Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Make Sure


__ADS_3

Ara bahagia sekali, bisa mendengar kalimat itu langsung dari mulut Morgan. Jadi, ia tidak perlu untuk melakukannya lebih dulu, supaya tidak terkesan seperti wanita murahan.


Morgan masih merenggangkan tangannya, untuk memberi kode kepada Ara. Ara tersenyum, dan segera pergi ke dalam pelukannya, dan memeluk dirinya.


Morgan memeluk Ara, layaknya sebuah guling, membuat napas Ara menjadi sesak tak beraturan.


Ditambah lagi, perasaan tegang saat menerima setiap sentuhan dari Morgan, yang masih terasa hingga saat ini.


“Ada jadwal kuliah hari ini?” tanya Morgan.


Ara hanya mengangguk kecil, Morgan pun semakin mempererat pelukannya itu.


“Nanti, aku antar ya,” ujarnya membuat Ara bingung dengan maksud dari perkataannya.


“Lho, bukannya kamu juga kerja?” tanya Ara.


Morgan yang terkejut mendengar ucapan Ara, segera merenggangkan pelukannya, dan menatap Ara dengan tatapan penuh dengan kebahagiaan.


Sangat terlihat dengan jelas, di mata Ara.


“Teruslah panggil aku dengan sebutan ‘kamu’,” ucap Morgan.


Ara ternyata keceplosan untuk bersikap manis padanya. Baru kali ini, Ara pertama kalinya memanggil Morgan dengan sebutan ‘kamu’.


Ara secara tidak sadar mengucapkan kata ‘kamu’, dan Morgan pun menyadarinya.


Ara hanya tidak terbiasa untuk menyebutnya dengan lembut. Tapi, mau tidak mau, Ara harus melakukan itu, demi Morgan.


“Yaudah, aku coba ya,” ucap Ara dengan sangat kaku menyebutkan setiap katanya.


Morgan tersenyum hangat pada Ara, dan mengelus lembut rambut Ara, kemudian kembali untuk menjadikan Ara sebagai gulingnya.


Suasana menjadi canggung seketika, membuat Ara memutar otaknya, agar suasana tidak menjadi semakin rancu.


Ara melihat ke arah Morgan, membuat Morgan merenggankan pelukannya pada Ara, “kamu kenapa mau jadi pacar aku?” tanya Ara, membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.


“Emm … kenapa, ya?” Morgan bingung memikirkan jawabannya.


“Aku kan galak, jutek, nyebelin, tapi kenapa kamu mau sama aku?” tanya Ara yang masih saja penasaran dengan alasan Morgan, yang bisa menyukai gadis seperti dirinya.


Padahal, di luar sana mungkin masih banyak wanita yang ingin sekali menjadi kekasihnya, pikir Ara.


Bukan mungkin, tapi memang benar adanya, hihi.

__ADS_1


Morgan menatapnya dengan lekat, “kamu itu ... unik,” jawabnya dengan simpel.


Ara merasa belum puas dengan jawaban yang Morgan berikan. Ara hanya tidak ingin, ia salah mengambil langkah dan mengalami kegagalan lagi seperti dulu.


Ara mengerenyitkan dahinya, “jawab yang bener kek!” bentak Ara yang masih menahan kesal padanya.


“Ya ampun, sayang …,” ucapnya sembari memelototi Ara.


Ara cukup takut dibuatnya, sampai ia hanya diam saat Morgan bersikap demikian.


Ara sangat takut, kalau Morgan lagi-lagi sampai menghajar tembok yang tidak bersalah itu.


Morgan pun terdiam, karena melihat respon Ara yang sedikit takut, karena melihat ekspresinya.


Morgan langsung memeluk Ara dengan erat, tak membiarkan Ara merasa ketakutan dengan sikapnya yang aneh itu.


Ara pun membalas pelukannya, itu dengan diiringi rasa takut.


“Maafin aku ya, aku bikin kamu takut lagi. Aku berusaha untuk ngilangin sifat jelek aku yang satu ini kok,” ucap Morgan yang terdengar seperti nada yang penuh dengan kesungguhan.


Ara mengangguk kecil dan berusaha untuk percaya padanya.


Ara merenggangkan pelukannya, dan menatap ke arahnya, “kamu belum jawab dua pertanyaan aku,” ucap Ara yang berusaha mengingatkannya.


Ara hanya diam terkekeh, mendengar ucapannya itu.


Ternyata ada orang yang punya rasa percaya diri yang tinggi seperti itu, pikir Ara.


Ara sangat kesal mendengarnya.


“Terus, kenapa gak ada jadwal ngajar? Senin lalu ada. Kenapa senin sekarang gak ada?” tanya Ara dengan sedikit rasa curiga padanya.


Morgan tersenyum dan kembali memeluk Ara dengan erat.


‘Rasanya, ingin terus seperti ini sama kamu,’ batin Morgan merasakan nyaman saat memeluk Ara.


“Sebetulnya, memang tidak ada. Itu semua karena aku pengen ngeliat kamu terus. Makanya aku selalu hadir,” ucap Morgan, yang mampu membuat wajah Ara terasa panas kembali.


Aku ingin, supaya Morgan tetap seperti ini. Apakah bisa? Pikir Ara yang masih takut, jika kehilangan Morgan lagi dari hidupnya.


“Jangan pernah berubah ya, om,” pinta Ara.


Morgan mengerenyit, dan kembali merenggangkan pelukannya itu.

__ADS_1


“Kamu panggil saya apa tadi?” tanyanya.


Sepertinya, Ara salah berucap tadi.


“Om,” jawab Ara dengan nada polos.


Morgan menghela napasnya dan berusaha menahan amarahnya, membuat Ara tertawa melihat ekspresinya yang benar-benar berusaha, dan ingin sekali mengubah sifat amarahnya itu.


“Awas ya ...,” ancam Morgan, sembari mengelitiki perut Ara.


Ara jadi tertawa karena merasakan geli akibat kelitikan dari Morgan.


Mereka berdua pun tertawa bersama dengan lepas.


Rasanya sangat bahagia bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Kenapa aku bisa sampai jatuh hati dengan orang seperti ini? Pikir Ara yang masih menahan gelinya karena Morgan yang terus menggelitikinya.


Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah, berusaha untuk mempertahankan semua yang telah aku raih saat ini. Dia sudah menjadi milikku. Jangan sampai ada pihak ke-3 yang berusaha menghancurkan, bahkan sampai merebut Morgan dariku. Tidak akan aku biarkan itu terjadi, tambahnya sembari membuat tekat kuat.


Morgan menghentikan aksi jahilnya pada Ara, membuat Ara bisa bernapas dengan lega.


“Jangan panggil saya om lagi sekarang, karena saya sudah jadi pacar kamu,” lirih Morgan berusaha mengingatkan Ara dengan status mereka saat ini.


Ara tersenyum, “jangan manggil ‘saya’ lagi, sekarang harus ‘aku-kamu’ lho,” ucap Ara, yang juga berusaha untuk mengingatkan Morgan dengan janjinya.


Morgan yang sudah tidak bisa berkata lagi, hanya tersenyum, sembari mengacak-acak rambut Ara.


“Oh ya, kakak dan yang lainnya mana?” tanya Ara yang hampir melupakan mereka.


Morgan memeluk erat Ara dari arah belakang, yang sedang duduk membelakanginya.


“Arash dan yang lainnya pulang tadi malam. Aku nemenin mereka minum shochu dan main kartu, sebentar,” jawabnya.


Lagi-lagi mereka minum shochu. Apa mereka tidak ingat baru kemarin mereka meminum sochu? Pikir Ara.


“Ish parah, kenapa sih pada minum terus? Kan mereka baru minum kemarin. Kenapa gak inget sih?” Ara pun mendengus kesal.


Morgan tidak mempedulikan Ara, dan malah menciumi leher Ara secara terus-menerus, membuat Ara menjadi sedikit tergugah karenanya.


Ara memejamkan matanya, sembari menikmati setiap sentuhan yang Morgan berikan. Ara tidak bisa menahan rasa geli, yang selalu muncul ketika Morgan menyentuhnya.


Apa itu adalah hal yang wajar? Sepertinya, ada sesuatu yang membuat diriku sampai merasa merinding di sekujur tubuhku, pikir Ara yang masih bingung dengan keadaan.


Morgan tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya itu.

__ADS_1


“Boleh kita bersenang-senang, sekarang?” tanya Morgan.


__ADS_2