
Sesampainya di bandara, mereka pun menuju ke ruang tunggu, untuk menunggu jadwal pesawat yang akan mengantarkan mereka terbang menuju tempat tujuan. Ara dan Morgan duduk bersampingan di sana.
Morgan menoleh ke arah Ara, "kamu haus?” tanyanya membuat Ara mengangguk kecil.
Morgan terlihat sedang melirik ke arah jam tangannya. Tentu saja, itu adalah jam tangan yang Ara belikan untuknya, waktu itu.
Morgan kembali memandang ke arah Ara, "sekarang jam sepuluh. Kita akan terbang satu jam lagi. Saya mau pergi cari makanan ringan, dan minum dulu untuk kita. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana, ya?" ucap Morgan yang saat ini sedang menunggu persetujuan Ara.
Lagi-lagi Ara mengangguk kecil ke arahnya. Morgan pun tersenyum tipis, lalu pergi dari hadapan Ara, meninggalkannya beserta barang-barang yang ia bawa.
Ara memperhatikan setiap pesawat yang lepas landas, dan yang turun landas. Apakah ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan untuk mereka?
Ketika tengah asyik melihat-lihat sekitar, Ara tak sengaja melihat ke arah pintu untuk menuju pesawat. Pandangannya terpaku oleh seseorang yang ia sendiri merasa tak asing dengan orang yang ia lihat itu. Ara berusaha menegaskan pandangannya ke orang itu, karena di sana, ada banyak sekali orang yang mengantri untuk bisa masuk ke dalam, membuat dirinya tidak bisa melihat dengan jelas orang tersebut.
“Itu kayak kenal, deh!” gumam Ara, yang masih berusaha untuk memperhatikannya.
Ara mendelik, "Hatake?" gumam Ara, yang tak sengaja melihatnya, yang kini sedang bersama dengan seorang wanita, yang juga terlihat tidak asing bagi Ara.
Sedang bersama siapa dia? Sepertinya, orang yang juga pernah aku lihat waktu itu. Tapi, di mana aku pernah melihat wanita itu, ya? Pikir Ara.
Ara bergegas untuk membuka handphone-nya dan mencoba untuk menghubungi Hatake.
“Tuuuuuuttt ….”
'Tersambung!' batin Ara yang merasa sedikit tenang, karena Hatake belum menonaktifkan handphone-nya.
Dari arah sana, ia terlihat sedang merogoh saku celananya, karena menyadari kalau handphone-nya sedang berdering.
Hatake pun menerima telepon dari Ara, "hallo, how are you?” tanya Hatake yang sedikit berbasa-basi dengan Ara.
Ara terdiam sejenak.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ara sendu, yang langsung ke titik intinya.
Hatake terlihat begitu sedih, ketika mendengar pertanyaan Ara. Ia menoleh ke sekelilingnya, untuk melihat keadaan.
“Apa kamu ada di sini?” tanya Hatake, membuat Ara semakin sendu mendengarnya.
__ADS_1
“Enggak,” ucap Ara, yang terpaksa berbohong pada Hatake.
Dari kejauhan, Hatake terlihat mengembuskan napasnya, "aku harus ke Jepang. Ada sesuatu yang harus aku urus," ucapnya.
Ketika tengah berbincang, kini tiba gilirannya untuk diperiksa segala sesuatunya, membuat telepon mereka terputus, dan Ara tidak bisa berkomunikasi lagi dengannya.
Hatake terlihat pergi menjauh dari keramaian, dan masuk ke dalam pesawat.
Ara merenungkan kepergian Hatake, "ada apa dengan Hatake? Bukannya, dia gak suka kalau harus kembali ke Jepang?" gumam Ara, yang merasa ada yang mengganjal.
Ara tidak bisa berhenti untuk memikirkan Hatake.
Apa ada masalah yang sangat mendesak, sehingga dia menyetujui untuk kembali? Pikir Ara yang mencoba untuk menebak-nebak permasalahan yang terjadi padanya.
"Dringgg ...."
Ara dikejutkan dengan dering teleponnya. Ia melihat, ternyata teman-temannya sedang membuat video call bersama. Ara melupakan sejenak masalah Hatake, dan segera mengangkat telepon dari mereka dengan penuh rasa semangat.
"Haaiiii ... epribadeh," ucap Ara asal.
Mereka semua tertawa mendengar celetukan Ara. Ray, Rafa, dan juga Fla terlihat sangat bahagia saat ini.
Sepertinya, aku merasa akhir-akhir ini Farha semakin terasa asing. Tidak selalu mengikuti kegiatan kami, pikir Ara yang mulai curiga dengan Farha.
"Farha, katanya sih mau jalan-jalan. Dia lagi persiapan," ucap Fla, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.
"Gimana persiapan? Bukannya harusnya loe jalan kemarin ya, Ra?" tanya Rafa tiba-tiba, entah untuk mengalihkan topik atau hanya sekedar bertanya.
"Iya, semalam gua punya feeling gak enak tentang cuaca. Ternyata gak terjadi apa-apa, tuh," ucap Ara menjelaskan, membuat mereka semua tersenyum tipis.
"Huuuh ... padahal, gue mau ikut ke Jepang. Kenapa gue gak boleh ikut sih ...," gumam Fla dengan kesal.
Ara hanya tertawa kecil melihat responnya yang seperti kekanak-kanakan itu, yang tidak pernah berubah.
"Tenang, nanti kita shopping bareng," ucap Ray asal, membuat Fla terkejut mendengarnya.
"Bener loe ya! Jangan kayak waktu itu, bilang shopping bareng, gak taunya minta bayarin," celetuk Fla, Ara sampai terpingkal-pingkal mendengarnya.
__ADS_1
"Wah parah ...," Rafa mulai melancarkan aksinya, untuk memperkeruh keadaan.
"Yeeehhh enggak lah! Tenang aja sih. Kalaupun gak memungkinkan, kita bayar masing-masing, biar ga ada yang merasa dirugikan," tepis Ray, lagi-lagi membuat Ara tertawa geli mendengarnya.
"Hihi ... wah emang paling-paling dah loe," ucap Ara, yang tak tahu lagi harus berkata apa.
"Eh gimana, PDKT loe sama si Jepang itu?" tanya Ray pada Fla, mengingatkan Ara lagi pada Hatake.
Apa boleh, aku mengatakannya pada Fla kalau aku melihatnya hari ini di bandara? Pikir Ara yang sedang berada dalam keresahan.
"Bukan PDKT lah! Lagipula, gue gak naksir tuh sama dia. Gue tuh naksirnya sama Ar--” ucap Fla, yang terpotong karena ia merasa kelepasan berbicara tentang Arash pada mereka.
“Siapa, Ar? Ara maksudnya?” tanya Rafa yang memojokkan Fla, membuat Fla terlihat seperti orang yang sedang kikuk.
“Ih apaan sih! Lagi ngomongin Hatake, gak usah ke mana-mana ya. Hatake itu, dia lebih ke temen sih kalau gue perhatiin, soalnya dia asik orangnya," ucap Fla yang berusaha untuk menghalau rasa malunya.
Ada pikiran yang sedang mengganggu Ara saat ini. Apa Fla tidak tahu kalau Hatake hari ini berangkat ke Jepang? Pikir Ara.
"Nanti juga lama-lama jadian. Liat aja!" tantang Rafa.
"Sok tahu loe!" tepis Fla.
"Ra …," pekik seseorang, yang Ara tahu adalah Morgan.
Mendengar Morgan yang sudah memanggilnya, Ara pun mengubah sikapnya, "semuanya, gue siap-siap dulu ya. Doain supaya selamat sampai tujuan," ucap Ara yang memecahkan konsentrasi mereka.
"Hati-hati ya, Ra," ucap Rafa teriring senyumannya.
"Iya, save flight ya!" ucap Ray dengan sangat bersemangat.
"Hati-hati Ara dan Kak Morgan!" ucap Fla pada Ara dan juga pada Morgan, yang sedari tadi berdiri di sebelah Ara.
Morgan mengangguk kecil sembari tersenyum tipis ke arah mereka. Ara pun melambaikan tangannya, dan mengakhiri video call kali ini bersama dengan semua sahabatnya.
Morgan menyodorkan beberapa bungkus makanan ringan beserta minuman, membuat Ara menoleh ke arahnya. Ara pun tersenyum, seraya mengambilnya dengan sukarela.
"Makasih," lirih Ara, Morgan hanya tersenyum kecil mendengar ucapan terima kasih Ara.
__ADS_1
...***...