Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Romantis di Pesisir Pantai


__ADS_3

Arash melepas kacamatanya, kemudian meletakkan dagunya pada bahu Fla, membuat jantung Fla menjadi sedikit berdebar dibuatnya.


"Lantas harus seperti apa saya menjawab pertanyaan kamu? Apa saya harus jungkir balik dulu, biar kamu percaya?" tanya Arash, membuat Fla mendelik kaget dengan yang Arash ucapkan.


"Ih ... gak gitu, Kak! Kakak merenung, tapi gak ada sedih-sedihnya banget, gimana orang bisa percaya?" tanya Fla membuat Arash tersenyum mendengar jawabannya.


"Fla ... gak semua orang bisa mengungkapkan rasa sedih yang ia pendam. Seperti ini saya mengungkapkan rasa sedih saya sama kamu," jawab Arash, membuat Fla mendelik tak percaya dengan yang Arash katakan.


Fla menunduk, "ya, Kakak benar," lirih Fla yang menyandarkan kepalanya pada kepala Arash.


"Kak ...," pekik Fla.


"Kenapa?" tanya Arash.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Fla, membuat Arash tersenyum.


"Harus bayar pakai kecupan hangat," ucap Arash secara sembarang, membuat wajah Fla tiba-tiba terasa sangat panas, saking malunya dengan ucapan Arash.


"Ya sudah, aku gak jadi tanya," gumam Fla dengan raut wajah tertekuk, seperti kanebo kering.


Arash meletakkan tangannya di wajah Fla, "wajah kamu panas. Kamu sakit?" tanya Arash, membuat wajah Fla semakin terbakar.


"Mana ada sakit!" bentak Fla tiba-tiba, membuat Arash tertawa renyah karena respon yang diberikan Fla.


"Kamu mau tanya apa?" ujar Arash, berusaha menetralkan suasana.


"Apa sih alasan Kakak nerima aku, selain karena terpaksa untuk bikin kak Bunga cemburu?" tanya Fla, membuat Arash tersenyum memandang langit yang sudah mulai gelap.


"Apa ya? Kakak juga gak tahu. Padahal Kakak sama sekali gak mau kenal lebih jauh sama kamu. Tapi entah kenapa, sejak kita terjebak di lift waktu itu, Kakak jadi gak bisa berhenti mikirin keadaan kamu," jawab Arash, membuat Fla tertawa kecil.


"Padahal justru Kakak yang kenapa-kenapa. Kakak yang malah masuk rumah sakit waktu itu," sambar Fla, membuat Arash tertawa renyah ketika mendengar ucapan Fla.


"Ya, mungkin benar. Tapi, entah kenapa Kakak gak mau ngeliat kamu kenapa-kenapa. Apalagi kamu udah sesak napas kayak gitu, mana tega ngeliatnya? Apalagi, kamu itu adiknya sahabat Kakak, dan juga temannya Ara. Kakak juga kan punya adik, jadi gak mungkin Kakak diam ngeliat kamu sekarat begitu," ucap Arash menjelaskan pada Fla, membuat Fla tersenyum seketika.


"Terus kenapa kamu suka sama Kakak?" tanya Arash, membuat Fla menunduk malu.


"Awalnya aku kepikiran aja, karena Kak Arash udah nolongin aku waktu aku kena bully waktu itu. Pas aku lihat lagi, kok aku kayak gimana ... gitu sama Kakak," ujar Fla, membuat Arash tersenyum renyah.

__ADS_1


"Pacar kamu ini, keren gak?" tanya Arash, membuat Fla menunduk menahan rasa malunya pada Arash.


"Pasti dong," lirih Fla, membuat Arash tersenyum lalu mengecup singkat puncak rambut Fla.


Arash mendadak terdiam karena kondisi yang aneh ini, "Fla, Kakak rasa, kamu pelan-pelan harus tahu masa lalu Kakak, biar kamu bisa mempertimbangkan mau putus, atau terus," gumam Arash, membuat Fla seketika mendelik karena ucapan Arash.


"Kakak kenapa ngomong seperti itu?" tanya Fla, membuat Arash terdiam sembari menghela napasnya panjang.


"Mumpung Kakak juga belum terlalu dalam mencintai kamu. Begitu pun kamu," jawab Arash, membuat Fla terdiam sejenak sembari mencerna perkataan Arash.


"Kakak bukan pria yang baik. Kakak udah banyak banget main sama para wanita di luar sana, bahkan Kakak bukan pertama kalinya melakukan hubungan ****," ucap Arash dengan jujur, membuat Fla mendelik karena terkejut mendengar pengakuan Arash yang terlalu terbuka.


Fla memang sudah mengetahui hal itu dari mulut Jessline, tapi ia tidak menyangka, Arash akan berbicara dari mulutnya sendiri.


"Tapi kamu tenang aja, Kakak gak akan lakuin hal itu sama kamu, kok. Kakak belajar dari pengalaman, dan juga karena kamu kelihatannya gadis baik-baik, Kakak gak mau merusak kamu," ucap Arash, membuat Fla memandangnya dengan penuh rasa sayang yang teramat dalam.


"Aku sudah menjatuhkan pilihan. Soal bagaimana Kakak di masa lalu, aku sama sekali gak permasalahin," ucap Fla, membuat Arash melontarkan senyuman ke arahnya.


Arash memperlihatkan telapak tangannya pada Fla, membuat Fla menyatukan telapak tangannya juga, dan mereka pun kini saling menggenggam erat tangan mereka.


"Maaf soal kejujuran ini. Dan maaf soal Bunga," gumam Arash, membuat Fla tersenyum tipis.


"Ckrekk ...."


Terdengar suara kamera dari belakang mereka, membuat Arash dan Fla seketika menoleh ke arah belakangnya.


Terlihat Ares, yang sedang menelengkup di atas pasir, sembari mengarahkan kamera ke arah Arash dan Fla yang sedang merangkul satu sama lain. Di belakangnya juga terlihat Ilham dan Bunga yang sedang memperhatikan mereka.


Ares mendelik kaget, "ih, kok bunyi, sih?" gumam Ares, membuat Fla dan Arash tertawa karenanya.


Arash pun memandang ke arah Fla, begitu juga Fla yang juga memandang ke arah Arash.


...***...


Melihat Farha yang sepertinya memandang tak senang ke arahnya, Morgan pun menurunkan Ara dari punggungnya.


"Ceritanya panjang, Ra! Gue bisa ikut nginep bareng Loe gak?" tanyanya, membuat Morgan mendelik.

__ADS_1


"Gak boleh!" pangkas Morgan ketus dengan spontan.


Ara melihat ke arah Morgan dengan tatapan tak percaya.


Morgan membalas tatapan Ara dengan dingin, mungkin saja, ia bisa mengelabui Ara. Tapi, dia tentu tidak bisa mengelabui saya, pikir Morgan.


"Lho ... kok loe gitu sih, Gan? Kasian Farha!" bela Ara.


Morgan memandang Farha dengan tatapan sengit, tak kusangka liburanku kali ini dibuat berantakan oleh bocah ini, pikir Morgan yang sudah terlanjur kesal dengan keadaan.


"Ayo Far, kita ke hotel!" ajak Ara pada Farha, yang sembari berlalu pergi meninggalkan Morgan sendiri di sana.


Farha terlihat sedang tersenyum miring pada Morgan, membuat Morgan menggertakkan gigi gerahamnya.


Mereka pergi meninggalkan Morgan sendiri di sini.


Seharusnya, Ara bisa dengan mudah mencari hotel tempat kita menginap, pikir Morgan yang tidak ingin mengikuti mereka berjalan.


Morgan terdiam sejenak, dan tak tahu harus berbuat apa.


Morgan memandang ke arah mereka yang semakin lama, kian menghilang di depan sana, "bocah itu benar-benar ingin main-main dengan saya!" gumam Morgan yang tak senang dengan keberadaan Farha.


Morgan mengeluarkan handphone-nya dan segera menyambungkannya pada WiFi gratis yang ada di sekitar wilayah ini.


"Bippp ...."


Setelah terhubung dengan sambungan internet, Morgan pun menelepon Naoki.


Aku ingin sekali menginap di sana. Aku tidak mau satu ruang lingkup dengan orang yang munafik seperti itu, pikir Morgan yang masih kesal dengan Farha.


"Halo ... siapa ini?" Naoki menjawab telepon dari Morgan.


"Ini aku, Morgan," ucap Morgan.


"Ya! Kenapa, Morgan?" tanyanya.


Mendengar pertanyaannya, Morgan hanya diam, tak bisa menjelaskan maksud dan tujuannya saat ini.

__ADS_1


"Bolehkah aku menginap di rumah kamu?"


...***...


__ADS_2