Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ganti Parfum


__ADS_3

“Udah?” tanya Morgan, membuat Ara mengangguk kecil.


Morgan mengulurkan tangannya pada Ara, “ayo, saya antar kamu pulang,” ucap Morgan.


Ara mengangguk ke arahnya, lalu mengulurkan tangannya dan meraih tangan Morgan.


Ara tersenyum pada teman-temannya, "semuanya, duluan ya?” ucap Ara berpamitan.


Mereka nampak sedih dengan kepergian Ara, walaupun hanya sementara saja.


Mau tidak mau, Ara harus menjalaninya, karena ini adalah salah satu bentuk dari tanggung jawabnya.


Akhirnya, Ara melangkah bersama Morgan, kembali menuju parkiran.


Farha menatapnya dengan tatapan datar, seperti sedang berpikir sesuatu.


“Yuk Far,” ajak Fla, yang langsung masuk ke dalam kelas.


“Grepp ....”


Farha menahan tangan Fla, membuat Fla tidak bisa menyamai langkah Ray dan Rafa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas.


Fla menoleh ke arah Farha, “ada apa, Far?” tanya Fla yang bingung dengan sikap Farha.


Farha tersenyum, “gak apa-apa kok, Fla. Gue cuma mau ngobrol aja sama loe,” jawab Farha, membuat Fla tersenyum.


Farha melepaskan tangannya yang sudah mencengkeram tangan Fla.


“Emangnya mau ngomong apa? Kenapa gak di dalam aja ngomongnya?” tanya Fla, membuat Farha menggeleng kecil.


“Ah ... yang ada kalau ngomong di dalam, nanti direcokin sama Ray dan Rafa,” sanggah Farha, membuat Fla mengerenyitkan dahinya.


“Lho, emangnya loe mau ngomong apa, Far?” tanya Fla yang penasaran dengan yang akan Farha tanyakan.


Farha tertawa kecil, “gak usah serius gitu dong, gue cuma mau ngundang loe ke apartemen gue. Supaya kita bisa lebih dekat lagi. Berhubung Ara udah pulang, jadi gimana kalau kita berdua dulu?” ajak Farha, membuat Fla tersenyum.


“Wah ... kirain mau ngomong apa. Siap! Pulang kampus, ya?” tanya Fla, membuat Farha mengangguk.


“Iya, tapi jangan ajak Ray dan Rafa dulu, ya. Kita berdua dulu aja,” lirih Farha membuat Fla mengangguk dengan senangnya.


“Oke!” ucap Fla setuju, membuat Farha tersenyum tipis sembari menatap ke arah hadapannya.


Di perjalanan menuju tempat parkir, Ara merasa sedih sekali karena harus berpisah dengan mereka. Walaupun hanya sementara sih ....


“Bruk ....”


Mereka sudah berada di dalam mobil


“Gimana keadaan kamu?” tanya Morgan.


Ara menoleh ke arahnya.


Ara memasang tampang sedih, karena memang perasaan sedih yang tidak bisa terbendung lagi. Ara sudah tidak tahan menahan kesedihannya itu.

__ADS_1


Walaupun ini hanya sementara, tapi dalam satu minggu ke depan, Ara tidak bisa lagi bercanda bergurau bersama mereka.


Terlebih lagi, Ara tidak bisa sering bertemu lagi dengan Morgan. Itu berarti, akan ada lebih banyak wanita di luar sana yang akan dengan bebasnya mendekati Morgan.


Aku khawatir dengan hati ini. Akankah aku bisa melewati semua ini dengan mudah? Pikir Ara yang sedang berada dalam keresahan.


“Aku sedih ... gak bisa ketemu sama temen-temen dulu,” rengek Ara seperti anak kecil.


Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ara sudah tidak bisa lagi membendungnya.


Morgan yang mengetahui kesedihan Ara, mendekatkan wajahnya ke arah Ara.


“Cuppppsss ....”


Morgan mengecup kening Ara dengan lembut.


Satu tamparan keras seperti sudah menampar hatiku. Aku merasa Morgan sudah berkata bahwa, ‘ini lho dampak dari perbuatan mu’. Tapi Morgan lebih memilih menenangkan hatiku yang sedang kacau, pikir Ara.


“Kita jalan ya,” ajaknya.


Ara mengangguk kecil. Morgan mengarahkan mobilnya ke suatu kafe yang tak jauh dari rumah Ara. Ara sampai bingung dengan yang Morgan lakukan.


Ara mengerenyitkan dahinya, “kenapa ke kafe? Kenapa gak pulang aja?” tanya Ara yang bingung.


Morgan memasang sit belt-nya kemudian memasangkannya juga pada Ara.


“Kamu belum makan. Kita makan dulu ya,” ucap Morgan sembari memasangkan sit belt Ara.


Ara merasa Morgan sangat pengertian dengannya. Ara memang sudah begitu lapar. Bagus sekali Morgan bisa sepengertian ini padanya.


Ara senang sekali, karena Morgan sudah mulai menunjukkan sisi yang romantis padanya. Bukan sisi ke arah ***** saja.


Ara jadi semakin terpikat dengannya.


Ara memandang wajahnya yang sedang serius melihat layar handphone-nya. Ara juga mengambil handphone-nya, untuk menelepon Morgan dengan sengaja.


Fokus Morgan menjadi buyar karena dering telepon Ara.


Morgan menoleh ke arah Ara dengan tatapan yang datar. Ara sadar, sekarang Morgan mungkin sedang bertukar kabar mengenai pekerjaannya. Tapi, Ara malah menjahilinya.


“Ra ...,” pekik Morgan sembari menahan kesal.


Ara tertawa kecil melihat ekspresinya itu.


Morgan kembali menatap layar handphone-nya itu.


Lama-kelamaan, Ara menjadi sangat bosan kalau Morgan hanya memandang ke arah handphone-nya saja.


Meskipun tangannya tetap menggenggam tangan Ara, namun Ara tetap merasa bosan dengan Morgan.


Ara menekuk wajahnya karena kesal pada Morgan.


“Bukannya ngeliatin pacarnya kek! Malah ngeliatin HP mulu!” ucap Ara dengan sinis.

__ADS_1


Morgan menghela napas, dan menyudahi aktivitasnya itu kemudian mulai memandang Ara.


Ara yang sudah terlanjur kesal, langsung mengalihkan pandangannya.


“Saya lagi lihat info mengenai rapat ekskul yang tidak jadi saya hadiri,” ucapnya.


Bahasanya kini mulai kaku kembali, membuat Ara menoleh ke arahnya.


Ara mendelik, “emangnya gak bisa ya, sebentar aja perhatiin aku? Sekarang kan bukan di kampus. Kamu harusnya bisa memposisikan diri kamu!” Ara mengoceh ke arah Morgan.


Morgan menatap Ara dengan datar, lalu menghela napasnya.


Morgan mendekatkan wajahnya dan memaksa mencium bibir Ara, tapi Ara mendorong Morgan dengan kasar.


Morgan mendelik, “why you pushed my chest?” tanya Morgan, membuat Ara mendelik juga ke arahnya.


“Bukan ini yang gue pengen!” bentak Ara, membuat Morgan memandangnya kaku.


“So, what do you want?” tanya Morgan, membuat Ara terdiam sejenak.


“Gue pengen loe tuh bersikap manis sedikit sama gue. Kita seharian udah pisah di kampus, sekarang ngurusin masalah kerjaan lagi. Loe gak--”


“Kamu kangen sama saya?” potongnya.


Ara terdiam setelah mendengar Morgan mengatakan itu.


Kenapa malah aku yang malu mendengar Morgan berkata seperti itu? Pikir Ara.


Ara memandang matanya lagi. Ia seperti mencium aroma parfum yang nyaman sekali di hidungnya.


Apa Morgan sengaja berganti parfum? Padahal, tadi pagi sama sekali tidak tercium wangi parfum dari bajunya, pikir Ara.


Ara mengerenyit, “kamu ganti parfum?” tanya Ara yang masih menikmati aroma parfum yang enak di hidungnya.


Morgan tersenyum tipis ke arahnya.


“Parfum Dicky. Tadi minta sama dia. Aku gak bawa parfum hari ini. Semalaman kan sama kamu terus,” ucap Morgan.


Ara mengalihkan pandangannya sebentar, karena merasa malu dengan Morgan. Ara pun memandangnya kembali.


“Hmm ... aku kira kamu ganti parfum,” lirih Ara.


Mobilnya kini sudah berhenti bergerak. Kini, Morgan sedang berusaha memarkirkan mobilnya.


Morgan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ara. Morgan memandang Ara dengan senyuman, sembari menyodorkan tangannya untuk membantu Ara turun dari mobilnya.


Ara merasa sedikit tersanjung dengan perlakuan manisnya itu.


Ara pun meraih tangannya dan segera ke luar dari mobilnya.


Morgan masih saja menggandeng tangan Ara, membuat Ara malu karena semua mata tertuju pada mereka.


Ara sangat malu saat ini. Ara menghempaskan tangan Morgan itu dan berjalan ke depan mendahuluinya.

__ADS_1


“Greeepppp ....”


__ADS_2