fla,' batin Bunga, yang kesal sendiri dengan perlakuan Arash pada Fla.
Ares mendekat ke arah Arash dan Fla, "Kak Fla kenapa?" tanya Ares, mengalihkan fokus Fla ke arahnya.
"Kena tusuk sate. Ares jangan main tusuk sate ya, takut kena juga," ucap Fla, membuat Ares mengangguk kecil.
Arash menoleh ke arah Ares, "Ares, tolong ambil kotak P3K di kamar," pinta Arash.
Fla menatap Arash dengan tatapan bingung, "aku gak apa-apa, Kak. Udah gak sakit, kok," ucap Fla, membuat Arash mendelik.
"Apa? Walau darahnya sudah berhenti, tetap masih perlu obat, biar lukanya gak infeksi," ucap Arash, membuat Fla tersenyum hangat padanya.
Fla melirik sedikit ke arah Bunga, yang sepertinya sudah mulai kepanasan dengan sikap romantis Arash yang dilakukan padanya.
Ares pun datang dengan membawa sebuah kotak P3K yang selalu Arash bawa ke mana pun ia pergi, di dalam mobilnya.
"Ini, Kak," ucap Ares, yang segera menyodorkan kotak itu kepada Arash, lalu Arash pun menerimanya dengan segera.
Arash segera mengambil selembar kapas, dan menuangkan Rivanol ke kapas tersebut. Ia mengusap kapas itu ke sekitar luka, membuat Fla agak meringis kesakitan saat pertama tangannya menyentuh kapas itu.
"Awss ...," rintih Fla, membuat Arash menghentikan aktivitasnya.
"Aduh, sakit ya?" tanya Arash, membuat Fla mengangguk kecil.
__ADS_1
"Pelan-pelan ya," lirih Arash, lagi-lagi Fla hanya mengangguk.
Setelah selesai mengusapkan kapas berisi Rivanol, Arash membuka obat merah, dan meneteskannya pada luka itu, setelahnya membalutnya dengan plester coklat, agar darahnya cepat berhenti.
Arash memandang ke arah Fla, "sudah. Mudah-mudahan cepat membaik," lirih Arash dengan lembut, membuat Fla tersenyum hangat padanya.
"Makasih, Kak," lirih Fla, membuat Arash tersenyum, lalu mengusap puncak rambut Fla.
Bunga yang melihat kemesraan mereka, semakin memanas saja, karena dirinya tidak bisa menaklukkan hati dan perhatian Arash sedikit pun.
Muncul sebuah ide di benak Bunga. Bunga yang sedang memotong-motong bawang, segera mengiris sedikit pisau tajam itu ke arah telunjuknya, membuatnya juga mengeluarkan cairan kental berwarna merah dengan seketika.
"Aws ...."
Dia memang membuat-buat adegannya, tapi rasa sakitnya memang terasa, tidak dibuat-buat. Fokus mereka pun teralihkan, karena jeritan Bunga yang membuat mereka sampai mengalihkan fokusnya.
"Bunga, kamu kenapa?" tanya Arash, membuat hati Bunga senang, karena akhirnya mangsanya terkena jebakannya.
"Ini, jari saya kena pisau," jawab Bunga, sembari memprihatikan jarinya yang terkena pisau dan mengeluarkan banyak darah.
Arash menoleh ke arah Ares, "Ares, tolong mama kamu. Tolong obatin lukanya ya," pinta Arash, membuat Bunga mendelik tak percaya.
Fla yang mengetahui hal itu, berusaha menahan tawanya, karena ternyata umpan yang Bunga berikan, tidak termakan oleh mangsa.
Ilham yang menyadari hal itu, juga sedang berusaha menahan tawanya, karena Arash yang dengan mudahnya mengatakan hal itu pada Ares.
'Arash ... Arash. Kalau diperhatikan, lucu juga,' batin Ilham yang tak kuasa menahan tawanya.
Ares mengangguk kecil, "iya kak," Ares menoleh ke arah Bunga, "sini biar Ares bantu obatin," ucap Ares, membuat Bunga mendelik tak percaya dengan yang Arash pinta.
'Apa? Fla luka dia langsung inisiatif ngobatin, walaupun Fla udah bilang kalau dia gak apa-apa. Kenapa giliran saya dia malah suruh Ares yang ngobatin?' batin Bunga yang tak terima dengan yang Arash ucapkan.
Ares pun mengobati luka Bunga dengan senang hati. Tapi yang diinginkan Bunga bukan lah Ares yang melakukannya, melainkan Arash.
Melihat semua orang yang berkumpul di sana, Ilham pun datang dengan membawakan hasil jagung yang sudah ia bakar.
"Jagung sudah siap," gumam Ilham yang memecahkan keheningan.
__ADS_1
Ilham pun meletakkan jagung itu di hadapan mereka.
"Silakan dimakan," lirih Ilham, membuat semua orang mengambil makanannya.