Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Selamat Tinggal, Bisma


__ADS_3

Terdengar suara petir yang menyambar keras. Apakah sekarang ini sudah mulai memasuki musim penghujan? Selalu seperti ini, di saat Ara sedang mellow.


“Srakkk ….”


Hujan tiba-tiba saja turun, membasahi sekujur tubuh Ara. Hujan dan tangisnya tercampur menjadi satu. Ia sudah mulai kehilangan akal sehatnya.


Terlihat bayangan lain di permukaan air danau, yang tak jelas karena terkena tetesan air hujan, membuat Arasha tersadar, dan segera menghentikan tangisnya.


Ara menoleh segera ke arahnya.


Firasatnya mengatakan … Morgan.


“Mor--” pekik Ara yang terpotong, karena kaget saat melihat ke arah sebelahnya, bukan Morgan yang ada di sana.


“Gan,” sambung Ara dengan sangat lirih, sampai dipastikan, tidak ada yang tidak bisa mendengar ucapannya yang terakhir, kecuali dirinya sendiri.


Terlihat Bisma di hadapan Ara, sedang berdiri mematung.


“Ra …,” pekik Bisma lirih.


Tanpa persetujuan Ara, ia langsung menghampiri dan duduk di sebelah Ara, membuat Ara menjadi bingung.


“Loe ngapain di sini, Ra?” tanya Bisma yang terdengar canggung.


Ara menunduk, tak membiarkan Bisma tahu, kalau sebenarnya ia sedang menangis. Beruntung hujan turun, karena air matanya yang bercampur dengan air hujan, yang kemungkinan tidak Bisma sadari.


Ara menatap mantap ke arah Bisma.


“Gak apa-apa, Bis. Gue lagi pengen sendiri aja,” jawab Ara pada Bisma.


Terlihat Bisma yang sedang menghela napas dan memikirkan bagaimana caranya untuk melanjutkan percakapan selanjutnya dengan Ara.


“Ini hujan lho, Ra. Apa gak sebaiknya kita berteduh?” tawar Bisma.


“Gak, Bis. Gue lagi pengen menikmati hujan,” tolak Ara, Bisma terlihat diam sesaat sembari menunduk.


Bisma kembali menatap ke arah Ara.


“Gimana keadaan loe, Ra?” tanya Bisma.


Ara hanya menunduk, tak merespon apa pun.


Ara tidak bisa terus seperti ini. Ia harus menegaskan Bisma tentang perasaan yang ia alami saat ini.


Ara memberanikan diri untuk menoleh ke arah Bisma.


Terlihat tatapan sedih dari matanya itu. Hujan yang terus-menerus turun, membuat Ara tak bisa membedakan antara air mata dengan air hujan. Karena Ara yakin, Bisma sedang meneteskan air matanya, saat ini.

__ADS_1


“Gue …” ucap Ara ragu, “baik,” sambungnya.


Mungkin tak masalah jika Ara sedikit berbincang dengan Bisma. Ara sudah tahu niat jahat Bisma waktu itu, dari cerita Morgan. Ia menjelaskan kembali rincinya, dengan mengirimkan chat panjang lebar tentang kejadian waktu itu, sebelum Ara sempat renggang dengan Morgan sekarang. Sejak saat itu, Ara jadi bimbang.


“Bagus deh kalau baik,” ucapnya.


Hening.


Hanya itu yang terjadi saat ini.


Ara tak tahu lagi, apa yang harus ia katakan. Mungkin Ara hanya perlu menjawab apa yang Bisma tanya.


“Gue ke sini, cuma mau minta maaf, Ra,” ucapnya.


Ara hanya mengangguk kecil, karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


“Terus juga, gue mau bilang, kalau … gue malam ini terbang ke Amerika,” ucapnya yang tiba-tiba, membuat perasaan Ara menjadi mendadak lega.


Mungkin setelah ini, tidak ada lagi yang perlu Ara khawatirkan.


“Gue pasti akan menetap di sana. Ditambah lagi, gue udah janji sama dosen itu, buat gak ganggu loe lagi. Kebetulan juga papa ngajak ke sana buat bisnis. Mungkin, gue juga sekalian lanjut belajar di sana,” jelasnya panjang lebar.


Ara hanya diam sembari mendengarkan penjelasannya. Ada perasaan kaget setelah mendengar penjelasan darinya.


Kaget? Itu pasti.


Ara menghela napasnya, untuk mempersiapkan diri.


“Tapi, ada satu permintaan terakhir gue ke loe, Ra,” ucapnya, membuat Ara menjadi penasaran.


Ara menyipitkan mata ke arahnya.


“Apa, Bis?” tanya Ara penasaran.


Bisma terlihat sedang menghela napasnya. Ara berharap, bukan permintaan yang tidak bisa ia penuhi.


“Gue … boleh peluk cium untuk yang terakhir kali, gak?” pintanya.


“Deg ….”


Ara merasa terenyuh. Bisa-bisanya Ara jadi tidak tega untuk melepas Bisma, karena perkataannya ini. Kenapa ia mudah sekali tersentuh, oleh setiap perkataan laki-laki?


Aku payah, pikir Ara.


“Hah?” kaget Ara tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Sebentar aja ...” lirih Bisma.

__ADS_1


Ara berpikir sejenak. Apakah boleh seperti ini?


Bisma sudah hampir mencelakakannya, dengan berusaha untuk mengambil kehormatannya. Ara mungkin saja tidak akan pernah bisa memaafkannya.


Tapi kenyataannya, Bisma akan segera meninggalkan tempat ini. Bukan hanya pindah daerah, tapi pindah Negara. Apakah Ara akan membiarkannya pergi dalam rasa penasaran yang melandanya itu?


Hatinya agak bimbang.


“Huft ….”


Ara menghela napas panjang. Biar bagaimana pun juga, Bisma pernah menjadi bagian hidupnya, walaupun hanya sebentar.


Sekarang, Bisma pun ingin pergi ke suatu tempat yang jauh, dan ada kemungkinan untuk mereka tidak akan pernah bisa bertemu kembali. Ara harus mengesampingkan egonya dulu.


Ara mengangguk, mengiyakan permintaannya. Toh, siapa tahu ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, Bisma tidak akan bisa mengganggu Ara lagi.


Ara mendadak bangkit dan berdiri di hadapan Bisma. Bisma mengikutinya. Kini, mereka berdiri sejajar berhadapan.


“Hati-hati di jalan nanti,” ucap Ara memberinya pesan, dengan penuh semangat.


Terlihat Bisma yang masih sedih, kemudian mendadak tersenyum setelah Ara mengucapkan kata-kata semangat untuknya.


Bisma tersenyum padanya, dan langsung saja memeluknya dengan erat. Cukup lama, ia memeluk Ara dalam hujan yang tidak terlalu deras. Kini, Ara dapat merasakan ketulusan permohonan maaf dari Bisma.


Aku percaya pada Bisma, kali ini, pikir Ara.


Ara merenggangkan pelukannya dan menatapnya dalam, “semoga, loe mendapatkan wanita yang lebih baik lagi, yang bisa ngubah loe menjadi laki-laki yang lebih baik lagi.”


Bisma tersenyum sembari mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ara.


“Cupppsss ….”


Bisma mengecup bibirnya dengan lembut. Ara memejamkan matanya. Seandainya Bisma masih bisa tinggal di sini, dan menghibur dirinya yang masih merasakan patah hati, Ara pasti akan sangat senang. Tapi, rasa bencinya saat ini, tidak mengizinkan itu.


Ara membuka matanya. Sudah cukup lama Bisma menciumnya. Ara melirik, dan tak sengaja, ia melihat Morgan di seberang sana, yang sedang memperhatikan mereka.


Dari tatapannya, terlihat amarah Morgan yang menggebu.


‘Dia ngeliat pun, gak jadi masalah harusnya. Dia bukan siapa-siapa gue, kok,’ batin Ara sembari tetap melanjutkan berfokus pada Bisma.


Tak lama, Bisma menyudahi ini semua. Ia menatap dalam diri Ara, sembari tersenyum simpul.


“Sekali lagi, maafin gue ya, Ra,” ucapnya.


Ara membalas senyumannya, lalu mengangguk kecil. Mungkin, ini adalah terakhir kalinya ia bisa bertemu dengan Bisma. Jadi, ia harus memberikan kesan baik padanya. Apalagi, hubungan mereka ini belum ada kata putus. Tapi, Ara sudah tidak ingin membahas tentang hubungan ini lagi. Anggap saja, ini sebuah tanda sebagai akhir dari hubungan mereka juga.


Bisma terlihat sedang merogoh sakunya, karena ingin memberikan Ara sebuah kenangan, yang bisa Ara ingat meskipun ia sudah tidak ada di sisi Ara lagi.

__ADS_1


“Jaga ini ya.” Bisma mengulurkan sesuatu pada Ara.


__ADS_2